Young Mama

Young Mama
Bab 29: ~Ciuman Pertama~



"Kamu kenapa sih Shil akhir-akhir ini? kayak orang gila tau ngga, senyum-senyum sendiri." Tiba-tiba Feli menegur Shilla yang sedang asik bermain bersama Kenzo di ruang tamu.


"Masa sih kak? biasa aja deh." Elak Shilla. tak mungkin ia jujur dengan wanita rese itu. Biarlah ia tau dengan sendirinya saja. Bisa habis di wawancara nanti.


"Ngga kuliah?"


"Masuk agak siangan kak."


"Oh, oke kalau gitu aku berangkat dulu."


"Oke."


Feli pergi meninggalkan Shilla bersama Kenzo. Namun belum berapa lama ia keluar, ia teriak memanggil Shilla membuat Shilla terlonjak kaget.


"SHILL...!! DI CARI COWOK GANTENG NIH." Mulut Feli memang tak pernah di filter. Di hadapan orangnya langsung bilang cowok ganteng, membuat yang bersangkutan malu saja.


"Apa sih kak ngagetin aja."


"Ini ada pak dosen ganteng." Cengir Feli tanpa dosa. "Ya sudah pak, masuk saja, saya harus berangkat kuliah." Dengan sopan Feli pamit kepada Devan.


Shilla tak tau kenapa Devan tiba-tiba datang menemuinya. Padahal dia nanti juga akan bertemu saat kuliah. Kalau ada perlu bisa menunggu nanti. Namun untuk sopan santun Shilla tetap mempersilahkan Devan untuk masuk.


Shilla langsung membuatkan minum untuk Devan. Minuman segar pelepas dahaga karena sepertinya Devan terlihat berkeringat. Mungkin ia kesulitan mencari kontrakan Shilla. Karena memang benar, ini kali pertama Devan berkunjung langsung ke tempat tinggal mahasiswi pujaannya itu.


"Hallo kesayangannya om." Devan menghampiri Kenzo yang sedang asik bermain perang-perangan. Dengan berbagai robot tentara dan juga mobil tempur lainnya.


"Hallo om Evan." Jawab Kenzo tak seantusias biasanya. Kalau dulu Kenzo akan senang dengan hadirnya Devan, kini ia terlihat biasa saja. Ia masih asik menjalankan patung tentara mainannya untuk menembak musuh.


"Ada apa ya pak? kalau ada sesuatu nanti juga kita bertemu di kampus pak." Shilla duduk di samping Kenzo sambil menjalankan peran sebagai penjahat.


"Sengaja. Aku ingin menjemputmu." Devan tersenyum penuh Kharisma. Semenjak Shilla diketahui dekat dengan Keano, Devan berencana untuk terus mendekati Shilla secara terbuka.


"Hah?" Shilla menatap Devan tak mengerti. Ia merasa bahwa Devan kini sangat frontal dalam mengejar dirinya. Bukan karena Shilla terlalu kepedean, namun di lihat dari Devan memperlakukan Shilla, sungguh jelas sekali Devan ingin menjadikannya sebagai kekasihnya.


Shilla bingung harus berkata apa. Dia sudah berjanji dengan Keano akan berangkat bersama dia. Semenjak mereka mengakui perasaan satu masa lain, Kenzo selalu bersama Keano ketika dirinya kuliah.


Shilla tak ingin melihat pertengkaran mereka. Para lelaki dewasa namun bertengkar konyol layaknya balita.


Sadar Shilla, siapa yang membuat mereka bertengkar. Mereka bertengkar hanya untuk memperebutkan ibu beranak satu, itu kamu.


"Maaf pak, bukannya saya tidak sopan. Tapi saya sudah ada janji lain." Dengan hati-hati Shilla menolak ajakan Devan.


"Apa karena laki-laki itu?" Devan berucap sinis. Dia menjadi pribadi yang berbeda ketika cemburu. Bahkan auranya menakutkan. Shilla belum pernah melihat Devan yang sepertu itu. Namun Devan berhasil mengontrol dirinya. Ia tetap menampilkan senyum andalannya.


Belum Shilla menjawab, dari ambang pintu suara lain menjawabnya. Suara yang selalu membuat Shilla kangen dengan orang itu. Suara yang mengalihkan perhatian Kenzo dari mainannya.


"Papa...!!!"


