
Cuaca yang panas membuat Shilla terlihat lebih letih. Apalagi keringat yang terus membanjiri di tambah wajah Kenzo yang terlihat sangat kusut membuat letihnya kian bertambah. Bahkan Kenzo yang kini sedang makan Ice cream saja terlihat tak bersemangat seperti biasanya.
Shilla sampai di kontrakannya dan di sana Rayna sudah menunggu. Melihat yang punya rumah telah kembali Rayna langsung berlari menghampiri mereka. Ia bersemangat sekali ingin menggendong Kenzo, namun begitu melihat muka lesu Kenzo niat itu ia urungkan.
"Kenzo kenapa Shil? sakit?" Rayna begitu mengkhawatirkan keadaan bocah kecil ini.
"Tidak. Hanya sedang merajuk." Jawab Shilla membuat Rayna bingung. Keinginan apa yang tak Shilla penuhi hingga membuat Kenzo merajuk. Sebisa mungkin Shilla selalu memenuhi keinginan Kenzo meskipun dia harus rela makan dengan hanya tempe goreng.
"Kok kamu di luar, ngga masuk." Shilla menyadari bahwa temannya sejak tadi menunggu di luar rumah melihat pintu yang masih tertutup.
"Kak Feli belum pulang."
Shilla mengangguk mengerti. Ia ajak sahabatnya untuk masuk dan segera ia suguhkan minuman dingin.
Rayna masih membujuk Kenzo agar kembali ceria. Biasanya Kenzo akan langsung ceria ketika di sodorkan makanan kesukaannya. Tapi kenapa sekarang seperti ini, sebenarnya apa yang telah terjadi. Rayna masih belum menemukan jawabannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kenzo?" Rayna mencoba bertanya pada ibu muda yang baru saja selesai mandi.
"Mungkin jauh di dalam lubuk hatinya dia juga menginginkan sosok seorang ayah."
Jawaban dari Shilla membuat Rayna semakin tak mengerti. Ia mencerna jawaban itu sampai beberapa saat. Namun tetap saja masih belum paham.
"Tadi dia memanggil tuan Keano dengan sebutan papa. Entah apa yang ada di benak Kenzo, tak biasanya dia begitu terhadap orang asing." Shilla meneruskan jawabannya.
Rayna yang mendengar tentu saja langsung kaget. Ia mengenal Kenzo dari kecil, dan terhadap orang asing selalu waspada. Sedikit aneh juga kalau terhadap tuan Keano langsung memanggil papa.
"Eh...? Maksudmu tuan Keano tuan muda dari keluarga terpandang Alterio? tuan muda yang baru pulang dari Jepang itu?" Tanya Rayna begitu antusias.
"Iya dia, siapa lagi?" Shilla memutar bola matanya lelah.
"Wooaaaah. Kamu keren Kenzo." Rayna mengacungkan jempolnya pada Kenzo.
Kenzo yang melihat itu bingung tak mengerti. Ia hanya terus melanjutkan bermainnya dengan tak bersemangat.
"Apanya yang keren." Shilla menjitak kepala temannya itu dengan sedikit keras.
Rayna meringis kesakitan. Apa yang salah dengan bicaranya sampai ia dijitak. Begitulah pikirannya. Tak lupa pula ia memajukan bibirnya ikutan merajuk. Namun Shilla tak menanggapi tingkah temannya yang begitu memalukan.
"Bahkan Kenzo pun bisa tau papa yang berkualitas." Ujar Rayna bersemangat sendiri. Kalau sampai beneran tuan Keano menjadi papa dari Kenzo, hidupnya juga akan ikut kecipratan enaknya juga.
"Jangan mengkhayal." Shilla melempar bola kecil mainan milik Kenzo ke muka Rayna yang sedang berkhayal. Ia tau otak temannya itu, ia akan mengkhayalkan sesuatu yang tak mungkin terjadi.
Yang di lempar hanya mengelus mukanya, memang gak sakit lemparan itu, namun sedikit membuatnya kaget apalagi sampai membuyarkan khayalan indahnya.
"Ayo kita ajak Kenzo jalan-jalan. Mungkin dia akan kembali ceria." Usul Rayna yang di setujui oleh Shilla.
Shilla langsung memandikan Kenzo terlebih dahulu. Biar sang bocah terlihat segar kembali.
.
.
.
"Lihatlah Shil, sepertinya Kenzo sudah melupakan keinginnannya." Rayna menggendong Kenzo yang terlihat asik makan kembang gula di tangannya.
Mereka baru saja selesai berjalan-jalan dan benar saja Kenzo terlihat kembali ceria. Wajah murung yang di perlihatkan tadi siang sudah menguap bersama angan belaka.
Mereka memilih berjalan kaki untuk kembali ke kontrakan. Sambil menikmati waktu juga pemandangan sore yang indah. Mereka tak ingin melewatkan kesempatan ini, karena jarang sekali mereka akan bisa berjalan-jalan bersama.
