
Mata yang begitu tajam. sanggup membidik target dengan tepat meski jaraknya begitu jauh. Andalan seluruh organisasi hitam. Sanggup menumpas belasan orang sekaligus. Dia adalah V, Violeta, wanita kelahiran Indonesia yang melarikan diri ke Jepang. Pertemuannya dengan Mamoru Hayashi merubah seluruh hidupnya. Dendam adalah motivasinya. Membuat dia menjadi semakin kuat dan disegani oleh seluruh anggota Golden Dragon. Banyak lelaki yang mengincarnya, menjadi kekasihnya adalah kebanggaan terbesar, tapi, dia tak ingin memiliki kekasih yang lebih lemah darinya. Sampai pada suatu hari, pertemuannya dengan anak angkat bos besar merubah hidupnya.
Kehidupan yang awalnya hanya dipenuhi oleh pertumpahan darah berubah menjadi ladang berbunga. Senyum yang dulu tak pernah muncul, perlahan namun pasti kini menjadi lebih sering terlihat.
"Ayo kita bertaruh. Kalau aku bisa menembak target lebih jauh darimu, kau harus mau menjadi kekasihku." Kenji menantang Violeta dalam hal menembak. Dia memang mengetahui kalau Violeta merupakan seorang penembak jitu kebanggaan organisasi, tapi kalau bisa mengalahkannya, itu berarti dia sudah lolos kriteria sebagai orang yang lebih kuat.
Berbulan-bulan Kenji berlatih agar bisa bersanding di sisinya. Bukan hanya karena itu, dia memang dituntut untuk menjadi yang nomer satu. Sebagai bos masa depan dari Golden Dragon, tentu dia harus berdiri kokoh di atas kakinya sendiri. Agar tak ada yang mampu menggoyahkan bahkan menumbangkan dirinya.
"Jadi kamu menantang ku? Kamu tidak sedang mengigau kan K?" Violeta tersenyum meremehkan. Selama ini dialah yang mengajari Kenji menembak, dan sekarang Kenji berani menantangnya?
"Kenapa? Apa kamu takut dikalahkan oleh orang yang kau didik?"
"Baiklah. Tapi jangan pernah menyesalinya. Karena tentu aku tidak akan segan meminta imbalan kepadamu kalau kau kalah."
"Oke, kalau begitu, dalam misi selanjutnya, kalau aku bisa mengalahkan rekor mu, kamu harus siap menjadi kekasihku."
"Kamu masih terlalu cepat beberapa tahun untuk mengalahkan ku K." Mereka tertawa dan kembali berlatih bersama.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Saat ini Keano sedang menemani mamanya menjemput Alexi dari rumah sakit. Hari ini Alexi sudah diperbolehkan keluar. Dan seminggu sekali dia harus melakukan cek up.
Sebenarnya Keano sangat malas menjemput Alexi. Namun, mamanya memaksa. Evelyn berharap ketegangan di antara mereka berakhir. Evelyn berharap, ia dapat membuka hati untuk maafkan Alexi.
Tentu saja Keano sangat menentang permintaan mamanya. Dia tak bisa begitu saja memaafkan orang yang telah merebut segalanya darinya. Dia juga masih belum mempercayai Alexi sepenuhnya. Bisa saja hilangnya ingatan Alexi hanyalah sandiwara. Dia tak ingin langsung percaya begitu saja.
Siapa yang bisa mempercayai seorang yang tiba-tiba amnesia. Apalagi setelah kejadiannya seperti itu, dia bisa saja menyembunyikan dirinya dengan berpura-pura amnesia agar lolos dari maut.
"Mama mau sampai kapan merawatnya?" Keano menegur Evelyn yang baru saja mengantarkan Alexi ke kamarnya. Kamar Alexi sudah di renovasi ulang oleh Evelyn. Dia berharap agar Alexi tak ingat kehidupannya yang dulu. Lebih baik untuknya tetap amnesia saja.
"Mama mohon sama kamu. Jangan terlalu keras padanya. Dia juga hanyalah seorang korban seperti kamu."
"Meskipun dia korban, tapi dia tak pernah merasa dia korban. Bahkan dia juga menindas sesama korban."
