
Penerbangan sudah sekitar satu jam empat puluh lima menit. Kini mereka sudah berada di wilayah udara dari negara Korea. Kenji tak tau maksud mereka membawanya ke Korea. Di lihat dari orang bernama Charles ini, sepertinya dia bukan orang Korea. Dan Bosnya juga bukan orang Korea.
Pesawat sudah mendapat izin untuk mendarat. Mereka keluar dari pesawat mengabaikan seseorang yang masih bersembunyi dalam diam. Sebenarnya Kenji bisa saja menghabisi mereka, namun karena ini bukan wilayahnya, dia tak ingin menyulut perang ke wilayah orang lain. Sebelum Kenji benar-benar keluar, dia menyelipkan kertas untuk seseorang yang bersembunyi sejak tadi. Dia adalah Seira. Anggota baru yang tanpa pengalaman apapun sudah berani masuk ke wilayah musuh.
Setelah mereka pergi semua, Seira keluar dari persembunyiannya. Ia melihat secarik kertas yang di berikan oleh Kenji. Sebuah alamat yang sepertinya tak jauh dari tempat mereka mendarat. Ternyata Kenji sudah mengetahui kalau mereka mendarat di Korea. Sehingga ia menuliskan alamat ini untuk Seira kunjungi.
Dengan modal pengalaman yang kurang, Seira mencari alamat yang ada di kertas itu. Meskipun dengan susah payah, dia bisa menemukan tempat itu kurang dari dua jam. Namun Seira dibuat bertanya-tanya dengan tempat yang ia datangi. Di hadapannya berdiri sebuah Hotel yang banyak sekali pasangan mengunjunginya bersama. Seira tak mengerti dengan jalan pikiran Kenji. Ia salah terka mengira Kenji memintanya untuk menunggunya di Hotel
Namun Seira langsung mengingat kalimat yang berada di bawah tulisan alamat, ia harus mengatakan kalimat itu pada seseorang yang bekerja di hotel ini. Tapi siapa yang harus di temuinya. Kenapa di tulisan itu tak ada sebuah nama.
Seira langsung saja masuk. Kalau memang ada orang yang harus ditemui, tentu saja bos hotel ini. Begitulah pikir Seira. Langsung saja dia membuat sedikit keributan. Kalau ada keributan pasti orang yang bertanggung jawab di sini akan turun tangan untuk mengatasi ketidak nyamanan pengunjung lain.
"Nona, tolong jangan seperti ini, jangan mempersulit kami." beberapa pegawai hotel kuwalahan menahan Seira yang pura-pura memarahi seorang perempuan. Dia berakting menjadi seorang yang memarahi selingkuhan dari pacarnya. Bisa-bisanya dia memikirkan hal seperti ini. Mungkin Pelakor memang sedang tren era ini.
Dan benar saja. Setelah Seira mengacak-acak tempat ini, seorang pria bertubuh tinggi tegap menghampirinya. Pria itu sepertinya seumuran Kenji. Namun ketampanannya masih kalah jauh darinya.
"Maaf nona. Nona tak bisa membuat keributan di sini. Kalau nona tak berhenti juga, saya akan memanggil polisi ke sini."
Seira berhenti melawan. Dia mendekat ke arah pria itu.
"Kamu yang bertanggung jawab disini?" Kalimat Seira terdengar serius.
"Ya."
"Sang naga membutuhkan taringnya." Kalimat yang baru saja di ucapkan Seira merupakan kata kunci dari Kenji.
Mendengar kalimat Seira barusan, dia langsung membawa ke ruang pribadinya untuk meminta penjelasan lebih lanjut.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Gara-gara kamu aku harus menunda kesenanganku, aku harap kamu tak mengecewakanku." Ichiro duduk di sebelah seorang gadis berkacamata. Penampilannya sangat elegan dan dewasa. Dengan rambut di sanggul rapi dan setelan baju yang sangat cocok dengan identitasnya sebagai sekretaris. Tak ada penampilan glamour nan kaya di sana. Yang ada hanya wanita berparas cantik yang sedang menikmati suasana sebelum meninggalkan tanah kelahirannya.
"Bukankah kamu yang menawarkan untuk kita bekerja sama." Wanita itu tersenyum menawan. Orang tak menyangka kalau di dalam hatinya tersimpan banyak akal licik.
"Kerja sama ini akan saling menguntungkan kita nona Xena, atau sekarang lebih baik aku memanggilmu Aiko?" Ichiro menyeringai.
