Young Mama

Young Mama
Bab 51: ~Siapa Sebenarnya?~



Evelyn sedang berkutat di dapur dibantu mbak Imah. Dia sedang belajar membuat cake untuk mengisi waktu luangnya. Sesekali dia bercanda dengan Alexi yang menemani di dapur. Sejak Alexi kehilangan ingatannya, dia terasa lebih hidup dan lebih hangat. Dia anak yang baik jika diberi kasih sayang. Kesabaran Evelyn sepertinya akan membuahkan hasil yang baik.


Dapur yang semula rapi dan bersih sudah seperti ladang gandum. Tepung terigu berserakan dimana-mana. Namun semua itu terbayar dengan senyum ceria Evelyn dan Alexi.


Melihat semua itu rasanya Shilla sedikit ragu untuk terus membenci Alexi. mungkin dia harus membuka hati dan memaafkannya. Kalau tak mulai mencobanya, dia tak akan pernah tahu bisa memaafkan atau tidak.


"Omaaaaa Lyn...!" Suara Kenzo mengagetkan Evelyn yang masih sibuk membuat muka Alexi penuh cemong.


"Cucu Oma datang." Evelyn merentangkan tangan menyambut pelukan Kenzo. Namun selangkah sebelum Kenzo memeluk Evelyn, dia langsung berhenti menatap Evelyn ragu.


"Oma kotor." Kenzo berbalik ke arah Shilla tak jadi memeluk Evelyn. Semua yang ada di sana hanya menatap cengo, mereka tak habis pikir dengan kelakuan Kenzo ini.


Evelyn yang gemas langsung mengangkat Kenzo dari belakang. Tentu saja anak itu memberontak tak suka. Baju yang ia kenakan menjadi kotor dengan terigu. Sesekali dia terbatuk karena terigu yang masuk ke hidungnya.


"Oma jahat!" Kenzo ngambek. Dia sedang tak ingin bermain kotor-kotoran malah sekarang badannya kotor semua.


"Jadi Kenzo tak mau ice cream nih?" Evelyn tahu kalau Kenzo sangat menyukai benda dingin nan manis itu. Kenzo tak akan pernah melewatkannya.


"Ive cream?" Kenzo menoleh ke arah Evelyn yang mengangguk membenarkan. Sedetik kemudian dia langsung mengajak ibunya mandi agar segera mendapatkan ice cream.


"Mandi sama Oma ya." Evelyn membujuk Kenzo.


Langsung saja Kenzo menuruti Evelyn demi ice cream yang akan segera ia dapatkan.


"Tapi ma, Kenzo tak memiliki baju ganti." Shilla mengingatkan Evelyn kalau di sini bukan rumah mereka, Shilla juga tak membawa baju ganti.


"Tenang sayang, kemarin mama belanja sekalian membeli baju untuk cucu mama ini." Evelyn memang membelikan banyak baju untuk Kenzo. Dia ingin memberikannya namun belum sempat. Kini saat yang tepat untuk mendandani cucu pertamanya itu. "Mbak, tolong itu di lanjutkan ya." Evelyn meminta mbak Imah untuk membereskan kekacauan yang dibuatnya. Sekalian melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Adonan tinggal dipanggang saja. Namun Evelyn sudah tak sabar ingin bermain bersama Kenzo. Tak apalah menyerahkan sisanya kepada mbak Imah.


"Jadi, sekarang kamu enak-enakan di rumah hah?! bercanda tanpa beban tanpa memikirkan hidupmu?" Sepeninggalan Evelyn, Keano langsung menghakimi Alexi.


Alexi yang merasa suasananya tak nyaman memutar roda pada kursinya menjauhi dapur. Dia ingin berbicara di ruang yang lebih pribadi. Dia merasa tak enak mbak Imah ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Apalagi dia tahu situasi Keano sedang tak enak hati.


"Mau kemaa? mau bersembunyi? atau mau memanggil mama?" Keano mengikuti Alexi dari belakang.


"Sabar Kei, kamu kesini untuk meminta bantuan dia. Kalau dia tak mau membantumu kamu juga yang susah." Shilla mngingatkan dengan nada sedikit berbisik.


"Yah mudah saja. Kalau dia tak mau membantu tinggal aku usir saja dia dari sini." Keano berkata lantang agar didengar oleh Alexi.


Tanpa pikir panjang Shilla langsung mencubit pinggang Keano keras, membuat Keano langsung meringis kesakitan. Keano marah karena Shilla mencubit begitu saja. Dia tak terima dan harus membalas Shilla. Tentu saja Keano tak akan tega mencubit kekasihnya. Dengan pelan ia memencet hidung Shila nembuat Shilla memberontak malu.


