
Jarak yang harusnya dekat terasa menjadi lebih jauh. Banyak musuh yang menghentikan langkah Mamoru. Namun pada akhirnya nyawa mereka sendiri yang melayang.
Kabut darah kian pekat. Bau anyir kian menyengat. Medan pertempuran kian hening seiring tumbangnya satu persatu para pengikut setia.
Langkah terakhir Mamoru telah sampai pada sebuah mobil hitam yang terparkir setia menyaksikan anak buahnya tumbang satu persatu. Di dalam sana tersembunyi dalang di balik semua penyerangan ini. Senyum jahat menghiasi wajah seorang yang masih menikmati suasana ini. Dia Alison, musuh bebuyutan Mamoru sejak kecil.
Melihat sang rival semakin mendekat, seringai Alison semakin lebar. Dia tak sabar untuk menghancurkan hati Mamoru dengan hadiah yang sudah ia siapkan. Kalau kekerasan tak dapat menghentikannya, makan Alison akan mempergunakan cara yang halus.
Mamoru tepat di samping mobil hitam Alison. Ia ketuk kaca mobil dengan moncong senjatanya yang selalu siaga. Di belakang sana, semua anak buah Alison sudah tumbang. Tinggal beberapa orang yang masih berdiri tegap menemani D yang ingin ikut menyusul Mamoru.
Dengan tenang Alison menurunkan kaca mobil. Meskipun senjata Mamoru langsung mengacung di pelipisnya, ia tetap tenang menghadapi keadaan. Kartu AS yang ia siapkan belum dikeluarkan. Ia akan melihat bagaimana reaksi Mamoru saat tau orang yang sedang ingin dikencaninya ternyata berada dipihaknya.
"Apa ada pesan terakhir?" Mamoru semakin geram melihat senyum Alison yang mengejeknya. Tinggal ia tarik saja pelatuknya, kepala Alison langsung akan berlubang oleh peluru yang keluar dari senjatanya.
"..." Hanya senyum sarkas yang Alison berikan kepada Mamoru. Dia sangat menikmati ketika melihat Mamoru hilang kendali.
"Tak ada kata terakhir?" Mamoru membenahi posisi senjatanya. "Kalau begitu selamat tinggal. Sampaikan salam ku untuk malaikat maut." Mamoru bersiap menarik pelatuk senjatanya.
"Susan."
Satu kata yang membuat Mamoru langsung membeku. Telunjuknya terasa kelu. Cukup satu detik dia bisa langsung melumpuhkan Alison. Namun satu nama membuat ia mengurungkan niatnya.
Ia kecolongan. Entah Bagaimana Alison bisa mengetahui tentang Susan. Namun Mamoru masih belum ingin percaya. Banyak sekali nama Susan di dunia ini. Ia kembali menetralkan perasaannya. Dia bersiap kembali untuk melubangi kepala Alison dengan pelurunya.
"Susan Maheswari." Kembali. Alison mengucapkan sebuah nama yang tak ingin Mamoru dengan dari mulut busuk seorang Alison.
Mamoru langsung hilang kendali. Ia lempar senjatanya dan langsung mencengkeram kerah Alison dengan kasar. "APA YANG KAU LAKUKAN DENGANNYA!" Cengkeraman Mamoru semakin kencang. Bahkan ia tak sadar bahwa ia sudah mencekik leher Alison. Terlihat gurat merah yang tergambar pada leher sang musuh.
Melihat Mamoru semakin gusar, Alison semakin menikmati pemandangan yang ada di hadapannya. Ia ingin mempermainkan Mamoru lebih lama. Dia tak menyangka, bahwa kelemahan seorang Mamoru yang bengis adalah seorang wanita. Dia bodoh, kenapa tak mengetahuinya sejak lama. Kalau dari dulu ia tahu, mungkin daratan Jepang ini akan berada dalam genggamannya.
"Katakan b*ngs*t!!!" Satu tinju melayang kepada wajah Alison yang masih setia tersenyum.
Mamoru membuka pintu mobil dan menyeret Alison keluar. Ia layangkan pukulan bertubi-tubi namun tak ada respon dari Alison.
"Kalau kau ingin membunuhku. Bunuh saja. Tapi kau tak akan pernah tahu di mana dia." Alison menyeringai. Ia tak peduli darah sudah mengalir dari sudut bibirnya. Dia nikmati rasa asin yang bercampur dengan air ludahnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mama...!" Suara riang Kenzo langsung memenuhi rumah besar itu tat kala Shilla melangkahkan kakinya masuk.
