
Tampak sebuah mobil membelah kemacetan kota Jakarta. Suasana tenang di dalam mobil membuat seorang wanita begitu gugup. Kenzo sudah tertidur di pangkuannya sejak beberapa menit yang lalu. Kali ini hanya keheningan yang menyelimuti dua orang yang tengah berkecamuk dengan perasaan masing-masing. Sungguh mereka belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Sesuatu yang baru dan asing, namun mereka begitu menikmati perasaan itu.
"Umh... Shill, kalau aku mengajakmu ke suatu tempat apakah kamu keberatan?" Keano berusaha memecah keheningan. Entah apa yang ada di pikirannya, namun ia ingin mengajak menemui Violeta.
"Tergantung kemana kau akan membawaku." Sepertinya Shilla juga mulai terbiasa dengan Keano.
"Menemui seseorang yang sangat berharga untukku."
Mendengar hal itu Shilla langsung lemas. Tak tau kenapa hatinya tak rela. Namun dari awal ia menyadari kalau Keano memang bukan miliknya. Jadi ia harus siap jika hal seperti ini terjadi. Hanya saja, ia tak menyangka kalau kejadiannya begitu cepat. Egokah dia kalau berharap lebih. Egokah dia kalau ia masih ingin menikmati waktu seperti ini. Egois memang, namun, Shilla sudah terlanjur membuka hati untuk sang pangeran dingin Keano. Ingin menangis rasanya. Tapi dia tak berhak. Dengan memaksakan senyumnya, ia mengangguk menyetujui permintaan Keano. Mungkin ini adalah kali terakhir mereka bisa bersama. Jadi akan ia manfaatkan waktunya sebaik mungkin.
Keano tersenyum melihat Shilla mengangguk menyetujui. Ia melajukan mobilnya ke tempat Violeta beristirahat. Sepanjang perjalanan tak ada percakapan. Keano hanya tak mengerti kenapa sikap Shilla tiba-tiba berubah. Biasanya wanita itu akan marah-marah. Namun sejak percakapan terakhir dia diam tak merespon apapun yang Keano lakukan. Dengan berani Keano mengambil tangan kanan Shilla. Ia remas dengan lembut menyalurkan rasa sayang berharap Shilla mengerti.
Shilla hanya kaget saat tangannya di remas oleh Keano. Ia bisa merasakan perasaan Keano lewat sentuhan itu. Namun ia tak ingin terbuai dengan perlakuan Keano. Cukup. Dia tak ingin lebih sakit dari ini. Ia lepas perlahan genggaman Keano dengan dalih membenarkan posisi Kenzo. Ia tak ingin menyakiti wanita yang begitu berharga untuk Keano. Karena ia juga seorang wanita, ia tak ingin menyakiti wanita lain.
Keano jadi berpikir dengan perubahan sikap Shilla. Ia mencari-cari kesalahan apa yang ia perbuat hingga Shilla menjadi lebih sulit di jangkau. Beberapa menit berpikir ia tak kunjung menemukan jawabannya. Sampai pertanyaan Shilla selanjutnya membuat Keano sadar apa yang sebenarnya terjadi.
"Kei, seseorang yang berharga untukmu itu siapa?" Dengan takut-takut Shilla menanyakan kepada Keano berharap tak seperti yang ia khawatirkan. Saat ini yang ada di pikiran Shilla adalah mamanya Keano, tapi juga seorang wanitanya Keano, mungkin.
Mendengar pertanyaan dari Shilla Keano menyeringai. Ia kini menyadari perubahan sikap Shilla. Kalau memang benar Shilla cemburu, sungguh Keano akan sangat bahagia.
"Dia seseorang yang telah memenjarakan hatiku." Keano tersenyum licik. Ia akan melihat ekspresi yang di tunjukan Shilla. Ia akan segera mengetahui bagaimana perasaan Shilla.
"Ooh, pasti dia cantik." Sebisa mungkin Shilla menyembunyikan rasa sakitnya. Bibirnya ia paksakan untuk tersenyum. Sebenarnya ia ingin memaki, namun lidahnya terasa kelu.
"Iya, dia sangat cantik. Selalu terlihat cantik meskipun sedang tertidur." Keano tak dapat menyembunyikan rasa rindunya. Ia ingat dengan jelas bagaimana raut muka damai Violeta ketika di semayamkan. Wajah cantik itu tak akan pernah ia lupakan sampai kapanpun.
