
Siang yang begitu terik membuat semua orang malas hanya untuk keluar ruangan. Mereka semua menikmati udara sejuk ruangan yang berasal dari AC. Meskipun udara yang berasal dari AC tidak sehat, mereka tak peduli yang terpenting rasa gerah mereka terselamatkan.
Layaknya udara siang yang membuat badan terasa gerah, Keano sepertinya juga merasakan gerah namun sumbernya tak di ketahui. Dia sedang berjalan keluar hendak menikmati makan siangnya di luar, namun pemandangan di luar entah kenapa membuat matanya sakit.
"Bukankah dia karyawan perusahaan ini?" Keano melihat seorang wanita yang hendak turun dari sebuah mobil mewah.
Leon melihat ke arah pandangan bosnya. Memang benar di sana ada seorang wanita yang merupakan karyawan di sini. Namun pemandangan yang mereka lihat terasa sangat kontras sekali dengan posisi Shilla yang hanya seorang Office girl.
"Memang benar tuan. Dia karyawan di perusahaan ini."
"Kalau suaminya kaya kenapa dia bekerja jadi OG di sini?" Sepertinya Keano merasa tertarik dengan latar belakang Shilla.
"Kemungkinan besar itu bukan suaminya tuan." Leon mengotak-atik gadget yang ia pegang. "Namanya Nashilla Clarisa Maheswari, umur 22 tahun, kuliah jurusan akutansi tahun ke 4 di universitas X di kota ini. Dua tahun lalu dia mengadopsi seorang anak laki-laki yang diberi nama Kenzo Alvarez. Ibunya meninggal sejak masih SMA, menang di kejuaraan karate dunia selama tiga tahun berturut-turut. Akhirnya pensiun karena harus mengurus putranya." Leon mendeskripsikan secara panjang lebar mengenai identitas Shilla.
Mendengar penuturan asistennya, Keano semakin tertarik untuk mengetahui gadis ini. Entah kenapa hatinya mendorong untuk mencari lebih lanjut tentangnya. Dan mengetahui dia belum bersuami, beban yang mengganjal hatinya seakan terangkat.
"Kau sudah menyelidikinya L?" Keano menatap Leon sedikit memicing.
"Aku harus menyelidiki orang-orang yang berada di sekitar tuan, siapa tau ada penyusup yang merupakan mata-mata pihak musuh." Leon memberikan alasan yang tak Keano terima. Dia pasti sengaja mencari data perempuan itu untuk di berikan kepadanya.
"Juara karate? perempuan yang menarik." Keano berkata dalam hati mengagumi sosok Shilla.
Mereka berdua melihat Shilla sudah turun dari mobil. Keano berpura-pura tak terjadi apa-apa. Ia kembali melanjutkan agendanya dan dengan sengaja berpapasan dengan Shilla.
"Selamat siang tuan." Sebagai karyawannya Shilla tetap harus hormat kepada bosnya.
"Di antar suami?" Entah kenapa mulut Keano ingin mengusili gadis yang ada di depannya.
"..." Shilla tak mengerti apa maksud dari bosnya itu.
"Kalau suaminya kaya kenapa masih bekerja." Meskipun Keano sudah tau kalau lelaki yang bersama Shilla bukanlah suaminya, namun Keano tetap saja memojokkan Shilla dengan berkata lelaki tadi adalah suaminya.
Sepertinya Shilla tau arah pembicaraan Keano. Devan yang tadi mengantar dikira suaminya. Padahal dia hanyalah dosennya saja. Namun melihat muka Keano yang menyebalkan, Shilla malas untuk menjelaskannya.
"Ia pak, kebetulan dia senggang jadi mengantarkan saya. Dan kenapa saya masih bekerja padahal suami saya kaya, karena saya ngga mau hanya bergantung pada suami."
Mendengar jawaban Shilla Keano merasa tersentil. Kenapa Shilla tak menjelaskan kalau dia bukan suaminya, malah membenarkannya. Keano benar-benar kacau oleh perbuatannya sendiri. Awalnya ia ingin membuat gadis itu membuka identitasnya sendiri, kenapa melenceng dari rencana.
