
Seseorang terlihat begitu kesal. Dia adalah Devan. Dari mobilnya ia melihat Shilla yang turun dari mobil mewah Keano. Bukan itu yang membuatnya kesal, namun adegan selanjutnya yang membuat darahnya mendidih. Saat bibir Keano dengan kurang ajarnya menempel di bibir ranum Shilla. Bahkan dia sendiri tak berani membayangkannya. Namun, sekarang hal itu malah didahului oleh seseorang yang datang tiba-tiba dan merebut segalanya.
Ia berusaha menetralkan emosinya. Sesekali ia pukul stir dengan keras. Setelah di rasa hatinya tenang, ia segera turun dari mobilnya.
Hari ini ia akan mengisi kelas Shilla. Sebisa mungkin ia akan mencari kesempatan untuk mendekati gadis pujaannya.
Devan tak bermaksud untuk merusak hubungan antara Shilla dan Keano. Namun baginya, ia masih berhak untuk mengejar Shilla. Selain Keano yang merebut kesempatannya, ia juga sudah mengenal Shilla lebih dulu.
"Selamat pagi menjelang siang pak." seorang wanita dengan malu-malu menyapa Devan yang sedang berjalan.
"Iya." Devan mengeluarkan senyum andalannya. Senyum maut yang membuat para gadis memujanya. Lihatlah wanita yang tadi menyapanya, mungkin sebentar lagi akan terkena anemia karena terlalu banyak mimisan. "Ternyata aku masih memikat." Batin Devan percaya diri. Namun setelahnya dia masih tidak puas. Karena pesonanya belum mampu untuk menarik perhatian Shilla.
"Selamat datang pak." Dosen janda ganjen mendekatinya lagi. Siapa lagi kalau bukan Bu Mirna. Dosen yang tidak lelah untuk memikat dosen muda tampan nan prestasi seperti Devan. Dengan muka genit ia mencoba melancarkan jurus merayunya.
"Selamat bagi bu. Maaf tapi ini di kampus, tidak baik kalau di perhatikan oleh anak didik kita." Devan merasa risih ketika dada Bu Mirna bergelayut manja di lengannya.
"Berarti kalau di luar kampus tidak masalah kan pak?" Bu Mirna membuat mimik muka Imut. Namun jatuhnya malah menjadi muka yang menjijikan. Apalagi karena berat badannya yang sudah sangat berlebihan, tak ada pantas-pantasnya membuat muka imut seperti itu.
"Sebaiknya Bu Mirna lepaskan saya dulu. Saya tidak nyaman." Devan mencoba melepaskan tangan Bu Mirna yang masih lengket layaknya lintah. Ingin dia berkata kasar, namun tak baik mengasari seorang yang lebih senior. Apalagi senior itu merupakan seorang wanita.
"Pak, ada sesuatu yang harus saya bicarakan kepada bapak." Salah seorang dosen yang kasihan dengan Devan membantunya. Ia mengajak Devan keluar untuk lepas dari genggaman Bu Mirna. Padahal ia tak ada urusan dengan Devan. Namun karena melihat muka Devan yang sangat kasian membuatnya berinisiatif membantu.
"Makasih pak Rio. Anda sudah membantu saya. Sebagai rasa terima kasihku, mari saya traktir makan."
"Jangan sungkan pak. Lagian Bu Mirna juga sudah sangat keterlaluan."
Mereka akhirnya hanya mengobrol satu sama lain sampai mereka berpisah saat masing-masing harus mengajar di kelas yang berbeda.
*
*
*
"Heh, kenapa dari tadi bibirnya disentuh terus? pengen dicium?" Rayna mengagetkan Shilla dari dunia khayalannya.
Mendengar perkataan sahabatnya membuat wajah Shilla semakin merah. Ia bukan minta dicium, tapi baru saja ciuman pertamanya dicuri seseorang. Shilla tak tau harus merespon bagaimana. Ia layaknya anak ABG yang baru saja merasakan jatuh cinta.