Shilla menangkap perubahan Keano. Terlihat jelas di mata sendunya bahwa ia sangat merindukan perempuan itu. Dia jadi semakin merasa tak berhak untuk bersama Keano. Begitu beruntung wanita yang begitu di cintai Keano, sungguh jelas sekali jika dia sangat mendambakan perempuan itu.
Shilla tak tau lagi harus merespon bagaimana. Ia iba. Ia terluka. Ia memilih diam, berpaling.
Rasanya waktu berputar begitu lama bagi Shilla. Keano puas melihat ekspresi yang di pancarkan Shilla. Sudah bisa di tebak jika wanita yang duduk di sampingnya ini merasa cemburu. Namun Shilla masih gengsi untuk mengakuinya di hadapan Keano.
"Ummmh... Mama..." Kenzo mengerjap-ngerjapkan matanya terbangun. Bocah ini memang sudah tertidur begitu lama. Sepertinya suasananya akan segera hangat kembali dengan kehadiran Kenzo.
"Iya sayang?" Shilla mengelus kepala Kenzo sayang.
"Pipis!" Kenzo terlalu imut ketika bibirnya mengerucut.
Keano dengan sigap langsung mencari toilet umum. Ia segera menepikan mobilnya saat matanya melihat papan tulisan toilet umum.
Dengan hati-hati Shilla menurunkan Kenzo. Ia begitu telaten mendampingi Kenzo. Ketika Shilla bersikap keibuan, pancaran pesonanya semakin membuat Keano jatuh hati.
"Apakah masih lama?" Shilla merasa ini sudah terlalu jauh. Bahkan sudah berada di luar kota Jakarta.
"Sebentar lagi."
"Oke." Shilla kembali memangku Kenzo.
Perjalanan selanjutnya diiringi celotehan Kenzo yang sibuk menanyakan beragam pertanyaan pada mereka berdua. Apapun yang dilihatnya, tak luput dari pertanyaan Kenzo.
Sejenak Shilla lupa dengan kegundahan hatinya. Ia dengan sabar menjawab seluruh pertanyaan Kenzo.
Jalanan yang di lalui semakin sepi kendaraan. Udara pun terasa sejuk karena jauh dari polusi. Dedaunan yang hijau semakin memanjakan mata. Shilla merasa tak asing dengan jalan ini. Sepertinya ia pernah beberapa kali melewatinya. Apalagi ketika mobil semakin mendekati tempat tujuan, Shilla yakin bahwa ia sering melewati tempat ini ketika mengunjungi pusara ibunya.
Perasaan Shilla tak enak. Tadi Keano bilang kalau dia akan membawa pergi menemui seseorang yang berharga. Tapi kenapa malah pergi ke pemakaman. Banyak pertanyaan yang memenuhi benak Shilla. Namun semua itu ia urungkan ketika Keano sudah membukakan pintu untuknya.
Kenzo di gendong oleh Keano. Shilla turun dan mengikuti langkah Keano. Shilla sudah hafal sekali dengan pemakaman ini. Ia sering mengunjungi mamanya. Dan terakhir beberapa bulan yang lalu ketika ia memperkenalkan Kenzo. Sekarang ia sudah berada di sini lagi. Bersama lelaki yang sudah mendobrak pertahanannya. Mungkin nanti ia akan sekalian bertemu dengan ibunya.
Mereka berjalan melewati gundukan-gundukan kecil berhiaskan nisan. Di belakang, Shilla sudah bisa menerka apa yang sebenarnya terjadi. Pantas saja pandangan Keano begitu merindu. Sorot mata yang biasanya tegas langsung terlihat sendu. Shilla jadi merasa bersalah karena merasa cemburu.
Shilla mengikuti Keano berhenti di depan sebuah pusara yang asing. Ia membaca nama yang tertulis di nisannya. Sebuah nama yang cantik, pasti secantik orangnya, begitulah kiranya yang ada di pikiran Shilla. Ia mengamati Keano yang hanya diam menatap batu nisan itu. Baru kali ini Shilla melihat Keano yang begitu rapuh.
"Kamu nggak mau memperkenalkan kami?" Shilla mencoba mencairkan suasana.
Keano masih asik berdiam diri. Sebelum akhirnya ia berjongkok dan membelai nama yang terukir indah di dalam batu nisan.
