
Sepertinya musim semi untuk Shilla akan segera tiba. Atau malah musim dingin? Pasalnya sekarang ini dia kesusahan membujuk buah hatinya untuk ikut bersamanya. Tadi, selagi Kenzo asik bermain dengan Keano, Shilla sudah membereskan pekerjaannya. Kini tiba saatnya Shilla membawa Kenzo untuk makan siang, namun sang anak meronta tak ingin lepas dari gendongan Keano.
"Maafkan saya tuan, tak biasanya Kenzo seperti ini." Dengan perasaan bersalah Shilla meminta maaf dengan tulus pada Keano.
"Yang jadi pertanyaan ku, kenapa kau bawa anakmu ketika bekerja? Apa kamu bisa menjamin kalau kamu tak akan lalai dalam pekerjaanmu?" Setelah semua terkendali, sifat asli Keano kini muncul lagi. Meskipun dia masih menggendong Kenzo, namun lidah kritisnya mampu membuat Shilla terdiam.
"Sudahlah, lanjutkan saja pekerjaanmu." Keano bersiap untuk pergi melakukan pekerjaannya.
Shilla menerima Kenzo yang masih meronta tak ingin lepas dari Keano. Meskipun sebenarnya dia tak tega melihat Kenzo menangis begitu keras, ia tetap membawa Kenzo keluar dari ruangan ini karena pekerjaannya di sini telah selesai.
Waktu juga menunjukan jam makan siang. Shilla membawa Kenzo ke ruang istirahat bersama para OB dan OG. Dia menyuapi Kenzo dengan bekal yang ia bawa.
Memang sifat dasar anak kecil, yang tadinya menangis meronta pun ketika di hadapkan dengan makanan langsung berhenti dan lupa. Dengan lahap Kenzo menikmati makanan yang di suapi ibunya. Hal itu membuat teman-teman Shilla menjadi gemas melihat pipi yang menggembung penuh makanan. Tak henti-hentinya mereka menggoda Kenzo hingga yang di goda memberikan pelototan yang mengerikan versi anak kecil. Namun pelototan yang di berikan Kenzo justru membuat mereka tertawa terbahak karena terlihat lucu.
"Apa kau tak kelelahan ketika harus bekerja sambil menggendong Kenzo?" Salah satu teman Shilla menanyakan bagaimana lelahnya Shilla sebagai ibu muda yang harus kuliah juga mengurus anak.
"Lelah? tentu saja lelah. siapa yang tak kelelahan kalau bekerja bahkan kuliah harus membawa anak mereka. Tapi di samping itu, lelah itu juga yang memacu ku untuk tetap berkembang." Shilla menjawabnya dengan bijak membuat semua yang ada di tempat itu semakin kagum dengan dirinya.
"Apa kamu akan terus membawa Kenzo ketika bekerja?" Tanya teman Shilla lainnya.
"Tentu saja tidak. Karena hari ini yang selalu menjaga Kenzo tak bisa, maka dengan terpaksa Kenzo aku ajak. Kalau dia ikut terus, jam tidur siangnya akan terabaikan."
Mendengar jawaban Shilla semuanya mengangguk. Anak sekecil Kenzo memang seharusnya ketika siang harus tidur. Seperti saat ini, ketika Kenzo sudah makan dan kenyang, dia mulai merasakan kantuk. Shilla meletakkan dia di sofa dan segera makan siang untuk dirinya sendiri sebelum waktu habis.
*
*
*
Keano berada di ruang kerjanya dan memikirkan apa yang baru saja terjadi. Antara perasaan malu dan senang dia bisa menggoda wanita yang begitu polos. Sangat jarang di zaman sekarang ada wanita polos sepertinya. Dia tersenyum-senyum sendiri memperlihatkan sifatnya yang lain.
Sesaat berikutnya, senyuman itu pudar ketika Leon tiba-tiba masuk. Dia harus menjaga wibawanya di hadapan salah satu bawahannya ini. Meskipun Leon sudah seperti keluarga, namun pasti dia akan mencelanya. Karena hanya dia seorang yang berani mencela bosnya. Mungkin karena mereka tumbuh bersama.
"Aku tak tau kalau tuan sudah memiliki wanita dan seorang anak, pantas saja wanita yang selalu mendekati tuan tak tuan hiraukan." Leon masuk dan meminta penjelasan kepada sang tuan
"Apa kamu buta. Dia memakai seragam OG perusahaan ini, dia adalah karyawan di sini, bukan wanita ku." Keano memutar bola matanya malas mendengar ocehan dari tangan kanannya itu.
"Tapi telingaku masih sehat tuan, saya mendengar kalau anak itu memanggil papa pada tuan." Leon masih terlihat berpikir serius. Di mana tuan bisa berhubungan dengan wanita itu, kenapa bisa luput dari kedua matanya.
"..." Keano malas menanggapi si tukang gosip ini.
