Young Mama

Young Mama
Bab 9: ~Pertemuan Pertama~



Pagi-pagi Keano sudah mendapat kabar dari sang ayah bahwa pertemuan dengan pengusaha Jepang akan di lakukan siang ini. Dia menyuruh Leon untuk menyiapkan segala sesuatunya. Untuk seorang Bos, Keano termasuk Bos yang perfeksionis, namun meskipun begitu, Leon sudah sangat memahami Keano sehingga dia sudah tau apa yang bisa memuaskan Bosnya itu.


Meskipun pertemuannya masih siang nanti, namun dia sudah berangkat ke perusahaan untuk mempersiapkan segalanya. Ayahnya tak bisa di percaya, apalagi sang kakak yang bisanya cuma menghamburkan uang ataupun menindas karyawan. Yang dia tau hanya wanita cantik dan seksi saja. Entah bagaimana dia selama ini bisa mempertahankan posisinya sebagai direktur. Mungkin hanyalah direktur boneka yang di taruh ayahnya. Bagaimanapun, ayahnya yang telah membangun perusahaan ini.


Meskipun selama ini Keano tak menjalankan roda bisnis di perusahaan ayahnya, ia cepat menyesuaikan diri. Dia yang sudah berkecimpung sendiri tanpa bantuan dari ayahnya, tentu lebih tangguh dari sang kakak yang selalu di manjakan. Jangan pernah menganggap remeh Keano yang sekarang. Dia bukan lagi tuan muda cupu yang terbuang yang selalu menjadi bahan olokan teman-temannya. Dialah Aristide Keano Alterio, tuan muda dari keluarga Alterio yang sesungguhnya.


"Semuanya sudah siap tuan. Berkas dan juga surat kontrak juga sekalian sudah saya buat." Leon melaporkan pekerjaannya.


"Bagus. Masih berapa jam lagi pertemuannya di lakukan?" Keano menyingkap lengan jasnya dan mendapati sekarang sudah waktunya makan siang.


"Masih ada waktu sekitar tiga jam tuan."


"Baiklah kalau begitu kita makan siang dulu saja." Keano bangkit di ikuti oleh Leon. Mereka makan di salah satu Restauran ternama di kota itu.


*


*


*


Pagi ini Shilla lebih bersemangat dari biasanya. Pulang kuliah nanti dia sudah bisa bekerja di perusahaan nomor satu di negeri ini. Meskipun jabatannya sekarang masih rendah, bahkan bisa di bilang tak memiliki jabatan, namun Shilla yakin, suatu hari nanti ketika dia lulus kuliah dia akan memiliki jabatan di perusahaan itu. Saat ini dengan ijazah SMAnya, tak mungkin di berikan kepercayaan untuk menjadi karyawan kantoran.


Seperti biasanya, pagi hari dia akan mengurus segala kebutuhan Kenzo sebelum diserahkan kepada bu Farida. Sudah menjadi rutinitas pagi hingga tangan dan kakinya sudah begitu cekatan. Feli juga sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Bagaimana sibuknya Shilla ketika baru saja bangun, lebih sibuk lagi ketika malam mengerjakan tugas. Sejujurnya Feli sangat kasihan dengan Shilla, namun semua itu adalah pilihannya. Di sisi lain, dia juga begitu kagum dengan sosok wanita muda yang sudah menjadi ibu tunggal untuk seorang anak yang bukan darah dagingnya.


"Kak Fel aku berangkat dulu ya." Shilla pamitan dengan Feli yang masih duduk santai di meja makan. Shilla menggendong Kenzo dan segera ke rumah bu Farida untuk menitipkannya.


"Cucu nenek sudah datang." bu Farida senang ketika Kenzo sudah datang. Ia langsung menggendong Kenzo dan mengajaknya bercanda.


Shilla meletakkan barang kebutuhan Kenzo di tempat biasa. Karena waktu terus berjalan dia pamit kepada bu Farida untuk menuntut ilmu.


.


.


.


"Kemarin lancar kan Shill?" Rayna menghampiri Shilla yang sudah duduk di tempatnya belajar.


"Lancar. Makasih ya Ray, kalau kamu ngga membantuku pasti aku masih bingung mencari pekerjaan." Shilla memeluk sahabatnya tanda terima kasih.