"Kok kamu suka sekali mencubit pinggangku." Keano mengelus bekas cubitan Shilla berharap rasa sakitnya berkurang.


"Maaf, kecanduan." Shilla hanya memamerkan deretan gigi putihnya.


Sungguh pemandangan yang romantis. Mereka terlihat bertengkar, namun sebenarnya itulah sisi romantis mereka. Membuat orang yang tengah duduk di kursi roda merasa iri. Ingin sekali dia berada di posisi adiknya, namun sepertinya itu hal yang mustahil. Tidak. Dia tak ingin merebut Shilla dari Keano, tapi mengagumi wanita secantik dan secerdas Shilla adalah suatu hal yang patut untuk dibanggakan.


"Jadi kalian kesini hanya ingin memamerkan kemesraan kalian?" Ucapan Alexi membuat Shilla dan Keano seketika berhenti bercanda. Mereka sejenak lupa apa tujuan awal mereka datang.


Keano berdehem mengatur raut wajahnya yang sudah memerah. Shilla benar-benar mampu mengalihkan seluruh dunianya. Mungkin dia benar-benar sudah jatuh ke dalam pelukan Shilla. Bahkan untuk berjarak sedetik saja sudah tak mampu.


"Uhum, oke. Tanpa basa-basi lagi, aku ingin kamu mengisi posisiku ketika aku pergi."


"Hah?!" Alexi sepertinya salah dengar. Dari awal yang ia tahu Keano begitu membencinya, sekarang dengan mudahnya ingin ia mengisi kekosongan posisi presdir? mungkin telinganya sudah rusak.


"Kenapa? Kamu ngga mau? Bukankah dari dulu kau ingin sekali mendapatkan perusahaan itu?" Keano memancing reaksi Alexi. Kalau saat ini Alexi sedang pura-pura hilang ingatan, dia pasti akan langsung setuju dan mencoba menjilat dirinya dengan berbuat baik.


"..." Alexi benar-benar tak tahu harus memberikan respon seperti apa. Bahkan kakinya saja masih belum pulih. Jangankan untuk menghandle perusahaan besar, untuk berdiri di kedua kakinya sendiri saja ia tak mampu.


Dia melirik Shilla yang dari tadi enggan menatapnya. Ada rasa sakit tersendiri ketika gadis itu tak mau melihatnya. Namun ia bisa mengerti, dia dulu memang bejat, demi menghancurkan adiknya, dia dengan paksa ingin merenggut kehormatan Shilla. Sekarang dia pantas mendapatkan itu semua. Kalau saja teman Shilla yang bernama Rayna tak memberitahunya, sampai saat ini Alexi tak akan pernah tahu kelakuannya dulu seperti apa.


Padahal bukan karena itu Shilla enggan menatap Alexi. Dia hanya bingung harus memulai dari mana untuk memaafkannya. Memaafkan karena dulu selalu menindas kekasihnya. Dia bahkan tak memikirkan lagi bahwa Alexi pernah ingin melecehkannya. Tapi untuk orang yang disayanginya, dia begitu pendendam. Sepertinya dia harus belajar lagi kepada Evelyn.


"Oke. Bersenang-senanglah." Keano mengecup kening Shilla sayang. Dia dapat merasakan perubahan emosi pada Shilla. Seperti keinginan untuk membunuh seseorang. Dan Keano bangga karena Shilla bisa mengontrolnya. Sepertinya mengajak dia kesini adalah pilihan yang salah. Bukan dia yang lepas kontrol, namun malah memancing emosi Shilla keluar.


"Jangan lepas kendali, atau aku akan ikut." Shilla terkekeh dengan ucapannya sendiri. Entah kenapa sejak peristiwa penculikan Kenzo emosinya sangat tak stabil. Dia seperti kehilangan jati dirinya. Atau sebenarnya inilah sifatnya yang sebenarnya? Sepertinya darah buasnya selama ini tertidur. Terima kasih pada Xena yang sudah membangunkannya.


"Baik, kita lanjutkan. Jadi kamu akan mengisi posisi ku ketika aku pergi." Tanpa menunggu persetujuan Alexi, Keano membuat keputusan sendiri.


"Hei, bahkan aku belum menyetujuinya."


"Apa lagi yang harus dipikirkan? Bukankah kamu sangat menyukai duduk di kursiku sekarang?"


"Dulu mungkin aku akan menyukainya. Tapi entah kenapa saat ini aku merasakan kenyamanan yang belum pernah aku rasakan. Mungkin aku memang hilang ingatan. Tapi aku bisa merasakan, kalau perasaan seperti ini seperti baru aku rasakan. Dan aku menikmatinya."


