Young Mama

Young Mama
Bab 33: ~Mama Mertua (2)~



Malam telah datang. Semua yang sibuk bekerja pulang untuk mengistirahatkan badan mereka. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik kendaraan umum, ada yang membawa kendaraan pribadi, ada pula yang diantarkan kekasihnya.


Siapa lagi dia kalau bukan Shilla. Dia sudah duduk manis dengan Kenzo di pangkuannya. Anak itu sudah tertidur sejak mobil mulai berjalan. Mungkin terlalu keletihan bermain bersama Evelyn.


Berbicara tentang Evelyn, Kenzo jadi memiliki nenek baru lagi. Dia sangat menyukai Kenzo dan memintanya memanggilnya nenek. Apalagi dia belum punya cucu. Tambah sayanglah Evelyn pada Kenzo.


Dari tadi Shilla nampak sangat bahagia. Berbeda dengan seseorang yang duduk di sampingnya. Sedari tadi ia mengemudikan mobilnya sambil cemberut. Keano begitu kesal dengan mamanya. Mamanya telah memonopoli Shilla dan Kenzo. Mereka berdua jadi sangat menyukai Evelyn dari pada dirinya. Dia tak terima. Baginya, Shilla hanyalah untuknya.


Shilla hanya tertawa saja melihat Keano yang seperti ini. Benar-benar bukan seorang Keano. Ia kesal bagaikan anak kecil yang di rebut mainannya.


5 jam sebelumnya


Evelyn murka karena Keano tak memberitahu tentang pernikahannya. Ia salah paham mengira Shilla adalah istrinya. Ia tak mendengarkan penjelasan Leon yang sudah begitu panik. Ia segera bergegas menghubungi Keano untuk menemuinya.


Evelyn menunggu dengan tak sabar. Yang namanya ibu-ibu, se-elegan apapun dia, tetap saja omelannya membuat panas telinga.


Dengan sangat hati-hati Leon bangkit dan meminta izin untuk keluar. Apalagi Keano kini tengah berdiri di ambang pintu dengan tatapan bertanya-tanya. Belum sempat Leon sampai di luar, Evelyn sudah menyerang Keano dengan berbagai pertanyaan. Karena tak ingin ikut campur, ia segera bergegas untuk pergi.


"DASAR ANAK DURHAKA, APA KAMU SUDAH MELUPAKAN MAMA. KENAPA HAL YANG BEGITU PENTING TIDAK MEMBERI TAHU MAMA!" Tanpa melihat muka anaknya yang kebingungan, Evelyn langsung menyerang Keano.


Tentu saja Keano yang langsung di marahi oleh mamanya hanya kebingungan. Tadi ketika mamanya datang, beliau sangat senang dan masih memanjakannya, namun kini dia di marahi tanpa tau apa kesalahannya.


"JAWAB KEANO. APA KAMU MASIH MENGANGGAP ORANG TUA INI MAMAMU. KENAPA KAMU SANGAT TEGA." Belum sempat Keano membuka suara, Evelyn sudah memarahinya dengan kalimat lain.


"KENAPA?! Kenapa tak memberi tahu mama. Apa karena sudah tak menganggap mamamu ini ada?" Evelyn semakin lirih. Tangisannya pecah. Ia memukul-mukul dada bidang Keano.


Keano semakin tak mengerti keadaan mamanya. Berbagai pertanyaan hinggap di benaknya. Sebenarnya apa yang telah mamanya dan Leon bicarakan hingga mamanya menjadi seperti ini.


Ia menoleh ke ambang pintu dan Shilla masih berdiri di sana. Mata gadis itu bertanya apa yang sedang terjadi. Keano yang tak mengetahui keadaannya pun hanya menggeleng perlahan.


Kenzo berdiri di belakang mamanya, sembunyi dengan takut. Sesekali ia mengintip papanya yang sedang di marahi oleh orang asing. Ingin ia membela, namun ia masih terlalu kecil untuk melawan orang dewasa yang sedang murka itu.


"Papa?" Kenzo memanggil Keano lirih.


Suara itu mampu mengalihkan perhatian Evelyn. Ia langsung menoleh ke arah Kenzo yang masih sembunyi ketakutan. Tambah yakinlah Evelyn tentang pernikahan Keano. Bahkan kini dia sudah memiliki anak. Semakin sedihlah ia karena tak tahu tentang momen bahagia anaknya.


Evelyn menangis pilu. Setelah ia di abaikan oleh suaminya, kini anaknya juga mengabaikannya. Pernikahan merupakan momen yang sangat penting. Namun Evelyn tak pernah tau kalau anaknya sudah menikah. Bahkan kini sudah memiliki anak yang umurnya sudah sekitar tiga tahun. Kalau saja Keano memberitahunya, tentu saja Evelyn rela terbang ke Jepang untuk menjadi saksi pernikahan mereka.