"Ya ampun Shilla, kamu kan sahabatku, apaan sih terima kasih segala." Rayna mencubit pipi Shilla dengan gemas. Ia masih tak habis pikir sahabatnya itu masih saja sungkan.


"Kalau bukan karena kamu, pasti kemarin acara ulang tahunnya Kenzo kemalaman."


"Kenzo ulang tahun?! kok kamu ngga bilang sih Shill? tega banget kamu." Rayna cemberut merasa dirinya dilupakan.


"Maaf..." Shilla benar-benar merasa bersalah, "kemarin sangat mendadak, aku pulang dari melamar kerja juga baru beli kuenya. Ngga di rencana Ray, aku kira bakal pulang kemalaman." Shilla menoel-noel pipi Rayna yang masih menggembung merajuk.


Butuh waktu sedikit lama agar Rayna berhenti merajuk. Namun Shilla paham dengan maksud temannya itu, bagaimanapun Rayna sangat menyayangi Kenzo, dan di hari yang bersejarah itu malah Rayna tak di beri tau. Berkali-kali Shilla minta maaf sambil terus menggoda sang sahabat. Hati siapa yang ngga luluh ketika melihat mata Shilla yang begitu murni juga muka yang di buat-buat agar imut. Padahal tanpa di buat-buat pun Shilla memang sudah imut dari sananya.


Mau tak mau Rayna menjadi tersenyum melihat tingkah dari ibu muda itu. Namun dia berpesan agar suatu saat nanti mengabari tanpa terkecuali.


Shilla hanya mengangguk menyetujui. Ia tak ingin Rayna merajuk terlalu lama. Dia adalah sahabat baiknya, sahabatnya yang paling dekat.


Kelas sektika hening tatkala pak Devan masuk kelas. Meskipun begitu, senyuman dari dosen muda itu mampu mencairkan suasana. Apalagi ketika dia memulai mengajarkan kepada para mahasiswa, suara merdunya mampu menghipnotis setiap perempuan.


Namun berbeda sekali dengan wanita berambut hitam panjang bergelombang di sana, dia seakan tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Dosen tampan itu. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Shilla. Melihat pesona Sang Dosen idaman, memorinya malah berputar kembali pada hari kemarin, ketika dia dibuat terpesona oleh kharisma tuan Keano. Tubuhnya yang tegap, wajahnya yang tegas, wanita manapun pasti takluk ke dalam pesonanya.


Shilla langsung menggeleng kepala kuat-kuat. Bagaimana bisa dia malah membayangkan tuan Keano. Kalau Rayna tau, dia pasti akan meledeknya habis-habisan. Sambil terus menghilangkan wajah dingin Keano, Shilla kembali mencoba fokus kembali kepada apa yang diajarkan oleh pak Devan.


.


.


.


Shilla berjalan melawati trotoar untuk pergi ke halte terdekat. Dia memilih untuk menggunakan kendaraan bus agar tarifnya lebih murah dari pada ojek online. Apalagi ini susunya Kenzo juga habis, lebih baik uangnya untuk beli susunya Kenzo saja.


Belum sempat sampai di halte, sebuah mobil warna merah berhenti di sampingnya. Ketika kaca jendela diturunkan, Devan dari dalam mobil tersenyum dan menawarkan diri untuk mengantarkan Shilla ke tempat tujuan.


Dengan rasa sungkan, Shilla akhirnya mau naik setelah di paksa oleh sang dosen.


"Rumah kamu dimana?" Devan memulai percakapan untuk mengurangi rasa canggung.


"Saya tidak langsung pulang pak, saya harus bekerja dulu." Shilla menjawab pertanyaan Devan dengan rasa gugup.


"Kamu kerja? lalu Kenzo sama siapa?" Devan tak habis pikir, bagaimana seorang mahasiswa seperti Shilla ini mengatur waktunya. Ia semakin kagum di buatnya.


"Kenzo sama pemilik kontrakan. Kebetulan dia juga sangat menyayangi Kenzo, jadi saya bisa tenang menitipkan Kenzo kepada beliau pak."


