
Banyak orang berbondong-bondong mendatangi markas Golden Dragon. Mereka adalah anggota Serigala Jubah Besi. Kedua kubu memang selalu berseteru. Mereka sama kuatnya. Mereka akan terus bertarung sampai salah satu dari kubu hengkang dari negara ini.
D tergopoh-gopoh ingin menyampaikan pesan untuk Mamoru. Kali ini Mamoru sedang mempersiapkan dirinya untuk menjemput pujaan hatinya. Siapa sangka kalau serangan musuh dilakukan saat mereka lengah.
"Tuan...tuan..." Dengan nafas tersengal D menghampiri ruang pribadi Mamoru. "Tuan... gawat tuan..."
"Gawat kenapa?" Mamoru yang melihat wajah panik anak buahnya hanya bertanya-tanya tak mengerti. Tak biasanya D begitu panik seperti ini.
"Gawat tuan. Geng yang dipimpin oleh tuan Alison menyerang. Dia membawa banyak anak buah."
"Apa!!!" Mamoru langsung bergegas keluar diikuti oleh D. Dia tak menyangka kalau Alison musuhnya akan menyerang saat ini. Ia pikir Alison telah jera saat dia di habisi oleh Mamoru beberapa bulan yang lalu. Ternyata dendam tak akan hilang begitu saja.
Sambil berjalan, Mamoru menyiapkan segala persenjataan lengkap. Tap lupa pula jubah anti peluru. Ia yakin, di bawah sana sudah terjadi hujan peluru dari senjata kedua belah pihak.
"Berani sekali dia menampakkan batang hidungnya di sini." Mamoru mengisi seluruh senjata yang ada di badannya dengan peluru yang telah disiapkan oleh D.
"Persiapkan dirimu D. Ini akan menjadi pertempuran berdarah yang sangat panjang." Mamoru sangat marah. Dia geram. Rencananya untuk menjemput sang pujaan hati jadi tertunda akibat dari serangan tak terduga Alison. Wajah garangnya sudah terpatri. Dengan mantap ia menuju gerombolan orang yang sedang saling menjatuhkan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sudah beberapa hari Shilla menyiapkan segala keperluan untuk masuk Universitasnya yang baru. Semua telah selesai dan dia siap untuk mengikuti kegiatan belajar di Universitas impiannya. Kenzo juga sudah terbiasa dengan pengasuh yang telah disiapkan oleh Keano. Dia tak lagi merengek ingin ikut Shilla ke kampus. Ini bukan kampusnya yang dulu, yang bisa mentolerir mahasiswinya membawa anak. Ini adalah kehidupan baru, dunia baru. Tentu saja dia harus mengikuti aturan yang berlaku.
Shilla berjalan sendirian mencari ruang kelas yang akan ia hadiri. Semua mata memandang Shilla penuh tanya. Bukan tatapan memuja seperti yang selalu ia dapatkan. Di sini dia masih baru, dia cantik, namun banyak pula perempuan cantik di Universitas ini. Kalau dia ingin di kenal, dia harus menonjolkan dirinya dalam hal prestasi. Namun bukan berarti Shilla ingin menjadi pusat perhatian. Dia malah senang dengan mereka yang seperti ini. Dia bisa lebih fokus belajar, dan segera menyelesaikan pertukaran ini, lulus dengan nilai sempurna. Itulah impian yang saat ini Shilla kejar.
"Indonesia?" Seorang wanita menyapa Shilla. Wajah oriental Indonesianya memang kental. Meskipun ada darah campuran orang asing dalam darahnya, namun gen ibunya lebih kuat.
"Ya. Kamu juga dari Indonesia?" Shilla menjawab dengan senang. Ia tak menyangka di negeri orang seperti ini bisa bertemu keluarga sendiri. Ya. Begitu kau menginjakkan kaki di negeri asing, kamu akan merasa bertemu keluarga sendiri meskipun baru saja bertemu. Itulah yang dirasakan Shilla saat ini. Di saat kehadirannya menjadi tanda tanya bagi penduduk pribumi, namun saudara serumpun menyapanya dengan hangat.
"Mama ku Indonesia. Papa asli Jepang. Dan aku besar di sini. Namun tetap mengerti bahasa mama." Wanita itu tersenyum ceria menyambut kedatangan Shilla. "Namaku Akira, kamu siapa?" Wanita yang mengaku dirinya Akira mengulurkan tangannya.
Shilla dengan senang hati menyambut uluran tangan Akira. "Salam kenal Akira. Aku Shilla. Nashilla."
"Cantik, seperti orangnya." puji Akira yang tentu saja membuat pipi Shilla bersemu. "Oh iya, aku lihat kamu celingukan, mencari ruang kelas? atau kantor Dekan? kamu baru kan? oh?" Akira berfikir sejenak. "jangan-jangan kamu mahasiswi pertukaran itu ya?!" Akira berseru semangat.