"Ma? Mama kenapa? Tiba-tiba marah dan menangis?" Keano menangkup sayang kedua pipi Evelyn. Ia tatap matanya mencoba mencari sesuatu di sana.


"KAMU MASIH TAK MENGERTI KESALAHANMU?" Nada Evelyn kembali meninggi. Ia tak habis pikir dengan putranya ini. Bagaimana bisa ia menikahi seorang wanita tanpa restu orang tuanya. Kenapa pula wanita itu tak pernah meminta Keano untuk mengenalkannya dengan orang tuannya.


"Tapi sungguh, Keano benar-benar tak mengerti ma." Keano mencoba meyakinkan mamanya yang emosinya belum stabil.


"Kesini nak." Dengan lembut Evelyn memanggil Shilla. Ia abaikan Keano yang bertanya-tanya dengan tampang bodohnya. "Kesini jangan takut." Evelyn melambai ke arah Shilla yang masih canggung.


Dengan hati-hati Shilla menghampiri Evelyn. Ia tuntun tangan kecil Kenzo yang masih tetap bersembunyi di belakangnya. Cukup susah untuk meyakinkan anaknya. Sampai Keano yang harus turun tangan untuk membujuk Kenzo supaya masuk.


Shilla duduk di sebelah Evelyn sesuai permintaan Evelyn. Ia canggung sekaligus bingung. Ia tak tau mengapa mamanya Keano memperlakukannya dengan sangat hati-hati. Apalagi sikapnya yang ramah membuat dia semakin merasa malu. Berbeda dengan yang tadi, kemurkaannya membuat Keano diam tanpa kata. Tapi sosok yang sekarang terlihat di depannya adalah sosok keibuan yang sangat dirindukan Shilla.


"Namamu siapa nak?" Dengan lembut Evelyn menanyakan nama Shilla. Tak lupa ia genggam jemari lentik Shilla menyalurkan kedamaian.


"Sh...Shilla tante." Dengan malu-malu Shilla menjawab pertanyaan Evelyn.


"Kok tante sih? Mama dong." Senyuman Evelyn membuat Shilla melihat kembali sosok ibu yang telah lama meninggalkannya.


"Canggung tante. Tidak enak di dengar yang lain." Shilla tersenyum malu-malu.


"Kenapa? Kan kamu istrinya Keano, wajar kan kalau kamu panggil saya mama?"


Mendengar kalimat Evelyn membuat Shilla dan Keano saling pandang. Mereka tak mengerti dari mana Evelyn mendapat kabar ini. Namun bisa di pastikan kalau mamanya itu benar-benar salah paham. Kini Keano tahu kenapa ia langsung di marahi habis-habisan. Ia mengira menikahi seorang gadis tanpa memberi tahu Evelyn. Tanpa di komando Keano langsung tertawa terbahak membuat Kenzo yang berada di gendongannya saja sampai terkejut.


"Kenapa malah tertawa anak nakal?!" Evelyn memandang Keano sinis. "Kok kamu bisa sih menikahi anak itu? Apa yang kamu suka darinya? Pantas saja dia tak mau mama kenalkan dengan Xena, ternyata kalian sudah menikah." Evelyn mengingat anak temannya itu. Ia jadi merasa bersalah.


"..."


"Ma, mama itu dapat kabar dari mana? Siapa yang menikahi siapa?" Keano tak tahan dengan mamanya yang memojokan mereka berdua.


"Masih tidak mau mengakui?!" Evelyn terlihat akan marah lagi.


"Ma........ Aku dan Shilla tidak pernah menikah,"


"JADI KAMU MENGHAMILI ANAK ORANG TANPA MENIKAHINYA DULU. DASAR ANAK NAKAL, MAMA TIDAK PERNAH MENGAJARI KAMU SEPERTI INI. MAMA TAK PERNAH MENGAJARIMU MEMPERMAINKAN SEORANG WANITA. CUKUP MAMA YANG DI PERMAINKAN OLEH PAPAMU. TAPI KAMU JANGAN PERNAH MEMPERMAINKAN WANITA. JANGAN HARAP KAMU BISA MEMPERMAINKAN WANITA MANAPUN SELAGI MAMA MASIH HIDUP." Belum selesai Keano menjelaskan Evelyn langsung bangkit dan memukul-mukul Keano. Tentu saja Kenzo langsung ketakutan dan berlari ke arah Shilla.


"Ma.. dengerin aku dulu ma. Jangan pukul aku ma, malu di lihat Shilla. Lihat Kenzo sangat ketakutan."