Di sisi lain ada seseorang yang menikmati pemandangan itu. Ia hanya tersenyum melihat raut muka bosnya yang selama ini tak pernah di perlihatkan. Siapa lagi manusia itu kalau bukan Leon. Ia menyaksikan pemandangan langka bosnya di buat kwalahan oleh seorang wanita. Kalau boleh ia akan mengabadikan momen ini. Tapi niat itu ia urungkan, bisa-bisa dia dibunuh oleh Keano.
"Kalau tak ada hal lain saya permisi tuan." Shilla pergi untuk segera melakukan pekerjaannya.
Keano masih mematung. Selama ini tak ada wanita yang bersikap seperti ini di hadapannya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya akan meluluhkan hati mereka. Mereka rela bahkan untuk di jadikan wanita simpanan. Melihat sikap Shilla yang seperti ini, Keano semakin tertarik dengannya.
"L, kenapa dia tidak membantah? kenapa malah membenarkan kalau dia suaminya?" Keano masih penasaran dengan apa yang terjadi baru saja.
"Mungkin karena nona Shilla berharap dia benar-benar suaminya? dengan kata lain nona Shilla sebenarnya menyukainya?" Leon tambah memprovokasi hati Keano. Ia begitu menyukai raut gusar Keano hanya karena wanita.
"Cari tau siapa lelaki itu. Segera laporkan padaku." Keano memasang wajah galak. Ia kembali kedalam lupa dengan makan siangnya.
"Bagaimana dengan makan siang kita tuan." Leon mengejar di belakang.
"Kamu pesan saja. Antarkan ke tempatku." Keano berjalan cepat ke ruang istirahatnya. Ia ingin segera merebahkan badannya yang lelah. "oh iya, kamu minta dia untuk mengantarkannya." Sebelum benar-benar pergi, Keano menyuruh Leon untuk meminta Shilla yang mengantar untuknya.
Leon menghela napas dengan kelakuan bosnya. Kalau sudah seperti ini pasti ia akan di buat repot dengan hal kekanak-kanakan. Namun dia juga merasa senang, sudah lama bosnya tidak merasakan sesuatu hal seperti ini. Hati bosnya semakin menghangat sepertinya.
Leon segera memesan makan siang untuknya dan juga Keano. Tak lupa ia memberi tahukan kepada Shilla kalau pesanannya datang agar segera membawanya ke tempat Keano.
"Kenapa harus saya tuan? Di sini tugas saya adalah bersih-bersih, kalau menyiapkan makanan sudah ada orang lain tuan." Sebisa mungkin Shilla tidak mau terlalu sering terlibat dengan Keano. Meskipun ada getar ketika dia dekat dengan Keano, namun dia masih menyadari statusnya.
"Kamu mengabaikan perintah atasan?" Leon sedikit keras berharap Shilla merasa takut.
"Apakah orang kaya selalu semaunya sendiri? menggunakan jabatan untuk menindas yang lemah?" Shilla tak gentar dengan gertakan Leon. Meskipun Leon memiliki posisi yang tinggi, namun bukan dia yang menggajinya.
Leon tak hilang akal. Segala cara dia perbuat agar Shilla mau mengantarkan makanan untuk Keano. Kalau sampai dia menolak, maka dirinya sendiri yang akan mati di tangan Keano.
"Kalau kamu mau mengantar makanannya akan dapat bonus." Leon menaik turunkan alisnya berharap Shilla goyah.
"Lebih baik tuan cari orang lain." Shilla hendak pergi namun di cegah oleh Leon.
"Tolong...?!" Leon memohon seperti anak kecil memohon pada ibunya untuk di berikan permen.
Lama-lama Shilla tak tega juga melihat orang yang punya jabatan tinggi bahkan tegas kepada orang lain harus memohon padanya. Dia masih punya hati, apa salahnya kalau sekadar menolong orang yang memerlukan.
"Baiklah."
"Yeah. Kalau nanti makanannya datang langsung diantarkan saja. Dan sesuai janjiku, aku akan bilang ke Keano untuk memberikanmu bonus. Bye." Leon melambai meninggalkan Shilla.
Suasana di sekitar langsung berubah berat. Beberapa orang yang tak menyukai Shilla tambah membencinya. Leon merupakan pangeran tampan di perusahaan ini setelah tuan muda Keano ataupun Alexi. Namun apa yang di perbuat Shilla hingga tuan Leon pun tunduk padanya.
