Young Mama

Young Mama
Bab 6: ~Dendam~



"Tuan, kapan anda akan kembali ke mansion utama? Ayah anda sudah menanyakan kapan anda akan kembali." Leon tak mengerti apa yang ada di pikiran tuannya. Semenjak kembali dari Jepang, Keano masih belum pulang menemui orang tuannya.


Keano memutar kursi yang didudukinya menghadap sang asisten. Diamnya Keano membuat Leon semakin bingung. Dia hanya bertanya-tanya di mana letak kesalahannya. Tatapan yang diberikan Keano, adalah tatapan yang tak disukai Leon, karena tatapan itu adalah tatapan ketika Keano sedang kesal.


"Apa yang harus saya lakukan tuan?" Leon menunduk memberi hormat berusaha mencairkan keadaan.


"Nanti malam aku akan pulang. Semakin tua kamu semakin cerewet L." Keano pergi meninggalkan Leon yang masih belum bisa mencerna keadaan. Mau tak mau dengan keadaan bingung Leon mengikuti bosnya.


Semenjak pulang dari negeri sakura, Keano memang memilih untuk tinggal di apartemen pribadinya. Jangan bertanya berapa apartemen yang dimiliki Keano, di setiap negara dia pasti memiliki satu apartemen. Bahkan orang tuanya tak tau kalau Keano sudah kembali, mereka berfikir kalau putra bungsunya masih berada di Jepang sana.


"Apa kau sudah mengatur semua yang ku katakan?" Keano mengingatkan Leon semua rencana yang sudah ia susun rapi.


"Semua sudah siap tuan."


"Bagus. Kalau begitu ayo kita temui tua bangka itu." seringai licik muncul di antara senyum Keano.


Keano duduk bersandar di jok belakang sambil mendengarkan ulang susunan rencana yang di bacakan Leon. Meski matanya terpejam, namun dia sangat fokus mendengarkan karena ia tak ingin ada sedikitpun celah kesalahan. Dia orang yang perfeksionis, selalu menyukai kesempurnaan, karena begitu ada satu kelemahan saja dari dirinya, musuh akan mudah menjatuhkannya.


"Dalam waktu sepuluh menit kita akan sampai perusahaan ayah anda tuan." Leon melihat arloji dan segera membereskan semua dokumen dengan rapi. Di belakang sana Keano hanya mengangguk menanggapi Leon.


Mobil yang di kendarai Keano melaju membelah keramaian kota Jakarta. Pada jam sibuk seperti sekarang ini, sungguh beruntung kalau tak mengalami kemacetan. Apalagi jika Keano terjebak macet, bisa-bisa dia langsung menyuruh polisi untuk mengawalnya agar kendaraan lain menyingkir semua.


Mobil putih itu berhenti di sebuah perusahaan nomor satu di Indonesia. Perusahaan Ekspor Impor yang menyuplai ke seluruh penjuru benua. Namun sedikitpun Keano tak tertarik dengan perusahaan ayahnya itu, yang ia inginkan adalah kehancuran mereka yang telah menyakitinya selama belasan tahun. Tinggal tunggu saja waktunya, sampai saatnya nanti, mereka yang telah menyepelekannya akan berlutut dan memohon ampunannya.


Leon turun dan segera membukakan pintu untuk Keano. Dengan angkuh Keano turun dan sedikit merapikan jas serta dasinya yang melonggar. Melihat tuan muda pemilik perusahaan, para karyawan langsung membungkuk memberi hormat. Keano tak mempedulikan mereka, dia terus berjalan menuju ruangan sang direktur.


Kakinya berhenti di sebuah ruangan bertuliskan Direktur. Tanpa mengetuk pintu dia langsung masuk mengagetkan seseorang yang berada di dalam.


Mereka yang sedang bercumbu di tengah jam kerja, bahkan dilakukan di dalam kantor tanpa merasa malu. Perempuan dengan lipstik belepotan kemana-mana langsung turun dari pangkuan seorang pria yang jasnya sudah tanggal dan kemeja terbuka. Dengan sisa malu yang tersisa, perempuan itu mengambil celana dalam pink yang tergeletak di lantai dan langsung berlari keluar.


"Jadi ini yang kau lakukan di jam kerja. Pantas saja perusahaan mengalami penurunan." Keano berkata sinis menyindir sang kakak yang dengan santai memperbaiki pakaiannya.


"Sejak kapan kau kembali. Kenapa tak langsung menemui papa saja? kenapa malah kesini? mengganggu saja." Sang kakak tak kalah sinisnya dengan Keano karena dia merasa kesenangannya sudah di ganggu.


