Young Mama

Young Mama
Bab 44: ~Alergi~



semua yang akan mengikuti tes tahap pertama sudah berada di arena menembak. Tahap pertama bagian pertama untuk menentukan apakah mereka siap memegang senjata atau belum. Mereka berbaris rapi menanti kedatangan pimpinan mereka.


Mereka semua semangat untuk menunjukkan hasil latihan selama ini. Namun ada satu orang yang sudah keringat dingin dan gemetar. Rasanya waktu berjalan begitu lambat.


Di belakang sana sudah ada Violeta yang akan menilai penampilan mereka. Senyumnya mengembang ketika Kenji masuk bersama Mamoru dan juga beberapa orang penting lain mengiringi langkah mereka.


"Apa semuanya sudah siap?" Mamoru menanyakan dengan nada tegas yang mampu membungkam percakapan mereka.


"Semua siap tuan. Silahkan duduk dan menyaksikan." Violeta tersenyum kecil dan membimbing Mamoru ke tempat yang sudah disediakan.


Mamoru mengikuti arahan Violeta. Dia duduk dengan nyaman menyaksikan untuk melihat kemampuan mereka.


Kenji juga sudah mengikuti di belakang. Dia mengambil tempat duduk di samping ayahnya. Tak lupa ia curi-curi pandang ke arah Violeta. Dan saat ada kesempatan matanya dengan jail berkedip menggoda.


Apa Violeta akan bersemu malu-malu seperti gadis remaja yang jatuh cinta? Tentu saja jawabannya tidak. Violeta hanya menanggapi dengan senyum seadanya. Ketika dalam mode serius, gadis itu ternyata lebih bisa berpikiran dewasa. Bisa menempatkan urusan pekerjaan dan juga pribadi secara terpisah.


Tes akhirnya di mulai. Berbagai macam ekspresi tersaji ketika Violeta menilai mereka. Dia tak memandang itu lelaki atau perempuan, di matanya semua sama. Kalau kemampuannya rendah, akan mendapat komentar yang kritis dari Violeta.


Tak banyak dari mereka yang menampilkan senyum semangat seperti ketika akan mulai. Wajah mereka banyak yang menunduk lesu menerima nasib. Sebenarnya kemampuan mereka tak terlalu buruk, tapi masih jauh di bawah standar Violeta.


"Apa kamu sedang mencari penggantimu V?" Kenji mengintrupsi ketika Violeta marah-marah karena mereka belum bisa memuaskan standar Violeta. "Anggota yang berada di bawah tak harus bisa menembak jarak jauh, yang penting mereka memiliki mental dan mampu bertempur dengan apa yang ada di genggaman mereka."


Violeta hanya senyum tanpa dosa. Ternyata rencananya mampu di baca oleh Kenji. Dia memang sedang mencari seorang pengganti yang akan dia latih di bawah bimbingannya langsung. Tak mungkin kalau Kenji yang menjadi penggantinya, karena dialah bos masa depan organisasi ini.


"Baiklah cukup. Sekarang kita ke tempat selanjutnya."


Tes terus berjalan sesuai jadwal. Mereka sudah melakukan semampu mereka. Belum ada keputusan siapa yang masuk tim inti ataupun tim ikan teri. Ujian yang sesungguhnya baru akan mereka laksanakan di misi selanjutnya.


"Permisi. Kopi untuk tuan." Setelah berakhirnya tes tahap pertama, Seira berinisiatif membuatkan kopi untuk Kenji. Yang tak ia ketahui, bahwa Kenji tak suka kopi.


"Makasih." Kenji mengangkat cangkir kopi itu untuk menghormati usaha Seira.


Dengan malu-malu Seira pergi dan berpapasan dengan Leon. Bisa Leon lihat bahwa di wajah Seira layaknya ladang bunga yang bermekaran.


"Untuk mu." Kenji menyerahkan kopi tadi kepada Leon.


"..." Tanpa mengatakan apapun Leon dengan senang hati menerima kopi tersebut.


"Wow, sepertinya ada penggemar baru." Violeta mengejek Kenji. Namun tak bisa dia sembunyikan bahwa dari ejekan itu terdapat nada kecemburuan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ichiro mendekati Kenzo yang sudah tergeletak tak sadarkan diri. Ia mengangkat Kenzo dalam gendongannya. Dia berdiri dengan seringaian yang tak dapat di jabarkan. Namun saat ia hendak pergi, langkahnya terhenti karena kedatangan Shilla dan Keano.


"KENZO!!!" Shilla langsung lari menghampiri Ichiro yang menggendong Kenzo. Ia langsung mengambil alih anaknya dan memeluknya erat.


"Aku menemukan Kenzo sudah tergelatak disini. Aku baru saja akan mengantarkan pada kalian."


