Young Mama

Young Mama
Bab 39: ~Candu~



Suara tembakan memecah keheningan di malam yang sunyi di daerah pinggiran kota Hiroshima. Tembakan demi tembakan saling bersusulan seiring jalannya perang antar geng untuk memperebutkan wilayah kekuasaan. Sudah banyak yang tumbang bersimpah darah dari kedua sisi. Bahkan ada satu atau dua warga sipil yang ikut terseret ke dalam perkelahian mereka.


"KENAPA BISA ADA WARGA SIPIL DI SINI. AKU SUDAH MENYURUH KALIAN UNTUK BERJAGA AGAR TAK ADA YANG MEMASUKI DAERAH INI MALAM INI!!!" Leon sangat emosi dengan kinerja bawahannya. Dia sudah menaruh beberapa orang untuk memblokade jalan agar tak ada yang ikut terseret dalam urusan mereka. Namun kenyataannya masih saja ada warga yang masuk mengantarkan nyawa mereka. Membuat mereka susah untuk bergerak karena harus melindunginya. Tak seperti pihak musuh yang tak mempedulikan siapapun di hadapannya. Mau itu warga sipil ataupun anak-anak, mereka tak akan segan untuk menyingkirkannya selama menghalangi tujuan.


"Lindungi aku K," Leon menghampiri seorang perempuan yang sudah tampak ketakutan karena adanya peluru yang berterbangan di hadapannya dengan kecepatan tinggi. "Jangan takut, ikuti aku." Leon merangkul wanita itu dan sesekali menembakkan senjatanya untuk membunuh musuh yang menghalanginya.


Dari atas sana Kenji bisa melihat semua yang terjadi di bawah lewat teropong yang ada di senjatanya guna membidik target. Dia bisa melihat seseorang sedang mengarahkan senjatanya ke arah Leon. Sebelum pelatuknya di tekan, Kenji sudah lebih dulu menembak kepalanya.


"Yeah, head shoot!" Girang Kenji yang dapat di dengar oleh semua anggota.


"Jangan bercanda K, kita sedang dalam situasi serius." Ujar Violeta memperingatkan Kenji yang seperti bermain dalam Game. Dia sudah banyak menumbangkan musuh. Targetnya saat ini adalah mencari penembak jitu dari pihak musuh. Anggotanya akan dalam bahaya kalau penembak jitu musuh masih belum ditemukan.


Ia mengarahkan senjatanya menelusuri gedung-gedung tinggi di area itu. Karena keadaan sangat gelap ia harus memasang mata agar gerakan sekecil apapun tak luput dari penglihatannya.


Ketemu.


Violeta langsung lebih fokus dan mengarahkan ujung senjatanya untuk menembak. Tapi sesaat kemudian, penembak jitu dari pihak musuh tumbang dengan tembakan di kepala. Violeta tersenyum melihat hasil kerja Kenji. Dia sudah lebih baik dari pelatihannya sebelumnya.


"V, kau akan jadi kekasih ku." Kenji tertawa girang. Tembakan tadi merupakan tembakan yang sangat jauh. Bahkan melampaui rekor Violeta dalam beberapa tahun terakhir. Dengan bermodalkan senjata McMillan Tac-50 dengan amunisi Hornady A-MAX.50 (50 BMG), Kenji mampu melumpuhkan lawan yang berjarak 2.430 meter dari tempatnya berada. Melampaui rekor Violeta yang melumpuhkan lawan dari jarak 2.310 meter dalam pertarungan sebelumnya. Selisih sedikit, namun sudah mampu membuat Kenji di atas angin.


"Jangan terlalu bersemangat tuan K." Violeta menyeringai. Baru saja ia melumpuhkan penembak jitu yang lain yang hendak menjadikan Kenji sebagai sasaran. Dengan senjata kebanggaannya, Accuracy International L115A3 dengan amunisis 338 Lapua Magnum LockBase B408 bullets, Violeta mampu menembakkan pelurunya lebih jauh seratus meter dari pada Kenji. "Siap-siap untuk berlari telanjang mengelilingi markas tuan Kenji."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bagaimana? Kamu sudah mendapatkan informasi tentang Kenji?" Ichiro menunggu bawahannya melapor. Di sela jarinya ada rokok yang selalu menyala. Sepertinya orang itu sudah tak bisa hidup tanpa benda berbahaya tersebut.