Dia adalah Keano. Pria yang berhasil menakhlukan hati Shilla yang tak terjamah oleh laki-laki. Sejak dulu Shilla memang tak pernah dekat dengan laki-laki. Apalagi semenjak ada Kenzo, ia lebih memilih untuk mencurahkan seluruh perhatiannya untuk putra kecilnya. Ia tak ingin dekat dengan laki-laki lebih dari teman. Namun siapa sangka, keteguhan yang Keano miliki mampu membuat Shilla membuka hatinya.


"Anak kesayangannya papa, sedang apa hm?" Keano langsung menyambut Kenzo ke dalam pelukannya.


Devan yang melihat itu tentu saja iri. Dari tadi ia mencoba menarik perhatian bocah itu namun selalu di abaikan. Sedangkan sekarang, hanya mendengar suara Keano saja Kenzo langsung bangkit meninggalkan mainannya dan menghambur ke pelukan lelaki itu. Devan sungguh merasa miris sekali.


"Sudah aku peringatkan, jangan pernah dekati wanitaku." Keano berkata rendah namun bernada tajam. Bibirnya masih tersenyum, senyum penuh intimidasi. Ia tak ingin membuat Kenzo takut.


Kedua pria itu saling tatap ingin menjatuhkan satu sama lain. Devan tak ingin mengalah, merasa dirinya kenal lebih dulu dengan Shilla. Keano tak tinggal diam, dia selalu mendapatkan apa yang ia mau, termasuk wanita yang dicintainya. Mereka saling melemparkan pandangan membunuh. Dalam diam mereka seakan berikrar tak ingin melepaskan Shilla.


Shilla memandang mereka bergantian. Selalu saja seperti ini jika mereka bertemu. Seperti kucing dan anjing yang tak bisa akur. Bahkan Kenzo yang masih di pangkuan Keano saja mereka abaikan. Anak yang tak salah itu menjadi korban hawa dingin di sekitarnya.


Bahkan saat Shilla mengangkat Kenzo, Keano tak merespon dan masih menatap bengis lelaki yang mengejar Shilla.


"Sepertinya sebentar lagi kalian bakal jatuh cinta satu sama lain. Kalian bertatapan seakan dunia hanya milik kalian saja." Shilla berucap usil. Bagaimanapun ia tak tahan dengan tingkah mereka yang melebihi Kenzo ketika merajuk.


Keduanya langsung menoleh ke arah Shilla. Mereka dengan serempak menyanggah pernyataan Shilla.


"Tuh kan, bahkan bicara saja bisa barengan gitu. Kalian pasti sudah memiliki chemistry satu sama lain." Shilla tersenyum tanpa dosa. Mengabaikan pandangan tajam mereka.


"Kalaupun aku harus merubah orientasi ku, aku tak ingin bersama dia." Devan menolak mentah-mentah.


"Kamu juga bukan tipe ku." Sanggah Keano tak mau kalah.


"Kalian sangat cocok." Senyuman itu mampu membungkam keduanya.


"Sampai kapan kamu akan disini?" Keano berkata sinis.


Dengan berat hati, Devan pergi dari sana. Mau memaksa juga tak mungkin. Sebelum ia pergi, ia pamit dengan Kenzo terlebih dahulu. Ia cium dengan gemas pipi gembul itu membuat sang empunya memberontak.


"Aku pulang dulu Shill. Hati-hati sama dia." Devan memperingatkan Shilla sambil mengacak rambutnya sayang. Ia abaikan tatapan tajam dari belakangnya. Ia sengaja membuat Keano marah. Ia menyeringai sebelum melangkahkan kaki untuk pergi.


"Sepertinya aku harus memotong tangannya. Beraninya dia menyentuh wanitaku." Keano berbisik rendah. Namun serendah apapun bisikannya, mampu di dengar telinga Shilla.


"Jangan macam-macam." Shilla memperingatkan. Ia tak ingin Keano terlibat dalam kriminalitas. "Ayo berangkat. Bisa-bisa aku telat."


Akhirnya setelah pagi yang penuh dengan emosi, mereka berangkat. Keano mengantarkan Shilla untuk menuntut ilmu. Sebenarnya ia tak rela Shilla kuliah. Karena di sana ia akan bertemu dengan sang dosen. Ia ingin mengikuti kemanapun Shilla pergi, namun tanggung jawabnya sebagai pemimpin membuat dia mengurungkan niatnya.


Ia bersabar sampai siang nanti. Toh siang nanti Shilla akan bersamanya. Tak akan ada yang menggangunya. Saat ini ia akan mencoba untuk tenang. Meskipun Devan gencar mendekati Shilla, ia percaya wanitanya tak akan tergoda dengan dosen tersebut.


"Hati-hati. Jaga selalu hatiku." Pesan Keano membuat Shilla bersemu.


