
Aiko berjalan penuh percaya diri menuju ruang kerja Ichiro. Dengan hill 12cm dan rok super mini berwarna merah menyala, dia melangkah dengan tegas dan angkuh. Bahkan ia abaikan senyum sapaan dari para karyawan perusahaan itu. Kesombongan sudah mendarah daging di dalam jiwanya.
Terlihat di tangan Aiko beberapa lembar dokumen hasil mencuri di brangkas Keano. Senyum kemenangan terpancar dari wajah cantik hasil jiplakannya. Namun Aiko tak peduli, entah wajah siapapun yang ada di mukannya sekarang, yang penting itu bisa mendapatkan Keano, Aiko sangat puas.
Aiko sampai di ruang kerja Ichiro. Dia mebenahi sedikit rok mininya dan atasan yang memperlihatkan ketiak mulusnya. Tak lupa pula ia membenahi rambutnya yang ia buat bergelombang, membuatnya terlihat cantik dan anggun. Tangan Aiko mengepal siap mengetuk pintu. Sangat jarang sekali Aiko bertindak sopan, biasanya dengan sesuka hati masuk ruang itu. Toh bagaimanapun Ichiro adalah kakaknya di atas hukum.
Dengan penuh kehati-hatian, Aiko mengetuk pintu berwarna coklat yang berdiri gagah di depannya. Sebenarnya dia tak bisa memerankan gadis baik, namun karena hasil kerjanya yang memuaskan, dia ingin memerankan wanita yang taat, meskipun hatinya sangat licik.
"Masuk." Terdengar perintah dari dalam. Itu adalah suara Ichiro.
Sudah mendapatkan izin untuk masuk, Aiko memutar knop pintu. Seketika dia mencium bau semegrak dari asap rokok yang memenuhi ruangan. Aiko menutup hidungnya, dia tidak tahan dengan asap rokok. Namun tak akan sopan jika dia langsung pergi begitu saja. Dengan menahan seluruh rasa sesak di dada, Aiko masuk mendekati Ichiro yang tengah berdiri sambil menyesap nikotin yang tersulut.
Ichiro menoleh karena mendengar suara pintu terbuka. Sekilas dia mengagumi penampilan Aiko di wajah V, atau wajah V di dalam tubuh Aiko, entah lah sama saja bagi Ichiro. Memang, V merupakan sosok wanita yang cantik. Pantas saja Keano tak bisa melupakan Violeta.
Aiko tersenyum penuh arti kepada Ichiro. Dia tak langsung mengatakan maksud dan tujuannya. Dia hanya berdiri beberapa meter dari Ichiro menunggu pria itu menyapa lebih dulu.
Ichiro mengamati Aiko dengan saksama. Tubuh yang ideal dan sempurna untuk seorang wanita. Apalagi busana yang Aiko kenakan kini memperlihatkan lekuk tubuhnya yang dapat menggairahkan setiap pria. Make-up tipis tak terlalu mencolok dan gincu merah muda membuat wajah V terlihat semakin cantik. Tak ada sesuatu yang glamour seperti yang selalu Aiko kenakan, namun semua yang menempel di tubuhnya kini sesuatu yang elegan mencerminkan wanita bangsawan.
Ichiro tak lelah mengagumi sosok yang ada di depannya kini. Memang sangat cantik. Namun sayangnya tubuhnya yang sempurna sudah banyak lelaki yang menjamahnya. Sangat disayangkan.
Ichiro mendekati Aiko yang masih berdiri diam menunggu pertanyaan atau hanya sekadar sapaan. Namun yang didapati Aiko adalah sapaan dengan ciuman panas dari bibir Ichiro. Bibir dengan bau nikotin yang menyengat menyapa bibir cherry milik Aiko. Lidahnya menyapu seluruh permukaan bibir tanpa terlewat sedikitpun.
Sudah sesak, dan semakin sesak. Aiko paling tak tahan dengan nikotin. Namun dia hanya diam mendapati perlakuan seperti itu. Dia malah menikmati permainan lidah yang Ichiro berikan. Ia pejamkan mata untuk lebih menikmati ciuman tiba-tiba itu. Bahkan dengan sengaja membuka sedikit bibirnya agar lidah Ichiro lebih mudah mengabsen bagian dalam mulutnya.
Mereka hanyalah kakak beradik di atas kertas. Nyatanya, mereka tak ada hubungan darah sama sekali.
"Jangan sampai tuan Alison mengetahuinya, atau kita akan mati di tangannya." Ichiro berhenti sejenak untuk mempringatkan Aiko. Tangannya membenahi sehelai rambut Aiko yang menghalangi cumbuannya di bibir mungil itu.
"Tentu kakak." Jawab Aiko manja. Dia mendongak memperlihatkan leher mulusnya minta dicumbu.
