
Seorang wanita yang sudah sangat lama tak dijumpai oleh Mamoru mendekat. Dia tak menyangka bahwa sahabatnya bisa kejam seperti ini. Dia melihat sahabat barunya Alison babak belur tersungkur. Dia langsung tahu bahwa sahabat kepercayaannya yang melakukan ini.
Dia tak pernah menyangka bahwa Mamoru begitu kejam. Orang yang sudah tak berdaya pun masih ia siksa sedemikian rupa. Dia sudah salah menilai Mamoru. Dia tak mengenal Mamoru yang selalu baik kepadanya.
Mamoru yang tak menyangka dengan kedatangan Susan langsung pucat. Wanita yang dicintainya melihat sisi kejamnya. Mamoru tak bermaksud untuk membohonginya, namun bukan berarti harus sekarang Susan mengetahuinya.
Mamoru hendak menghampiri Susan yang sudah berlinangan air mata. Dengan langkah berat ia meraih tangan Susan. Lidahnya kelu, namun dia harus menjelaskan semuanya.
"..." Terasa begitu sulit bahkan untuk memanggil nama Susan. Apalagi melihat tatapan gadis itu yang penuh dengan kekecewaan. Rasa kecewa yang terlalu besar, hingga tangan Mamoru yang hendak membersihkan linangan air mata, Susan tepis dengan kasar.
"..." Mamoru masih belum bisa mengucap satu katapun. Dia terlalu bingung untuk memulai sebuah percakapan. Pertemuan yang ia tunggu-tunggu, yang harusnya menjadi momen termanis, nyatanya malah penuh dengan duka.
"Kamu bukan Mamoru temanku." Susan melangkah mundur dengan perlahan. "Kamu iblis." Susan yang sedari kecil belum pernah melihat kekerasan, tentu dia syok melihat kejadian ini.
"Su..." Mamoru tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Di mata gadisnya, dia hanyalah seorang iblis berkulit manusia.
Langkah Susan semakin menjauh. Raut kecewa sangat kentara di wajah cantiknya. Dia begitu enggan bahkan untuk mendengar kalimat lanjutan dari Mamoru. Dia berlari tak tentu arah pikirannya kalut. Dia masih belum mempercayai hal yang dilihat oleh matanya sendiri.
Di sisi lain, Alison tersenyum puas. Tak sia-sia dia merelakan wajah tampannya menjadi babak belur. Namun hasil yang didapat sangat memuaskan.
Mamoru sangat terpukul. Dia mematung masih mencerna keadaan. Seganas-ganasnya seorang mafia, namun ternyata sangat lemah dihadapan wanita dan cintanya.
Alison bangkit dan hendak pergi. Sebelum dia pergi, tak lupa ia hampiri Mamoru yang masih diam.
"Bagaimana hadiah yang ku siapkan untukmu?" Alison menyeringai menang. Alison memang bertemu dengan Susan. Namun dia tak pernah menyandera atau menculik Susan. Dia mengaku pada Susan bahwa Mamoru adalah temannya. Dan datang berkunjung untuk menyampaikan pesan dari Mamoru. Alison menggunakan alasan bahwa Mamoru tengah sakit dan selalu memanggil nama Susan. Tentu saja Susan yang baik hati akan langsung percaya begitu saja.
Alison puas, tinggal selangkah lagi dia menghancurkan Mamoru. "Jangan mencarinya lagi, aku akan membawanya ke Inggris. Nikmatilah kerajaanmu ini, suatu hari nanti, akan ku ambil kembali." Mata Alison tajam menatap garang Mamoru. Dia akan mengalah terlebih dahulu sebelum menghancurkan apapun yang dimiliki Mamoru, termasuk menghancurkan wanitanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Perang dingin masih terjadi. Atmosfernya sangat menakutkan. Apalagi sekarang Kenzo sangat menempel pada Leon. Membuat Keano selalu mengeluarkan tanduk iblisnya.
Shilla yang mendengar cerita dari Harumi hanya bisa menghela nafas prihatin. Prihatin pada Leon yang pasti akan selalu menjadi sasaran Keano. Semakin Kenzo tumbuh, imajinasi anak itu semakin liar. Dia dengan seenaknya mengakui tiap orang dewasa sebagai papanya layaknya bermain rumah-rumahan, yang dengan sesuka kita menunjuk siapa yang akan berperan menjadi orang tua.
"Sampai kapan ini akan berakhir Harumi?" Shilla memijit pelipisnya lelah. Dia bersandar di sofa mengistirahatkan penat yang melanda. Sudah tiga hari sejak Kenzo berikrar bahwa Leon adalah papa barunya, sejak itu pula pikiran Shilla pusing dibuatnya.
Seperti saat Keano mendekati dirinya, Kenzo akan langsung menatap tajam Keano dan mendorong Keano pergi. Dia tak memperbolehkan Keano mendekati dirinya. Malah menyeret Leon untuk duduk bersama membuat Keano semakin murka.
Kemurkaan Keano tak hanya sampai di situ saja. Bahkan dengan seenaknya dia memotong gaji Leon. Dia benar-benar semena-mena untuk menanggapi masalah pribadi.