Evelyn mengatur napasnya yang terputus-putus. Ia tak habis pikir, anaknya yang sangat penurut menjadi seperti ini. Ia telah salah membiarkannya pergi ke luar negeri. Kalau saja saat itu dia bisa melawan suaminya, ia tak harus mengirim Keano ke negeri orang.


"Mama ngga mau tau, secepatnya kalian harus menikah!" Putus Evelyn mutlak.


Mendengar kalimat dari Evelyn, tentu saja Shilla benar-benar malu. Mereka baru saja saling mengenal dan baru saja membuka hati masing-masing, bagaimana bisa di minta langsung menikah.


"Menikahinya? tentu saja aku mau, tapi Shilla harus mau juga dong ma." Keano tersenyum licik ke arah Shilla. Laki-laki itu tentu tak akan melewatkan kesempatan ini.


"Tentu saja Shilla mau. Dia sudah membesarkan anak kalian, alasan apa yang membuatnya tak mau menikah. Benar kan nak?"


"Maaf tante. Tapi untuk sekarang saya tak ingin menikah dulu. Saya masih kuliah." Dengan hati-hati Shilla menjawab pertanyaan Evelyn.


"Nak. Menikah masih kuliah itu tidak apa-apa. Apalagi kamu sudah memiliki anak, tentu saja kalian harus segera menikah."


Keano senyum-senyum sendiri mendengar mamanya membujuk Shilla. Dia berharap Shilla langsung menyetujuinya saja tanpa harus menjelaskan kalau Kenzo bukan anak mereka berdua. Namun tentu saja itu hanya angan-angan Keano, karena tak mungkin Shilla tak menjelaskan semua kepada Evelyn.


"Masalahnya Kenzo memang bukan anak dari Keano tante."


Evelyn berpikir sejenak. Ia mencerna kalimat yang di ucapkan Shilla.


"Kamu sudah menikah?"


Shilla menanggapinya dengan gelengan kepala.


"Kamu janda?"


Shila menggeleng lagi di iringi dengan senyuman yang menawan.


"Jadi?"


"Kenzo menganggap Keano papanya karena dari kecil Kenzo tak memiliki papa. Saya mengasuhnya dari Kenzo lahir dan saya sudah anggap dia sebagai anak saya sendiri. Kenzo adalah nyawa saya." Penjelasan Shilla membuat Evelyn bungkam.


Jadi dari tadi Evelyn sudah salah paham dengan keduanya. Lama ia memahami kalimat Shilla. Ia jadi merasa bersalah dengan Keano karena telah memukulnya. Ia sekaligus kagum dengan Shilla karena apa yang ia lakukan. Tanpa ia duga air matanya mengalir. Ia sangat memahami bagaimana mengurus seorang anak sendirian. Ia juga pernah mengalaminya. Meskipun dia ada suami, namun suaminya tak pernah peduli dengan anak dan istrinya. Kini di hadapannya, ada seorang gadis yang masih belia mengurus seorang anak yang bahkan bukan darah dagingnya. Namun ia limpahkan kasih sayang yang tak terkira. Evelyn sangat terharu.


Tanpa kalimat ia memeluk Shilla dengan erat. Tak ketinggalan Kenzo yang masih sedikit ketakutan dengan Evelyn.


"Jadi, kapan aku bisa menikah ma?"


Antara Shilla dan Evelyn langsung menatap tajam Keano. Momen yang mengharukan jadi bubar karena ulah Keano.


Setelah kesalahpahaman berakhir, akhirnya mereka makan siang juga. Bukan siang, malah hampir sore. Mereka makan bersama bekal yang di bawa oleh Evelyn. Tak lupa Leon juga di panggil untuk di ajak makan bersama.


"Masih berani kamu menghadap ku?" Keano menatap Leon sinis. Ia masih kesal dengan bawahannya itu. Karena ucapannya, membuat mamanya salah paham terhadapnya.


Leon tak berani menatap Keano. Ia mengakui kesalahannya. Ia tadi tak menjelaskan dulu karena Evelyn langsung marah-marah.


"Jangan kasar dengan adikmu." Evelyn memukul kepala Keano sayang.


"Maaaaaa?"


"Jangan protes!"


Leon senang karena ia di bela oleh Evelyn. Ia tersenyum kemenangan. tentu saja senyumannya tak lepas dari pengamatan Keano. Jarang sekali Leon bisa menyaksikan muka bosnya yang kesal begitu.


"Ayo sayang di makan. Mama sendiri lho yang masak. Kenzo suka apa. Biar oma ambilin."


"Ayam. Kenzo suka ayam tante oma." jawab Kenzo riang. Ia sudah tak takut lagi kepada Evelyn. Apalagi sikapnya Evelyn kepada Kenzo, bisa di lihat jika ia sangat menyayangi anak itu.


