
Hari berganti, waktu terus berjalan dengan semestinya. Yang dekat semakin dekat, yang sayang semakin sayang.
Beberapa hari setelah liburan yang tak di sengaja, Shilla semakin dekat dengan Keano. Sebenarnya dia ingin mengganggap hal itu tak pernah terjadi, namun karena sifat Keano yang keras kepala, Shilla tak dapat lari darinya. Di perusahaan pun Keano selalu meminta untuk di layani oleh Shilla. Dari memesan makanan, membuatkan minum, bahkan hanya untuk merapikan jasnya pun harus Shilla. Sampai dia berpikir, sebenarnya dia pekerjanya atau istrinya. Setiap memikirkan ini Shilla malu sendiri.
Tentu saja tak semua orang menyukai keberuntungan Shilla. Yang namanya orang pasti ada yang iri dengan kebahagiaan orang lain. Namun apakah Shilla peduli dengan hal itu? jawabannya tentu saja tidak. Shilla terlalu acuh dengan orang yang tak menyukainya. Ada yang suka ada yang membenci, itu sudah hukum alam. Banyak yang tak suka tentu akan lebih banyak yang suka, selagi mereka tak menyentuh anaknya, Shilla akan membiarkan begitu saja.
Banyak pula yang nyinyir lelah dengan sendirinya. Tiap kali mereka nyinyir di depan Shilla, dia hanya akan lewat dengan melemparkan senyum cantiknya. Tentu saja mereka semakin iri di buatnya. Wajah cantik yang mampu memikat Keano, mereka tak memilikinya. Bukan karena sombong Shilla berbuat seperti itu, ia hanya tak ingin menyia-nyiakan energinya untuk hal yang sepele.
"Apa kamu lelah dengan cibiran mereka. Aku bisa memecatnya kalau kau mau." Keano tiba-tiba datang di belakang Shilla.
"Jangan bodoh. Kamu hanya akan menurunkan reputasi mu tuan."
"Sudah ku bilang jangan panggil aku tuan, panggil aku Keano, atau sayang juga boleh."
Shilla memutar bola matanya. Keano semakin hari semakin aneh saja. Semakin terang-terangan menunjukan ketertarikannya pada Shilla. Dulu sebelum ada Keano, hidupnya tenang. Sekarang ketenangan itu sudah tercerai berai. Musuhnya semakin banyak, apalagi perempuan yang menyukai Keano, pasti akan langsung memusuhinya
Sering kali Keano menggoda Shilla, membuat para gadis yang menyaksikannya iri. Membuat mereka berkhayal kapan akan bisa dapat seseorang jatuh dari langit dan memanjakan mereka. Memang mereka pikir lelaki ada di langit dan jatuh? mati nanti yang ada. Ini bukan cerita fantasi, bukan pula cerita dongen yang bisa menjatuhkan lelaki tampan dari surga ataupun neraka.
"Shilla beruntung banget ya. Bisa membuat tuan Keano tahluk."
"Benar, apa kita juga harus jadi OG biar para tuan muda menyukai kita."
" Yang ada mereka akan lari dari kita. Dengan muka pas-pasan mau jadi OG, bahkan para OB pun tidak akan melirik kita."
"Hahaha benar sekali."
Shilla yang mendengar percakapan random mereka hanya tersenyum mensyukuri keadaannya. Ternyata dengan keadaan yang seperti ini masih ada yang membuat mereka iri. Apalagi yang dia inginkan kalau mereka saja iri dengan dirinya, Dia bukan gadis serakah yang akan mendapatkan segala apapun.
"Hei, Shilla... kenapa kau mengabaikan aku terus." Shilla saat ini sedang bekerja membersihkan lorong. Dan dari tadi Keano membuntutinya seperti tak ada pekerjaan lain. Shilla hanya berpikir, dimana sebenarnya Keano yang selalu galak, dingin dan tegas itu. Apa kepalanya sudah terbentur sesuatu hingga pribadinya berubah 180°.
"Tuan, saya sedang bekerja, mihon jangan mengganggu, bukankah tuan juga harus bekerja."
"Tenang ada Leon."
"Yang bos di sini adalah Tuan Keano bukan tuan Leon."
"Oke oke, aku akan kembali untuk bekerja. Jangan lupa kalau kamu sudah selesai pergilah ke ruangan ku." Dengan langkah tegap Keano kembali ke ruang kerjanya. Untung saja lantai ini sepi, jarang sekali orang berlalu lalang karena merupakan lantai para petinggi. Jadi tak banyak yang mengetahui tingkah Keano yang seperti tadi.
Dengan semangat Shilla kembali melakukan pekerjaannya. Ia pekerja yang rajin dan cekatan, selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
"Aduh..!" Tiba-tiba ada seorang wanita yang menabrak Shilla. Kopi yang di bawanya mengenai baju dan kulit Shilla. Karena kopinya panas Shilla meringis menahan rasa terbakar pada permukaan kulitnya.
"Ya ampun Shilla, maafkan aku, aku tak sengaja." Dengan muka pura-pura panik Xena meraih tangan Shilla yang terkena kopi panas.
"Tak apa nona, apa nona baik-baik saja.?" Meskipun dirinya terluka, namun karena sifatnya yang baik membuat dia malah mengkhawatirkan orang lain.
