
Sinar mentari pagi yang hangat sehangat hati seorang lelaki yang tengah mematut diri di depan cermin. Senyumnya mengembang tatkala ia lihat pantulan dirinya yang menurutnya sudah sempurna. Dengan kemeja rapi dan celana yang senada dengan kemejanya, ia ambil sepatu untuk melengkapi penampilannya yang sempurna.
Masih dengan senyuman yang mampu menggoda setiap mahasiswanya, Devan segera menyelesaikan acara berdandannya. Bukan berarti Devan suka berdandan layaknya perempuan yang bisa berjam-jam di depan cermin hanya untuk melukis wajahnya, dia hanya ingin tampil lebih sempurna dari pada biasanya. Meskipun biasanya ia sudah terlihat apik dengan penampilannya, namun akhir-akhir ini Devan tidak terlalu percaya diri. Apalagi hari ini adalah jadwal pujaan hatinya menghadiri kelasnya.
Devan memang menyukai salah satu mahasiswanya yang bernama Nashilla. Sudah lama dia mendamba gadis yang akrab di panggil Shilla tersebut. Dengan kehati-hatian dia mendekati Shilla sampai mereka kini tak canggung lagi. Mungkin saat ini anak didiknya itu hanya menganggapnya sebagai seorang pembimbing, namun dia berharap suatu saat nanti dia bisa menjadi papa dari Kenzo anaknya.
Devan sedikit memiliki rasa percaya diri karena Kenzo, bocah yang susah di takhlukkan itu kini sudah terbiasa dengannya. Dengan dekat dengan Kenzo, akan secara otomatis dekat dengan mamanya. Bukan berarti Devan licik, dia tulus menyayangi Kenzo, namun dia akan sangat bahagia kalau bisa mendapatkan mamanya juga.
Selanjutnya pria lajang 28 tahun itu berangkat untuk menunaikan tugasnya sebagai dosen. Meski masih muda dia merupakan dosen berprestasi, apalagi parasnya yang menawan membuatnya mudah di sukai oleh para mahasiswanya. Ia ambil dua lembar roti yang telah diolesi selai nanas kesukaannya sebagai sarapan paginya. Selanjutnya ia kendarai mobil yang merupakan jerih payahnya sendiri menuju kampus tempat ia mengajar.
Bahkan ketika mobil memasuki plataran kampus, semua mata sudah tertuju padanya. Sampai mobil di parkir pun, banyak mahasiswi yang menunggu turunnya dosen muda tampan yang berwibawa itu.
"Permisi pak, ini buat bapak." Salah satu mahasiswi menyapa dan memberikan sesuatu kepada Devan sesaat setelah ia turun dari mobilnya. Dengan wajah bersemu dan senyum malu-malu gadis itu berlari menjauhi dosennya yang masih melihat apa yang telah diberikan oleh mahasiswinya tersebut.
Ia bolak-balik kotak kecil itu. Devan hanya tersenyum menanggapi pemberian tulus dari mahasiswanya. Ia buka kotak berbentuk hati itu yang ternyata di dalamnya terdapat beberapa potong cokelat. Namun sayangnya Devan tidak terlalu suka, ia simpan cokelatnya kembali barang kali hari ini Kenzo ikut mamanya kuliah, ia bisa memberikan cokelat itu kepada Kenzo. Bocah kecil itu begitu menyukai cokelat.
Ia melanjutkan langkahnya ke ruang dosen. Dalam perjalanan pun beberapa perempuan banyak yang cari perhatian. Dari yang memanggil penuh manja, sampai pura-pura menabrak layaknya di film. Semua itu mereka lakukan hanya untuk mendapatkan perhatian dari sang dosen ganteng pujaan setiap wanita.
Devan hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ada-ada saja kelakuan mereka untuk menarik perhatiannya. Sayangnya apapun yang mereka lakukan tak dapat menggerakkan hati sang dosen, karena hatinya sudah tertambat pada sosok wanita muda yang sudah memiliki putra.
Bahkan ketika sudah sampai di ruang dosenpun, tak cuma satu dosen perempuan yang menyapanya dengan penuh goda. Dari dosen wanita yang mempunyai berat badan berlebih yang bibirnya di hiasi gincu dengan rambut di sanggul besar, hingga dosen wanita yang memiliki ketebalan kaca mata entah sudah berapa milimeter dengan tompel yang ada di pipi kirinya. Semuanya ingin menarik hati dosen muda ini.
"Pagi pak Devan, hari ini terlihat lebih segar ya." Dosen berbadan gempal yang di kenal dengan Bu Mirna sang dosen killer menyapa Devan penuh rayuan.
"Pagi juga Bu Mirna, itu lipstiknya belepotan." Devan membalas sapaan Bu Mirna.
Bu Mirna langsung berdiri mematung. Tanpa memperdulikan hal lainnya ia langsung berlari ke toilet untuk memeriksa riasannya. Wanita itu paling tidak bisa tampil sembarangan di hadapan dosen pujaannya.
Devan hanya tertawa kecil melihat tingkah dosen seniornya itu. Sebenarnya itu hanyalah alasan agar dia terbebas dari janda gempal itu.
"Pak dosen jahil deh, kan kasihan Bu Mirna." Salah satu dosen mulai melancarkan aksinya.
"Maaf Bu Reva, saya harus mengerjakan tugas saya sebagai dosen." Dengan halus Devan menyuruh dosen yang di kenal bernama Reva itu untuk pergi.
Dia langsung memulai mengoreksi pekerjaan anak didiknya yang belum sempat ia koreksi. Saat sedang serius dia dikagetkan dengan seseorang yang membuka pintu dengan kasar. Ternyata itu adalah dosen yang baru saja Devan usili. Dia hanya bisa tertawa kecil takut menyinggung Bu Mirna.