"Kok tante oma, Oma, panggil oma." Evelyn menekan kata oma. Ia sangat mendambakan seorang cucu. Namun sampai sekarang anaknya belum memberikannya. Kini ia malah langsung dapat cucu dan calon menantu.


Lampu hijau buat Shilla.


"Ma, aku ngga di ambilin?" Keano merasa cemburu.


"Kamu punya tangan. Ayo Hiroshi, makan yang banyak." Evelyn mengabaikan Keano dan memanjakan ketiga orang yang asik dengan makanan mereka.


"Awas saja ya kalian Silahkan tertawa sepuasnya selagi sempat." Batin Keano menyusun rencana licik.


Mereka sangat menikmati makanan yang di masak Evelyn. Setelahnya Evelyn mengajak bermain Kenzo. Ia juga banyak mengobrol dengan Shilla. Ia malah mengabaikan anak yang selalu menjadi kesayangannya. Namun sepertinya sudah ada yang menjadi kesayangan lain kali ini.


"Ma, Aku masih bingung, kenapa mama panggil tuan Leon dengan nama Hiroshi?" Shilla sudah tak canggung lagi memanggil mama kepada Evelyn. Ia sangat bersyukur karena Evelyn mau menerima dia sebagai anaknya. Shilla sudah mengetahui kalau hati Evelyn benar-benar mulia. Terbukti dari kisah Leon yang dia dengar dari Keano.


"Karena mama mengenalnya sebagai Hiroshi. Itu nama Jepangnya. Mama tidak terbiasa memanggilnya Leon."


Mendengar jawaban Evelyn, Shilla hanya mengangguk mengerti. Mereka asik bercengkrama sampai tak menyadari kalau Keano sedang membully Leon. Ia masih kesal dengan Leon. Karenanya, semua pekerjaan ia limpahkan kepada asistenya tersebut. Leon hanya bisa pasrah mengerjakan semua yang Keano berikan.


"Itu akibatnya kalau kamu ceroboh. Bisa-bisanya kamu tak menjelaskan kepada mama."


"Tapi tuan, aku kan sudah ingin menjelaskan, tapi mama Evelyn yang terus memotong penjelasan saya."


"Jangan mengelak."


"Ayolah kakak, Masa kau tega dengan adikmu ini. Aku baru bertemu dengan mama lho, masih ingin mengobrol dengan beliau." Leon membuat muka sok nelangsa yang membuat Keano risih.


"Jangan harap bisa pulang kalau belum selesai mengerjakan. Adikku tersayang." Keano terkekeh melihat muka kesal Leon.


.


.


.


"Mama senang kamu sudah bisa membuka hati untuk gadis lain nak." Evelyn menegur Keano sebelum ia pamit untuk pulang. "Mama kira kamu akan larut dalam kesedihanmu di tinggal Violeta." Evelyn mengetahui kisah anaknya dengan Violeta. Meskipun ia belum pernah melihat gadis itu, namun apapun yang membuat anaknya bahagia ia akan selalu mendukung.


"Iya ma, Aku juga bersyukur bisa mengenalnya." Keano tersenyum melihat Shilla dan Kenzo yang tengah bercanda.


"Mama akan selalu mendukung keputusanmu. Lagipula, dia gadis yang baik. Sudah antarkan dia pulang, sudah malam kasihan Kenzo."


Setelah memberi petuah kepada Keano, Evelyn juga pulang. Supirnya sudah menunggu di bawah. Dia pamit kepada Shilla juga cucunya itu.


Setelah kepergian mamanya, Keano juga mengajak Shilla pulang. Hari sudah gelap dan Kenzo harus segera istirahat. Kasihan sekali anak itu, setiap hari harus ikut pulang malam. Mungkin sebaiknya Shilla meminta tolong kepada bu Farida lagi untuk mengasuh Kenzo.


"Semangat adikku." Keano masih sempat mengejek Leon sebelum dia pergi.


Hal itu membuat Leon semakin kesal saja. Tapi mau bagaimanapun, ia tetaplah atasannya. Ia akan menerima semua perlakuan Keano. Ia tak akan pernah melupakan bahwa Keanolah yang memberikan cahaya untuknya.


Ia tersenyum untuk Keano. Sudah lama ia tak melihat senyum Keano yang seperti itu. Hanya di sisi Shilla, Keano bisa seperti dulu. Ia tak akan memaafkan siapapun yang menyakiti Keano, bahkan meskipun itu adalah Shilla. Dalam hati ia hanya berdoa, Shilla akan selalu berada di sisi tuannya.


Bersambung...