"Aku tak apa, cepat obati lukamu, kalau tidak nanti akan membekas."
Shilla mengangguk, dia menyingkirkan peralatan kerjanya ke tepi, dia langsung mencari menuju ruang kesehatan untuk meminta pertolongan pertama.
"Sekarang hanya tanganmu, kalau masih mendekati Keano ku, mukamu yang akan menjadi sasaran selanjutnya." Batin Xena penuh kebencian.
Setelah membuat keributan kecil, dia menuju tempat kerja Keano dan akan memulai merayu pria idamannya itu.
.
.
.
Sekembalinya dari ruang kesehatan, Shilla melihat ada keramaian kecil di tempat tadi meninggalkan peralatan kerjanya. Dengan cepat ia menghampiri kerumunan untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Siapa yang bekerja disini, kenapa begitu ceroboh." Seorang wanita cantik marah-marah karena terjatuh terpeleset kopi yang tadi belum di bersihkan.
"Maafkan saya nona, saya petugas yang bertanggung jawab."
"Jadi kamu," wanita itu tanpa menjelaskan apapun langsung menampar Shilla. " Apa kamu tau yang kamu lakukan, kamu hampir mencelakai ku."
Semua orang yang ada di sana terkejut Shilla di tampar oleh wanita asing yang belum pernah mereka temui.
"*Siapa wanita itu, berani dia menampar Shilla, dia kan mati."
"Berani-beraninya dia menampar wanita dari tuan Keano, tak ada yang bisa menyelamatkannya."
"Aku kasihan dengannya, dia mencari sasaran yang salah*."
Beberapa orang saling berbisik satu sama lain. Mungkin wanita ini baru pertama kali disini hingga tak mengetahui siapa itu Shilla. Meskipun dia cuma gadis tukang bersih-bersih, namun di belakangnya ada Keano yang siap melakukan apapun untuknya.
"Saya memang bersalah karena lali dengan pekerjaan saya, namun bukan berarti nona bisa seenaknya saja menampar saya." Shilla menatapnya tajam tanpa takut.
"Kamu...! kamu berani sama aku? kamu tidak tau siapa aku?" Wanita itu semakin marah karena keberanian Shilla.
"Siapa anda itu tidaklah penting. yang terpenting ada telah membuat keributan disini dan menyita waktu mereka yang masih harus bekerja." Shilla melihat sekeliling yang semakin banyak berdatangan orang. "Dan saya minta maaf atas kelalaian saya, namun saya juga menunggu permintaan maaf dari anda karena telah menampar saya."
"Hahaha... Lucu sekali, siapa kamu hingga aku harus meminta maaf, aku adalah wanita dari tuan muda perusahaan ini, harusnya kamu memberi hormat kepada ku.
"Kalau begitu harusnya anda bisa lebih menjaga sikap anda, bagaimana pun anada telah mencoreng nama dari tuan muda perusahaan ini." Shilla berkata dingin.
Bisik-bisik di antara kerumunan semakin menjadi. Mereka membenarkan perkataan Shilla. Sebagai wanitanya tuan muda, dia terlalu arogan.
"Ada apa ini. Keysha, kamu kenapa?" Alexi panik melihat wanitanya berantakan.
"Lexi, dia membuatku seperti ini." Dari wanita yang tadi arogan, berubah menjadi wanita manja dan memeluk tubuh kekar Alexi.
Alexi mengarahkan pandangannya ke gadis yang di tunjuk Keysha. Ia melihat gadis itu menatapnya dingin. Dia tau siapa gadis itu. Gadis yang selalu di ganggu Keano, dan yang selalu menarik perhatian Keano, lebih baik dia tak mencari masalah kali ini. Kalau tidak ayahnya akan memarahinya lagi.
"Kita pergi, kita bersihkan badanmu." Alexi menuntun Keysha.
"Tapi... Kamu harus memberikan pelajaran sama dia dulu. Dia sudah mempermalukan aku." Keysha tak terima Alexi membiarkan itu begitu saja.
"Lebih baik tuan memberikan pelajaran pada nona ini dulu. kalau tidak dia hanya akan mempermalukan tuan." Shilla memotong pembicaraan Keysha membuatnya semakin memendam amarah.
Shilla langsung membersihkan kekacauan yang telah di perbuatnya. Ia bersihkan tumpahan kopi dan segera menyuruh semua orang untuk bubar. Ini bukan merupakan drama yang harus mereka saksikan.
"Kamu semakin keren saja." Keano datang tiba-tiba membuat Shilla kaget. Selalu seperti ini, kedatangan Keano tak pernah terdeteksi, langsung berada di belakangnya dan membisikan kalimat yang membuat Shilla semakin besar untuk berharap.
"Kamu menyaksikan semuanya?"
"Tentu saja. Apalagi saat kamu membuat wanita itu marah, kamu sungguh wanita impianku."
Selalu kalimat tak terduga seperti ini. Mau tak mau hati Shilla tetap akan semakin luluh. Perempuan mana yang tak luluh dengan perlakuan manis. Apalagi jika perlakuan itu hanya di tujukan untuknya seorang, tidak untuk perempuan lain. Mungkin Shilla akan sedikit berani untuk membuka hati kali ini.