
"Jadi semua sudah beres?" Shilla menanyakan perundingan yang terjadi antara Keano dan Alexi.
"Ya semua sudah beres." Keano nyengir lebar. Dia sangat senang karena di hadapannya kini berbaring wanita yang dicintainya. Melihat Shilla yang sedang menidurkan Kenzo sambil menepuk-nepuk b*k*ng anak kecil itu, Keano jadi ingin bertukar posisi dengan Kenzo. Abaikan saja imajinasi liar Keano. Dia hanyalah pria yang sudah diperbudak oleh cinta.
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Masih sehat kan?"
"Dasar! Kamu pikir aku gila."
"Yah, sedikit mendekati ke arah gila." Tanpa pikir panjang Shilla membenarkan perkataan Keano.
Mereka memang kini berada di ruang yang sama bahkan ranjang yang sama. Ini adalah kamar Keano. Evelyn memaksa mereka menginap, hingga pada akhirnya terjadilah situasi saat ini. Situasi yang menyenangkan untuk Keano. Berharap terjadi sesuatu yang iya-iya. Tapi itu hanyalah impian Keano yang tak akan pernah terwujud. Lihat saja tatapan Shilla yang sudah berubah menjadi galak ketika Keano tak sengaja menatap area dadanya. Sungguh beruntung Kenzo bisa memeluk dan mendusel di sana. Mau tak mau Keano hanya menelan ludah kasar.
"Lihat kemana kamu!" Shilla menatap Keano tajam. Wajahnya sudah memerah marah sekaligus malu. Baju yang dipinjamkan Evelyn memang baju yang kurang bahan. Area dadanya terekspos dengan indah. Entah apa yang ada di pikiran mama mertua itu sehingga meminjamkan baju yang modelnya seperti ini. Siapa yang tahu, mungkin dia menginginkan cucu lagi agar lebih rame.
"Memangnya kemana? Aku kan hanya melihat Kenzo." Keano berkilah. Dia tak mengakui arah pandang matanya. Kapan lagi dia bisa menikmati pemandangan yang sangat indah seperti ini. Pahatan tuhan yang sempurna tercetak jelas pada diri Shilla. Dia sangat bersyukur telah bertemu gadis itu.
"Jangan mengelak, semua lelaki sama saja, selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan." Shilla mendengus kesal.
"Tapi kamu terlihat cantik."
"Mesum!" Shilla melempar bantal pada Keano. "Tidur di sofa sana." Shilla langsung mengambil selimut dan membungkus tubuhnya serta tubuh Kenzo. Dia tak akan membiarkan Keano mengambil kesempatan ketika dia tertidur.
Keano hanya cengo diperlakukan seperti ini. Ini kan kamarnya, kenapa harus dia yang tidur di sofa. Lama-lama ini cewek minta di khilafin sepertinya.
"Ini kan kamarku." Keano sedikit jahil. Dia akan melihat respon Shilla. Kali aja Shilla memperbolehkan dia tidur di sebelahnya.
"Lalu?" Tanpa merasa berdosa Shilla balik bertanya pada Keano.
"Masa aku harus tidur di sofa. Padahal ini ranjang ku juga." Keano memasang tampang memelas.
"Oh. Oke." Shilla bangkit dengan selimut yang membungkus tubuhnya. "Kamu masih memiliki selimut lain kan, tolong berikan pada Kenzo, aku akan memakai ini." Dengan masih berbalut selimut, Shilla berjalan ke arah sofa.
Keano benar-benar speechless dibuatnya. Dia tak mengerti dengan pikiran gadis ini. Dengan santainya Shilla merebahkan badannya di sofa panjang yang ada di kamar Keano.
"Tolong jaga Kenzo. Kamu ngga akan menyuruhnya tidur di sofa juga kan?" Setelah mengatakan itu Shilla langsung memejamkan mata. Efek sudah mengantuk berat, tak butuh waktu lama dia sudah tertidur damai dengan mimpi indahnya.
Keano mengambil selimut lain untuk Kenzo. Anak itu juga sudah tertidur sejak tadi karena kecapekan bermain dengan Evelyn. Sebenarnya Evelyn sangat ingin tidur dengan Kenzo, tapi anak itu tak bisa tidur jika bukan di pelukan mamanya.
Keano mendekati Shilla yang terlelap dengan wajah damai. Dia elus puncak kepalanya dengan sayang.