Tapi itu memang tidak salah. Shilla tak pernah jatuh cinta sebelumnya. Apalagi untuk sebuah ciuman. Menjadi ibu beranak satu bukan berarti dia pernah merasakan yang namanya cinta. Nyatanya, sejak dulu ia belum pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Menjadi ibu beranak satu bukan berarti pernah berciuman. Nyatanya, ia mengasuh Kenzo yang bukan darah dagingnya dengan penuh kasih sayang.
"Hei...!!! Bengong terus." Rayna benar-benar penasaran dengan sahabatnya ini. Ia sentuh kening Shilla yang tak panas.
"Apa sih Ray." Shilla menyingkirkan tangan Rayna yang masih bertengger di keningnya.
"Udah ngga usah senyum-senyum terus. Tuh pak dosen udah datang." Rayna memperingatkan Shilla jika Devan sudah masuk untuk mengajar mereka. Tak lupa pandangan Devan langsung tertuju pada Shilla.
Shilla bingung bagaimana harus bersikap selanjutnya. Ia begitu menghormati dosennya itu, namun di sisi lain ia juga kurang nyaman dengan perlakuannya. Apalagi semakin banyak pula yang tak menyukai Shilla. Bukan karena Shilla pantas dibenci, namun karena dia telah merebut hati banyak pria.
Hanya sebuah senyuman yang mampu Shilla berikan. Senyuman biasa yang menurut sang dosen begitu luar biasa.
"Eh Shill, tuh di perhatikan terus." Rayna menunjuk Devan dengan dagunya.
Shilla mengikuti arah pandang Rayna. Memang benar, di depan sana, Devan sedang menatapnya dengan intens. Bahkan seluruh kelas juga menyadari pandangan sang dosen. Membuat Shilla begitu tak nyaman.
Tanpa mempedulikan Devan, Shilla kembali fokus pada tugas yang di berikan. Ia ingin segera keluar dari ruangan yang sudah seperti penjara tersebut. Ia cepat-cepat mengerjakan yang harus dikerjakan. Ia biarkan Rayna begitu saja ketika mencontek hasil miliknya.
"Aku duluan ya Ray." Shilla sudah selesai dengan tugasnya. Ia beranjak berdiri namun di tahan oleh Rayna.
"Aku gimana Shill? Aku mana bisa mengerjakan sendiri. Tungguin dong." Rayna merengek.
"Maaf deh Ray. Lain kali ya. Aku sudah ngga enak di lihatin Pak Devan terus."
"Ya udah deh. Tapi.... traktir aku ya nanti." Cengir Rayna memanfaatkan keadaan.
Di depan sana Devan mengamati setiap langkah Shilla. Sampai ketika Shilla sampai di hadapannya, hal yang tak pernah Shilla duga malah terjadi.
Devan menahan tangan Shilla ketika Shilla akan pergi. Dengan lembut ia mengusap jari jemari yang selalu merawat Kenzo dengan sayang. Sosok ibu idaman. Tak perlu di ragukan lagi bagaimana cara Shilla merawat seorang anak. Pastilah anak tersebut akan mendapatkan curahan kasih sayang darinya.
Mata itu seolah mengunci pandangan Shilla. Mata yang dengan teduh mengisyaratkan bahwa ia sangat mendambanya. Tak ada tatapan predator di sana. Hanya pandangan memuja seorang pria pada wanita yang dicintainya. Semakin lama pancaran itu kian redup. Seolah ada duri yang bersarang di hatinya. Berharap wanita yang di hadapannya kini mampu mengangkat seluruh duri yang tertanam indah dalam perasaannya.
Semua mata tertahan dengan adegan di depan. Tak jarang mereka menahan napas menunggu bagaimana reaksi Shilla. Mereka yang melihat malah harap-harap cemas. Banyak pria yang patah hati karena wanita incaran mereka di kejar oleh seorang dosen. Mereka tentu saja langsung mundur. Banyak pula wanita yang berharap bertukar posisi dengan Shilla. Mereka yang menaruh hati pada sang dosen, langsung saja hatinya retak tercerai berai.