Leon yang di potong gajinya hingga tujuh puluh persen hanya menerima dengan pasrah. Membuat Shilla tak enak hati.
"Lebih baik nona bicara lagi dengan tuan kecil." Harumi mencoba memberi solusi sambil membereskan mainan Kenzo yang berserakan.
Kenzo sudah lelah bermain hingga dia tertidur. Meskipun dia sangat ingin pengganti Keano, namun dalam mimpinya Kenzo masih saja memanggil Keano sebagai papa. Dia hanya masih belum memaafkan Keano yang menyakiti mamanya, menurutnya.
"Kamu tahu kan Harumi, Kenzo sangat keras kepala. Lama-lama dia sangat mirip dengan Keano." Tanpa sadar Shilla mengatakan sesuatu yang mustahil. Bahkan dia sendiri tak pernah tahu siapa orang tua Kenzo, bagaimana bisa dia menyamakan Kenzo dengan Keano.
"Memang benar nona. Mereka sangat mirip. Bahkan gestur yang mereka lakukan saat berpikir keras pun sama." Harumi membenarkan perkataan Shilla. "Tapi sebenarnya di mana papa Kenzo yang sebenarnya nona?" Harumi yang belum mengetahui cerita keseluruhan belum tahu, bahwa Shilla juga bukan ibu kandung Kenzo yang sebenarnya. Yang dia tahu hanyalah Shilla ditinggalkan oleh papa kandung Kenzo.
"Ternyata kamu banyak tanya Harumi."
Harumi yang melewati batas langsung menunduk meminta maaf. Dia tak sadar telah mengusik pribadi majikannya. Karena Shilla terlalu baik dia jadi berani menanyakan hal yang harusnya tak ia tanyakan.
"Sudahlah. Jangan takut begitu. Tak apa. Orang muda memang rasa ingin tahunya tinggi." Shilla bangkit dari duduk santainya. "Setelah beres kamu istirahat saja. Malam ini tak perlu menemani Kenzo, aku yang akan menemaninya."
"Baik nona." Harumi mengangguk mengerti.
Semenjak Kenzo mendapatkan kamar sendiri, Shilla jadi jarang menemani Kenzo tidur. Selalu Harumi yang menemani. Namun bukan berarti Shilla bisa tidur dengan nyenyak. Karena ada bayi besar yang selalu saja mencari kesempatan untuk memeluknya dalam tidur.
Siapa lagi kalau bukan Keano. Dia sengaja memberikan Kenzo kamar sendiri agar lebih leluasa berdua dengan Shilla. Bukan berarti mereka melakukan hubungan yang di luar batas wajar. Cukup dengan menatap wajah tidur Shilla pun Keano sudah puas. Dia tak akan melakukan tindakan tercela yang akan membuatnya dibenci oleh Shilla. Karena Shilla memegang teguh prinsipnya, dia pun harus menghormatinya. Prinsip bahwa seorang lelaki harus dan perempuan harus menikah lebih dulu untuk melakukan hubungan. Karena dia tak ingin nasibnya sama seperti mamanya. Untung saja Shilla dapat tumbuh menjadi wanita yang tangguh. Sehingga dia tak perpaut dengan masa lalu dirinya. Masa lalu adalah pelajaran yang berharga. Dan baginya, masa lalu ibunya adalah pelajaran yang tak ternilai.
Shilla berjalan menuju kamar. Namun sebelum ia sampai, ia dikejutkan oleh suara dobrakan pintu.
Di sana terlihat Rose yang sangat kewalahan dengan dua orang mabuk. Dia sangat kesusahan memapah dua lelaki berbadan besar sekaligus. Di tambah langkah orang yang tengah mabuk sangat tak bisa terkontrol. Juga racauan mereka yang membuat sakit telinga.
"Shilla sayang... hik.. dimana kamu.... hik... Shilla... hik..." Keano terus memanggil nama Shilla dalam mabuknya.
"Bos... hik.. saya hik.. ngga ada... hubu... hik.. ngan apa-apa ... hik.. dengan nona... hik..." Leon juga meracau menjelaskan bahwa dirinya dan Shilla tak ada hubungan apa-apa. Itu semua murni kesalahpahaman.
"Astaga, jalan yang benar dong." Rose sudah kelelahan. Tau seperti ini tadi dia meninggalkan mereka berdua di jalan saja.
Rose hanya tersipu malu mendengar ucapan mabuk Leon. Katanya orang mabuk adalah orang yang jujur.
"Diam kau.. hik... kau mau me... hik... mengambil... hik... Shilla dariku...?" Dengan sempoyongan Keano berdiri sendiri. Ia menantang Leon berkelahi kalau berani mengambil Shilla-nya.
Merasa ditantang, Leon juga berusaha berdiri tegap. Meskipun tak setegap saat sadar, dia tetap menerima tantangan bosnya. Dia harus berani karena dia tak salah.