.
.
.
Devan masuk kelas dan di sambut meriah oleh para mahasiswa. Netranya memindai seluruh ruangan mencari sosok gadis yang sudah mencuri hatinya. Pandangannya berhenti ketika senyum ceria Shilla menghipnotisnya. Beberapa saat ia mematung menikmati pemandangan yang langka ini. Namun dia tak sampai lupa diri takut ada yang menyadari perasaannya. Dia juga mencari sosok pria kecil di sekitar Shilla. Siapa lagi kalau bukan Kenzo yang menggemaskan. Namun sepertinya hari ini Kenzo tidak mengikuti ibunya kuliah.
Kegiatan belajar mengajar berjalan dengan semestinya. Sesekali Devan mencuri-curi pandang terhadap Shilla yang sedang serius memperhatikan penjelasannya. Di matanya, Shilla tampak begitu mempesona ketika sedang memperhatikan dengan serius.
Hatinya langsung menghangat, tinggal menunggu waktu saja untuk dia jujur dengan perasaannya. Ia tak ingin terburu-buru, takutnya Shilla malah akan menjauhinya.
"Baiklah anak-anak, sampai jumpa empat hari lagi. Jangan lupa untuk mengumpulkan tugas kalian." Devan menutup kelas dan segera meninggalkan ruang kelas. Ia takut tak bisa menguasai diri kalau terus menerus melihat senyum cantiknya Shilla.
Ingin rasanya ia mendekat dan langsung mengatakan "aku mencintaimu" namun sepertinya itu kurang baik jika di lakukan saat ini. Shilla baru mulai terbiasa dengannya, ia tak mau membuat Shilla malah menjauh. Sepertinya Devan harus lebih sabar lagi untuk mendapatkan gadis pujaannya. Selama ini dia belum pernah melihat Shilla dengan lelaki, dia merasa tenang untuk pelan-pelan memenangkan hatinya.
Kuliah hari ini sudah selesai. Shilla segera membereskan peralatan belajarnya untuk segera keluar dari kelas. Dia tak terburu-buru karena kuliah hari ini selesai lebih awal. Dengan santai dia berjalan keluar kampus bersama Rayna sahabatnya.
"Kamu akan langsung ke tempat kerja?"
"Iya. Kenapa?"
"Aku ke kontrakan kamu ya. Kangen sama si kecil." Rayna menampilkan muka sok imut yang membuat Shilla geleng-geleng kepala.
"Kalau begitu boleh sekalian minta tolong?"
"Oh ayolah Shil! Kalau ada sesuatu katakan saja, kenapa bicaramu seperti itu."
"Baiklah.... baiklah... tolong sekalian belikan susu untuk Kenzo. Takutnya sudah habis soalnya tadi tinggal sedikit. Bisa-bisa ngambek kalau minta susu nggak ada." Shilla memberikan beberapa lembar ratusan ribu untuk membelikan susu Kenzo.
"Siap bos." Rayna memberi hormat kepada Shilla layaknya prajurit memberikan hormat kepada komandannya. Ia menerima uangnya dan segera pergi tak sabar bertemu dengan Kenzo.
Shilla tertawa melihat tingkah Rayna yang tak kalah dengan tingkahnya Kenzo. Ia segera melanjutkan perjalannya ke tempat kerja. Tanggung jawab yang lain tengah menunggunya.
"Shilla...!!!" Devan memanggil Shilla sedikit berteriak karena keramaian yang ada.
Shilla menoleh ke sumber suara, di sana terlihat Devan sedang tersenyum dan menawarkan untuk mengantar Shilla. Gadis yang masih berdiri bimbang itu merasakan De ja vu. Dan dia ragu untuk menerima tawaran dosennya kali ini.
Melihat wajah Shilla yang ragu, Devan segera keluar untuk meyakinkannya.
"Ayo Shill biar ku antar. Kamu akan pergi kerja kan?" dengan lembut Devan meyakinkan Shilla agar mau naik mobilnya.
"Jangan lah pak, ngga enak kalau di lihat anak-anak lain. Saya ngga mau mencari musuh pak, lihat tatapan mereka, seperti menguliti saya." Shilla memberi tau Devan bahwa beberapa mahasiswi menatapnya tajam. Mereka tak rela kalau dosen pujaan mereka malah dekat dengan gadis miskin beranak satu seperti Shilla. Siapa lagi mereka kalau bukan anak orang kaya manja yang bisanya cuma menghamburkan uang orang tua.
"Tenanglah. Kalau mereka macam-macam bilang saja sama aku. Lihat, kalau kita terus mengobrol di sini yang ada kamu akan terlambat." Devan menunjukan jam yang ada di pergelangan tangannya, bahwasannya waktu akan terus berjalan.
Dengan berat hati Shilla akhirnya menerima ajakan Devan. Mengabaikan tatapan benci di belakangnya dia naik ke mobil yang selama ini menemani Devan kemanapun ia pergi.
"Hari ini Kenzo ngga ikut?" Devan berbasa-basi memecah kecanggungan yang ada.
"Tidak pak." Shilla menjawab dengan singkat.
"Oh iya. Ini cokelat, bisa kamu berikan ke Kenzo?"
"Terima kasih pak. Kenzo sangat menyukai cokelat, tapi tidak baik kalau terlalu sering makan cokelat." Shilla menolak dengan halus.
Devan tak tau lagi harus bagaimana. Kalau ia banyak bicara, takutnya Perempuan yang disukainya malah merasa risih. Pada akhirnya mereka saling duduk diam sampai ke perusahaan tempat Shilla bekerja.
Bersambung...