
Leon berjalan ke ruang kerja Mamoru sesuai panggilannya. Beberapa waktu yang lalu Leon diberitahukan bahwa Mamoru ingin mendengar kabar tentang Kenji. Meskipun Mamoru tahu kalau anaknya itu cerdas, namun tetap ada rasa khawatir. Apalagi dia mempunyai firasat bahwa orang yang menangkap Kenji adalah 'Dia'.
"Selamat siang tuan." Leon memberi hormat kepada Mamoru.
Meski Mamoru membelakanginya, namun entah kenapa Leon bisa merasakan sesuatu yang menekan seluruh udara di ruangan ini. Benar-benar seorang bos besar. Dari punggungnya saja sudah terlihat sangat mendominasi.
Mamoru menoleh menatap Leon tanpa ekspresi. Dia memberi isyarat pada D untuk menggantikan dirinya menerima laporan dari Leon. Perasaannya masih tak menentu. Dia harus bisa menjaga emosinya.
"Jadi apa yang kamu dapatkan?" D berjalan ke arah Leon berdiri. Meskipun dia orangnya terlihat kalem, namun sebenarnya dia sangat kejam. Orang yang kemarin tertangkap tak segan-segan diberikan kepada singa peliharaannya. Katanya, orang yang tak berguna hanya pantas menjadi makanan si Manis - nama singa D. Seekor singa yang ia rawat sejak kecil. Hanya tunduk padanya dan juga Mamoru. Dan masih perkenalan dengan Kenji. Kalau ada anggota yang mendapat hukuman, biasanya mereka akan dimasukkan ke dalam kandang si Manis.
"Baru saja tuan Lee memberi kabar bahwa saat ini Tuan Kenji berada di Korea."
"Maksudmu Lee Yeon Jae? Ketua cabang Korea?"
"Benar tuan, Seira berhasil menyelinap ke dalam pesawat yang membawa tuan Kenji, dan tuan Kenji mengetahui itu, akhirnya tuan Kenji memerintahkan Seira untuk menemui tuan Lee."
"Kalau seperti itu bagus. Kita tak perlu khawatir. Lee bisa mengatasinya dengan baik." Mamoru ikut angkat bicara.
*
*
*
Lee Yoen Jae, seorang pemilik hotel berbintang di Korea. Bisnisnya merajai seluruh Korea. Namun di balik kesuksesannya, ada Mamoru di belangnya. Dan karena kesetiannya dia di angkat sebagai ketua cabang di Korea ketika Mamoru melebarkan sayap Golden Dragon ke negara tersebut.
"Baiklah, kalian sudah siap semuanya!" Yoen Jae memimpin langsung aksi penyelamatan Kenji.
"SIAP KETUA!" Anak buahnya serempak menjawab pertanyaan Yoen Jae.
"Kita tidak boleh lengah. Nyawa Kenji adalah yang utama. MENGERTI!"
"SIAP MENGERTI!"
Sekitar dua puluh lima mobil iring-iringan di jalanan menuju persembunyian Saburo. Di Korea Saburo hanyalah orang kecil. Dia tak akan berani berbuat macam-macam karena ia mengetahui siapa yang berkuasa di sini. Dia hanya sedang mencari celah untuk bisa masuk dan menghancurkannya dari dalam.
"Seira, prioritas utamamu adalah menyelamatkan Kenji, Tuan Mamoru sangat menyayangi anak itu, kalau misi ini gagal, nyawamu pun tak akan selamat."
Seira mengangguk mengerti. Kalau dia berhasil menyelamatkan Kenji, dia pasti akan langsung masuk tim inti.
"Tapi tuan, bagaimana anda tau tempat persembunyian dari musuh?"
"Kamu anak baru, tentu saja kamu belum mengerti. Ada sepasang mata Golden Dragon yang tahu segalanya. Kamu harus berhati-hati." Yeon Jae mengatakan dengan nada menakut-nakuti.
"Benarkah?" Seira bertanya dengan antusias. Lumayan juga bisa mengobrol santai dan mengetahui lebih dalam tentang Golden Dragon. Di markas pusat dia hanya selalu berlatih dan berlatih, tak pernah mencari informasi seberapa besar Golden Dragon ini. Ternyata begitu besar hingga memiliki mata di seluruh penjuru negeri dan luar negeri.