"Daa.daa mama." Kenzo melambai riang.


"Iya, hati-hati juga." Shilla tersenyum manis membuat Keano susah mengendalikan diri.


Tanpa pikir panjang, Keano menarik pinggang Shilla untuk mendekat. Selanjutnya tanpa Shilla duga, bibir Keano sudah mendarat di bibirnya tanpa izin. Kerena Kenzo berasa di tengah mereka, ciuman singkat itu harus berakhir dengan tatapan tajam dari Shilla.


"Ini kampus Kei." Shilla mendelik galak ke arah Keano.


"Aku sudah menahan diri terlalu lama sayang." Keano menyeringai.


Kenzo yang tak mengerti hanya tersenyum melihat mereka berdua. Baginya, mereka sedang mencium layaknya mereka mencium dirinya.


Shilla benar-benar malu. Pipinya sudah terasa panas. Ciuman pertamanya diambil tanpa seijinnya. Namun ia juga merasakan kehangatan dari ciuman singkat itu. Salahkan Keano yang membuat hatinya tertawan sedemikian rupa.


"Daa.daa sayang. Kenzo baik-baik ya sama papa Kei." Shilla mengalihkan perhatiannya pada Kenzo. Ia tak ingin ketahuan jika dia saat ini benar-benar gugup.


"hm." Kenzo mengangguk. Ia memberi isyarat pelukan kepada mamanya. Dengan sayang Shilla memeluknya dan menjatuhkan beberapa ciuman pada anaknya.


"Sama papanya tidak?" Keano berharap Shilla juga akan menciumnya.


"Mimpi." Dengan sewot Shilla pergi ke dalam. Ia masih sedikit kesal dengan Keano yang dengan seenaknya mencium di kampus. Apalagi suasananya sedikit ramai. Benar saja, banyak omongan nyinyir dari mereka yang tadi sempat melihat. Shilla mengabaikan mereka. Kalau saja ia tak di cium di depan kampus, pasti ia akan menikmati ciuman itu. Rasanya tak buruk juga. Eh?


Shilla merutuki sirinya sendiri. Sepertinya Virus cinta kini sudah melanda dirinya. Membuat otak cerdasnya konslet dengan pikiran-pikiran layaknya anak ABG.


"Kenapa tuh muka?" Rayna mengagetkan Shilla yang menghampiri tiba-tiba. "Merah banget. Sakit?"


"Engga." Shilla tersenyum penuh arti.


"Gimana perkembangannya?" Rayna menaik-turunkan alisnya.


"Perkembangan?" Shila tak mengerti arah pembicaraan sahabatnya itu.


"Pak dosen apa papa ganteng?"


Pertanyaan Rayna membuat Shilla tambah malu. Ia jadi mengingat kejadian tadi yang masih hangat terasa di bibirnya. Mau tak mau senyum Shilla mengembang dengan sendirinya membuat Rayna tak mengerti.


Kalau saja tadi Rayna melihatnya dicium Keano, pasti sahabatnya itu akan menuntut penjelasannya.


"Kok malah senyum-senyum sendiri sih?"


"Menurutmu?" Shilla balik membuat pertanyaan.


"Keduanya baik sih menurutku. Ya udah keduannya aja. Biar Kenzo senang memiliki dua papa sempurna." Kata Rayna tanpa dosa. Membuat ia mendapatkan jitakan keras dari Shilla.


Rayna mengelus kepalanya. Ia mendengus. Ia hanya menyampaikan pendapatnya saja. Malah kepalanya yang menjadi korban.


"Jangan mikirin itu. Pikirin aja kuliahmu. Banyak nilai yang merah tuh." Shilla tertawa berhasil membuat mood Rayna anjlok. Pasalnya Rayna akan sangat sensitif jika di ingatkan tentang nilai-nilainya. Membuat wajah Rayna langsung bermuram durja.


"Awas kamu Shilla." Keduanya berlari ke kelas. Bagaimanapun mereka adalah sahabat. Tak akan bertengkar hanya karena masalah sepele.


Bersambung...


**Untuk di ingat. Young mama up setiap tanggal genap jam 03.00 WIB. Jadi untuk kalian yang selalu nanya kapan up, udah di bilang di sini ya. Terima kasih karena antusias kalian, tapi maaf banget, kalau untuk tiap hari up belum bisa. Karena dalam proses up juga harus lolos review dulu. Jadi kalau belum up bukan berarti Authornya belum nulis, author udah nulis cuma masih nunggu proses review. Mohon untuk di mengerti ya semuanya.