"Ya tuan. Selama ini ternyata Kenji memiliki nama lain sehingga kita sulit untuk melacak keberadaannya. Tapi sebuah kesalahan fatal yang dia lakukan membuat kita mendapat celah untuk mengetahui tentangnya." Mata-mata itu dengan hormat memberikan informasi yang telah ia peroleh.


"Lanjutkan." Sesekali Ichiro menyesap wine dengan begitu nikmat.


"Di sini dia lebih di kenal dengan nama Keano. Nama masa kecilnya. Karena kematian ayah kandungnya, dia mengambil alih perusahaan dan langsung terkenal. Awalnya kami kira mereka saudara kembar, tapi setelah di selidiki Kenji dan Keano adalah orang yang sama."


Ichiro menyeringai mendengar laporan dari bawahannya. Selangkah menuju kematian Kenji. Ia menyuruh untuk lebih banyak mengumpulkan Informasi. Agar gerakan mereka langsung mengenai Kenji secara telak.


Para bawahan undur diri untuk mengerjakan perintah dari Ichiro. Sedangkan sang bos langsung bermain dengan perempuan bayarannya yang sudah menunggu dari tadi.


"Kemarilah sayang, kita nikmati malam ini."


*


*


*


Keano dan Leon sedang terlihat bersama di apartemen Keano. Mereka berdiskusi dengan sangat serius. Leon membawa laporan yang sudah Eyes dapatkan tentang Ichiro. Tak tanggung-tanggung, Eyes langsung membobol satelit agar bisa mendapatkan informasi secara akurat tentang Ichiro.


Di sana tertulis bahwa saat ini Ichiro tengah berlibur. Tak ada pergerakan khusus. Tapi mereka tahu kalau semua ini adalah rekayasa.


"Sepertinya sudah ada yang menandingi si jenius kita." Leon mengejek Eyes yang wajahnya terpampang di layar. Mereka tengah mengadakan video call, wajah Eyes terpampang di layar sebesar empat puluh satu inci.


Mereka melanjutkan diskusinya. Keano sudah mengetahui kalau keberadaannya sudah terlacak oleh Ichiro. Tak bisa di pungkiri kalau dia kini menjadi sangat terkenal karena memegang perusahaan nomor satu di negara ini. Tak butuh waktu lama untuknya ketahuan oleh Ichiro.


"Haaaah, sepertinya keadaan tak dapat terelakkan lagi." Keano menghela napas lelah. Dia sungguh tak ingin melibatkan kekasihnya dalam hal ini. Tapi ketika Ichiro sudah sampai di sini, pasti suatu saat juga dia akan ikut terlibat. Mengingat Shilla seorang ahli bela diri, setidaknya itu bisa mengurangi kekhawatirannya. Mungkin selanjutnya ia akan mengajari Shilla memegang senjata. Akan bagus kalau dia bisa membela dirinya sendiri. Dan lebih bagus lagi kalau semua itu hanya untuk melatih keterampilan, bukan untuk bertempur di medan perang.


"Lalu apa langkah yang akan tuan ambil?" Leon merasa iba melihat raut cemas Keano.


"Untuk sekarang biarkan saja dulu. Kita tak dapat mengusir orang yang sedang berlibur. Itu bisa mengurangi pasukan keuangan negara."


Inilah Keano. Meskipun dia tak nyaman, tapi tetap mementingkan kepentingan orang banyak. Mungkin dia adalah satu-satunya ketua mafia yang memiliki hati lembut namun mematikan. Padahal bisa saja dia merekayasa semuanya, tapi sepertinya bermain sebentar tak ada salahnya.