Dengan senang hati Ichiro memenuhi permintaan tersirat Aiko. Mereka saling memanjakan. Ruangan yang semula dingin akibat pendingin ruangan, berubah seketika menjadi panas. Peluh membanjiri tubuh keduanya. Bunyi-bunyian khas persenggamaan berdengung memenuhi seluruh ruangan. Permainan berakhir kala keduanya mencapai puncak kenikmatan.
"Kau selalu pintar memuaskan ku." Ichiro mencium kedua mata Aiko bergantian. Dia membenahi pakaian yang kusut akibat ulah Aiko.
"Kakak juga lebih seksi dari tuan tua itu." Aiko menyeringai menggoda Ichiro. Dia mengambil g-string yang tergeletak di lantai dan segera memakainya. Dia juga merapikan kembali berkas-berkas yang berserakan di lantai. Dia sampai lupa tujuan utama menemui Ichiro.
"Apa itu yang kau bawa?" Tanya Ichiro melihat sesuatu yang dibawa oleh adiknya.
"Sesuatu yang ku temukan di brangkas Keano." Aiko menjawab pertanyaan Ichiro sambil menyerahkan berkas yang baru saja ia susun kembali.
Ichiro menerima semua berkas dan memeriksa satu persatu. Wajahnya serius saat meneliti isi dari berkas pemberian Aiko. Perlahan seringai licik muncul di bibirnya. Senyum puas karena kerja Aiko selama ini membuahkan hasil. Tak percuma ia memodali operasi Aiko untuk berganti wajah. Karena wajahnya kini sangat berguna.
"Bagus. Kau tak perlu lagi kembali kesana. Kau akan langsung dicurigai saat semua berkas penting ini hilang." Ichiro melangkah ke kursi kerjanya. Dia masih asik memeriksa banyak dokumen yang menurutnya sangat fantastis. "Kau hanya perlu menunggu kejatuhannya, saat itulah Kenji akan menjadi milikmu seutuhnya." Jelas Ichiro.
Melihat anggukan dari Ichiro Aiko melangkah pergi. Dia berniat untuk pergi ke toilet terlebih dahulu guna membenahi penampilannya. Apalagi lipstik merah muda tipis yang belepotan hingga ke pipi putihnya. Sangat kontras dengan warna kulitnya.
"*Apa kamu tahu apa yang tadi kudengar?"
"Apa? Kau mendengar apa?"
"Tadi saat aku ingin memberikan laporan kepada tuan Ichiro, aku mendengar sesuatu yang gaduh di dalam."
"Maksudmu?"
"Astaga...! Kau tak mengerti juga, seolah tuan sedang bermain panas dengan seorang perempuan."
"Hei jangan ngawur, sejak tadi yang di dalam ruang tuan Ichiro kan nona Aiko. Mereka kakak beradik."
"Mereka memang kakak beradik, namun kita semua juga tahu kalau mereka hanya saudara angkat*."
Aiko mendengar obrolan beberapa orang perempuan sebelum dia masuk ke toilet. Mendengar banyak orang mencemoohnya, dia tak langsung masuk. Dia masih asik mencuri dengar apa yang mereka bicarakan. Dia hanya diam di depan pintu tanpa ada niatan melabrak kedua mulut yang terus menjatuhkan namanya. Baginya mereka hanya perempuan yang iri dengan ketenarannya.
Setelah beberapa saat tenang, barulah Aiko masuk membuat kedua orang yang tadi asik membicarakannya terdiam membisu. Mereka salah tingkah. Mereka hanya berharap bahwa Aiko tak mendengar apa yang tadi mereka bicarakan.
"Kalau kalian beranggapan aku tak mendengar, kalian salah besar. Tinggal memilih, mau mengundurkan diri atau aku adukan pada kakak." Ujar Aiko santai di depan cermin membenahi dandanannya tanpa melihat kedua perempuan yang terkejut.
Dia mengambil lipstik merah muda dari dalam tas kecilnya. Mengoleskan pada bibir mungilnya secara merata.
"Apa yang terjadi kalau karyawan rendahan seperti kalian menjelekkan bosnya di belakang ya?" Aiko pura-pura berpikir.
Kedua orang itu langsung berlutut pada Aiko. Mereka sangat tahu sifat Ichiro. Mereka tak ingin pembicaraan mereka sampai pada telinga Ichiro. Di pecat saja sudah lebih baik dari pada nyawa yang melayang.
"Nona, kami mohon nona. Biarkan kami sekali saja nona, kami tak akan mengulanginya." Salah satu perempuan berambut panjang memohon pada Aiko.
"Kami akan menuruti perintah nona asal nona membiarkan kami." Yang berambut pendek pun ikut menimpali.
"Apapun?" Aiko menyeringai licik.
"Apapun nona!" Jawab mereka serempak.
"Baik, aku akan membiarkan kalian kali ini. Suatu saat aku membutuhkan kalian, kalian harus siap." Aiko tersenyum penuh arti.
Keduanya merasakan ada yang tak beres dari senyum Aiko. Namun mereka tak peduli. Yang penting sekarang byawa mereka selamat lebih dulu.
Bersambung...