Dengan semangat yang sama Shilla langsung memeluk dan menggendong Kenzo yang sudah tak ringan lagi. Dengan sayang Shilla menciumi pipi Kenzo membuat Kenzo tertawa kegelian.
"Kuliahnya lancar nona?" Sapa pengasuh Kenzo. Dia masih muda. Masih dua atau tiga tahun di bawah Shilla. Namun karena tekanan ekonomi, di usianya yang muda itu ia harus bekerja. Shilla bisa memahami bagaimana sulitnya bekerja saat usia masih muda. Dia juga pernah merasakan ada di posisi yang sama. Bahkan dia harus menghidupi nyawa lain selain dirinya.
"Lancar. Teman-teman juga baik." Shilla tersenyum pada Harumi. Yang tak lain adalah pengasuh Kenzo.
"Apa sekolah di Universita itu menyenangkan nona?" Harumi penasaran. Dia hanyalah tamatan SHS. Dia belum pernah merasakan apa itu kuliah. Ingin sekali Harumi juga merasakan bangku kuliah. Bercanda dengan teman, pusing karena tugas bareng teman, ataupun kalau boleh sekalian mencari lelaki tampan. Ingin sekali Harumi merasakan semua itu. Terlihat dari pancaran matanya yang begitu semangat saat menanyakan tentang kehidupan kampus nona mudanya.
"Tentu saja menyenangkan. Kita bisa memiliki teman. Berkeluh kesah bersama. Dan bisa ngobrolin tentang cowok juga loh." Saat bilang tentang cowok, bibir Shilla bisik-bisik di telinga Harumi sengaja menggoda.
Harumi belum pernah mengenal cinta. Jangankan mengenal cinta, namun dia memang tak pernah berkenalan dengan lelaki. Sebab itu telinganya langsung bersemu ketika Shilla mencandainya.
"Jadi, kamu senang sekali saat membicarakan lelaki lain dengan mereka?" Entah dari mana datangnya, Keano sudah ada di belakang Shilla. Dia berbisik cemburu ketika Shilla bilang tentang lelaki lain.
"Astaga?" Shilla terlonjak kaget. Untung saja Kenzo tak lepas dari rengkuhannya. "Kalau datang bersuara dong Kei!"
"Aku bersuara. Namun kamu terlalu asik membicarakan lelaki lain, hingga tak menyadari keberadaan ku." Bohong. Keano sudah memperhatikan Shilla sejak ia berbincang dengan Harumi. Bahkan ia dengan sengaja melangkah perlahan agar tak menimbulkan suara.
"Jadi, kau ingin bermain-main dibelakangku hm?" Goda Keano memainkan rambut panjang Shilla yang sesekali menutupi mata.
Kenzo di gendongan Shilla hanya mengerjap-ngerjapkan mata. Ia tak mengerti dengan perilaku papanya. Seperti hendak mencium mama namun tak kunjung dilakukan. Berbagai pertanyaan muncul di kepala Kenzo. Rasa penasarannya membuat ia memasang ekspresi lucu. Apalagi melihat wajah mamanya yang sudah merah padam. Secara otomatis tangan kecilnya terulur menyentuh dahi Shilla seperti yang selalu Shilla lakukan saat dirinya jatuh sakit.
"Mama sakit?"
Shilla semakin salah tingkah. Bahkan anaknya saja melihat perubahan dalam dirinya. Tentu Keano lebih memahami dengan apa yang terjadi sekarang ini.
Keano semakin ingin menggoda gadisnya. Bahkan dia tak peduli jika sedari tadi Harumi masih memperhatikan mereka dengan wajah panas. Semakin dekat. Beberapa inci lagi bibir mereka akan bersatu.
"Jadi? Kamu akan tetap diam?" Nada bicara Keano begitu sensual. Dia bahkan lupa kalau di antara mereka masih ada bocah.
"Permisi tuan! Nona!" Harumi langsung merebut Kenzo dari tangan Shilla. Dia tak akan rela mata bocah kecil imut polos itu terkontaminasi oleh kelakuan orang tuanya. Dia langsung mengajak Kenzo pergi dari dua orang yang masih saling menatap. Terlihat seperti seekor kelinci yang hendak diterkam oleh seekor serigala.
"Kakak. Kakak kenapa mengajak Kenzo pergi. Mama sakit." Dengan polos Kenzo menanyakan alasan dirinya dibawa pergi secara paksa.
"Tuan kecil melihat mama nanti lagi ya?"