"Kalau begitu mulai sekarang setiap akhir pekan tolong kosongkan jadwal ku. Aku akan melatih Shilla menembak untuk berjaga-jaga. Semoga kekhawatiran ku tak akan terjadi."


Leon mengangguk mengerti. Ia akan mengatur ulang jadwal bosnya. Jangan sampai jadi terbengkalai nantinya.


.


.


.


Mereka berdua memutuskan mengakhiri rapat dan kembali ke kantor. Di sana Shilla juga baru saja sampai di antar oleh Devan. Ternyata tak boleh mengabaikan Shilla meski hanya sedetik. Sekali dia tak di jemput, akan membuat Devan mendapat kesempatan untuk mendekati Shilla.


"Sepertinya kamu terlihat lelah." Keano menarik tangan Shilla dengan lembut membuatnya langsung terkejut. "Bagaimana kalau hari ini kmu tak usah bekerja." Keano memeluk Shilla dari belakang. Tak lupa ia menatap Devan dengan tatapan tajamnya.


Tak mau kalah, Devan juga membalas tatapan Keano dengan tak kalah tajam. Mereka saling melemparkan tatapan membunuh mengabaikan Shilla yang sudah memperhatikan mereka secara intens.


"Yakin deh, kalian lama kelamaan bisa saling jatuh cinta."


Pandangan mereka langsung teralih ke arah Shilla. Dan detik selanjutnya mereka saling menatap dan langsung membuat gestur pura-pura muntah. Terkadang, kalau mereka bersama tingkahnya bisa seperti anak kecil yang rebutan permen. Dengan Shilla sebagai permennya.


"Ya sudah. Aku pergi, baik-baik di sini. Jangan mudah di goda oleh serigala liar." Devan tersenyum lembut mengacak rambut Shilla.


Devan melangkah pergi dengan santai. Mengabaikan taring Keano yang sudah keluar siap untuk mencabik mangsanya.


"Sudah Kei, dia sudah pergi."


Tetap saja Keano sangat kesal terhadap Shilla. Bisa-bisanya dia mau di antar lelaki lain selain kekasihnya. Dengan sedikit hentakan ia menarik tangan Shilla ke ruang istirahatnya. Sesampainya di sana ia langsung memenjarakan gadis itu di antara Kedua tangannya.


Hal itu sedikit membuat Shilla terkejut. Ia gak pernah menyangka kalau Keano bisa berbuat seperti ini. Di matanya sangat terlihat jelas kecemburuannya. Kilatan itu masih belum padam bahkan semakin berapi-api. Shilla tak tahu harus bagaimana. Namun entah kenapa melihat bibir Keano, sebuah pikiran nakal menghampirinya. Dengan detak jantung yang menggebu ia dekati bibir itu. Singkat, namun bisa memadamkan api amarah Keano. Bahkan sekarang Keano mematung sepersekian detik.


Keano masih belum terbiasa dengan sifat Shilla yang agresif. Ia selalu tak pernah siap jika gadis itu mengambil inisiatif lebih dulu.


Shilla keluar dari kungkungan tangan Keano. Ia meninggalkan Keano yang masih mematung. Di luar ia langsung menyandarkan tubuhnya yang lemas. Wajahnya memanas hingga ke telinga. Jantungnya masih sibuk berseteru hingga sulit bernapas.


"Aku benar-benar sudah gila. Bagaimana bisa aku menciumnya lebih dulu." Shilla mengacak rambutnya frustasi. Ia benar-benar sangat malu. Ia tak tahu apa yang akan ia perbuat kalau nanti bertemu Keano. Shilla menyentuh bibirnya sendiri. Tanpa ia sadari senyumnya mengembang. "Tapi rasanya benar-benar sangat menggoda." Shilla terkejut dengan ucapannya sendiri. Bisa-bisanya dia menjadi seperti ini. Mungkin efek kelamaan jomblo. Maklum saja, Keano adalah orang pertama yang mampu mengetuk pintu hatinya.


Bersambung...