
Dengan sadis K dan V membunuh musuh yang tersisa. Setelahnya mereka mengambil beberapa senjata. Mereka berdua berjalan kembali untuk bergabung dengan kelompok penjemput.
Di sisi hutan yang lainnya, pertempuran sengit tak terelakkan lagi. Tim khusus yang di pimpin oleh D sangat brutal. Mereka tak segan memenggal kepala bahkan merobek jantung meskipun musuh telah tumbang ataupun mati. Mereka melakukan itu untuk kenikmatan tersendiri.
D tak peduli dengan apa yang dilakukan oleh para anak buahnya. Yang ia pedulikan adalah kemenangan di pihaknya dan menemukan K juga V.
Melihat kebrutalan dari Golden Dragon, tak sedikit musuh yang memilih mundur. Mereka berlari kocar-kacir menyelamatkan diri. Mereka masih sayang nyawa. Meskipun nanti akan di adili oleh atasan mereka, setidaknya mayat mereka tak tercerai berai dimakan binatang buas. Setidaknya mereka bisa hidup lebih lama selama satu jam.
"Sudah tak perlu dikejar. Prioritas utama menemukan K dan V." D memberi perintah.
"Baik tuan."
Mereka kembali melanjutkan pencarian. Mereka yakin tak hanya kelompok yang baru saja mereka bantai yang ada di hutan ini. Masih akan banyak kelompok-kelompok lain yang dikerahkan.
"Tetap waspada."
"Siap tuan."
Di sisi lain hutan yang penuh jurang, kelompok yang dipimpin oleh Leon juga di hadang oleh musuh. Mereka berkelahi dengan sengit. Salah seorang menyerang Leon dengan sebilah pisau tajam. Leon yang sedang melawan musuh lainnya telat menghindari serangan mendadak itu. Akibatnya, lengan kanannya harus menerima sabetan pisau. Darah segar mengucur deras. Leon tak peduli, dia malah semakin membabi buta menyerang.
Melihat keberingasan Leon, musuh yang akan menyerang jadi sedikit ragu. Mata Leon menatap mereka tajam. Tatapan membunuh dari sang predator. Di mata para musuh, di kepala Leon muncul tanduk imajiner yang siap menyeruduk siapapun yang mendekat.
Anak buah Leon juga sudah selesai melumpuhkan musuh yang ada. Meskipun dari mereka luka-luka, namun tak ada korban yang hilang nyawa.
Melihat mereka semakin terpojok, musuh pun segera mundur. Namun sungguh sial memang. Mau maju, di hadapan mereka ada Leon yang sudah memain-mainkan pistol kecilnya. Mau mundur, di belakang mereka terdapat jurang terjal.
"Mau aku bantu jatuhkan, atau kalian melompat sendiri?" Leon mengarahkan moncong senjatanya ke arah beberapa orang yang masih berdiri di tepi jurang.
Leon menarik pelatuk pada salah satu kepala mereka, tepat mengenai dahinya. Langsung mati seketika, tubuhnya limbung dan terjun bebas ke jurang.
Dia menggerakkan senjatanya ke arah yang lainnya. Mereka takut, namun geram karena di permainkan oleh bocah ingusan seperti Leon.
'Setidaknya kalau aku melompat, kemungkinan hidup masih ada.' Batin seorang musuh penuh dengan ide-ide untuk menyelamatkan diri.
Orang itu langsung melompat begitu saja. Melihat salah seorang dari mereka melompat, yang lainnya ikut melompat.
"Bodoh!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keano masih memikirkan perkataan Mamoru. Dia menyelam pada perasaannya sendiri. Dia mencoba mencari apa yang hatinya inginkan. Siapa yang hatinya mau.
"Aku harus bagaimana V? Aku sangat mencintaimu, sungguh. Namun aku juga mencintai wanita lain kini." Keano bermonolog sendiri. Dia berbicara pada sebuah foto berharap foto yang diajaknya bicara memberikan sebuah jawaban.
Keano seolah melihat sesosok makhluk putih tak kasat mata tersenyum padanya. Beberapa kali Keano mengucek matanya mempertajam pandangannya, makhluk itu tetap tersenyum sebelum akhirnya hilang dengan sendirinya.