Shilla hanya menjawab dengan senyuman. Dia tak menyangka, akan menemukan Rayna yang lain di sini. Wanita yang energik penuh semangat. Tapi Rayna otaknya pas-pasan. Entah bagaimana otak Akira ini.
"Jadi kamu mau ke kantor Dekan? atau langsung ke kelas?"
"Langsung ke kelas." Shilla melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Sepertinya mata kuliah akan segera di mulai. Dia menyesal tak membawa peta yang Keano berikan semalam. "Sepertinya sudah akan mulai mata kuliah yang aku ambil." Shilla sedikit kebingungan.
"Memang mata kuliah kamu apa sekarang?"
"Manajemen keuangan."
"Wah, kebetulan kita mengambil mata kuliah yang sama. Berarti kamu dari Akutansi?" Akira langsung semangat saat mengetahui teman barunya ternyata satu jurusan.
"Iya. Kalau begitu boleh tunjukan jalannya? aku masih buta arah." Ucap Shilla sedikit tak enak hati. Namun ia tak ingin terlambat pada pertemuan pertama.
"Tentu." Akira membimbing jalan. Dia terlalu semangat untuk memperkenalkan Shilla ke temannya yang lain.
Mereka berdua berjalan beriringan. Akira memberondong pertanyaan tentang negara asal, Indonesia. Seperti 'Bagaimana orang-orang di sana?' 'Tempat wisata mana yang paling menarik?' Ataupun 'Apakah di sana banyak cowok ganteng?' Pertanyaan random tentang negara asal Shilla. Shilla menjawab satu per satu rasa ingin tahu Akira dengan sabar.
"Aku sangat penasaran dengan Bali. Apakah Indonesia dekat dengan Bali? Banyak sekali temanku yang pernah ke sana. Katanya sangat indah."
Shilla tertawa kecil mendengar pertanyaan Akira tentang Bali. Memang benar, banyak yang belum tahu bahwa Bali adalah bagian dari Indonesisa, miris memang, Bahwa Bali lebih terkenal dari pada Indonesia itu sendiri.
"Bali adalah salah satu pulau yang dimiliki Indonesia." Shilla tersenyum melihat muka Akira yang sedikit terkejut.
Akira tak menyangka, pengetahuan tentang negara ibunya masih minim. Yang ia tahu hanya bahasanya saja, itupun karena sang ibu memaksanya untuk mempelajarinya. kalau tak di paksa, Akira juga tak mau mempelajari, toh sang ibu tak pernah mau mengajaknya ke tanah kelahirannya. Alasannya, 'buat apa pulang, kan kakek nenek juga sudah pindak ke sini.' Selalu seperti itu. Padahal ia ingin lebih mengetahui tentang negara yang memiliki iklim tropis tersebut.
"Boleh dong kalau aku ingin tahu tentang negara itu?"
"Tentu saja boleh." Jawaban Shilla mendapat sorak kegirangan dari Akira.
Sampai di kelas yang dituju, banyak pasang mata yang memandang Shilla ingin tahu. Mereka baru melihat wajah yang terlihat sangat teduh itu. Siapapun yang memandang, tak akan bisa membencinya, apalagi di setiap tutur katanya tersungging senyum yang menyejukkan mata.
Itu bagi yang belum mengenal Shilla. Yang tak mereka ketahui, di balik senyum malaikatnya, tersimpan seulas senyum iblis yang mematikan.
"Siapa Ra? teman baru?" Salah seorang teman Akira menghampiri mereka berdua.
"Ia. Dia mahasiswa yang bertukar dengan Hideo."
"Hallo, namaku Mei-Yin, panggil saja Mei atau Yin-er." Mei memperkenalkan diri pada Shilla.
"Shilla." Shilla hanya menjawab singkat. Dia belum begitu fasih bahasa Jepang, yang ia tangkap dari teman Akira itu adalah dia sedang memperkenalkan dirinya Mei.
"Dia Mei-Yin, mahasiswi pertukaran juga seperti kamu, asli Tiongkok." Akira memperjelas penjelasan Mei.
"Baiklah kita lanjutkan nanti perkenalannya, ayo kita masuk, sepertinya akan segera di mulai kelasnya."
***
Kaki jenjang itu melangkah tegas memasuki halaman Universitas nomor satu di Jepang. Dengan langkah mantap, ia susuri jalan melewati gedung-gedung kampus yang menjulang.
Di belakangnya, seorang perempuan cantik mengikutinya. Sesekali perempuan itu melirik para pria yang menatapnya penuh minat. Dengan jahilnya, ia berkedip genit membuat para pria pingsan seketika.
"Jangan jahil Rose." Lelaki yang ternyata adalah Keano atau di Jepang lebih dikenal dengan nama Kenji itu mengingatkan asisten perempuannya.
