
"Kamu harus cepat bertindak Aiko. Jangan menunda lagi, waktu kita semakin sempit."
"Iya kak, tenang saja. Malam ini aku akan bersiap. Kakak sabar, kalau tak sabar bagaimana aku bisa tenang menjalankan tugas."
Aiko diam - diam saling menghubungi dengan Ichiro. Sekarang dia sedang menyiapkan minuman yang sudah ia beri obat tidur untuk Keano. Malam ini juga dia harus mendapatkan seluruh data milik Keano. Baik itu adalah data perusahaan Hayashi ataupun data organisasi gelapnya.
Aiko berlenggak-lenggok dengan segelas anggur kesukaan Keano di tangan. Dia tersenyum teramat manis menggoda Keano. Dia berjalan mendekat dan meletakkan gelas berisi minuman di meja kerja Keano. Jemari lentiknya meraba bahu Keano. Ia pijat dengan lembut untuk merilekskan otot-otot yang menegang akibat kelelahan.
"Istirahat dulu jika lelah." Aiko mencoba menggoda Keano. Dia terus memijit bahu Keano yang sudah mulai merasa rileks. Dia juga menekan-nekan kepala Keano pelan, otot-otot kepala yang minta untuk di sentuh pula. "Minumlah dulu K." Aiko mengambil gelas yang dia bawa tadi.
"Terima kasih." Keano meminumnya tanpa khawatir akan sesuatu di dalamnya.
"Istirahatlah, besok bisa kau lanjutkan lagi pekerjaanmu." Aiko menuntun Keano yang sudah mulai mengantuk. Dia membawa Keano ke kamar.
Badan kekar yang tak berdaya terbaring di atas ranjang king size. Kemeja sedikit terbuka memamerkan perut kotak-kotaknya. Ada rasa ingin mencicipi pada diri Aiko, namun dia segera sadar bahwa bukan itu tujuannya dia kesini.
Aiko kembali ke ruang kerja Keano. Dia segera mengobrak-abrik seluruh dokumen yang tak penting. Dia sedang mencari data kerja sama terbaru dengan bangsawan Inggris. Dia harus mendapatkan data itu, kalau tak, Alison bisa mengamuk yang pada akhirnya dia dibuat kewalahan sampai pagi.
Di kamar Keano bangun dari tidurnya. Untung saja dia sudah mempersiapkan diri dengan meminum obat penetralisir. Dia segera mengambil tabnya yang sudah terhubung dengan CCTV ruang kerjanya. Dia melihat Aiko sedang mengacak-acak dokumennya di sana. Keano terus mengawasi Aiko dengan wajah geram.
Keano tak langsung bertindak. Dia masih terus mengawasi dengan saksama perbuatan Aiko. Bahkan ketika Aiko dengan sengaja menjatuhkan bingkai foto V yang ada di laci, Keano masih mampu menguasai dirinya.
Terlihat di layar bahwa Aiko tersenyum mengejek pada sebuah foto. Foto yang akan selalu tersimpan apik di sana.
"Dasar j*lang." Keano menahan amarah yang ada di hatinya. Dia tak rela melihat kaki perempuan hina itu menginjak wajah kekasihnya. "Kau akan menerima akibatnya." Tangan Keano mengepal erat.
Di layar sana Aiko sudah terlihat frustasi. Dia belum menemukan apapun untuk di laporkan pada atasannya. Namun semuanya sudah berantakan. Dia tak bisa memulihkannya seperti semula. Dia dengan santai pergi ke kamarnya. Mungkin dia besok akan berakting bahwa semua itu perbuatan maling.
***
Shilla berkuliah dengan Khidmat. Dia sudah bertekad melupakan masalah hatinya terlebih dahulu. Prioritasnya sekarang adalah kuliahnya dan Kenzo. Dulu sebelum cinta datang, dia mampu bertahan, kini dengan cinta di hatinya, harusnya dia lebih mampu. Shilla adalah orang yang kuat. Gadis tangguh dan pekerja keras.
Melihat Shilla yang bersungguh-sungguh teman-temannya merasa Shilla yang mereka kenal telah kembali. Benar, Shilla memang telah kembali. Namun hatinya yang masih belum ingin kembali.
"Kok aku ngeri melihat Shilla yang seperti ini." Tutur Akira pada Mei.
"Dia seolah robot." Mei menanggapi.
"Ia benar sekali."
Bisikan teman-temannya terdengar hingga telinga Shilla. Namun dia terlalu malas untuk menanggapi. Dia ingin fokus, kalau bisa dipersingkat semua urusan yang ada di sini hingga dia lebih cepat bisa kembali ke tanah air tercinta.
Pagi hingga siang Shilla berkuliah tanpa ada warna. Masuk kelas mengikuti mata kuliah istirahat masuk lagi, dia seolah membentengi dirinya dengan dinding yang tinggi. Hingga teman-temannya sulit untuk menjangkaunya.
"Kalau kamu butuh teman cerita, aku selalu ada." Akhirnya Akira mengungkapkan kekhawatirannya sebelum mereka berpisah.
