Young Mama

Young Mama
Bab 7: ~Pekerjaan Baru~



Siang ini setelah pulang kuliah Shilla berencana menemui paman Rayna untuk meminta pekerjaan. Paman Rayna bekerja pada salah satu perusahaan ternama di negara ini. Mungkin saja beliau bisa memasukan Shilla untuk menjadi salah satu karyawan di sana. Rayna juga sudah memberi kabar kepada pamannya bahwa Shilla akan datang. Tinggal dia menyiapkan semua prosedur untuk masuk saja.


"Shill? yakin kamu mau datang sendiri? ngga mau aku antar?" Rayna menawarkan diri untuk mengantar Shilla ke perusahaan pamannya bekerja.


"Aku sudah berkali-kali melakukan seperti ini, ingat?" Shilla tersenyum dan berterima kasih atas tawaran sahabatnya.


Rayna mengerti. Memang benar Shilla ngga cuma sekali mendaftar untuk mencari pekerjaan, sudah banyak kali Shilla keluar masuk perusahaan untuk bisa dapat membelikan sekotak susu untuk Kenzo.


"Baiklah, hati-hati. Kalau ada apa-apa langsung mengabari."


Shilla mengangguk dengan nasehat singkat Rayna. Dia merasa beruntung punya sahabat yang sangat baik seperti Rayna ini. Dengan hati ringan dia melangkah mencari kendaraan umum guna mengantarkannya mencari Rupiah.


Ia mengecek kembali alamat perusahaan yang sudah Rayna tuliskan. Ngga lucu kalau sampai dia tersesat atau salah naik kendaraan. Sesekali ia mengecek telepon pintarnya, senyumnya mengembang ketika ia melihat foto Kenzo yang sedang tertidur pulas. Di foto juga terdapat Feli dengan muka bodohnya. Semangatnya bertambah, ia harus segera mencari pekerjaan lagi agar dia dan anaknya tak kelaparan. Berbeda dengan Feli, meskipun dia dari keluarga yang sederhana, namun kedua orang tuanya masih ada semua, sehingga dia hanya berfikir bagaimana menyelesaikan kuliahnya, tak memikirkan bagaimana dia akan makan.


Bus berhenti di halte tempat Shilla turun. Dia segera bergegas karena waktu yang sudah semakin siang. Kalau sampai jam makan siang terlewat, ia harus datang kembali besok.


Shilla berdiri di depan perusahaan yang super megah. Bangunannya sendiri terdiri dari beberapa lantai. Ia mendatangi pusat informasi dan menanyakan keberadaan pak Samuel yang merupakan paman dari Rayna.


"Sebentar ya mbak. Pak Samuel segera datang, ditunggu dulu." Dengan ramah petugas informasi memberitahukan pada Shilla.


Shilla mengangguk mengerti. Sesaat ketika dia hendak berjalan ke kursi tunggu, ia menyaksikan beberapa karyawan memberi hormat pada sosok lelaki tampan. Di belakangnya juga berjalan seorang pria berambut pirang, namun masih kalah tampan dengan lelaki yang ada di depan. Dia berwajah dingin, namun berkharisma, memiliki daya tarik tersendiri untuk memikat setiap wanita. Apalagi sorot matanya yang tajam membuat siapa saja terkunci pada pesonanya.


"Shill..?" Seorang pria sekitar umur 40 tahunan mendatangi Shilla. Namun yang di panggil tak merespon panggilan tersebut. Pria itu melihat arah pandang Shilla, dan ia tau sebab Shilla menjadi seperti patung. "Kamu naksir sama Tuan Keano?"


Shilla terperanjat kaget. Ia menoleh dan di belakangnya sudah berdiri Pak Samuel. Ia masih mencerna pertanyaan yang tadi di ajukan oleh Pak Samuel, mengingatnya membuat pipinya terasa lebih panas. Bagaimana mungkin dia berani naksir sama seseorang yang sudah terlihat jelas bahwa itu sulit di jangkau, Shilla masih tau untuk menempatkan dirinya.


"Paman Sam jangan bercanda, bagaimana mungkin aku naksir seseorang yang baru pertama kali ku lihat." Shilla tertawa renyah.