"Jangan bohong! Kamu memang yang merencanakan semua ini." Keano langsung memukul Ichiro tanpa ampun. Satu tinjuan mengenai hidungnya. Darah segar langsung mengalir keluar.


Ichiro tak dapat membalasnya. Bukan karena ia tak bisa, namun tak ingin. Entak trik licik apalagi yang akan dia mainkan.


"Kenzo! Kenzo! Bangun sayang, ini mama."Shilla berusaha membangunkan Kenzo. Tapi sepertinya ada yang janggal. kenzo tak merespon panggilannya. Ia mendekatkan hidungnya pada badan Kenzo karena tercium bau yang seharusnya tak boleh ada.


"Sial! Lavender." Maki Shilla lepas kontrol. Kenzo alergi dengan Lavender. Mencium baunya meskipun hanya sedikit bisa membuatnya sesak nafas. Dengan cekatan Shilla melepaskan baju Kenzo agar baunya tak tercium oleh Kenzo lagi. Setidaknya bisa mengulur waktu sampai mereka tiba di Rumah Sakit.


"Apa yang kamu lakukan Shilla." Keano meminta penjelasan atas tindakan Shilla. Saat ini Kenzo pingsan dan wajahnya memucat, namun Shilla malah melucuti pakaian Kenzo.


Shilla bangkit dan mengambil jas milik Keano. Ia balut badan Kenzo dengan jas itu dan menggendongnya.


"Ada apa dengan Kenzo?" Keano mendekat mengabaikan keberadaan Ichiro.


"Lavender. Kenzo alergi Lavender."


Keano membeku. Sudah lama dia tak pernah mendengar seseorang alergi oleh bunga cantik itu. Lama sekali. Terakhir kali dia juga di buat panik oleh bunga itu.


"Kenapa masih bengong saja. Tak ada waktu. Kita harus membawanya ke Rumah Sakit." Shilla tak mengerti kenapa Keano malah diam saja.


Untung saja helikopter pribadi Keano datang. Lewat udara akan lebih cepat sampai. Shilla membawa Kenzo ke dalam helikopter dan meneriaki Keano. Kalau dia masih tetap dian, Shilla tak peduli dan akan meninggalkannya. Prioritasnya saat ini adalah Kenzo.


"Terima kasih sudah menemukan Kenzo, saya akan menghubungi anda untuk berterima kasih secara layak. Tapi maaf saat ini saya terburu-buru." Sebelum pergi Shilla menyempatkan mengucapkan terima kasih pada Ichiro. Ia bukan orang yang tak tahu balas budi.


Mendengar suar manis Shilla untuk orang lain ternyata menyadarkan Keano dari kebekuannya. Tatapan tajam langsung di tujukan pada Ichiro yang tersenyum manis kepada Shilla. Cepat-cepat dia naik helikopter untuk mencegah Ichiro curi-curi pandang kepada kekasihnya.


Helikopter akhirnya mengudara. Di dalam sana, Shilla sangat cemas dengan Keadaan Kenzo. Ia peluk erat tubuh mungil yang sudah tak berdaya itu. Menyalurkan kehangatan berharap bisa menyadarkannya.


.


.


.


Kenzo sudah melewati masa kritisnya. kulit dan wajahnya juga mulai sedikit pulih. Wajah yang tadi pucat sudah menghilang. Namun Dia masih belum sadarkan diri sehingga membuat Shilla masih saja khawatir.


"KENZO!" Suara keras beberapa orang mengagetkan Shilla. Di ambang pintu sudah berdiri Feli, Rayna juga Devan. Mereka semua terlihat sangat khawatir dengan bocah itu. Melihatnya terkulai tak berdaya membuat hati mereka sakit.


Shilla memang sempat mengabari Feli tentang Kenzo. Mungkin Rayna dan Devan masih disana sejak acara ulang tahun Kenzo selesai. Sehingga mereka bertiga serempak datang kesini.


Mereka mendekati ranjang rawat Kenzo. Tangan Rayna mengelus pipi Kenzo sayang.


"Hallo Kenken kecil. Cepat sembuh dong, lihat mamamu, wajahnya sudah tak cantik lagi." Rayna berusaha untuk tetap ceria ketika berbicara dengan Kenzo. Berharap Kenzo segera bangun dan menanggapi ucapannya.


"Kenzo segera bangun ya, nanti tante Feli beliin Ice cream kesukaan Kenzo."


"Hai Kenzo. Kenzo cepat bangun ya, om janji, om ngga akan paksa Kenzo lagi buat panggil om papa." Sesaat setelah Devan mengatakan hal itu, mereka semua menatap Devan meragukan. Akhir-akhir ini Devan selalu memaksa Kenzo buat panggil papa, tak mungkin Devan menyerah begitu saja.