Mereka melihat-lihat sekitar. Toko-toko kecil yang menjual pernak-pernik tidak mereka lewatkan, mungkin ada sesuatu yang menarik untuk dibeli. Banyak toko yang mereka masuki hanya untuk sekedar menghabiskan waktu saja. Apalagi mereka berdua begitu iseng menjahili Kenzo. Ketika ada aksesori telinga kelinci, mereka pakaikan di kepala Kenzo. Dengan wajah putih imutnya, tentu saja Kenzo begitu cocok bak anak perempuan feminim. Apalagi kalau di pakaikan gaun, pasti Kenzo akan terlihat sangat cantik. Imajinasi dua orang perempuan ini sungguh liar. Bagaimana mungkin anak lelaki yang begitu tampan akan di pakaikan gaun, kalau Kenzo dewasa nanti pasti akan sangat malu dengan kelakuan ibunya itu.
"Hoaaaam..." Kenzo menguap dan menggosok matanya yang sudah mengantuk. Pagi ikut bekerja dan siangnya jalan-jalan, tentu saja tubuh kecilnya merasa kelelahan.
Shilla menyadari bahwa anaknya sudah lelah. Ia ajak Rayna untuk segera pulang. Di luar langit sudah menggelap, semakin padat dengan para muda mudi yang ingin menikmati suasana malam. Mereka berjalan beriringan dengan Kenzo berada di gendongan Shilla.
"Tolong...! tolong...!" Dari arah belakang terdengar teriakan minta tolong. Baik Shilla maupun Rayna sontak menoleh dan melihat wanita kesusahan mengejar seseorang berbaju hitam dengan masker menutupi wajahnya. Namun yang mereka herankan, banyak orang melihat kejadian itu malah hanya menyaksikan tanpa membantu sang wanita.
Lelaki berbaju hitam itu semakin mendekat ke arah Shilla. Shilla langsung memberikan Kenzo kepada Rayna. Rayna yang paham dengan situasi saat ini langsung menyingkir menjauhi Shilla. Ketika lelaki yang di kejar perempuan itu selangkah di depan Shilla, ia langsung melayangkan tendangan ke arah kepala membuat lelaki itu tersungkur. Sebelum lelaki itu bangkit, ia injak dada membuat lelaki itu berteriak kesakitan.
Dengan napas tersengal, wanita yang terlihat begitu anggun itu sampai di tempat Shilla berada.
"Dia... men...curi... haaaaah mencuri tas..." Wanita itu menujuk sebuah tas yang berada di genggaman lelaki yang ternyata seorang pencuri.
Dengan sigap, Shilla mengambil tas dan menyerahkannya kepada yang wanita. Setelah pencuri itu di lumpuhkan, barulah orang-orang berdatangan hendak menghajar pencuri itu.
"Apa kalian tidak malu, saat seorang wanita berteriak minta tolong, kalian abaikan, giliran sekarang sudah di lumpuhkan kalian ingin menghajarnya?" Shilla menegur orang-orang yang hendak main hakim sendiri.
Mereka malu di tegur oleh gadis muda yang berhasil melumpuhkan pencuri seorang diri. Mereka hanya bisa menunduk dan meminta maaf kepada wanita cantik yang baru saja tertimpa musibah.
"Lebih baik kalian bawa dia ke polisi. Negara ini masih ada hukum, jangan nodai tangan kalian hanya untuk main hakim sendiri." Shilla menyerahkan pencuri itu kepada beberapa orang untuk di adili ke kantor polisi.
"Makasih nona, kalau bukan karena nona saya pasti kehilangan tas ini." Wanita cantik itu berkata lembut mengucapkan terima kasih.
"Sama-sama nona. Lain kali lebih hati-hati. tidak baik wanita cantik seperti nona jalan sendirian di kota besar seperti ini." Shilla menasehati wanita itu. Memang di sekitarnya tak ada seseorang yang menjaganya. Bagaimana mungkin wanita yang terlihat kaya ini jalan sendirian tanpa pengawalan.
"Kamu ngga papa kan Shil?" Rayna mendekati Shilla. Terlihat Kenzo sudah tertidur di gendongan Rayna.
"Ngga papa. Kalau begitu kita permisi dulu nona. Lebih baik segera pulang kalau tak ingin kejadian seperti ini terulang lagi."
"Baik nona. Terima kasih sudah membantu. Namaku Xena, kalau butuh sesuatu bisa menghubungiku. Aku tidak suka hutang budi." Wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Xena itu memberikan kartu namanya. Ia tersenyum ke arah Rayna yang di tanggapi dengan anggukan.
Dengan senang hati Shilla menerima kartu nama itu. Ia langsung pamit pergi karena Kenzo sudah tertidur dan merasa tak nyaman di dalam gendongan Rayna. Mungkin anak itu ingin segera berbaring.
"Wanita tadi sepertinya dari kalangan terhormat." Rayna memecahkan keheningan di antara keduanya.
"Melihat dari namanya sepertinya seorang putri." Shilla membaca kembali kartu nama yang di berikan Xena. Tertera di sana sebuah nama 'Kalya Xena Hadiningrat'. Nama yang cocok untuk kalangan bangsawan Jawa.
Bersambung...