Ia berjalan ke ruangan lain yang berada di lantai paling atas bangunan tersebut. Tak lupa Leon sang asisten juga selalu mengikuti di belakangnya. Sepanjang perjalanan banyak mulut yang selalu berbisik tak ramah. Meskipun mereka memberi hormat, namun di belakang mereka mengatai sang tuan muda buangan. Mendengar itu Keano tak terlalu memusingkan, ketika dia berdiri di atas mereka nanti, mereka akan segera menutup mulut mereka sendiri.


Keano sampai di depan ruangan Presiden Direktur. Pemimpin tertinggi perusahaan ini, yang tak lain adalah ayah Keano. Dia berdiri sebentar memasang poker face seperti selama ini yang ia lakukan.


Sekretaris Presdir memberitahukan kepada atasannya bahwa tuan muda Keano ingin bertemu. Presdir yang kini sedang mengerjakan entah apa langsung menyuruh sekretarisnya untuk mengajak Keano masuk.


Pertemuan pertama ayah dan anak setelah bertahun-tahun tak menjadi hari yang spesial. Yang biasanya akan peluk cium karena rindu, mereka berdua malah saling melempar tatapan merendahkan. Keano yang sudah terbiasa di tatap seperti itu biasa saja. Suatu saat nanti ia akan menguasai perusahaan ini dan menghancurkannya.


"Masih ingat untuk memanggil anakmu kalau keadaan sudah gawat?" Keano memulai percakapan dengan nada sinis.


"Aku masih ayahmu, kamu tak memberikan hormat sama sekali?"


"Kamu orang tua yang tak pantas untuk dihormati." Keano duduk dengan santainya mengabaikan tatapan marah dari sang ayah.


"Kalau bukan karena pengusaha dari Jepang yang ingin membahas kerjasama denganmu, aku juga tak ingin memanggilmu pulang." Ayah keano sang tuan besar dari keluarga Alterio memang sangat keterlaluan. Selama ini ia mengabaikan anak kandungnya demi seorang anak pungut yang bisanya menghabiskan uang dan berfoya-foya. Tapi sekali masalah melanda, ia di panggil kemari untuk menyelesaikannya.


"Kalau begitu lebih baik aku kembali saja ke Jepang, silahkan kamu temui sendiri pengusaha besar dari jepang itu." Keano tersenyum licik. Entah apa yang sebenarnya dia rencanakan, namun di balik senyumnya itu tersembunyi sebuah rencana besar.


Ayah Keano, Ivano Grigori Alterio tersentak. Ia sudah tak bisa mengekang anak bungsunya. Anak yang dulu penurut kini sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang bisa memberontak. Ia kalang kabut, kalau sampai anak bungsunya kembali ke jepang, maka perusahaan juga akan bangkrut. Entah kenapa pengusaha dari jepang meminta membuat kesepakatan dengan Keano, anak yang selama ini tak ia inginkan. Pada akhirnya, dengan menahan rasa malu dia akhirnya memberi tau Keano lewat asistennya untuk segera pulang sewaktu dia masih di Jepang. Kalau sampai Keano merasa tak nyaman dan kembali ke Jepang, usahanya akan sia-sia. Bahkan mungkin bisa membatalkan semua rencana yang di susun dengan rapi.


Dengan menekan rasa malu yang masih tersisa, ayahnya mencegah Keano pergi. Ia meminta Keano untuk bertemu dengan pengusaha jepang dulu, barulah kalau kesepakatan di dapat, ayahnya akan membiarkan Keano pergi.


Tentu saja Keano yang mengetahui rencana licik sang ayah semakin membencinya. Ketika butuh mereka memohon, dan ketika sudah tak butuh lagi dibuang saja seenaknya. Semakin terpupuklah kebencian yang sudah menjadi darah daging. Semakin kuat pula tekatnya untuk segera menghancurkan keluarga busuk ini.


"Itu tergantung sikapmu kepadaku." Keano bangkit berdiri dan langsung pergi. "Ah... urus saja jadwalnya, kau bisa beri tau Leon kapan waktu dan tempat pertemuannya." Keano kembali melangkah pergi dengan angkuh.


Grigori begitu geram melihat keangkuhan anaknya. Ia tak pernah mencari tau kabar keberadaanya ketika di Jepang, kalau saja ia tau hal seperti ini akan terjadi, ia akan mencari tau lebih banyak tentang anaknya sekarang. Bahkan pengusaha jepang yang merupakan orang terkaya se Asia pun mengenalnya, ia melewatkan sesuatu yang berharga.


Bersambung...