Pesona yang dimiliki oleh seorang wanita dewasa itu memang tak bisa di remehkan. Rose cantik, seksi, elegant, tegas, siapa lelaki yang bisa menolak pesona dari seorang Rose. Apalagi pakaian yang sering ia kenakan, selalu memamerkan lekuk tubuhnya, memanjakan mata lelaki hidung belang.
"Maafkan saya tuan." Rose kembali bersikap dengan dingin.
"Kalau Leon tahu, dia pasti akan murka." Kenji mengingatkan Rose.
"T..t..tuan. Saya dengan Singa itu tak ada hubungan apa-apa." Rose langsung merah padam.
Kenji tak menanggapi. Dia hanya menatap Rose tak percaya. Membuat wanita yang tengah ditatapnya semakin gugup.
Mereka kembali berjalan melanjutkan tujuan utama ke Universitas ini. Seperti biasa, kemana langkah kaki Kenji, dia adalah pusat perhatian. Seolah medan gravitasi di sekitarnya terlalu kuat.
"Itu tuan Kenji."
"Aku tak menyangka bisa melihat tuan Kenji."
"Perempuan di belakangnya siapa? Dia terlalu seksi, tak mudah bersaing dengannya."
"Tumben sekali tuan Kenji datang."
"Masa bodoh dengan urusannya, yang penting aku seneng banget bisa melihat tuan Kenji secara langsung."
Mereka tak peduli ucapannya sampai ke telinga Kenji. Mereka terlalu senang didatangi oleh Kenji. Yah, siapa yang gak tahu Kenji. Pria muda yang sudah sukses, dan menjadi pendonor dana utama untuk Universitas ini. Pasti mereka sangat mengenalnya. Dan lebih senang lagi karena Kenji sangat jarang menampakkan diri di depan publik. Kalau ada kesempatan bertemu mereka akan menggila dengan sendirinya.
"Pesona tuan tak pernah pudar." Rose kembali berceletuk.
"Abaikan saja. Di mataku mereka tak bisa di bandingkan dengan Shilla."
Mendengar ucapan Tuannya, Rose sedikit iri dengan Shilla. Dia juga ingin dicintai sedemikian rupa. Namun sepertinya perjalanan cintanya masih sangat panjang.
***
"Hei guys, kalian tahu ngga,"
"Engga." Jawab Shilla dan Mei serempak.
"Iiissssh, aku belum selesai ngomong." Akira kesal. Terlihat saat dia mendesis, mulutnya mengerucut lucu. "Coba tebak siapa yang aku lihat tadi." Akira heboh sendiri membuat kedua perempuan yang melihatnya semakin bingung.
Shilla dan Mei saling berpandangan. Mereka masih tak mengerti, sebenarnya apa yang di lihat Akira sampai gadis itu berjingkrak kegirangan.
"Astaga! Kalian ngeselin banget sih. Kenji guys Kenji. Tuan Kenji datang ke kampus kita."
"SERIUS!!!" Mei langsung berdiri dari duduknya. Dia tak kalah hebohnya dengan Akira. Kedua gadis tangannya langsung bertaut. Khayalan keduanya lebih liar dari yang Shilla duga.
"*Akira sayang, aku sangat mencintaimu." Kenji mencium tengkuk menggoda Akira.
"Kenji, help me please." Mei menggoda Kenji yang berada di bawahnya*.
Khayalan mereka langsung pudar tat kala Shilla dengan sengaja memukul kepala mereka dengan sebuah buku yang cukup tebal. Seperti di komando, mereka langsung melotot kepada Shilla. Mereka kesal, khayalan seksinya di ganggu dengan sangat nista.
"Biar otak kalian lurus lagi." Shilla berucap tanpa rasa bersalah. Entah kenapa Shilla merasa mereka ini seperti sudah berteman lama. Dia seperti menemukan sosok Rayna di diri Akira. Hingga membuat gadis itu langsung merasa nyaman berteman dengan Akira. Mei sendiri orangnya menyenangkan. Mereka bisa langsung nyambung bicara satu sama lain. Meskipun dalam hal prestasi, Akira jauh di belakang mereka. Tentu saja, mahasiswa pertukaran otaknya harus encer.
"Kok kamu biasa saja sih. Kamu tahu kan siapa itu Kenji." Akira penasaran dengan sikap Shilla ini. Sangat langka. Tak ada yang tak histeris mendengar nama Kenji.
"Aku tahu." Jawab Shilla kalem.
"Bohong."
"Apakah kalau aku tahu aku harus bersikap seperti kalian?"
"Tidak sih."
Mereka berfikir sejenak. Memang benar. Tak ada yang mengharuskan untuk seperti mereka. Mereka mengangguk mengerti. Namun sejurus kemudian mereka berdua pingsan di tempat saat mendengar suara maskulin yang menegur di belakang mereka.
Bersambung...