"Apakah ini jawabanmu? Apakah ini petunjuk mu? Bahwa aku harus merelakan mu?"
Tidak bisa. Keano tetap tak bisa melepas nama Violeta begitu saja. Hatinya tak rela jika dia harus membuang nama itu pergi.
"Kau tak harus melupakannya. Kau tak harus membuang seseorang yang telah menemanimu dulu." Tiba-tiba Shilla datang dan memeluknya dari belakang. Kepala ia sandarkan di punggung bidang Keano mencari kehangatan.
"Shil..."
"Sssst, biarkan aku seperti ini dulu." Shilla berusaha tegar. Tak mudah melihat orang yang kita sayangi masih menyimpan rasa sayang pada masa lalunya. Namun Shilla juga tak ingin egois. Violeta lah yang dulu selalu menemani Keano. Dari Keano yang tak bisa apa-apa hingga menjadi Keano yang seperti sekarang. Wanita itulah yang mendorong Keano untuk semangat berjuang. Shilla tak memiliki hak untuk menuntut Keano membuang nama Violeta dan hanya mengukir namanya.
"Namun izinkan aku untuk selalu berdampingan bersamanya di hatimu." Ucap Shilla lirih. Dia tak memiliki keberanian untuk bersanding dengan Violeta di hati Keano. Dia hanyalah wanita asing yang masuk di antara keduanya.
Keano melepas pelukan Shilla. Dia berbalik dan melihat mata Shilla yang sudah berkaca-kaca. Baru kali ini Keano melihat mata yang selalu ceria dan tersenyum teduh ingin menangis. Bahkan tangisan itu masih Shilla pendam agar tak tumpah di hadapan Keano.
Keano membawa tubuh mungil Shilla kedalam pelukannya. Perlahan isak tangis mulai terdengar. Keano membiarkan Shilla menumpahkan segala lara yang selama ini tak sengaja ia berikan.
Pelukan Keano semakin erat. Hatinya ikut merasakan sakit melihat wanita yang ia sayangi tersakiti. Dia egois. Dia kejam. Kalau saja dia mampu, dia akan membiarkan Shilla memilih lelaki lain yang lebih pantas dari dirinya. Yang bisa memberikan seluruh hatinya. Namun dia adalah makhluk paling egois. Dia tak akan rela Shilla dimiliki oleh siapapun. Shilla hanya untuknya. Selamanya untuknya.
"Maafkan aku Kei." Dengan suara lirih Shilla meminta maaf pada Keano.
Bahkan suara habis menangisnya Shilla, terdengar sangat merdu di telinga Keano.
"Maafkan aku yang dengan lancang meminta mu untuk mengukir namaku di hatimu bersama Vio, aku sadar, aku tak sepadan dengannya."
Mendengar kalimat Shilla, hati Keano seolah tercabik. Dia tak pernah menganggap Shilla lebih rendah dari V, ataupun lebih tinggi. Mereka adalah dua orang dengan pribadi masing-masing yang telah berhasil menawan hati Keano. Bahkan tanpa diminta Keano sudah mengukir nama Shilla berdampingan dengan nama Violeta.
Sebenarnya terbuat dari apa hati Shilla ini. Belum pernah ada yang mau jika namanya di sandingkan dengan orang lain.
Keano semakin tak tentu arah. Dia semakin sayang dan sayang dengan Shilla. Biarkan kini hati Keano bercabang. Namun suatu hari nanti, mungkin kesabaran yang di lakukan Shilla akan berhasil.
"Aku mencintai mu Nashilla Maheswari." Keano mengecup bibir Shilla cukup lama. Tak ada pergerakan. Tak ada penolakan. Sebuah ciuman tulus tanpa ada nafsu di dalamnya. Berharap rasa yang mereka miliki tersampaikan kepada sang pemilik hati.
"Aku juga mencintai mu Keano." Selepas ciuman Shilla menjawab perkataan Keano. Baru kali ini mereka saling mengucapkan kata manis. Dan itu membuat hati mereka saling menghangat. Mereka tersenyum satu sama lain.
Di akhiri ciuman Keano yang mendarat di kening Shilla.
"Selamat malam cintaku."
Bersambung...