
Kenji masih setia menggendong Violeta di punggungnya. Tanpa kenal lelah ia terus menyusuri hutan yang penuh dengan marabahaya itu. Napasnya terengah, kakinya kebas, namun ia paksakan untuk terus berjalan.
Memasuki malam, Kenji semakin melangkahkan kaki masuk ke hutan yang lebih dalam. Pohon-pohon lebih rimbun. Dedaunan berhimpitan. Bahkan jika ini siang hari, sepertinya cahaya matahari juga tak dapat celah untuk masuk.
"K, kita semakin dalam, kalau ada binatang buas kita bisa kalah, kita tak ada senjata." Violeta agaknya sedikit khawatir. Biasanya senapan selalu di tangan, kini hanya dengan tangan kosong, Violeta sedikit ragu.
"Ssssttt.... Kamu tenang saja, kita pasti selamat." Kenji berusaha meyakinkan calon kekasihnya itu.
Kabut tipis mulai turun. Udara semakin lembab. Kenji berjalan dengan hati-hati takut langkahnya terperosok.
"Turunkan aku K, kita sudah jauh, mereka tak akan menemukan kita."
Kenji menurunkan Violeta dari punggungnya. Mereka berjalan bergandengan mencari tempat teraman untuk sekadar mengistirahatkan letihnya.
"V, itu ada goa, kita bersembunyi di sana, semakin larut akan semakin berbahaya. Kita juga tak ada penerangan yang memadai."
"Oke."
***
"Apa kamu bilang? K dan V hilang kontak?!" Mamoru marah kepada Eyes karena tak dapat melacak keberadaan kedua orang terhebat andalan organisasi.
"Maafkan saya tuan, terakhir sinyal mereka terdeteksi ada di hutan terlarang."
"B*NGS*T, beraninya mereka menjebak kita. Mereka menginginkan kedua orang terkuat kita." Mamoru mengepalkan tangan dan melayangkannya ke tembok.
Beberapa orang yang ada di ruangan itu sontak kaget karena tembok yang menjadi sasaran Mamoru retak cukup parah. Bisa di bayangkan bagaimana kekuatan pukulan seorang Mamoru Hayashi.
"Tak perlu menunggu waktu, kirim orang untuk menjemput mereka, susuri hutan itu, bawa banyak orang, kita akan berperang. Siapapun yang menghalangi bunuh!"
"Ya tuan!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Jadi ini kah Jepang?" Aiko berkeliling riang di pusat perbelanjaan kota megapolitan itu. Dia ditemani beberapa pengawal suruhan Ichiro.
Aiko benar-benar merasakan kebahagiaan hidup. Ternyata diusir dari rumah membuatnya menikmati seluruh kemewahan ini. Meskipun harga yang harus ia bayarkan sangat mahal, Mukanya.
***
Terlihat seorang anak kecil berceloteh riang dengan menggandeng tangan ibunya. Dia sedang berada di toko mainan dan memilah mainan apa yang ingin dia beli. Dia merasa kebingungan, semua mainan sudah ia miliki, dia tak tertarik pada apapun lagi. Dia bosan dengan mainan anak kecil yang itu-itu saja. Dia tak sadar bahwa dirinya memang masih kecil.
"Kenzo bingung mau beli apa ma." Tutur bocah itu pada akhirnya.
"Kenapa bingung sayang?"
"Semuanya sudah Ken miliki, papa sudah belikan semua untuk Ken, apa lagi yang Ken mau?"
"Jadi kita tak akan membeli mainan lagi?"
Kenzo menggeleng dan berpikir sejenak.
"Sepertinya Kenzo punya permintaan mainan yang menarik." Gaya Kenzo sok berpikir dewasa.
"Mainan seperti apa?"
"Kita ke kantor papa. Kenzo hanya bisa minta sama papa." Kenzo menggandeng Shilla keluar dari pusat perbelanjaan itu.
Shilla bingung. Dia sudah memegang kartu yang diberikan oleh Keano, namun kenapa Kenzo masih ingin meminta pada papanya, sebenarnya apa yang hendak diminta oleh Kenzo.
Meskipun Shilla bingung dia tetap mengikuti kemauan anaknya.
Mereka berdua keluar. Sejenak Kenzo berdiri melihat seseorang yang sepertinya ia kenal.
Namun hanya sekilas. Saat Kenzo mencari sosok itu, sosok itu sudah di telan lautan manusia yang sedang berburu promo bulanan.