"Kamu tak takut dimata-matai? Bahkan bisa saja dia mengintipmu mandi lho."
Seira terbengong. Apa benar mata-mata ini suka mengintip orang mandi, kalau benar berarti dia seorang pria mesum. Kedepannya dia hanya harus berhati-hati.
Mobil mereka berhenti di salah satu bangunan yang cukup elit. Kawasan ini merupakan kawasan padat penduduk. Kalau sampai terjadi pertumpahan darah, pasti akan ada banyak korban.
Namun suasana disini begitu aneh. Sangat tenang. Hal itu semakin mencurigakan. Untuk sebuah markas, tak ada penjagaan merupakan suatu hal yang ganjil.
Mereka semua langsung turun mengepung tempat itu. Tak ada celah untuk musuh bisa kabur. Namun sudah beberapa menit mereka mengepung tempat itu, musuh masih belum ada yang keluar ataupun menyadari jika tempat persembunyian mereka sudah terkepung.
"Ini aneh, harusnya mereka langsung sadar kalau mereka sudah terkepung." Yeon Jae memutar otak dengan keadaan yang terjadi saat ini.
"Dari pada penasaran lebih baik kita langsung masuk saja." Dengan mantap Seira berjalan masuk ke kandang musuh.
Yeon Jae yang memang sudah penasaran akhirnya mengikuti Seira yang sudah masuk lebih dulu. Namun pemandangan di depannya membuat mereka bertanya-tanya. Siapa yang sudah datang mendahului mereka. Sudah banyak mayat musuh yang tergeletak. Semakin masuk ke dalam, semakin tambah mengerikan pula tempat itu.
Mereka tiba di ruang utama. Pemandangan di depannya tambah membuat mereka terkejut. Di sana Kenji sedang duduk manis sambil menikmati Wine.
"Ternyata kalian kalah cepat darinya." Bertepatan Kenji mengatakan itu, seorang perempuan cantik masuk dengan menenteng senjata kebanggaannya.
20 menit sebelum kedatangan Yeon Jae
Kenji di arahkan ke sebuah gudang senjata yang hendak mereka perjual belikan. Ada ratusan senjata yang ada di gudang itu. Namun satu yang menarik perhatian Kenji, Meskipun senjata itu nampak kecil, sepertinya punya daya serang tinggi. Kalau musuh mendapatkan senjata ini, di masa depan nanti mereka akan menjadi musuh yang berat untuk Golden Dragon.
"Bagaimana tuan K, setelah melihat ini semua kamu tertarik bergabung dengan kami kan."
Entah mereka ini terlalu bodoh atau bagaimana. Dengan mereka menunjukkan gudang senjata, waktu bagi Kenji untuk melumpuhkan mereka semakin dekat.
"Aku tak peduli dengan semua ini, aku hanya ingin bertemu bis kalian." Meskipun sebenarnya Kenji senang karena menemukan harta mereka, namun dia harus tetap menyembunyikan ketertarikannya. Dia harus bisa mendapatkan informasi tentang orang uang ada di belakang mereka.
"Kalau begitu selamat tinggal." Kenji tersenyum penuh teka teki. Dan detik berikutnya satu persatu dari mereka tumbang.
Baik Charles maupun Saburo sangat terkejut dengan serangan dadakan ini. Mereka tak menyangka kalau musuh sudah mengetahui tempat persembunyian mereka.
"Cepat perintahkan untuk berhenti, kalau tidak aku akan menembak kepalamu." Charles mengacungkan senjata ke arah kepala Kenji.
Kenji hanya tersenyum melihat kepanikan Charles. Bahkan dia bisa melihat bahwa Charles sebenarnya ragu untuk membunuhnya. Hal ini bisa dimanfaatkan dengan baik.
Satu lagi tumbang. Mereka tergeletak satu persatu. Mereka kalang kabut menerima serangan dadakan musuh. Apalagi mereka tak mengetahui musuh seperti apa yang sedang menyerangnya.
"Apa hanya ini kekuatan kalian? Kalau iya sangat mengecewakan." Kenji menangkap tangan Charles yang memegang pistol. Dia putar lengannya hingga menimbulkan bunyi 'krak' pada pergelangan tangannya.
Charles langsung berjalan mundur. Ia kesakitan dan sekarang senjatanya sudah berpindah tangan.