"Kalian..." Rose pusing sendiri dengan kelakuan kedua sahabat yang tak lain adalah Bos dan partner kerjanya. "Terserah kalian mau apa!" Rose sudah keletihan dan putus asa. Dia biarkan kedua orang itu saling menyerang. Tak ada yang terkena pukulan masing-masing. Jangankan untuk memukul, untuk berdiri saja mereka kesulitan. Ini bukan jurus mabuk yang terkenal di drama televisi. Bahkan tak cuma sekali baik Keano maupun Leon tersungkur dengan sendirinya. Rose lelah, ia lebih memilih duduk di sofa panjang mengistirahatkan badannya yang penuh peluh.
"Sebenarnya ada apa ini?" Shilla yang hendak beristirahat mengurungkan niatnya melihat orang-orang yang disayanginya pulang dengan keadaan mabuk.
"Ah nona, maafkan saya, saya tak melihat kehadiran nona." Rose langsung bangkit dari duduknya memberi hormat.
"Tak apa Rose. Kita keluarga, jangan terlalu formal seperti itu." Shilla mempersilahkan Rose duduk kembali. "Jadi? bisa kamu jelaskan apa yang terjadi?"
"Mereka bertanding minum. Tuan sangat kesal karena tuan Kenzo sekarang terlalu dekat dengan Leon, nona." Rose menjelaskan dengan hati-hati.
Shilla berdecak kesal. "Dasar kekanak-kanakan." Shilla menghampiri Keano yang masih berusaha menyerang Leon. Namun. mereka hanya saling menyerang udara kosong yang ada di sekitar mereka.
Shilla meraih tangan Keano hendak ia antar ke kamarnya. Bayi besar yang merepotkan namun dia harus tetap mengurusnya.
"Kamu bisa urus Leon kan Rose?"
"Baik nona." Meskipun Rose sedikit malu, namun dia tak bisa mengabaikan permintaan Shilla.
Setelah Shilla menghilang di balik kamar Keano, Rose kembali memapah Leon ke kamar Leon juga. Setidaknya kini bebannya berkurang. Memapah satu orang lebih baik dari pada dua orang.
Di sisa kesadarannya, Leon membuka mata dan mendapati wajah yang sangat ia dambakan selama ini. Tangannya secara spontan mengelus wajah cantik nan tirus milik Rose. Jemarinya menyusuri lekuk wajah secara berganti. Mata yang indah, hidung yang menawan, bibir yang seksi, semua ia absen dengan saksama.
"Cantik."
Rose merona mendengar pujian yang di berikan Leon padanya. Meski dia tahu Leon tak sadar mengucapkannya, namun dia tetap merasa gugup.
"Kalau ini mimpi... hik... aku tak pernah ingin terbangun dari tidurku..." Tangan Leon membelai rambut Rose. Tangannya menekan tengkuk Rose menggiring bibir seksi itu untuk menerima ciumannya.
Kamar Leon yang terlihat rapi kini berubah menjadi berantakan tat kala Leon dengan sengaja membanting Rose ke ranjang.
"L, apa yang kau lakukan!" Rose tak mengerti dengan Leon. Tak biasanya mabuknya Leon seperti ini.
Tanpa menjawab pertanyaan Rose, Leon kembali memagut bibir seksi itu penuh nafsu.
"Ah..." Rose bisa saja memberontak. Bisa saja langsung menendang Leon dengan keahliannya. Namun entah kenapa dia menikmati perlakuan yang Leon berikan.
Entah apa yang mereka lakukan selanjutnya. Biarkanlah itu menjadi cerita mereka saja. Cerita indah antara dua insan yang tengah di mabuk asmara.
Kamar Leon yang panas, begitu pula kamar Keano yang juga tak kalah berantakan. Bukan. Bukan seperti Leon dan Rose. Hanya saja kini terlihat Shilla dengan susah payah menghindar dari perlakuan Keano yang hendak menyentuhnya.
"Hentikan Kei! Kalau kau tak menghentikan ini, aku benar-benar tak ingin bertemu denganmu lagi." Shilla menghindar dari tangkapan Keano. Sebenarnya apa yang mereka minum tadi, hingga membuat kedua orang lelaki itu menjadi sangat liar.
"Shilla." Lagi, Keano berusaha meraih Shilla namun gadis itu dapat menghindar.
"Dasar sial! Kau yang meminta ini Kei, jangan salahkan aku." Shilla meraih Keano. Ia bawa ke tepi jendela. Dengan mengerahkan seluruh tenaga yang ia punya, Shilla membanting Keano keluar Jendela. Lebih baik seperti ini, dari pada dirinya yang menjadi korban lelaki.
Dan kelakuan Shilla itu, di saksikan sepasang mata yang kagum dengan tindakannya.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan 👣 dengan cara klik👍 juga ❤️ dan jangan lupa juga vote yang banyak ya.
cek juga cerita author yang lain
👉 Psycopath itu Kekasihku
👉Twin's
Jangan lupa juga untuk gabung di grub Author ya😉 kalian bisa langsung tanya apapun di sana. Kecuali pertanyaan yang berupa spoiler pasti akan Author jawab.
Bye bye. Sampai jumpa di bab selanjutnya😘