Meskipun kurang nyaman, Shilla tak memperdulikan mereka. Meskipun mereka tak menyukainya, masih banyak yang lain yang menerima dia apa adanya.
Selang beberapa puluh menit, makanan yang di pesan Leon datang. Shilla segera mengantarkan ke ruang istirahat Keano. Di sana Keano masih asik berbaring di ranjang king sizenya. Tak memperdulikan Keano yang masih memejamkan mata, Shilla segera menyiapkan makanan di meja agar dia bisa segera pergi.
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Shilla, di ambang pintu sana berdiri Leon yang tersenyum manis. Ia segera masuk dan melihat makanan yang di tata Shilla membuat cacing perutnya tambah menari-nari kegirangan.
"Siapa yang menyuruhmu duduk disini?" Keano ternyata sudah bangun dari tadi dan mengagetkan keduanya.
Leon yang ingin meletakkan bokongnya di kursipun mengurungkan niatnya.
"Bukankah ini buat aku?" Leon menunjuk makanan di piring dan dirinya bergantian.
"Keluar sana beli sendiri. Ini bukan buat kamu." Keano berkata sinis.
"Dasar kekanakan." Mengerti maksud dari Keano, Leon segera pergi untuk makan siang sendiri. Nasib menjadi bawahan bos yang ajaib.
Setelah semuanya selesai, Shilla langsung membereskan bungkus bekas makanan dan akan pergi.
"Siapa yang menyuruhmu pergi? aku tidak bisa makan sendirian." Keano secara tak langsung meminta Shilla untuk makan bersamanya.
Mendengar perkataan bos besarnya, Shilla masih bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Dia masih saja berdiri di tempatnya tak merespon panggilan Keano.
"Kalau tuan tidak bisa makan sendiri, kenapa mengusir tuan Leon?"
Mendengar tentangan dari Shilla membuat Keano semakin tertantang. Dia berbeda dengan kebanyakan wanita, kalau wanita lainnya akan rela mengantri hanya untuk makan bersamanya.
Keano bangkit dari duduknya. Ia giring Shilla untuk duduk. Sedikit berontak namun mampu Keano atasi. Ia semakin gemas dengan kelakuan wanita ini. Mungkin dia harus ke makam Violeta untuk meminta izin membuka hati untuk gadis lain.
Masih dengan perdebatan kecil antara keduanya, tiba-tiba pintu di ketuk tanda ada seseorang yang memanggil. Meskipun enggan, Keano bangkit dan membukakan pintu agar Shilla tak kabur.
Raut muka Keano seketika berubah dingin. Nampak wanita cantik yang berdiri dengan senyum mengembang. Terlihat sangat manis dan cantik.
"Siang Keano, bibi Evelyn meminta untuk kita makan siang bersama." Xena membawa kotak bekal yang di buatkan oleh Evelyn
"Siapa tuan?" Shilla tak ingin melewatkan kesempatan ini. Sebisa mungkin dia harus pergi dari sini segera.
Melihat Shilla ada di dalam bersama Keano, seketika Xena menatapnya tak suka. Namun dia mampu menguasai dirinya dan tetap memperlihatkan senyum palsunya.
"Ternyata lagi ada tamu. Kalau begitu aku pamit dulu."
"Tunggu nona, aku cuma karyawan disini, jadi lebih baik nona Xena masuk menemui tuan Keano. Saya yang pergi."
Xena tersenyum licik. Mudah sekali memperdayai gadis polos seperti Shilla. Xena semakin membuat muka palsu yang membuat Shilla tak tega kalau dia tetap disini.
Akhirnya Shilla pergi meninggalkan Keano yang tak mengeluarkan ekspresi apapun. Keano sudah berpengalaman dengan banyak orang. Ia tau mana orang yang tulus dan mana yang licik. Dia semakin tak suka dengan Xena karena telah mengacaukan makan siangnya.
"Kalau mau makan, makan saja sendiri." Keano mengambil jas dan meninggalkan Xena yang diam mematung terluka.
Bersambung...
**Jangan lupa like, voment, dan share ya**