"Loh, ya ngga papa kan kalau cuma naksir. Banyak perempuan yang naksir sama Tuan Keano, siapa sih yang ngga terpesona melihat ketampanan putra bungsu dari keluarga Alterio?" Pak Samuel menjelaskan panjang lebar.


Mendengarnya hanya membuat Shilla tersenyum tak tau harus merespon seperti apa.


"Namun sayang, Tuan Grigori malah lebih menyayangi Tuan Alexi, padahal dia hanya tau berfoya-foya." Pak Samuel memasang wajah sedih minta di kasihani.


Setelah pak Samuel meredakan tawanya, ia mengajak Shilla ke ruangannya. Bukan ruangan mewah, dia hanyalah seorang manager kecil. Pimpinan para karyawan-karyawan kecil. Bukan seperti manager besar yang jabatannya tinggi dan gajinya besar.


Mereka masuk dan Pak Samuel segera menjelaskan apa pekerjaan Shilla. Namun pekerjaan ini bukan merupakan pekerjaan yang besar. Pak Samuel pun tidak memaksa Shilla mau atau tidak, kalau Shilla ngga cocok dia akan berusaha membantu dengan mengenalkannya ke orang yang lebih senior di sana.


"Kamu sudah tau kan Shill, paman disini juga cuma karyawan kecil, jadi lowongan yang berada di bawah naungan paman juga cuma pekerjaan kecil dengan gaji yang tak seberapa."


"Tidak masalah paman, pekerjaan apapun akan aku lakukan selagi itu tidak menyalahi aturan." Shilla tersenyum menunjukan wajah manisnya.


"Oh nak, kamu begitu baik, dan tidak memandang rendah sebuah pekerjaan, aku suka dengan sifat mu itu. Suatu saat kamu pasti akan sukses." Pak Samuel sudah mengenal Shilla sejak dia masih SMA. Dia sangat menyayangi gadis itu sudah seperti anaknya sendiri. Apalagi dia selalu baik pada keponakannya yang nakal itu.


"Terima kasih paman atas doanya. Lalu bagaimana pekerjaan ku dan jam kerjanya?" Shilla menanyakan tentang pekerjaannya.


Pak Samuel menjelaskan pekerjaan yang harus Shilla lakukan. Dia menjelaskan dengan berkeliling. Pekerjaan Shilla nanti membersihkan seluruh lantai paling atas. Dia mengajak Shilla ke lantai tersebut dan menjelaskan satu per satu.


Shilla mendengarkan dengan seksama. Meskipun hanya mendapatkan posisi OG (office girl) namun dia sudah sangat bersyukur. Jangankan OG di sebuah perusahaan besar, jadi tukang cuci piring pun dia pernah melakukannya.


"Untuk masalah jam kerja, kamu akan mulai pada jam 2 siang. Jadi kamu pagi tetap bisa berkuliah. Namun karena kamu mulai kerja siang, pulangnya jam 9 malam. Bagaimana?"


"Tak masalah Paman. Justru aku sangat berterima kasih karena paman juga sudah memikirkan kuliahku. Tak menuntut untuk datang pagi."


"Baiklah kalau begitu, kamu bisa mulai besok siang. Satu yang harus saya ingatkan, lantai atas merupakan lantai para bos besar, jadi kamu harus hati-hati."


Shilla mengangguk mengerti. Ia akan berhati-hati dan akan bertahan sedikit lebih lama disini. Kalau bisa dia akan bertahan sampai kuliahnya selesai. Dia tak ingin membuat Paman Sam terbebani, bagaimanapun dia sudah sangat membantu.


Akhirnya Shilla memutuskan untuk pulang. Dia akan bekerja mulai besok dengan semangat. Tak lupa dia memberi kabar pada sahabatnya Rayna, di seberang sana Rayna ikut senang mendengar kabar ini.


Dalam perjalanan pulangnya Shilla berhenti di salah satu toko kue. Ia akan membelikan Kenzo kue untuk merayakan ulang tahunnya yang kedua. Dia juga sudah menyiapkan hadiah untuk Kenzo. Meskipun hanya bisa memberikan kue coklat kesukaannya, ia sangat bersyukur setidaknya dia masih bisa merayakan ulang tahun meskipun sendiri. Karena, masih banyak di luar sana yang bahkan untuk makan saja kesulitan.


Bersambung...