"Aku tau. Terima kasih Akira." Shilla tersenyum tulus. Dia tak menyangka bahwa teman-temannya masih baik kepadanya padahal Shilla sudah diam saja seharian. Dia menjadi merasa bersalah. Tapi biarlah, Shilla besok akan meminta maaf, saat ini Shilla butuh pelampiasan untuk menyalurkan kemarahannya yang ia pendam.
"Aku pulang dulu semuanya." Shilla pamit dengan melambaikan tangan pada teman-temannya.
"Oke, hati-hati." Jawab mereka serempak.
Shilla berjalan ke mobil yang memang di siapkan Mamoru khusus untuknya. Dengan supir pribadi yang merangkap menjadi bodyguardnya. Namanya Fujihara. Orang asli Jepang anak buah Mamoru. Identitas lainnya adalah dia sang bayangan kegelapan. Pembunuh berdarah dingin. Tangan Mamoru yang lainnya selain D. Mamoru tak bisa memberi Shilla bodyguard asal-asalan, dia memilih yang terbaik dari yang terbaik. Name Codenya adalah tangan iblis. Karena Fujihara memang salah pembunuh terkeji.
Perawakan tinggi dan tampan tak membuat mata bosan memandang. Bahkan semua gadis melirik pada Fujihara, namun karena muka yang dingin dan kaku, tak banyak yang berani mendekatinya.
"Langsung pulang nona?"
"Baik Nona."
Dojo, sebutan untuk sebuah perguruan bela diri. Sewaktu Shilla jalan-jalan dengan Kenzo, dia melihat sebuah Dojo Karate yang besar dan pengikutnya banyak. Hati Shilla jadi bergejolak ingin ikut lagi latihan bersama.
Butuh waktu sekitar 45 menit untuk sampai. Jalanan yang lengang membuat perjalanan lancar.
"Kita sudah sampai nona."
"Baik."
Shilla keluar di ikuti Fujihara. Karena ini area umum, Fujihara harus mengikuti kemanapun Shilla pergi. Kecuali ke toilet tentunya, kalau ke toilet juga ikut, dia mengantarkan nyawa dengan suka rela ke tangan Mamoru.
Shilla melihat ke dalam Dojo. Banyak murid yang sedang berlatih di sana. Mulai dari tingkatan terendah dengan memakai sabuk putih, hingga tertinggi yang memakai sabuk hitam. Mereka berlatih dengan semangat.
Namun dari sekian banyak orang, Shilla merasa tak asing dengan satu wajah yang memakai sabuk hitam. Dia pria yang tinggi, berbadan sempurna. Wajah yang kalem dan meneduhkan, namun berubah garang ketika memakai pakaian karateka.
"Earl? Kok dia bisa ada disini?"
Shilla berkata lirih. Namun karena kedatangan Shilla di ketahui salah satu murid, semua mata jadi tertuju padanya.
"Osu." Shilla menghormat ala Karate. Agar mereka tau kalau Shilla juga ingin belajar di sini. Meskipun Shilla sudah tak pernah latihan bersama di sebuah Dojo dengan yang lain, namun semangatnya tetap membara meskipun dia harus berlatih sendiri.
Melihat wajah yang tak asing datang, Earl langsung menghampiri Shilla. Dia seperti mendapatkan hadiah undian. Senyum yang merekah begitu mempesona banyak murid.
"Kamu mau ikut berlatih?" Earl mendekat pada Shilla yang tersenyum canggung.
"Benar Sensei. Tapi kok anda disini?" Rasa ingin tahu Shilla terpicu.
Earl tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Shilla. "Ini Dojo teman ku, aku sering berkunjung kesini jika sedang mengunjungi Jepang."
Shilla mengangguk mengerti. Dia kembali melihat-lihat proses latihan. Darahnya berdesir. Sudah lama sekali dia tak melakukan latihan bersama. Pancaran matanya tak dapat berbohong, dan Earl menangkap pancaran itu.
"Kamu mau ikut berlatih?"
"Eh? Tapi aku belum membawa baju."
"Ada baju yang belum di pakai, aku minta sama Hideki dulu."
"Eh... tapi..." Belum sempat Shilla menghentikan Earl, lelaki itu sudah melesat pergi menemui temannya.
Beberapa saat kemudian, Earl datang membawa baju karate untuknya. Di sebelahnya ada seseorang yang mungkin seumuran Keano, mungkin dia lah Hideki. Pikir Shilla.
"Kenalkan. Dia Shilla, putri Mamoru Hayashi." Earl memperkenalkan Shilla pada temannya. "Shilla, dia Hideki, teman sekaligus pemilik Dojo ini."
Shilla menunduk hormat.
Beda dengan Hideki yang tampak seperti orang terkejut. "Kamu putri Mamoru Hayashi? Orang terkaya se-Negara ini?" Hideki seolah tak percaya.
"Putri angkat." Shilla mengangguk singkat.
"Mau angkat atau kandung, kamu tetaplah putri dari Hayashi." Hideki seolah kehilangan jati dirinya yang cool. "Eh, aku tak sopan jika bicara seperti ini padamu."
Mungkin memang kasta adalah penentu segalanya. Nyatanya hanya memakai nama saja langsung di hormati orang. Mungkin lain kali Shilla tak perlu mengungkapkan identitasnya agar awak media tak ribut.
Bersambung...