Young Mama

Young Mama
Bab 36: ~Perubahan~



Beberapa orang berjas hitam dan kaca mata hitam berjalan beriringan di bandar udara internasional Soekarno-Hatta. Dengan setelan yang mereka kenakan membuat perhatian semua orang tertuju pada mereka. Apalagi badan mereka yang tinggi tegap dan bermuka bengis membuat orang-orang di sekitar terintimidasi.


Bahkan ada beberapa orang terlihat bertato di leher ataupun wajah mereka. Mungkin semua orang bertato, namun di area tersembunyi.


"Jadi disini Kenji bersembunyi." Seorang yang sepertinya bos mereka tersenyum picik.


"Dari informasi yang kita dapat, Kenji Hayashi sudah beberapa bulan di sini bos." Orang botak di belakangnya menyalakan korek untuk bosnya.


"Kenji... Kenji... Tunggu saja, aku akan membalas mu berkali-kali lipat." Orang itu menyesap rokok yang telah menyala. Ia hirup dalam-dalam nikotin telah berubah menjadi asap.


"Kamu, siapkan segala sesuatu ku. Cek in di hotel yang paling bagus, sepertinya aku harus menikmati suasana disini dulu. Katanya negara ini memiliki wisata yang menarik. Apakah kita harus menikmati dulu sebelum bertempur?" Ichiro, lelaki yang sedari tadi bermonolog menyeringai.


Orang yang ditunjuk Ichiro tadi langsung pergi untuk melaksanakan tugasnya. Dia tak berani untuk menunda pekerjaannya ataupun protes. Ia masih sayang nyawanya.


*


*


*


"Jadi bagaimana keadaan Kak Alexi?" Shilla bertanya pada Keano tentang Alexi.


Keano hanya mengernyit mendengar pertanyaan Shilla. "Sejak kapan kamu memanggilnya kak?"


Ah, sepertinya Keano Cemburu. Beberapa hari ini setelah kematian ayahnya pekerjaan Keano menjadi bertambah. Apalagi setelah jabatan presdir kini telah dilimpahkan padanya. Waktu untuk bersama Shilla pun jadi berkurang. Ia jadi suka marah-marah dan cemburu tak jelas.


Setelah kini perusahaan ada di tangannya, apakah Keano akan menghancurkannya seperti janjinya dulu? Keano menjadi ragu. Apalagi setelah mengetahui sebenarnya perusahaan ini adalah peninggalan kakeknya. Ia tak akan menghancurkan begitu saja hasil keringat kakeknya dulu.


"Apa? Dia kan kakakmu, kenapa tidak boleh panggil kak?" Shilla menggoda Keano yang sudah merah padam.


"Tentu saja ngga boleh." Keano salah tingkah membuat Shilla semakin ingin menggodanya.


"Kamu cemburu?" Shilla menaik turunkan alisnya membuat Keano jengah.


Keano tak menanggapi godaan Shilla. Dia semakin berkutat dengan tumpukan dokumen di depannya.


Tak ingin mengganggu Keano lagi, Shilla pamit undur diri untuk mengerjakan tugasnya juga. Shilla semakin mahir dalam pekerjaannya membuat kerjaan Leon sangat terbantu. Apalagi Keano yang banyak maunya dan menuntut selalu sempurna membuat pekerjaannya selalu menumpuk. Dengan adanya Shilla, bisa menjinakkan Keano apabila ada pekerjaan yang salah.


"Tak usah sembunyi lagi. Kenapa?" Keano menegur Leon yang sedari tadi berdiri di luar tak ingin mengganggu pembicaraan kedua orang yang sedang dilanda asmara.


Aura di sekitar mereka berubah menjadi serius. Melihat wajah Leon yang dingin, Keano paham apa yang akan disampaikan oleh bawahannya itu. Segera ia tutup dokumen yang membuat pusing kepala dan serius mendengar laporan dari Leon.


"Baru saja Black Rose menghubungi, Ichiro dari Black Demon sudah mengetahui keberadaan anda. Kemungkinan dia sudah sampai disini." Black Rose merupakan name code dari Rose. Dia memang mengerjakan segala urusan yang berada di Jepang. Kedua orang, Leon dan Rose merupakan orang kepercayaan Keano.


"Jadi dia sudah berani terang-terangan mengusikku?" Keano mengetuk-ngetukkan alat tulisnya ke meja. Lama kelamaan bolpoin itu ia remas hingga pecah membuat tintanya mengotori tangan dan lengan kemejanya.


Dengan sigap Leon mengulurkan sapu tangan untuk membersihkan tangannya.


"Sepertinya kita harus lebih waspada tuan."


"Hubungi beberapa tim Elit untuk datang kesini. Keselamatan Shilla dan Kenzo adalah yang utama. Bilang Black Rose untuk selalu waspada, bisa jadi ini jebakan untuk menghancurkan markas kita di Jepang."


"Baik."


Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Mereka tak ingin pertumpahan darah yang melibatkan orang terkasih mereka. Apalagi untuk Shilla yang belum mengetahui identitas Keano yang sebenarnya. Apakah ia bisa menerimanya kalau sampai suatu hari nanti ia ikut terlibat. Keano tak bisa membayangkan itu terjadi. Ia harus segera memberi tahu secara perlahan agar dia tak kabur bila nanti tahu yang sebenarnya.


*


*


*


Ichiro berjalan-jalan dengan santai menikmati suasana taman yang ramai dengan anak-anak. Bagi sebagian orang, melihat Ichiro dengan penampilannya adalah hal yang sangat kontras. Bayangkan saja seorang pria tinggi berbadan tegap, memakai setelan jas lengkap, juga kaca mata hitam berjalan beriringan dengan orang yang hampir sama di taman, sungguh suatu pemandangan yang sangat langka.


"Kenapa kita malah ke taman kota tuan." Salah satu anak buahnya bertanya kepada Ichiro. Ia tak mengerti jalan pikiran bosnya ini. Mereka kesini untuk mencari musuhnya, bukan untuk berjalan-jalan di taman.


"Sejak kapan kamu berani mempertanyakan apa yang aku lakukan?" Ichiro berkata sinis.


"Maaf kan saya tuan." Orang itu langsung ciut nyalinya. Seharusnya dari tadi mulutnya ia gembok saja agar tak mengeluarkan suara yang tak perlu.


Ichiro kembali berkeliling. Ia sambil membayangkan apabila tempat yang banyak anak-anak ini ia jadikan medan pertempuran sepertinya asik. Teriakan dari mereka juga tangisan yang akan membumbung ke angkasa dapat ia nikmati sebentar lagi. Apalagi ini taman di pusat kota, pasti akan banyak yang datang kesini juga. Ichiro menyeringai. Ia tak sabar untuk merealisasikan pikirannya.


Di tengah pikiran liarnya, Ichiro dikagetkan dengan mobil-mobilan yang tiba-tiba menabraknya.


Seorang anak kecil berlari menghampiri dan segera minta maaf atas kesalahannya. Untung saja Ichiro dapat mengendalikan emosinya. Dengan ia yang tak pernah menyukai anak kecil, ia akan segera menginjak segala sesuatu yang mengusiknya.


"Maafkan saya tuan." Anak itu membungkuk untuk menghormati orang yang lebih tua.


Ichiro hanya mendengus pelan. Sesaat kemudian ia menampilkan senyum yang paling menawan. Ia buka kaca mata hitamnya dan berjongkok untuk menyamai tinggi anak itu.


Anak itu hanya diam tak menanggapi ucapan Ichiro. Ia tak mengerti ucapannya. Ia hanya merasa tak asing dengan bahasa yang digunakan Ichiro. Bahasa yang sama seperti film yang sering ditonton oleh mamanya.


"Maafkan keponakan saya tuan. Apakah dia mengganggu anda?" Seorang wanita dewasa menghampiri mereka. Melihat orang yang di depannya adalah orang asing, ia langsung menggunakan bahasa internasional. "Kamu juga tak apa kan Kenken kecil?"


"Kenzo baik tante Feli." Anak itu adalah Kenzo dan juga Feli yang sedang jalan-jalan sore.


Sehabis pulang kuliah Feli menjemput Kenzo di rumah Bu Farida dan mengajaknya jalan-jalan. Dengan semangat Kenzo mengikuti Feli. Tak lupa ia juga membawa mobil mainan yang baru saja Keano belikan. Karena keasikan ia jadi kehilangan kendali dan malah menabrak orang asing.


"Sekali lagi maafkan keponakan saya tuan."


"It's ok baby, cuma mobil mainan saja." Ichiro menampilkan senyum mautnya membuat Feli tersipu. Tapi panggilan baby sepertinya terlalu berlebihan. Apalagi mereka baru saja bertemu.


Dari pada menambah masalah, Feli langsung mengajak Kenzo pergi dari suasana yang canggung tersebut. Tak lupa ia menunduk hormat dan pamit pergi.


"Gadis yang menarik." Ichiro masih memperhatikan punggung Feli yang semakin menjauh. Sesekali tawa itu mengudara membuat Ichiro semakin tertarik dengannya. Dia hanya berpikir, kalau memang jodoh pasti akan di pertemukan kembali. Sekarang fokusnya hanyalah menemukan Kenji dan membalaskan dendam kematian ayahnya.


*


*


*


Sepulang kerja Shilla dan Keano pergi menjenguk Alexi. Sebelum itu dia memberi kabar kepada Feli akan pulang telat. Karena ia tahu kalau Kenzo bersama Feli maka ia memberi kabar kepada Feli.