"Hai V, aku kembali lagi. Aku sudah janji padamu untuk mengunjungimu lagi lebih sering kan." Masih tetap membelai nisan, Keano mengajak Violeta bercakap-cakap. "Namun kali ini aku tak datang sendiri. Aku bersama Shilla dan putranya Kenzo. Aku akan memperkenalkan kalian." Pandangan Keano semakin kabur. Air mata yang terbendung semakin banyak. Entah akan bertahan berapa lama kelopaknya membendung air mata Keano.
"V... maafkan aku. Sepertinya aku tak dapat memenuhi janjiku. Aku berjanji untuk tidak berpaling darimu, namun sepertinya aku harus mengingkarinya." Keano tak tahan lagi. Pertahanannya runtuh. Air matanya tumpah menetes pada nisan. Mengalir membasahi tanah yang sudah lama mengering.
Mendengar penuturan Keano, Shilla tak dapat menghentikan perasaannya. Ia menangis tersedu memeluk Kenzo yang kebingungan.
Ada apa dengan para orang dewasa ini, kenapa mereka menangis. Kenzo tak mengerti dan hanya menerima pelukan erat dari mamanya.
"V... Di sampingku ini adalah wanita yang akhir-akhir ini memenuhi pikiranku. Aku di sini untuk meminta izin, agar aku bisa membuka kembali hatiku untuk wanita ini. Namun aku bisa berjanji, bahwa kamu akan selalu ada disini. Tempat yang paling dalam." Dengan tulus ia menunjuk dada kirinya. Bahwa Violeta sudah ada di hatinya dan tak akan pernah bisa keluar.
Shilla yang menyaksikannya begitu takjub. Ia tak menyangka bahwa seorang Keano bisa mencintai seseorang begitu dalam. Sungguh orang yang beruntung Violeta ini. Namun sayang, raganya sudah tak ada. Hanya kenangan saja yang mampu mengobati rasa rindu orang yang di tinggalkan.
Shilla berjongkok ikut menyentuh nisan yang ada di depannya. Ia memaksakan senyumnya agar terlihat lebih tegar.
"Hai Violeta, namaku Shilla, salam kenal." Shilla memperkenalkan dirinya sendiri.
Keano tersenyum melihat Shilla. Ia semakin jatuh dan jatuh lagi. Hari ini, dengan tekad yang kuat ia ingin jujur dengan perasaannya.
"Sekali lagi V, maafkan aku, dan mohon restuilah kami." Keano mengecup nisan itu sedikit lama. Shilla bisa melihat, bahwa Keano sangat mencintainya.
"Hei jangan sembarangan bicara, aku belum setuju." Shilla protes tak terima. "Tenang saja Violeta, aku tak akan mengambil lelakimu. Biarlah dia lajang seumur hidupnya. Ia pantas mendapatkannya." Shilla tersenyum mengejek.
"Siapa bilang aku butuh persetujuanmu." Keano mendelik tak terima dia di doakan lajang seumur hidup.
"Tapi aku tidak mau sama kamu."
"Memangnya siapa tadi yang terlihat begitu cemburu, sekarang bilang tak mau..." Keano menyeringai.
"Siapa yang cemburu?!"
"Tentu saja kamu. Kamu sudah ingin menangis ketika aku bilang mengajakmu ke tempat seseorang yang begitu berharga."
"Berhenti bicara omong kosong." Shilla memajukan bibirnya. Ia sungguh sangat malu ketahuan cemburu.
Kenzo yang tak mengerti apa yang di perdebatkan hanya memandang mereka bergantian. Ia tak ingin ikut campur dengan masalah orang dewasa. Ia malah dengan asiknya mencabuti rumput yang berada di atas pusara itu.
"Ayolah, jangan malu-malu lagi, aku yakin Vio sudah merestui kita." Keano tersenyum lembut. Ia genggam jemari Shilla di atas nisan Violeta. Kedua tangan yang saling bertaut itu bersama mengelus nisan Violeta.
Shilla sudah tak mampu lagi menyembunyikan rona di wajahnya. Dengan malu-malu, ia membalas genggaman Keano.
Tanpa kata mereka sudah saling mengerti perasaan masing-masing. Inilah awal perjalanan kisah mereka. Dengan nisan sebagai saksinya, mereka berjanji untuk saling berbagi.
Mereka tersenyum bersama. Tanpa mereka ketahui, sosok tubuh transparan tersenyum ke arah mereka. Sosok yang begitu cantik dan senyumnya meneduhkan. Sosok yang selalu di rindukan Keano. Dan dengan perlahan, sosok itu menghilang bersama dengan kepergiannya mereka.
Bersambung...
Selamat hari raya idul fitri semuanya.
Maaf lahir batin ya.