Young Mama

Young Mama
Bab 12: ~Siasat~



Keano dan Leon masih menunggu semua orang untuk membahas kerjasama antar perusahaannya dan pengusaha jepang. Jika biasanya bos selalu datang paling belakang, tidak dengan Keano, dia sangat disiplin. Dia tidak hanya memerintah bawahannya untuk datang tepat waktu, namun dia selalu memberi contoh sampai kalau ada yang terlambat akan merasa malu dengan sendirinya.


Sejak awal masuk Leon sudah senyum-senyum sendiri membuat Keano ngeri. Entah apa yang ada di pikiran asistennya itu namun sepertinya hal itu sangat menarik untuknya.


"Ada apa denganmu? salah minum obat?" Keano memandang Leon dengan tatapan mengejek.


"Oh ayolah kakak, aku sedang mengingat penderitaan kita dulu." Tingkah Leon membuat Keano merasa jijik, apalagi ketika dia memanggilnya kakak, sungguh amat sangat menjengkelkan.


"Kalau kau ada waktu untuk mengingat neraka itu, kau harusnya ingat untuk mengabari Rose." Keano memutar bola mata jengah.


Yang diingatkan hanya tersenyum tanpa dosa. Kalau sampai wanita tau kelakuan Leon yang sebenarnya, mungkin mereka akan lari semua. Orang yang biasanya tak kalah dingin dengan Keano, ternyata kelakuannya sangat kekanakan kalau cuma berdua dengan sang bos.


Leon langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Rose. Semua sudah diatur dan di rencanakan, tidak boleh ada yang meleset satu pun dari rencana awal.


Satu per satu orang-orang mulai datang. Mulai dari para dewan direksi dan juga para pemegang saham. Mereka memberi hormat kepada Keano ketika mengetahui Keano telah hadir lebih dulu. Detik berikutnya, Alexi juga datang. Ia menatap Keano sinis. Namun keano mengabaikan tatapan maut sang kakak.


"Kamu datang lebih awal karena ingin cari muka?" Alexi duduk di samping Keano dan mulai menabur garam.


Keano hanya diam tak menanggapi omongan Kakaknya itu. Tak penting juga dia meladeni omong kosong dari orang bodoh sepertinya. Lebih baik ia simpan tenaganya untuk hal lainnya yang lebih berguna.


Melihat Keano yang tak terpengaruh oleh provokasinya, Alexi menjadi marah. Namun kemarahannya ia tahan karena tak ingin membuat kekacauan di hari yang penting ini. Setidaknya, untuk urusan ini dia masih mempunyai otak yang bisa untuk di ajak berfikir.


Tak selang berapa lama ayahnya hadir dalam rapat. Ia menatap Keano tak suka namun sebisa mungkin ia sembunyikan rasa ketidaksukaannya. Ia tersenyum dan memberi salam kepada semua orang yang sudah hadir. Semua orang balas memberi hormat dan kembali duduk di tempat masing-masing.


"Selamat siang semuanya, hari ini kita berkumpul di sini untuk membahas kerja sama dengan pengusaha Jepang. Saya berharap rekan-rekan sekalian bisa ikut andil untuk meyakinkan pesohor dari Jepang tersebut, karena beliau terkenal sangat perfeksionis." Ayah Keano memberikan himbauan kepada orang yang hadir. mereka mengangguk-angguk mengerti. Bagaimanapun ini adalah kesempatan mereka agar perusahaan lebih berkembang lagi, selain membangkitkan dari kebangkrutan tentunya.


Pengawal yang ada di depan pintu membukakan pintu untuk seseorang. Seorang wanita cantik yang begitu anggun dan elegan masuk dengan tenang. Sikapnya angkuh memberi kesan wanita dari kalangan terhormat. Pandangannya tajam senyumnya penuh dengan teka teki. Banyak pasang mata yang terpesona ketika sang wanita berjalan lenggak-lenggok memamerkan bokong sintalnya. Kakinya yang jenjang berhiaskan sepatu hak tinggi yang pas dengan irama langkahnya, menambah kesan yang begitu seksi.