Mendengar perkataan dari Leon, Keano merasa bersalah pada kekasihnya yang telah tiada. Dia seperti baru saja mengkhianati kekasihnya. Tak seperti biasanya yang ketika dia bersama wanita hanya untuk keperluan bisnis semata tak melibatkan perasaan. Namun tadi ketika bersama wanita yang ia ketahui bernama Nashilla dari name tag-nya, sepertinya perasaannya sedikit terlibat. Ia menjadi murung, dan Leon mengetahui itu.
Sebagai teman perjalanan dalam kehidupan yang keras ini, tentu saja Leon tahu bagaimana kisah asmara sang bos sekaligus temannya itu. Bagaimana sedihnya Keano ketika kekasih yang sangat ia sayangi meninggalkannya untuk selamanya, dan sepertinya kini dialah yang telah membuka luka lama itu.
"Maafkan saya tuan. Mulut ini terlalu lancang ikut campur urusan tuan. Silahkan tuan menghukum bawahan yang tak tau adab ini."
Melihat Leon yang seperti itu mau tak mau Keano tertawa. Tak pantas sekali Leon mulutnya merendah seperti itu. Tak seperti Leon yang biasanya bengis kepada siapa saja, kecuali pada Keano yang akan menjadi seperti anak kucing terlantar.
"Hentikan tingkahmu itu L." Keano masih tertawa melihat muka Leon yang di buat-buat imut. "Cepat berikan padaku semua dokumen kerja sama perusahaan ini dengan perusahaan kita." Meski masih sedikit terbawa suasana, namun ketika Keano dalam mode serius, Leon tak berani mencandainya.
Ia segera menyerahkan semua dokumen kerja sama perusahaan milik tuan Grigori dan perusahaan Jepang milik Kenji Hayashi yang tak lain adalah Keano itu sendiri. Semua dokumen ini yang nantinya akan di serahkan kepada Tuan Grigori setelah di tanda tangani atas nama Kenji Hayashi.
"Buat seolah-olah aku bertemu dengan Kenji. Para orang tua itu sangat licik kita harus selalu bersiap."
"Baik tuan." Segera setelah mendapat perintah, ia menghubungi Rose untuk rencana selanjutnya. Mereka akan mengadakan pertemuan kamuflase untuk mengelabui para pemegang saham dan juga tuan Grigori itu sendiri. Dan segera setelah itu, perusahaan ini akan berada di bawah kendali dari tuannya.
*
*
*
"Selamat siang semuanya, kami pamit dulu ya." Setelah jam kerjanya usai, Shilla berpamitan kepada yang lain dan hendak pulang. Ia menuntun Kenzo yang memaksa untuk berjalan sendiri dengan kaki kecilnya. Mengikuti irama langkah anaknya ia berjalan dengan perlahan.
"Kamu senang nak?" Shilla sesekali mengajak bicara yang anak yang asik menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu yang menarik.
"Senang, Kenken senang." Senyum polos Kenzo membuat Shilla terobati rasa lelah hari ini.
Tak ada sesuatu yang lain yang Shilla minta dalam doanya, dengan dia selalu melihat senyum ceria itu itu sudah cukup baginya.
"Papa!!!" Kenzo melepaskan tangan ibunya dan berlari ke arah seorang laki-laki yang tengah berjalan keluar juga.
Shilla tentu saja kaget dengan apa yang sedang terjadi kini. Apalagi semua pasang mata melihat ke arahnya juga tuan Keano yang menatapnya dengan tatapan membunuh. Bagaimanapun Shilla tau kalau ini adalah salahnya. Ia berlari mengejar Kenzo yang sudah ada tepat di hadapan Keano. Ia meminta maaf atas kelakuan putranya. Ia menggendong Kenzo yang sudah akan menangis karena di pisahkan lagi dengan orang yang ia anggap papanya itu.
Di sisi lain, Leon menyaksikan kejadian yang langka ini. Ia baru tau kalau wanita tadi bukanlah wanita Keano seperti yang bosnya katakan. Namun aneh sekali, biasanya anak kecil kalau melihat muka dingin Keano akan menangis ketakutan, namun anak kecil tadi malah menganggapnya sebagai papanya. Sungguh anak yang unik.
Baik Keano dan Leon menyaksikan kepergian wanita yang berusaha menenangkan anaknya. Orang-orang yang ada di perusahaan pun juga menyaksikan kejadian itu dengan pikiran mereka masing-masing. Bahkan tak sedikit dari mereka yang berani menghujat Keano, sebagai tuan muda yang terbuang juga sebagai ayah yang yak bertanggung jawab. Sampai pandangan tajam dari Keano membuat mereka ketakutan dan kembali ke pekerjaan masing-masing. Yang tak Keano sadari, di sudut sana sebuah pasang mata menyaksikan semua kejadian yang baru saja terjadi, dan memicu seringai licik dari sang empunya.
Bersambung...