Ini sudah hari ke-13 Alexi di rawat di rumah sakit. Perkembangan yang ditunjukkan oleh kesehatannya juga masih sama. Belum ada perubahan yang berarti. Suaranya juga belum kembali. Namun dokter mengatakan bahwa pita suara Alexi tidak rusak, jadi suatu hari nanti akan kembali. Bisa juga di sebabkan karena syok hingga membuat ia enggan untuk berbicara.


Mereka berdua masuk saat Alexi sedang di tangani oleh para perawat. Hari ini perbannya akan dibuka karena lukanya sudah mengering. Luka-luka hasil dari amukan ayahnya juga kemarahan Keano menjadi satu.


Jejak Keano tersamarkan. Para pembantu hanya memberikan saksi bahwa sebelum mereka pergi, Alexi dihajar oleh ayahnya sendiri. Pada akhirnya polisi menutup kasus itu dengan status kecelakaan tunggal.


"Bagaimana keadaannya sekarang suster?" Shilla menanyakan keadaan Alexi yang membuat Keano sangat cemburu.


"Luka tuan Alexi sudah hampir sembuh, jadi kita buka perban yang menutupi seluruh tubuhnya. Hanya saja luka di kepala harus tetap di periksa secara berkala. Dan dia juga sudah berbicara sedikit." Setelah suster selesai membuka perban dan juga menjelaskan secara rinci, dia undur diri untuk melanjutkan pekerjaannya.


Keduanya mendekati Alexi yang masih termangu menatap Shilla. Matanya tak berkedip mengikuti setiap gerakan Shilla. Dia merasa familiar, namun tetap tak mengingat siapa wanita cantik yang kini menatapnya lembut.


"Bagaimana keadaannya kak?"


Lihatlah muka Keano yang sudah seperti akan mencabik Alexi. Ia tak tahan melihat kelembutan Shilla ditujukan kepada orang lain selain dirinya. Apalagi orang itu adalah Alexi.


"Si..a..pa?" Dengan terbata Alexi menanyakan identitas Shilla.


"Saya Shilla kak."


"C..ca..n..ti..k." Alexi berusaha untuk tersenyum dengan susah payah.


Keano benar-benar terbakar. Ternyata hilangnya ingatan Alexi membuatnya semakin menyebalkan. Ia langsung menarik Shilla dan menyembunyikannya di belakang. Ia tak rela mata Alexi menatap tubuh kekasihnya seperti menelanjanginya.


"Jangan macam-macam. Dia kekasihku." Dengan sinis Keano memandang Alexi yang masih terbaring lemah.


"Kei, jangan begitu ah." Shilla benar-benar malu dengan sikap kekasihnya itu. Semakin hari semakin menjadi kelakuannya. Tapi ia juga senang, belum pernah ia merasakan di lindungi seperti ini.


Melihat sikap Keano kepada Shilla, Alexi sungguh iri. Dalam hatinya ia seperti kehilangan sesuatu. Namun perasaannya berubah ketika mamanya datang. Mamanya yang selama beberapa hari ini selalu menemaninya.


"Eh ada kalian?" Evelyn masuk langsung memeluk Shilla. Ia kangen sekali dengan gadis itu. Setelah pemakaman suaminya Shilla belum menemuinya lagi. "Kenzo mana?"


"Dia tidak ikut ma, kita langsung kesini dari tempat kerja."


Evelyn mengangguk mengerti. Tak lupa dia juga memberikan pelukan kepada anak kesayangannya yang masih mengeras rahangnya akibat cemburu.


"Bagaimana keadaan anak mama hari ini?" Evelyn mendekati Alexi dengan senyum keibuannya. Memang setelah Alexi dirawat dan hilang ingatan, Evelyn memperlakukan Alexi seperti anaknya sendiri.


Evelyn bukan orang pendendam, apalagi kini Alexi sudah tak memiliki siapapun. Bagaimana dia bisa tega menelantarkan begitu saja. Mungkin suatu hari nanti, Alexi akan mengingat semua kembali, tapi ia berharap, suatu hari nanti saat ia mengingat semua, tak ada yang berubah.


Shilla kagum dengan sikap yang dilakukan oleh Evelyn. Ia harus lebih banyak belajar darinya. Meski sudah disakiti berkali-kali, tapi dengan rela ia merawat anak dari perempuan lain suaminya. Ah, dia jadi kangen dengan Kenzo.


"Ma, saya pamit pulang dulu ya, sudah malam, kasihan Kenzo kalau masih menunggu saya pulang."


"Ya ampun. Maaf ya Shil, mama lupa waktu. Cepat gih pulang, kasihan cucu mama kalau menunggu mamanya." Evelyn melihat jam dan ternyata ini sudah larut. "Hati-hati bawa mobilnya."


"Iya maaaaa."


Shilla tersenyum dan mencium tangan Evelyn. Dia benar-benar sudah seperti menantunya saja. Apalagi sikap Evelyn yang begitu ramah, membuat siapa saja iri dan ingin berada di posisi Shilla.


Bersambung...