Sang wanita berjalan ke arah meja yang telah disediakan. Tak lupa ia memberi salam kepada semua yang telah menunggunya dengan sabar.


Semua orang yang hadir sangat terkejut dengan apa yang di ucapkan sang wanita bernama Rose itu. Mereka semua merasa di permainkan. Di pertemuan yang begitu penting, bagaimana mungkin dia mewakilkan dirinya dengan sang asisten, apa dia memandang rendah semua yang hadir di tempat ini. Banyak dari mereka yang berpikir macam-macam. Tak sedikit dari mereka yang merasa di rendahkan. Yang tak mereka ketahui, bahwa Kenji Hayashi sudah berada di tengah-tengah mereka.


Keano sangat menikmati pemandangan ini. Tak sedikit dari mereka menunjukan wajah aslinya. Dia tetap santai dan tenang, toh semua permainan ini sudah ada di dalam genggamannya.


"Bukankah Tuan Hayashi mau bertemu dengan ku? Kalau begitu untuk apa kalian semua kecewa, asalkan aku dan dia mencapai kesepakatan bukankah semua beres?" Keano angkat bicara.


Mendengar perkataan Keano, Ayahnya dan kakaknya begitu geram. Tuan Hayashi memang ingin menemuinya, tapi kenapa mesti pertemuan tertutup. Pertemuan hari ini sudah di atur sedemikian rupa, Mendatangkan Keano hanyalah sebuah formalitas karena Tuan Hayashi ingin menemuinya, tapi siapa sangka jika dia juga penuh dengan pertimbangan.


Di depan sana Rose tersenyum menanggapi perkataan Keano. Ia tak menyangka bahwa bosnya ini sangat licik. Di saat pertemuan pertama dengan para pemegang saham saja, mereka sudah di buat kalang kabut. Dalam hati ia sangat mengagumi sosok dari Bos mudanya itu.


"Perkataan tuan Keano benar, Tuan Hayashi hanya ingin menemui anda, dan tuan-tuan sekalian tidak perlu khawatir, tuan Hayashi tidak pernah membuat kesepakatan yang membuat sekutu bisnisnya merugi." Perkataan di iringi senyuman dari Rose mampu menghipnotis semua yang hadir. Bagaimanapun mereka para lelaki hidung belang, melihat sesuatu yang bening sedikit saja langsung meleleh.


Tanpa banyak protes lagi mereka setuju untuk menyerahkan semua pada Keano. Sepertinya Kendali akan perusahaan ini sudah ada di depan mata.


Lihatlah Grigori dan Alexi di sana, mereka hanya bisa merasakan tekanan yang semakin menumpuk. Kalau sampai para pemegang saham berpihak pada Keano, tak butuh waktu lama untuk mereka meninggalkan jabatannya dan menyerahkannya pada anak yang dulunya selalu mereka tindas.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menemui tuan Kenji Hayashi, atur semuanya untukku." Leon dan Rose mengangguk bersamaan. meskipun dalam hati mereka ingin tertawa karena ingin menemui dirinya sendiri, tapi demi tak ada yang curiga mereka akan memainkan sandiwara ini dengan sempurna.


Setelah semua jelas, Keano pergi ke ruangannya untuk mengistirahatkan pikirannya. Dia masih harus menyusun rencana selanjutnya agar semua berjalan seperti apa yang ia harapkan.


"Sepertinya tuan akan segera mendapatkan ruangan yang lebih layak dari pada ini." Leon mengikuti Keano dan mulai menggosip.


Keano yang ingin istirahat pun harus rela istirahat siangnya di ganggu. Ia sedang malas berdebat, dalam pikirannya masih terbayang sosok wanita yang menabraknya tadi. Mengingatnya membuat bibir Keano mengembang sedikit. Hanya sedikit bahkan Leon pun tak menyadari dengan senyuman itu. Ia tak memperdulikan ocehan Leon yang semakin lama semakin panjang melebihi panjangnya the great wall. Siapa yang tau apa yang ada di benak Keano kini, hanya dia dan Tuhan saja yang tau.


Bersambung...