"Jadi kamu ngga mau?"


"Sayangnya aku harus menolaknya." Alexi dengan kalem menolak tawaran Keano.


Keano sedikit terkejut dengan jawaban Alexi. Alexi yang dari dulu selalu menginginkan harta, sekarang menolak posisi predir? Sepertinya penilaian Shilla kali ini tepat. Alexi akan bisa menghandle perusahaan.


"Hmmm padahal Shilla yakin kalau kamu bisa mengurus perusahaan dengan baik. Tapi sepertinya penilaiannya salah." Keano melihat reaksi Alexi. Kalau memang benar seperti dugaannya, Alexi sebentar lagi akan menyetujuinya.


"Shilla?"


"Ya. Sebenarnya aku juga ngga suka menawarkan posisi ini sama kamu, tapi Shilla yakin kalau kamu bisa mengurus perusahaan dengan baik." Keano menyeringai licik. Dia sudah menyebarkan umpannya. Tinggal menunggu untuk digigit.


Alexi sedikit ragu. Namun juga ada sesuatu yang menggelitik hatinya. Ternyata Shilla mempercayai kemampuannya. Bibir itu mengembang meskipun hanya sedikit. Namun hal itu tak luput dari perhatian Keano.


"Ya sudah, kalau memang kamu tak mau, aku akan mencari orang lain." Keano melangkah pergi. Namun baru beberapa langkah, suara Alexi menghentikannya.


"Tunggu!" dengan tergesa Alexi memutar kursi rodanya. "Tolong ajari aku."


Keano menoleh tersenyum menang. Ternyata benar. Kakaknya ini mengagumi Shilla kekasihnya. Dengan kepercayaan yang Shilla berikan saja bisa membuat semangatnya bangkit kembali. Dia telah menemukan wanita yang hebat.


"Oke."


*


*


*


Paris, Perancis


Mamoru menikmati waktu santainya di hari tua. Namun dia masih saja tak bisa berhenti memikirkan Kenji yang harus mengambil alih Golden Dragon di usia yang masih terbilang muda. Apalagi kini musuhnya juga semakin kuat. Banyak pula yang ingin menggulingkan kekuasaan dari Golden dragon.


"Apa tuan khawatir dengan tuan muda?" D yang selalu setia menemani Mamoru menegur. Dia khawatir tuan yang selama ini ia ikuti jatuh sakit karena terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang tak perlu di khawatirkan. Ia yakin kalau Kenji mampu melewati jalan ini. Dia besar di bawah pantauan Mamoru secara langsung. Dia tak mudah untuk di tumbangkan.


"Yah sedikit. Apalagi kini dia telah dekat dengan seorang wanita, aku takut dia terpuruk lagi." Mamoru masih khawatir kejadian seperti yang lalu terulang lagi. Ketika Kenji ditinggalkan Violeta, kekasih yang sangat dicintainya. Dia menggila.


"Apakah tidak lebih baik sekarang saatnya mengumumkan tentang dia sebagai anak anda tuan? Kenji sudah membalaskan dendamnya, kini saatnya semua orang tahu kalau dia adalah anak anda, bukan hanya tangan kanan anda." D memberi saran.


"Dendamnya memang sudah terbalas. Kenji juga tak akan menolak untuk mengumumkan dirinya sebagai anakku karena dia sudah berjanji. Tapi kalau aku melakukan itu, hidup seseorang yang berada di sampingnya akan lebih berbahaya. Semua musuh akan mengincarnya." Mamoru menimbang-nimbang untuk mengumumkan Kenji sebagai Ketua besar Golden Dragon. "Untuk sekarang, biarkan saja seperti ini D, biarkan orang tahunya dia Kenji sang pengusaha muda sukses, bukan K ketua Golden Dragon. Kalau saatnya tiba, kita baru akan mengumumkan pada dunia."


"Baik tuan ku." D menghormati keputusan Mamoru. "Bukankah foto yang anda pegang adalah nyonya Susan?" D sekilas melihat wanita yang ada di tangan Mamoru. Dia sangat mengenal wanita itu. Dulunya dia adalah wanita yang menghiasi hari Mamoru. Yang membuat Mamoru hingga kini tak pernah mencintai wanita lain lagi.


"Kamu ingat? Ya dia Susan. Sudah lama sekali, namun aku masih belum bisa melupakannya. Sudah lebih dari 20 tahun, tapi rasanya baru kemarin." Mamoru menerawang kenangannya bersama Susan. Susan Maheswari, wanita yang selalu ada di hatinya hingga sekarang. Wanita yang mampu memenjarakan hati Mamoru, hingga tak ada lagi wanita yang mampu menggantikannya.


Bersambung....