"Kenapa?" Devan pura-pura bodoh.


"Kamu memang bukan papanya, atas dasar apa Kenzo harus memanggilmu papa." Suara dari ambang pintu mengalihkan perhatian mereka. Keano masuk dengan langkah angkuh. Seakan dia ingin menunjukan pada semua orang bahwa hanya dia yang pantas menjadi papa Kenzo. Bukan, bukan pada semua orang, sepertinya dia hanya menunjukan pada Devan yang sudah mengeratkan gigi karena kesal.


Bisa di rasakan kalau ruangan ini penuh dengan aura pertempuran.


"Kalau kalian di sini hanya ingin bertarung, silahkan keluar." Shilla mengatakan dengan nada rendah namun mereka bisa menangkap kalau Shilla sedang marah.


Tak ada yang berani protes saat tatapan Shilla menjadi dingin seperti ini. Meskipun dia ramah, ceria, keibuan, namun ketika menyangkut Kenzo, dia bisa langsung menjadi dingin. Ia tak bisa memaafkan siapapun yang mencelakai Kenzo.


Beberapa waktu Shilla hanya diam sambil memegang erat tangan Kenzo. Tak ada yang berani mengusiknya bahkan untuk sekadar menawarinya minum. Keano sudah pergi sejak tadi mengurus masalah yang belum selesai. Dia masih harus menemukan pelaku dari kejadian ini.


Mereka memutuskan untuk menunggu di luar. Mereka tak tega meninggalkan Shilla sendiri. Apalagi Keano tadi sudah berpesan, mereka tak diizinkan untuk pulang sampai dia kembali, kalau mau pulang biar Devan saja yang pulang.


Dari ujung lorong terlihat perempuan paruh baya berlari kecil dengan khawatir. Dia mendekat ke arah Rayna dan Feli dengan wajah bingung. Di belakang perempuan itu ada Lelaki yang yang mengikutinya. Lelaki itu duduk di kursi roda dan di dorong oleh seorang lelaki yang sudah lebih dewasa darinya. Mungkin dia adalah bodyguard mereka.


Rayna mengenali lelaki yang duduk di kursi Roda itu. Dia adalah Alexi yang dulu hampir saja melecehkan Shilla. Dia ingin marah dan mengamuk, namun melihat keadaannya sekarang dia jadi enggan.


"Anda mencari ruang rawat Kenzo ya?" Rayna menanyakan kepada perempuan yang ia duga adalah mamanya Keano dan Alexi.


Perempuan itu menoleh dan mengangguk antusias.


"Benar, anda juga di sini karena Kenzo?" Evelyn memegang tangan Rayna bersyukur. Ternyata Shilla sudah ada yang menemani. Ia takut sekali saat di beri kabar oleh Keano, Ia takut Shilla sendirian menghadapi cobaan ini.


Rayna mempersilahkan Evelyn untuk masuk. Namun dia menahan Alexi agar dia tak ikut masuk mengikuti Evelyn.


"Kenapa aku tak boleh masuk?"


"Kamu ngga usah masuk. Mengganggu momen saja. Kamu di sini saja sama kita."


Alexi tak terima dengan perlakuan ini. Ia bersikeras ingin masuk melihat Shilla.


"Apa kamu mau kejadian yang dulu menimpamu lagi?" Rayna menyeringai.


Alexi tak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh gadis di hadapannya ini. Memang dulu ada kejadian apa.


"Apa maksudmu?"


"Kamu tahu? Shilla saat ini sedang dalam mode induk harimau yang melindungi anaknya, kalau sampai kamu menyinggungnya, mungkin masa depanmu benar-benar terancam." Rayna menakut-nakuti Alexi.


Di sampingnya baik Feli maupun Devan hanya tertawa kecil. Kalau saja Devan tahu apa yang menimpa Shilla dulu, saat ini dia tak mungkin ikut mentertawakan Alexi.


"Tapi kenapa aku harus hati-hati?" Alexi masih teguh dengan pendiriannya untuk masuk.


"Tentu saja untuk menyelamatkan masa depanmu." Rayna membisikkan sesuatu yang langsung membuat Alexi bergidik ngeri.


Alexi dengan spontan langsung menutupi daerah terlarangnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kalau nanti kamu tidak bisa memiliki anak, Cari saja Shilla, suruh dia bertanggung jawab. Atau kamu bisa mengambil Kenzo untuk ganti rugi." Rayna manggut-manggut dengan ide cemerlangnya. Yang tak ia duga, karena ucapannya itu ia mendapat jitakkan keras dari Shilla yang sudah ada di belakangnya.


"Kamu mau mati!" Shilla galak mode on.


Mereka yang menyaksikannya hanya tertawa melihat Rayna diomeli oleh emak-emak yang sedang kalap.


Bersambung...