Adapula yang begitu usil mengambil momen itu dengan kamera mereka. Siapa dia? tentu saja Rayna. Karena hanya dia saja di sini yang masih waras. Tidak seperti perempuan lainnya yang menangis tersedu karena patah hati, atau ada yang pura-pura pingsan berharap menarik sang dosen idaman. Rayna dengan santai mengabadikan momen sahabatnya mendapat pernyataan cinta dari Devan.
Suasana semakin riuh ketika di sana Devan dengan tak tahu malu berlutut di depan Shilla. Mata itu masih mengunci Shilla tak ingin melepaskannya.
Para wanita teriak histeris. Mereka tak terima jika Shilla mendapatkan pernyataan cinta dari dosennya. Shilla sudah menghabisi stok pria ganteng di kampusnya. Bahkan sekarang juga sang dosen tahkluk di hadapannya.
Rayna semakin menikmati suasana yang ada. Semakin panas keadaan semakin membuatnya bergairah. Rayna menyeringai. Ia jadi mendapat ide yang licik. Ia terus merekam Devan yang sedang menyatakan perasaannya.
"Shilla, aku bukan seorang penyair yang mampu membuat syair-syair indah untukmu. Aku juga bukan seorang musisi yang mampu membuat lagu cinta untukmu. Aku juga bukan penyanyi yang mampu mengalunkan nada-nada cinta untukmu. Aku hanyalah seorang pria biasa yang telah jatuh cinta kepada wanita hebat sepertimu. Shilla, aku mencintaimu." Devan masih berlutut dan mencium punggung tangan Shilla dengan penuh rasa sayang.
"Pak, tolong berhenti pak, sama saya saja pak."
"Pak, Shilla sudah menjadi milik orang lain pak."
"Pak, aku mau menjadi yang kedua pak."
"Pak, nikahi aku pak."
"Pak..."
"Pak..."
"Pak..."
Banyak suara dari mahasiswi yang diabaikan oleh Devan. Ia tak peduli suara-suara yang ada di sekitarnya. Ia hanya ingin mendengar suara dari bibir manis Shilla.
"Pak, ini masih di kelas. Tidak baik pak, bagaimana kalau rektor tahu." Shilla sungguh tak nyaman dengan suasana ini.
"Tidak ada. Mereka memang sengaja aku jadikan saksi. Dan yang ada di sini tak akan ada yang berani memberitahu rektor. Benarkan semuanya?" Devan memberikan senyum termanis kepada mereka semua. Tentu saja mereka dengan rela membungkam mulut mereka untuk sang dosen.
Para laki-laki juga tak ada yang berani membuka suara. Mereka tak mau nilai mereka yang menjadi taruhannya.
"Tapi pak..."
"Sssst aku hanya ingin mendengar sebuah jawaban, tidak alasan. Kalau tak bisa sekarang, kapanpun kamu siap aku akan menunggu." Devan bangkit dan mengacak puncak kepala Shilla. Ia salurkan kasih sayangnya lewat sentuhan itu.
"Sudah, silahkan keluar. Yang lain lanjut lagi mengerjakan."
Dengan canggung dan merasa bersalah Shilla keluar kelas. Yang lainpun sudah tak fokus mengerjakan tugas. Mereka asal-asalan saja asal selesai.
Rayna sangat puas dengan videonya. Ia baru saja mengirimkan video tersebut ke seseorang. Tentu saja tidak seluruh adegan ia rekam. Hanya ketika Devan berlutut dan menyatakan cintalah yang terekam dengan apik dengan kameranya.
*
*
*
"Sial, awas saja kau Devan." Seseorang membanting ponselnya setelah ia menerima sebuah video dari nomor tak di ketahui.
Bersambung...