"Kamu hebat banget ya Shill. saya bangga sama kamu."


Mendengar pujian dari dosennya, Shilla hanya mengangguk malu-malu. Meskipun Shilla sangat menghormati dosennya, Dia juga seorang perempuan yang tak kuat menahan pujian.


Pembicaraan terus berlangsung sampai Shilla tak merasa canggung lagi. Mereka jadi lebih saling mengenal satu sama lain. Shilla jadi merasa mempunyai seorang kakak. Sangat menyenangkan.


"Sudah sampai." Devan memberi tau Shilla mereka telah sampai ke tempat tujuan.


"Ah iya, terima kasih pak tumpangannya." Shilla tersenyum kepada Devan sebelum akhirnya dia masuk.


Di dalam mobil, sang dosen hanya tersenyum-senyum penuh arti.


.


.


.


Shilla masuk dan segera melakukan absensi. Kalau sampai dia tak terdata, bisa-bisa dia tak akan menerima gaji nanti. Shilla juga sangat ramah, setiap orang yang ditemuinya ia sapa. Baru sebentar saja, orang-orang sudah menyukai kepribadiannya.


Setelah melakukan absensi, ia segera berganti pakaian dengan seragam khas OG. Ia juga langsung mengambil peralatan yang di butuhkan dan segera naik ke lantai paling atas. Dia tadi di beri tau untuk membersihkan Ruang Meeting terlebih dahulu. mungkin nanti akan ada pertemuan penting.


Ia masuk dan segera membersihkan lantai ataupun mengelap meja yang ada. Tak lupa pula untuk membersihkan jendela dari debu yang menumpuk tipis karena setiap hari di bersihkan. Ia tata meja dan kursi sedemikian rupa agar lebih apik. Dengan semangat kerjanya, ia mampu membereskan pekerjaan lebih cepat dari waktu yang ia perkirakan.


Ia menyusun peralatannya kembali dan menyeret troli tempat peralatan kebersihannya. Ia berjalan mundur dengan perlahan karena takut menyebabkan kekacauan lagi. Kalau nanti kacau, ia harus membereskan dan bekerja dua kali. Akan sangat membuang-buang waktu.


Ia sudah sangat berhati-hati namun tetap saja takdir berkata lain. Ketika dia keluar ia menabrak seseorang yang sedang berjalan masuk. Dia sangat kaget dan merasa bersalah. Ia balikkan badan dan segera minta maaf berkali-kali sambil membungkukkan badannya. Lama ia melakukan permintaan maaf ia menengadah melihat siapa yang telah ditabraknya. Terpampang di depan wajahnya sebuah muka dingin yang begitu kesal. Shilla tambah merasa bersalah, Ia telah melakukan kesalahan di hari pertama kerjanya. Ia telah menyinggung tuan muda yang mempesona namun dingin ini. Dia hanya bisa meratapi nasibnya dalam hati.


"Sekali lagi maafkan saya tuan." Shilla kembali membungkuk.


Namun Keano mengabaikan permintaan karyawan perempuan itu. Leon yang melihat nasib wanita di depannya hanya merasa kasihan. Namun beberapa saat setelahnya Keano pergi tak mempedulikan Shilla. Biasanya dia akan langsung memecat seseorang yang begitu ceroboh. Ada apa ini sebenarnya? begitulah kirannya yang ada di pikiran Leon.


"Lebih baik kamu segera pergi. Sebelum tuan berubah pikiran." Leon menasehati Shilla juga sambil main mata menggoda Shilla.


Shilla segera tanggap, ia membungkuk dan meminta maaf untuk terakhir kali sebelum dia pamit undur diri. Dia juga mengabaikan mata genit Leon yang menggodanya tadi, membuat sang penggoda merasa di rendahkan.


"haaah kalau berada di dekat tuan, aku hanya selalu menjadi bayangan di depan para wanita." Leon menghela nafas pasrah.


"Dan kenapa masih suka sekali mengikuti ku." Pertanyaan dari Keano telak mengenai hati Leon. Karena faktanya, dia tak pernah punya niat sedikitpun untuk meninggalkan sahabat yang telah menjadi majikannya itu. Karena Keano adalah penyelamatnya.


Bersambung....