Evelyn menghela napas memaklumi. Dia tak bisa memaksa anaknya untuk berbuat baik pada Alexi. Selama belasan tahun Alexi menindas Keano sedemikian rupa, tentu tak akan mudah untuknya bisa melupakan itu semua. Evelyn hanya berharap jika suatu hari nanti mereka bisa saling mendukung sebagai saudara.
"Keano pergi dulu ma. Pekerjaan di kantor menumpuk." Ia memeluk Evelyn dan mencium pipinya. Ia tak ingin mengambil pusing masalah Alexi. Sekarang ada hal yang lebih penting dari itu.
"Hati-hati nak."
*
*
*
"Apakah sudah ada perkembangan?" Keano bertemu empat mata dengan Leon. Mereka membicarakan perihal Ichiro yang sulit dilacak di negara ini. Bahkan mereka harus mengerahkan ahli IT mereka.
"Dia lebih cerdik tuan. Dia sudah menyamarkan jejaknya agar kita tak dapat melacaknya. Bahkan Eyes kesulitan untuk menemukannya."
"Kalau begitu pastikan penjagaan di sisi Shilla dan Kenzo semakin ketat. Kita harus memikirkan segala kemungkinan."
"Tuan tenang saja. Saya sudah menempatkan beberapa pengawal elit di sisi mereka, keberadaannya juga tak akan terlihat bahkan oleh nona Shilla sendiri."
"Baiklah, kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka, aku tak akan memaafkan mu L."
Leon mengerti maksud Keano. Ia juga tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Karena kelalaiannya, dulu Violeta yang menjadi korban. Ia tak akan menempatkan Shilla pada posisi seperti Violeta.
Keano meregangkan badannya lelah. Mungkin sudah saatnya menunjuk orang agar menjalankan perusahaan ini. Bagus juga kalau dia ajak Shilla ke Jepang saja. Keano akan mencoba untuk membujuknya.
"Apakah masih ada yang harus saya kerjakan tuan?"
"Tidak, pergilah. Panggilkan saja Shilla."
"Baik tuan."
Leon pergi dari ruang kerja Keano dan seperti perintahnya ia memanggil Shilla untuk menghadap.
Bukan karena pekerjaan kalau Keano memanggil Shilla. Dia hanya menjadikan itu sebagai alasan untuk tetap berada di sisinya. Sebenarnya Keano tak ingin Kekasihnya bekerja terlalu keras. Malah, ia ingin Shilla berhenti saja biar semua di tanggung olehnya, tapi memang dasarnya Shilla tak pernah ingin merepotkan orang lain, tentu saja dia langsung menolak gagasan Keano.
Pintu ruang kerja Keano di ketuk. Keano sudah bisa menebak siapa yang datang. Ia begitu bersemangat untuk menyambut kedatangan kekasihnya. Padahal baru tadi pagi mereka bertemu, tapi Keano sudah sangat merindukannya. Sungguh, dia tak akan sanggup bila harus kembali ke Jepang tanpa Shilla. Padahal dia sudah meninggalkan perusahaannya di Jepang begitu lama, mau tak mau ia harus segera kembali.
"Kenapa? Apakah harus ada alasan khusus untuk memanggilmu?" Keano mendengus. Ia tak suka bila Shilla bekerja terlalu keras hingga melupakan kesehatannya.
"Tapi aku masih banyak pekerjaan Kei."
"Justru karena itu aku memanggilmu. Kamu kalau sudah bekerja sampai lupa waktu, makan dulu yuk."
"Tapi..."
"Tak ada tapi. Ayo kita makan. Aku tak mau kekasihku kekurangan gizi karena pekerjaan yang ku berikan." Keano memotong ucapan Shilla. "Kita jemput Kenzo ya. Aku kangen dengan anak itu."
Memang sudah beberapa hari ini mereka tak bertemu. Keano terlalu sibuk dan Kenzo yang tak di ajak karena Shilla juga sibuk membantu. Shilla takut kalau Kenzo ikut dia akan terabaikan dan malah mengganggu kesehatannya. Memang selama ini Kenzo bisa tahan dengan semua aktivitas padat mamanya, tapi lama kelamaan Shilla juga merasa sedih telah merenggut masa bermain anaknya. Jadi lebih baik dia di asuh kembali oleh Bu Farida dan hanya sesekali saja untuk ikut.
"Baiklah, ayo kita jemput Kenzo."
.
.
.