"Hanya kamu yang berani berdebat dengan ku." Keano terkekeh saat mengatakan itu. "Hanya kamu yang berani marah kepada ku." Keano mengecup kening Shilla membuat Shilla menggeliat terganggu. "Tolong jangan tinggalkan aku." Dengan hati-hati Keano mengangkat tubuh Shilla yang terbalut selimut. Ia pindahkan tubuh kekasihnya di ranjang king size nya. Dia tak akan mungkin tega membiarkan wanitanya tidur di sofa yang sempit itu. Meskipun sofa itu empuk, namun tubuh Shilla tak akan nyaman tidur di sana.
Apakah Keano akan mengambil kesempatan ini? Tentu saja tidak. Dia bukan lelaki picik yang memanfaatkan situasi. Dia benahi selimut agar ibu dan anak itu tak kedinginan. Melihat mereka terlelap membuat hatinya menghangat. Sepertinya berkeluarga tak buruk juga. Dia berjalan ke arah sofa, membaringkan tubuhnya yang lelah seharian bekerja. Semoga esok hari menjadi hari yang lebih bahagia.
*
*
*
Kini Alexi berada di ruang kerja Keano. Mereka masih menunggu waktu untuk rapat. Hari ini Keano akan mengumumkan kepada semua orang bahwa kendali perusahaan akan di serahkan pada Alexi. Meski masih dalam pantauannya, Keano berharap mereka bisa menaati Alexi seperti mereka menaatinya.
Kemarin setelah Keano seharian mengajari Alexi, ternyata Alexi orang yang cekatan. Sayang sekali dulu dia hanya suka bersenang-senang. Kalau dulu dia serius, mungkin Keano akan sulit menggulingkannya juga ayahnya.
"Apa kamu bisa memilih sekretaris mu sendiri?" Keano bertanya pada Alexi tentang siapa yang akan menjadi sekretaris kedepannya. Dia tak akan mungkin membiarkan Shilla menjadi sekretaris dari Alexi. Dia akan mengajak kekasihnya ke negeri sakura sana. Meskipun dia masih belum bisa mengutarakan niatnya, namun harapannya Shilla akan mengikutinya kemanapun ia pergi.
"Aku tak tahu, aku amnesia kalau kau lupa." Alexi terkekeh. Ternyata meskipun dia amnesia, untuk urusan pekerjaan otaknya tetap bisa di ajak kerja sama.
"Kalu begitu buka pendaftaran untuk sekretaris baru saja." Final Keano.
"Kenapa bukan Shilla?" Alexi pura-pura bodoh.
"Kamu mau mati?! Kalau iya dengan senang hati aku akan membunuhmu." Rahang Keano mengeras marah. Padahal dia juga tahu kalau ucapan Alexi ini hanya bercanda.
Terlihat sekali mereka semakin dekat. Meski masih selalu berselisih pendapat, namun dalam tubuh mereka tetap mengalir darah yang sama. Meskipun mereka tumbuh di rahim yang berbeda, mereka tak bisa menampik bahwa ayah mereka sama.
Saat mereka akur seperti ini membuat tatapan banyak gadis gemas. Kakak beradik yang sama-sama tampan membuat pemandangan pagi hari lebih cerah. Mereka tak peduli dulu seperti apa. Yang ada hanyalah sekarang dan masa depan nanti. Semoga kebahagiaan ini tak berlangsung singkat.
"Tuan, semua dewa sudah datang." Leon masuk dengan sopan. Di belakangnya juga ada Shilla yang membawa beberapa dokumen untuk mereka bahas nanti.
Dengan langkah tegap Keano memasuki ruang rapat. Semua mata langsung tertuju padanya. Mereka langsung berdiri memberi hormat. Namun pemandangan yang membuat mereka bertanya-tanya adalah kehadiran Alexi di sini. Setahu mereka Alexi sudah di keluarkan dari perusahaan ini, tapi kini malah datang bersama dengan presdir mereka.
"Silahkan duduk." Keano duduk di kursi khusus untuknya di ikuti mereka yang duduk di kursi masing-masing.
"Maaf menyela tuan, tapi kenapa tuan Alexi juga datang ke sini?" Salah satu dewan direksi memberanikan bertanya. Rasa ingin tahunya ternyata lebih tinggi dari rasa takutnya.
"Sabar dulu. Karena dia lah aku mengumpulkan kalian semua disini."
Mereka saling menatap satu sama lain. Mereka tak bisa menebak sebenarnya apa yang ada di pikiran bosnya ini. Dia selalu mengejutkan semua orang dengan segala hal.