"Kenapa?"
Harumi tak tahu harus memberi alasan apa pada majikan kecilnya. Rasa ingin tahu bocah itu terlalu tinggi. Kalau jawabannya tak masuk akal, dia akan terus bertanya sampai mendapat jawaban yang memuaskan.
"Kenapa kak?" Kenzo bertanya sekali lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari pengasuhnya itu.
Kenzo terus bertanya kenapa membuat Harumi kesulitan untuk menjelaskan.
"Bukan apa-apa sayang. Mama ngga sakit kok." Kemunculan Shilla membuat Harumi bernafas lega. Dia jadi terhindar dari rasa ingin tahu Kenzo.
"Mama sakit." Kenzo masih saja teguh pendiriannya. Dia berjalan ke arah Shilla dan memberi kode agar Shilla berjongkok.
Shilla hanya mengikuti permintaan bocah itu. Dia berjongkok di hadapan Kenzo menunggu apa yang akan Kenzo lakukan.
Kenzo kembali mengulurkan tangan kecilnya. Namun tak didapati suhu panas dalam tubuh mamanya. Kenzo kembali mengamati wajah Shilla dengan saksama. Wajah yang semula lucu imut menjadi berubah. Tercetak di wajah imutnya sebuah kemarahan.
Kaki kecil Kenzo langsung keluar mencari Keano yang ia anggap papanya. Namun sepertinya dia akan berpikir dua atau tiga kali lagi untuk menjadikan lelaki dewasa itu papanya. Dia telah menyakiti mama kesayangannya. Kenzo tak terima.
"Papa!" Kenzo melotot di hadapan Keano yang malah terlihat semakin menggemaskan. Kenzo berpikir sejenak. Sepertinya dia salah mengucapkan sesuatu. "Tuan Keano!" Kenzo meralat ucapan papa.
Keano yang di panggil pun hanya melihat Kenzo tak mengerti. Bahkan saat ia ingin menyentuh bocah itu, Kenzo langsung menghindar tak ingin disentuh.
Shilla dan Harumi yang mengikuti dari belakang juga tak mengerti dengan sikap Kenzo. Tiba-tiba saja dia terlihat marah dan sekarang sepertinya Kenzo sedang meminta keadilan dengan papanya.
"Kenzo kenapa sayang?" Dengan sabar Keano mendekati Kenzo. Seperti yang selalu Shilla lakukan, Keano ingin merengkuh Kenzo dalam gendongannya.
"Tuan sudah menyakiti mama!" Kenzo kembali menghindar dari sentuhan Keano. Bahkan dia melancarkan serangan dengan menuduh Keano telah menyakiti mama tersayangnya.
Para orang dewasa yang ada di ruangan itu semakin tak mengerti dengan jalan pikiran bocah itu. Entah dari mana Kenzo bisa menyimpulkan bahwa Keano telah menyakiti Shilla. Apalagi Kenzo tak memanggil Keano dengan sebutan papa. Semakin bingunglah mereka
"Kenzo sayang, tak mungkin papa menyakiti mama Kenzo."
"Bohong! Tuan telah menyakiti mama Kenzo!" Kenzo masih kekeh dengan asumsinya.
Keano menghela nafas. Dia mencoba menenangkan hatinya agar gak langsung memaksa menggendong Kenzo. Bocah itu terlihat minta dihujani dengan sebuah ciuman sepertinya. Bagaimana mungkin Keano menyakiti Shilla. Itu tak akan pernah terjadi.
"Papa ngga bohong Kenzo."
"Bohong! Buktinya bibir mama bengkak setelah Kenzo pergi. Tadi bibir mama ngga papa. Pasti tuan Keano yang telah menyakiti mama!"
Semua orang langsung terdiam. Keano menawan tawa yang ingin meledak. Shilla tambah memerah mukanya seperti kepiting rebus. Harumi tersenyum malu-malu melihat tingkah Shilla yang juga malu.
Bisa saja ini Kenzo menyimpulkan seperti itu. Sepertinya Keano tak akan berhenti tertawa hingga malam tiba.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan 👣 dengan cara klik👍 juga ❤️ dan jangan lupa juga vote yang banyak ya.
cek juga cerita author yang lain
👉 Psycopath itu Kekasihku
👉Twin's
Jangan lupa juga untuk gabung di grub Author ya😉 kalian bisa langsung tanya apapun di sana. Kecuali pertanyaan yang berupa spoiler pasti akan Author jawab.
Bye bye. Sampai jumpa di bab selanjutnya😘