Sejak saat Ichiro melihat Xena menyelinap dari taman labirin, Ichiro memiliki rencana untuk merekrut wanita itu menjadi sekutunya. Setelah mereka sepakat untuk bekerja sama, Ichiro langsung menyuruh anak buahnya di jepang untuk mengirimkan identitas perempuan, identitas yang menjelaskan dia adalah adiknya. Ichiro sudah menduga kalau Xena tak akan bisa keluar dari negara ini. Ia sudah bisa menebak kalau Kenji akan memasukan nama Xena dalam daftar dilarang keluar dari negara ini. Langkahnya sangat tepat, sekarang mereka sudah siap untuk menyusun rencana selanjutnya. Dengan identitas baru Xena, Aiko Inoue, adik dari Ichiro Inoue.
"Jadi sekarang kamu bisa menjelaskan siapa sebenarnya kalian? Aku sudah curiga dengan Keano sejak awal, dia di usir oleh ayahnya karena tak ingin anak itu mengambil perusahaan, dan orang-orang menilainya hanya seorang sampah, tapi saat aku pertama kali bertemu dengannya, tak ada secuil sampahpun yang tersemat dalam dirinya."
"Ayahnya benar-benar bodoh. Dia membuang seorang anak harimau. Tentu saja anak itu kembali untuk balas dendam."
"Maksudnya?"
"Yeah, mungkin karena keberuntungannya juga, tapi dia adalah tangan kanan dari mafia terbesar di Jepang, bahkan kekuasaannya kini sudah menguasai Asia Timur. Mungkin sebentar lagi Asia Tenggara juga akan mereka kuasai." Ichiro menerawang tentang keberhasilan Kenji. "Dan aku hanyalah debu kecil di hadapannya, hanya seekor anak ular yang ingin menggulingkan seekor naga karena kematian ayahnya." Ada nada sedih dari ucapan Ichiro. Namun dia bisa langsung menyembunyikan kesedihannya. Dia tak ingin terlihat lemah di hadapan partner barunya.
"Baiklah, akan aku bantu kamu untuk menggulingkan kerajaan naga tersebut." Aiko menggenggam tangan Ichiro erat. Menguatkan orang yang baru saja memberikan kehidupan baru untuknya setelah dibuang keluarganya.
*
*
*
Keano sedang marah-marah di ruang kerjanya. Dia marah karena bawahannya tak becus untuk mencari seorang perempuan. Dia yakin kalau Xena sudah keluar dari negara ini. Dia kecolongan. Dia telah membiarkan musuhnya lolos. Dia akan menjadi masalah di masa depan nanti.
"Apa perlu saya panggilkan nona Shilla tuan?" Saat Keano seperti ini, hanya Shilla yang bisa menjinakkannya. Bawahannya sudah sangat ketakutan semua. Mereka benar-benar berharap nyonya bos segera ada di sini.
"Kamu mau memanfaatkan Shilla?" Keano menatap tajam Leon.
"L, segera urus semua yang ada disini. Secepatnya kita harus pulang ke Jepang. Aku curiga Ichiro akan menyerang kita sewaktu kita tak ada."
"Tapi kalau memang seperti itu, bukankah dia tak perlu repot untuk mencari kita kesini?"
"Apa kamu lupa? dia sudah menyerang lebih dulu, tapi tanpa ia duga kita kembali tepat waktu. Dan kita menggagalkan lagi bisnis obat terlarangnya. Mungkin dia akan mengira saat ini kita tetap di sini. Jadi secepatnya pula kita harus kembali."
"Baik tuan."
Selanjutnya hanya perlu mencari seseorang untuk mengurus perusahaannya ini. Tak mungkin dia mengurus semuanya seorang diri. Dia akan memilih seseorang yang dapat di percaya untuk mengisi posisinya. Namun siapa orang yang tepat. Keano masih belum bisa mendapatkan jawaban. Mereka semua jauh dari standar Keano. Sebenarnya ada yang cocok, dengan otaknya yang cerdas, dia pasti bisa langsung memimpin dengan baik. Namun tak mungkin Keano menyerahkan tanggung jawab sebesar ini pada kekasihnya. Dia berharap Shilla akan ikut dengannya ke Jepang.
"Sebenarnya ada yang cocok. Hanya saja kamu terlalu menutup mata." Tiba-tiba Shilla datang. Dia mendengar sekilas dan bisa langsung menebak apa yang dihadapi oleh kekasihnya.