"Kenapa kamu diam saja, bunuh dia." Charles memerintahkan Saburo untuk membunuh Kenji.
"TUAN TAK AKAN MENYUKAI INI CHARLES!"
"Itu masalah nanti. Aku sudah muak dengannya yang begitu sombong selalu ingin bertemu tuan. CEPAT! SEGERA KIRIM DIA KE NERAKA."
Mau tak mau Saburo mendengarkan perkataan Charles. Ia mengambil pistol yang ada di pinggangnya. Peluru itu tanpa aba-aba langsung menuju kepala Kenji. Untung saja Kenji gesit. Telat sedikit saja, peluru itu langsung mengenai matanya. Berkat kegesitannya, hanya pipinya saja yang tergores sedikit.
Kenji membersihkan darah segar yang keluar akibat goresan itu. "Kalian telah merusak aset berhargaku. Kalau sampai Violeta tak menyukaiku gara-gara luka ini, meskipun ke neraka sekalipun akan ku ikuti kalian." Kenji berbicara dengan rendah penuh penekanan. Mereka tak menyangka kalau Kenji akan berubah pribadinya.
Kenji berlari ke tempat Saburo. Sebelum Saburo menembak, dia sudah berhasil meringkus lelaki itu.
"Kalian harus membayar luka ini."
Kembali Kenji membanting Saburo yang langsung terkapar di lantai. Tak tau apakah tulang punggungnya baik-baik saja. Namun bantingan itu cukup untuk membuatnya tak sadarkan diri.
"Sampah seperti kamu harusnya tahu posisi. Bagaimana bisa orang kecil sepertimu mau merekrutku. Sungguh penghinaan untukku." Kenji mengambil pistol milik Saburo yang tadi untuk menyerangnya. Ia langsung menembakkan Ke seluruh badan Saburo yang sudah tak bernyawa hingga peluru di dalam pistolnya habis.
Kenji menoleh ke arah Charles yang sudah gemetar. Dia seperti melihat tuannya. Aura yang sama, kekejaman yang sama. Hidupnya benar-benar sudah berakhir.
"Kalau mau pergi silahkan pergi. Tentu harus ada seseorang yang melapor pada atasan kalian kan?" Kenji menyeringai.
Tanpa pikir panjang, Charles langsung berlari kabur sebelum Kenji berubah pikiran.
Kenji duduk santai menikmati Wine yang tersedia di meja. Urusan penjaga di luar biarlah diurus penembak jitu kesayangannya.
Setelah semuanya selesai, Kenji mendengar ada suara banyak mobil yang terhenti di sana. Dia tahu kalau mereka adalah orang yang akan menyelamatkannya.
Mereka semua masuk dan hanya terbengong melihat Kenji sudah duduk santai seperti tak terjadi apa-apa.
"Selamat datang V." Sapa Kenji yang sudah mengetahui kedatangan V.
Penembak jitu itu adalah V. Dia yang membantai habis seluruh penjaga.
"Sepertinya aku terlalu khawatir. Harusnya kau tak membutuhkanku kan?" Yeon Jae merasa kesal pada Kenji. Dia bahkan yg tak menyisakan satu musuhpun untuknya.
"Tentu saja anak buahmu masih di butuhkan. Memangnya siapa yang akan membersihkan kekacauan ini." Kenji tersenyum simpul membuat Yeon Jae tambah kesal.
"Ayo kita pulang sayang." Kenji menyambut ceria Violeta. Namun yang dia dapatkan adalah sodokan perut dari Violeta. Dia merasa kesal pada Kenji yang bertindak sendiri.
Tanpa mereka sadari, ada tatapan iri di sana.
*
*
*
"Tuan...tuan... nona V menghilang." Salah satu bawahan Mamoru memberi kabar.
"Apa maksudmu. Kita membutuhkannya untuk segera pergi ke markas Black Demon, mumpung sang ketuanya tak ada di rumah. CARI LAGI."
"Sepertinya nona V menyusul tuan Kenji." salah satu anggota memberitahukan keberadaan V.
"Dari mana kamu tahu."
"Tadi sempat saya melihat kalau dia mendengar kalian berbicara tentang keberadaan tuan Kenji. Dia langsung terburu pergi."
"Dasar anak itu." Mamoru tersenyum kecil. Bangga dengan Violeta yang sudah mengambil inisiatif sendiri.