Young Mama

Young Mama
Bab 19: ~Kecemburuan Keano~



"Sialan, anak itu semakin semaunya sendiri." Grigori marah-marah di salam ruang kerjanya. Beberapa barang bahkan sudah pecah di banting olehnya.


Alexi yang melihat ayahnya begitu murka hanya bisa tertunduk diam. Dia semakin membenci adiknya yang membuat ayahnya menjadi seperti ini. Ia memikirkan cara bagaimana harus menjatuhkan adiknya yang sekarang. Kalau tau akan jadi seperti ini, dia dulu akan langsung membunuhnya saja. Toh mereka bukan saudara kandung. Ia harus bisa menguasai seluruh kekayaan Alterio. Namun sepertinya langkah kedepannya akan terhambat.


"Kamu juga, kenapa kamu begitu bodoh, ayah sudah menyerahkan seluruhnya untukmu tapi kenapa kamu hanya tau bermain perempuan. Kamu mau membuat keluarga ini jatuh miskin." Grigori memarahi Alexi atas kelakuan anak kesayangannya itu.


Karena terlalu di manja, Alexi semaunya sendiri bahkan berani menggelapkan dana perusahaan untuk kepentingannya sendiri.


Hal itu di ketahui oleh Keano, dan dia menjadikan kesempatan ini untuk mengambil alih perusahaan. Mau tak mau ayahnya harus menuruti Keano. Nyawa perusahaan ada di tangannya, apalagi Keano mengenal Kenji Hayashi, orang terkaya sekaligus paling kejam. Dia tak mau kalau perusahaan yang dirintisnya harus menjadi abu.


Sekarang Keano adalah pemegang saham terbesar kedua di perusahaan ini, kalau dia mau ia akan langsung mengambil alih semuanya, namun tak ia lakukan karena ia ingin melihat orang yang dulu meremehkannya menderita sedikit demi sedikit.


"Kalau kalian mau aku akan membantu kalian." Tanpa permisi seseorang masuk membuat dahi Grigori mengernyit tak mengerti.


"Siapa kamu?" Grigori menatapnya menyelidik.


"Kalya Xena Hadiningrat." Xena memperkenalkan dirinya.


"Kamu?! Putri dari orang terkaya nomor dua di negeri ini? Kenapa kamu menawarkan ini? Bukankah perusahaan orang tuamu sedang bagus-bagusnya." Grigori masih mencurigai Xena.


"Karena itu aku bisa membantumu. Awalnya aku di minta istrimu untuk membantu Keano, tapi sepertinya tanpa bantuan ku dia sudah bisa membuat kalian kuwalahan. Dan karena dia mengabaikanku, aku akan membantu kalian."


"Lalu apa yang kamu mau?" Alexi ikut turun bicara.


"Tak ada. Aku hanya mau Keano bertekuk lutut kepadaku dan menjadi lelakiku." Xena menyeringai licik.


"Apa bagusnya Keano, dia tak lebih tampan dari aku." Alexi berusaha menggoda Xena.


Xena menatapnya tajam. Dia tak suka dengan pemuda pemalas yang berambisi kosong. Mempunyai ambisi namun hanya duduk berpangku tangan, sungguh pemuda yang tak berguna.


"Tapi sepertinya kamu tak akan mendapatkan Keano. Karena dia sudah memiliki wanitanya sendiri, bahkan sudah memiliki anak." Alexi mencoba memprovokasi gadis yang ada di depannya.


Beberapa hari yang lalu, Alexi tak sengaja menyaksikan kejadian yang di luar dugaan. Adiknya yang terlihat pendiam ternyata sudah memiliki seorang putra. Bahkan untuk meminta pengakuan dari Keano, wanita itu sampai rela bekerja di perusahaannya. Sungguh kebetulan yang pas, di saat adiknya pulang wanita yang di kencaninya juga mendaftar di perusahaan ini. Begitulah kiranya pemikiran Alexi. Ia mengira Shilla mengejar Keano untuk meminta pertanggung jawabannya.


"Aku tak peduli. Asalkan aku bisa mendapatkan Keano, perempuan manapun yang menghalangi akan aku singkirkan." Tekad Xena begitu kuat.


Grigori puas mendengar jawaban Xena. Meskipun dia memiliki darah bangsawan, nyatanya sikap dan sifatnya jauh dari kata bangsawan. Untuk saat ini dia bisa mengandalkan Xena.


*


*


*


Hari ini agenda Keano adalah pergi ke sebuah pulau pribadi milik Kenji Hayashi. Berpura-pura melakukan pertemuan dengan orang nomor satu di jepang yang perusahaannya sudah mengakar di seluruh Asia. Keano di temani tangan kanannya menaiki sebuah helikopter menuju kawasan kepulauan seribu. Di sanalah Kenji memiliki pulau pribadi.


"Kenapa mesti repot-repot seperti ini tuan. Semua dokumen juga sudah tuan tanda tangani."


"Tak biasanya kamu mengeluh L."


"Saya hanya merindukan kehidupan kita di Jepang tuan. Negara ini terlalu damai."


Keano hanya menggelengkan kepalanya. Leon yang selalu maju lebih dulu dalam perang akan sangat bosan di negara yang penuh dengan kedamaian ini. Mungkin tak hanya Leon, Keano sepertinya juga sudah rindu dengan pertumpahan darah, mungkin darah ayah dan kakaknya bisa memuaskannya. Seringai Keano terlihat sangat mengerikan.


"Tapi sepertinya liburan kali ini akan sedikit asyik." Keano melihat sebentar seseorang yang duduk di belakang mereka.


Terlihat seorang perempuan dan juga anak kecil sedang tidur pulas. Meskipun suara baling-baling dari helikopter begitu berisik, tak mengganggu mereka untuk menikmati mimpi indah di siang hari ini.