Kenzo sangat gembira ketika Keano datang. Ia langsung meminta gendong dan tak mau turun. Bahkan sekarang ketika sampai di restoran Kenzo juga masih menempel. Sepertinya Kenzo ini benar-benar merindukan Keano.
"*Lihat, bukankah itu tuan muda Keano."
"Wah, keluarga yang sempurna."
"Tapi sejak kapan tuan muda Keano menikah."
"Anaknya sangat lucu."
"Siapa perempuan beruntung itu*."
Banyak sekali pelanggan yang mengenal Keano. Sejak diresmikannya dia sebagai pemilik yang sah perusahaan Alterio Groub, orang langsung mengenali di setiap dia pergi.
"Selamat datang tuan dan nyonya." Seorang pelayan menyapa dan mengantar mereka ke tempat VIP.
Meskipun sudah sering dibicarakan di belakang tiap bersama Keano, tapi Shilla benar-benar belum terbiasa. Dia merasa malu juga bangga bisa bersanding di sisi Keano. Tuan muda yang sangat di kagumi oleh semua perempuan.
Mereka berjalan mengikuti pelayan memasuki sebuah ruang yang terlihat begitu elegant. Keano sengaja memilih ruang VIP agar privasinya tetap terjaga. Memasuki ruangan itu semakin terlihat kesan mewahnya. Meskipun begitu, Shilla sudah tidak kaget ataupun norak melihat hal seperti ini. Bukan karena dia sering di ajak oleh Keano, melainkan dia pernah bekerja di tempat seperti ini. Dia jadi familiar dengan tempat-tempat yang sering didatangi oleh orang-orang kaya. Berguna juga sepertinya pengalaman kerjanya dulu.
Mereka bertiga duduk dan siap untuk memesan. Sang pelayang dengan sabar menunggu mereka memilih.
Setelah mereka menentukan pilihan, dengan sigap pelayan pria itu mencatat segala sesuatu yang di butuhkan.
"Mohon di tunggu tuan dan nyonya." Pelayan pamit undur diri untuk menyiapkan makanan mereka.
Keano sedari tadi menggoda Shilla dengan isyarat mata. Sepertinya Shilla benar-benar gugup dipanggil nyonya. Tak pernah terpikir olehnya untuk menjadi nyonya keluarga kaya. Pikirannya campur aduk, antara gugup, senang, namun juga takut.
Setelah menunggu sekitar dua puluh lima menit, akhirnya makanan yang mereka pesan datang.
"Selamat menikmati tuan dan nyonya." pelayan kembali untuk mengerjakan pekerjaan lainnya.
"Baiklah nyonya Keano, biarkan saya mengiriskan steik untuk anda." Keano semakin gencar untuk menggoda Shilla. Bahkan ia dengan sengaja memanggilnya nyonya Keano.
"Apa sih Kei!" Muka Shilla sudah benar-benar semerah tomat masak. Bahkan semburat itu menjalar hingga ke telinganya.
"Papa jahat!" Kenzo cemberut. Dari tadi dia diabaikan oleh papanya. Padahal dia sudah sangat kangen sekali. Tapi malah dari tadi hanya Shilla yang di goda.
Mereka berdua serempak melihat Kenzo. Mukanya sudah cemberut lucu mengundang untuk dicubit. Mereka berdua langsug tertawa melihat tingkah Kenzo yang super lucu. Bahkan Keano dengan sengaja semakin mengabaikan Kenzo dengan menggoda Shilla. Hal itu tentu saja membuat Shilla dengan senang hati mencubit pinggang Keano dan membuatnya mengerang kesakitan.
Acara makan siang itu benar-benar menjadi acara yang sangat menyenangkan. Bahkan Kenzo tak ingin ditinggal oleh Keano. Dia masih ingin bermain bersama papanya. Dengan raut muka memohon, Kenzo meminta agar diajak bekerja hari ini saja.
"Baiklah oke oke, Kenzo ikut, Tapi janji tidak mainan terus? Kenzo harus tidur siang dulu?" Shilla memberi nasehat sebelum mereka kembali ke kantor.
"Janji." Kenzo mengacungkan jari kelingkingnya tanda dia berjanji kepada mamanya.
Shilla menyambut jari kelingking anaknya dan jari mereka saling bertaut. Keano tersenyum melihat kesabaran dari seorang Shilla. Ia jadi tak sabar untuk mewujudkan mimpi kecilnya.
Bersambung...