***
Shilla bergandeng tangan memasuki perusahaan terbesar di Jepang. Semua mata memandang rendah Shilla. Dia memang belum pernah ke perusahaan ini. Shilla selalu menolak ketika diajak oleh Keano. Dia memilih pulang kuliah langsung pulang dan bermain bersama Kenzo.
Namun demi memenuhi keinginan anaknya, dia sekarang berada di sini. Tatapan orang-orang yang merendahkannya ia abaikan.
"Permisi nyonya, Anda tak bisa langsung masuk, anda harus membuat janji terlebih dahulu. Ini adalah perusahaan besar, semua yang keluar masuk di sini selain karyawan perusahaan harus melewati prosedur yang berlaku." Seorang keamanan mencegat Shilla dalam perjalanan.
"Kenzo mau bertemu papa!" Bentak anak itu.
"Memang papa kamu bekerja di sini? Kalau begitu tunggu jam istirahat, kalian tak bisa seenaknya dengan jam kerja karyawan disini."
Kenzo melotot galak. Dia hanya ingin ketemu papanya namun terus dihalang-halangi.
Kebetulan Kenzo melihat rombongan papanya sedang sedang berjalan keluar. Dia langsung berlari dan berteriak memanggil Keano di hadapan banyak orang.
"Papa!!!"
Shilla menoleh mengikuti arah lari Kenzo.
"Kok rasanya dejavu ya." Gumam Shilla.
Keamanan yang dari tadi terus menghalangi langsung berlari akan mencegah Kenzo. Dia sangat ketakutan apabila Kenzo berbuat onar. Dia bisa langsung kehilangan pekerjaannya karena lalai dalam menjalankan tugas.
"Papa!" Kenzo sudah memeluk kaki Keano.
"Maafkan saya tuan, maafkan saya, saya akan segera mengusir ibu dan anak ini. Maafkan saya tuan." Keamanan itu benar-benar ketakutan.
"Siapa yang akan kau usir?" Keano menatap tajam pria yang sudah bergidik menerima nasibnya
"Anak ini dan ibunya itu." Pria itu menunjuk Shilla yang masih berjalan pelan di belakang.
"Berani usir mereka, kamu kemasi barang-barangmu."
Pria itu bingung. Orang-orang yang ada di belakang Keano juga bingung. Mereka saling berpandangan. Mempertanyakan jati diri perempuan yang di lindungi oleh bosnya itu.
"Maafkan aku, Kenzo bersikeras ingin menemui mu." Shilla tersenyum lembut. Tak lupa juga senyum meminta maaf kepada seluruh relasi Keano yang pekerjaannya menjadi terhambat.
"Tak apa, aku senang akhirnya kau mau menunjukkan dirimu di sini." Keano mengecup kening Shilla sayang. Semua orang terkejut dengan pemandangan itu. Tanpa banyak kata Keano berbicara pada semua orang, melalui kecupan itu, Shilla adalah orang yang spesial.
"L, bawa mereka lebih dulu, aku menyusul. Rose bantu Leon."
Mereka berdua menerima perintah dan membimbing semua orang yang harusnya akan melakukan meeting itu.
Keamanan yang tadi sempat akan mengusir Shilla tambah bergetar ketakutan. Dia telah melakukan kesalahan. Karena kecerobohannya dia akan segera dipecat.
Salahkan Shilla yang hanya memakai pakaian sederhana. Tak ada keglamoran yang ada pada dirinya. Meskipun Keano akan sangat senang uangnya dibelanjakan oleh Shilla, namun gadis itu memilih untuk tetap apa adanya. Dia bukan gadis yang akan selalu memanfaatkan segala sesuatu yang ada. Biarkan dia bekerja keras dan menikmati hasilnya sendiri. Itu akan lebih menyenangkan dari pada cuma meminta tanpa adanya kerja keras.
"Malu Kei." Pipi Shilla bersemu.
"Kalian semua ingat wajah ini, ini adalah calon nyonya kalian, Jika ada yang berani macam-macam, silahkan keluar dari perusahaan ini dan jangan harap ada perusahaan lain yang mau menerima kalian." Ancam Keano yang membuat mereka mengangguk mengerti.
Keano mengangkat Kenzo dalam pelukannya. Tangan kanannya ia menggandeng Shilla mengajak pergi menyusul Leon dan Rose.
"Kali ini ku maafkan."
Pria keamanan itu berterima kasih pada bosnya karena telah diberikan kesempatan.
Bersambung...