"Mulai minggu depan aku harus kembali ke Jepang, untuk itu aku menunjuk Alexi untuk mengisi posisi ku."
Mereka semua langsung terkejut. Mereka sangat tahu bagaimana kinerja Alexi dulu. Anak itu hanya suka bermalas-malasan dan hanya tahu menghamburkan uang. Kalau perusahaan ini di bawah kendali Alexi, dalam sebulan mungkin sudah harus tutup dan akan banyak pengangguran.
Mereka melihat Alexi meremehkan. Tak ada yang mengerti jalan pikiran Keano. Menyerahkan perusahaan ke tangan Alexi sama saja menghancurkan perusahaan.
"Maaf tuan, bukan saya lancang, tapi apa tuan sudah memikirkannya dengan matang?"
"Kenapa memangnya?"
"Akan lebih baik kalau orang lain yang menggantikan tuan, tapi orang itu bukan tuan Alexi."
Alexi sedikit sakit hati sebenarnya. Sebegitu tak bergunanyakah dia dulu? hingga mereka semua meremehkannya.
"Benar tuan, lebih baik cari orang lain saja. Bahkan menurut saya tuan Leon lebih baik dari tuan Alexi."
Banyak yang mengangguk membenarkan. Mereka sangat tidak setuju dengan keputusan Keano kali ini.
"Apa kalian memang suka meremehkan orang lain?" Mata Keano memicing.
"Kami tak bermaksud meremehkan Tuan, tapi kita semua tahu kalau tuan Alexi tak berkompeten dalam mengurus perusahaan."
"Benar."
"Benar."
"Benar, yang dia tahu hanya main perempuan saja."
"Bahkan beredar kabar ada seorang perempuan yang sampai melahirkan anaknya, tapi dia tak mau mengakuinya."
"Malangnya anak itu harus di buang oleh orang tuanya."
"Orang seperti itu tak pantas memimpin."
"DIAM!" Keano sudah sangat emosi. Mereka tak mengindahkan Keano yang kini masih sebagai pemimpin mereka. "Apa kalian tak menghargai ku? hingga kalian berani berbicara seperti itu di depanku."
Melihat Keano marah nyali mereka langsung ciut. Apalagi gebrakan meja yang di lakukan Keano mampu mematahkan meja yang terbuat dari logam itu. Kekuatan tangan yang sungguh dahsyat.
"Dulu ketika aku mengangkat Shilla sebagi sekretaris pribadiku, kalian menentang karena dia masih kuliah, nyatanya dia sangat rapi kerjaannya, berkat bimbingan yang Leon berikan. Sekarang kalian juga meremehkan calon Presdir kalian yang baru?"
Mereka langsung terdiam. Mereka kehilangan nyali mereka. Memang benar mereka telah meremehkan Shilla, tapi sekarang Shilla menjadi sekretaris handal tak kalah dari Leon. Mereka malu. Mereka pikir Keano mengangkat Shilla sebagai sekretarisnya hanya karena urusan pribadi, tapi wanita itu benar-benar cerdas ternyata.
"Kenapa kalian diam!" Keano masih murka. Dia tak suka keputusannya di ragukan.
Mereka semua sangat ketakutan dengan amarah Keano. Hanya Shilla dan Leon saja sepertinya yang bisa tetap tenang.
"Keano, sepertinya mereka tak setuju aku menjabat di sini lagi." Alexi menengahi perdebatan mereka.
"Lalu? Kamu akan mundur begitu saja tanpa melakukan perlawanan?" Keano memicing marah. Dia sudah membela Alexi, kalau sampai yang bersangkutan mundur dengan mudah, dia akan langsung membunuhnya. Untuk apa membela sampah tak berguna.
Alexi tersenyum penuh teka teki. "Tentu saja tidak. Justru aku semakin bersemangat untuk mengambil posisi ini dan membungkam mulut mereka semua." Alexi menyeringai. Seringai yang tak kalah jahat dari milik Keano. Sepertinya bergaul dengan Keano menjadikannya buas juga.
Keano puas dengan jawaban Alexi. Kini dia bisa sepenuhnya mempercayakan perusahaan kecil ini pada Alexi. Tak perlu ia khawatir Alexi mengkhianatinya. Kalaupun Alexi melakukan itu, sangat mudah untuknya menyingkirkan orang seperti Alexi. Bahkan dia bisa membuatnya lebih menderita lagi.
Bersambung...