Semua orang yang ada di ruangan itu seperti mendapatkan oksigen kembali. Mereka bernafas lega atas kedatangan Shilla. Senyum manis Shilla benar-benar bisa menjinakkan Keano yang sedang mengamuk.
Keano memicing ke arah Leon. Dia mencurigai kalau Leon yang menghubungi Shilla diam-diam. Tentu saja Leon langsung menggeleng keras atas tuduhan tersebut.
"Jangan seperti itu, Leon sudah bekerja keras untukmu, jangan marahi dia, lebih baik kamu kasih bonus untuknya." Shilla mengelus dada Keano yang terlihat masih naik turun karena saking emosinya.
"Kamu bilang tadi ada yang cocok untuk posisi ini? Siapa?" Keano kembali ke topik awal. Dia menenangkan diri dengan memeluk pinggang Shilla. Dekat dengan gadis itu memang sungguh menyenangkan. Keano bahkan tak peduli dengan tatapan iri semua bawahannya. Dia mengejek mereka semua yang rata-rata adalah jomblo.
"Meskipun menyebalkan, sebenarnya kakakmu orang yang cerdas. Dulu mungkin dia memang orang yang semaunya sendiri, selalu menghamburkan uang, tapi penilaian ayahmu tak pernah salah, kalau sebenarnya dia orang yang cerdas. Kalau dia mengubah kepribadiannya dengan lebih baik, perusahaan ini akan maju di tangannya." Dengan bijak Shilla memberikan pendapatnya. Meskipun dia masih sedikit ada rasa benci karena telah menyusahkan Keano dulu, tapi dia berusaha memaafkan seperti yang dilakukan Evelyn. Evelyn yang di tindas bertahun-tahun saja bisa memaafkan, dia yang baru saja mengenal tak punya hak untuk benci berlarut-larut.
"Jadi secara tak langsung kamu bilang kalau aku tak cerdas?" Keano sedikit tersinggung dengan ucapan Shilla.
"Bukan karena kamu tak cerdas. Tapi karena kalian berdua cerdas ayahmu tak ingin terjadi perselisihan antara kalian. Terlebih lagi karena mama kalian?"
"Mama?"
"Ya. Antara mama Evelyn dan mamanya Alexi, ayahmu kan lebih mencintai mamanya Alexi, tentu saja dia lebih memilih menyerahkannya pada Alexi, bukankah sebenarnya cukup sederhana?"
Telak. Shilla mengenai tepat sasaran. Namun memang seperti itulah keadaannya. Keano tak bisa memarahi Shilla karena ucapan tajamnya. Uang harus ia salahkan adalah ayahnya yang kini sudah berada di alam baka.
Keano menghela nafas kasar. "Shilla, kamu yakin. Aku susah payah untuk mendapatkan kembali apa yang menjadi hak ku, sekarang mau di serahkan begitu saja?" Keano sepertinya sedikit tak setuju.
"Bukan menyerahkan, tapi beri dia kesempatan untuk memikul tanggung jawab, kan perusahaan ini tetap milikmu, dia hanya bekerja di bawah kendali mu."
Keano mempertimbangkan masukan Shilla. Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Shilla. Perusahaan ini masih tetap miliknya, kalaupun Alexi berbuat macam-macam, dia pasti akan segera mengetahuinya.
Dengan berat hati Keano menyetujui pendapat Shilla. Dalam tiga hari akan di adakan pertemuan untuk membahas hal ini kepada semua dewan direksi. Dan sebelum pertemuan itu tiba, dia harus berbicara dengan Alexi ketentuan-ketentuan yang harus dia patuhi.
"Makasih sayangku, kamu sudah menjernihkan pikiranku." Keano memeluk Shilla dari belakang dan mencium pipi kanan Shilla.
Semua yang ada di ruangan ini malu sendiri melihat kemesraan mereka. Ternyata semarah apapun bosnya, tetap memiliki sisi lembut kepada orang yang dicintainya.
"Jangan begini, aku masih belum memaafkan mu." Shilla melepas pelukan Keano dan pergi tanpa menoleh.
"Tunggu, Shilla tunggu! memangnya aku berbuat apa padamu."
"Tanyakan saja pada pengawal mu yang selalu membututiku!"
Keano lemas. Ternyata Shilla tahu kalau dia masih menyuruh orang untuk terus mengawasinya.
Sebelum Keano ngamuk kembali, satu persatu dari mereka keluar tanpa suara. Sang penjinak sudah tak ada di sini, mereka masih sayang nyawa mereka.
Bersambung....