"Kalau nona Shilla bangun pasti akan kaget sekali." Leon menghela napas pasrah.


Keano melihat Shilla di antar lagi oleh dosen kemarin. Sepertinya kedekatan mereka mengalami peningkatan. Api cemburu di dada keano sedikit terpercik. Entah akan berapa lama lagi api itu akan membara dan membakar sang empunya. Apalagi melihat Kenzo yang juga sudah dekat dengan dosen itu, Keano seakan tak terima.


Dengan sifat kerasnya, Keano menghampiri Shilla yang baru saja turun dari mobil bersama dengan Kenzo. Setelah mobil melaju, kesempatan Keano untuk mendekati Shilla dan memaksanya ikut pergi bersamanya.


Jelas Shill meronta, namun dia tak memiliki kesempatan untuk menunjukan jurusnya dengan adanya Kenzo di pelukannya. Ia hanya bisa pasrah saat tangan Keano memukul tengkuknya untuk membuatnya pingsan.


Dengan sigap Keano mengambil alih gendongan Kenzo dan tangan yang satunya menopang Shilla agar tak jatuh.


"Segera bawa mereka ke helikopter sebelum perempuan ini bangun."


Leon yang mendapat perintah tentu saja langsung menurutinya. Sepertinya wanita bernama Shilla itu akan mengalami hari yang buruk kedepannya, mengingat sifat keras kepalanya Keano.


"Papa... papa..." Kenzo tentu saja kegirangan bertemu dengan Keano yang ia anggap papanya. Ia bahkan tak memperdulikan ibunya yang masih memejamkan mata akibat pukulan Keano.


"Ayo kita jalan-jalan." Ucapan Keano membuat Kenzo semakin bersemangat.


*Kembali ke dalam Helikopter*


Shilla merasakan kepalanya begitu pening. Ia sedikit menekan kepalanya untuk mengurangi rasa pusing yang tak kunjung reda. Angin yang menerpa wajahnya membuat ia mau tak mau membuka mata. Sesaat dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Ia melihat ke sebelahnya dan mendapati Kenzo tertidur pulas di sampingnya. Ia putar kembali memori beberapa saat yang lalu. Setelah ia mendapatkan ingatannya ia langsung naik darah dan mencengkram seseorang yang lebih dekat pada jangkauannya.


"APA YANG MAU KALIAN LAKUKAN KEPADAKU!!!" Shilla berteriak marah.


Cengkeraman pada kerah Leon begitu kuat, serangan mendadak itu tak mampu Leon hindari. Karena begitu kaget, kendali pada helikopternya sedikit oleng. Namun, Leon mampu mengatasi hal tersebut.


"Kalau kamu tak mau kita mati bersama, sebaiknya kamu lepaskan dia." Keano yang sedari tadi duduk santai mengalihkan perhatian Shilla.


Shilla melihat sekitar, ia baru menyadari kalau sekarang mereka sedang berada di sebuah helikopter dengan Leon sebagai pilotnya. Ia merutuki dirinya sendiri. Kalau tadi Leon tak mampu mengendalikan, mereka mungkin kini sudah mati. Ia lepaskan cengkraman pada kerah baju Leon, ia menatap Keano tajam meminta penjelasan.


"Uuugh... mama..." Kenzo sepertinya terganggu dengan guncangan yang baru saja terjadi. Shilla menenangkan anaknya agar kembali tertidur.


"Bisa anda jelaskan tuan?! kenapa anda menculik saya dan anak saya?!" Shilla berkata dengan nada halus penuh intimidasi.


"Kenapa? aku hanya tak suka melihatmu dengan lelaki itu." Jawab Keano terlewat santai.


"ALASAN MACAM APA ITU?!" Shilla tak terima dengan alasan yang Keano berikan.


Leon di kursi pengemudi hanya bisa terkikik geli. Baru kali ini tuannya memperlihatkan kelakuan yang seperti itu. bahkan dulu ketika bersama dengan Violeta pun, Keano akan tetap bersikap kalem, tidak kekanakan seperti sekarang ini.


"Kalau kamu tak suka dengan alasanku ya sudah." Keano memalingkan pandangannya membuat Shilla semakin geram.


Tak peduli bahwa yang ada di hadapannya kini adalah bos besarnya, yang namanya penculikan tetap sebuah tindakan kriminal. Namun yang membuat Shilla merasa aneh kenapa Keano marah, bukankah di mata Keano dia dan Devan adalah sepasang suami istri.


"Anda begitu lucu tuan, kenapa anda tak suka melihat saya dengan suami saya sendiri?"


Mendengar kata suami membuat Keano sedikit naik pitam. Namun ia tak akan menyakiti wanita yang sudah memporak porandakan hatinya. Ia harus mampu mengontrol emosinya.


"Berhenti berpura-pura. Kamu tak memiliki suami, dia hanya dosen mu." Keano sudah tak tahan dengan Shilla yang berpura-pura memiliki suami.


"Dari mana anda tahu?" Shilla sedikit terkejut dengan apa yang di sampaikan Keano.


"Tak penting!" Keano memejamkan mata menikmati perjalanan ini. "Duduk saja dengan manis, aku tak akan menculikmu, untuk apa menculik ibu satu anak yang tak memiliki uang, mau minta tebusan ke siapa?"


Mendengar Keano bicara Shilla sedikit tersinggung. Namun yang dikatakan Keano memang benar, kalau memang ingin menculik harusnya menculik anak orang kaya untuk di mintai tebusan, masuk akal, pikirnya.


Pada akhirnya Shilla duduk tenang. Sesekali ia membenahi posisi Kenzo agar lebih nyaman. Ia tak ingin berbuat hal yang membahayakan dirinya maupun anaknya.


Bersambung...