
Terlihat seorang perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik sedang menyiapkan bekal. Dia adalah Evelyn. Ia berencana untuk mendatangi kantor putranya. Ia sudah merindukan putra kesayangannya, namun Keano malah tak kunjung pulang. Ia ingin mengetahui keadaannya. Ia khawatir. Akhir-akhir ini Grigori suaminya selalu marah-marah dan mengumpat anaknya. Ia hanya wanita lemah yang tak bisa membela anaknya. Bahkan anak angkatnya saja berani dengannya.
Evelyn sengaja menyiapkan bekal banyak. Ia juga akan menemui anaknya yang belum pernah ia temui. Hiroshi. Sudah lama ia menantikan pertemuan ini. Ia selalu menunggu Keano untuk membawa Hiroshi ke hadapannya, namun tak kunjung di lakukan. Hari ini Evelyn bertekad untuk menemui mereka berdua di kantornya.
"HAHAHA KEANO, AWAS KAMU. AKU AKAN MEMBUNUHMU!!! HAHAHA." dari lantai atas terdengar tawa Alexi.
Semenjak jabatan Alexi di cabut, ia hanya berdiam diri di rumah. Sesekali ia keluar hanya untuk bertemu seseorang yang tak diketahui siapa. Di rumah kerjaannya hanya mengutuk Keano. Berharap semua kutukannya terjadi dan Keano menderita. Ia sungguh tak terima harus di tendang begitu saja. Apalagi Grigori kini lebih cuek kepadanya. Tambah gusarlah hatinya, takut ia tak mendapatkan apapun dari kekayaan Grigori.
Evelyn yang mendengar umpatan Alexi hanya menggelengkan kepala. Ia sudah terbiasa dengan mulutnya yang penuh caci dan maki. Ia tak habis pikir, bagaimana suaminya lebih sayang kepada anak yang tahunya hanya bersenang-senang. Yah, Evelyn menyadari, kalau Alexi merupakan anak dari perempuan yang begitu dicintai Grigori.
Tak mau larut dengan masa lalu, Evelyn segera memanggil supirnya untuk mengantarkan ke Alterio Groub. Ia tak sabar makanan yang telah disiapkannya di nikmati oleh kedua anaknya. Membayangkannya saja sudah membuatnya bahagia.
Sepanjang perjalanan hanya hening yang melanda. Apalagi supirnya yang memang pendiam.
Mobil Evelyn telah sampai di depan perusahaan. Semua mata tertuju padanya. Evelyn memang baru pertama kali datang ke perusahaan ini, hingga mereka tak mengetahui siapa dirinya. Apalagi mereka terlihat kagum dengan paras Evelyn. Mereka mengira yang datang seorang model. Siapa menyangka kalau ternyata dia seorang ibu yang sudah memiliki anak dewasa.
Sebelum ia masuk, langkahnya sempat di berhentikan keamanan. Dengan ramah menjelaskan maksud kedatangannya.
"Kalau ibu mau bertemu tuan Keano, harus buat janji dulu bu. Tuan Keano sangat padat jadwalnya, kalau tak memiliki janji tak bisa menemuinya."
"Bisa tolong laporkan kedatanganku. Bilang saja Evelyn mau bertemu." Dengan senyum yang menawan akhirnya membuat keamanan menyanggupi permintaan Evelyn.
"....iya baik tuan. Iya tuan." Keamanan yang di ketahui bernama Johan itu menunduk hormat. Ia benar-benar merasa bersalah karena tak mengetahui orang yang ada di hadapannya. Dengan sopan ia mempersilahkan Evelyn untuk naik. Ia juga tak lagi berani menggoda ibu dari bosnya tersebut.
Setelah mendapatkan akses, Evelyn melangkah ke lantai paling atas. Ia sudah tak sabar bertemu dengan putranya.
"Ayo mama kita beli ice cream." Seorang anak kecil menuntun seorang wanita yang mungkin adalah ibunya. Mereka keluar dari lift sebelum akhirnya Evelyn masuk.
"Kenzo pelan-pelan."
Evelyn tersenyum melihat interaksi mereka. Ia jadi mengingat ketika Keano kecil. Ia juga begitu menyukai ice cream. Dengan tangan kecilnya Keano selalu menuntun tangannya ke tempat penjual ice cream. Dan kini ia melihat pemandangan itu kembali. Namun bedanya, wanita dan bocah itu juga di dampingi suaminya. Sungguh keluarga kecil yang bahagia. Apalagi melihat sang pria yang begitu sayang dengan sang anak. Begitulah pikir Evelyn.
Lift membawa Evelyn ke lantai paling atas. Ia langsung menuju kantor anaknya. Dengan hati riang sekaligus grogi ia mengetuk pintu yang mana Keano sudah menunggu sang ibunda.
"Kalau mau datang kan bisa bilang sama aku dulu ma, biar Keano jemput." Keano menyambut Evelyn dan mencium pipi sang mama.
"Kalau mama bilang dulu pasti kamu banyak alasan. Mama kan sudah tidak sabar bertemu anak mama yang satunya. Kamu selalu bohong untuk mempertemukan kami."
"Iya-iya, mama sabar dulu ya. Dia baru keluar. sebentar lagi kembali." Keano menuntun Evelyn ke sofa. Ia tak ingin mamanya terlalu lelah berdiri.
Keano langsung berbaring di pangkuan Evelyn. Bagaimanapun Keano memang manja terhadapnya. Evelyn hanya bisa memaklumi tingkah Keano. Sejak masa SMA ia sudah harus jauh dengan mamanya, kesehariannya selalu di lakukan sendiri, jadi wajar jika Keano selalu memanfaatkan waktu bersama Evelyn dengan sebaik mungkin. Entah itu bermanja atau memang dia manja. Sungguh tak sesuai dengan karakternya sebagai bos mafia terkejam se-Jepang.
Dengan sayang Evelyn membelai kepala Keano yang ada di pangkuannya. Baginya Keano masih seperti Keano kecilnya. Keano yang tak pernah tumbuh dan selalu menjadi bayi kesayangannya.
Sedang asik menikmati belaian sang mama, Keano langsung bangkit saat mendengar keramaian di luar. Siapa lagi yang ramai kalau bukan Kenzo yang keasikan sudah mendapatkan ice cream.
"Kami kembali Kei." Suara Shilla memenuhi ruangan yang hening.
Shilla terkejut melihat seseorang yang asing di matanya. Wajahnya teduh. Sudah berumur namun masih cantik. Dengan canggung Shilla memberi salam kepada Evelyn yang tak ia ketahui jika dia adalah mama Keano.
Mengetahui ada orang asing, Kenzo langsung bersembunyi di belakang Shilla. Memang, yang namanya anak kecil tetaplah anak kecil, sedewasa apa pemikirannya, ia tetap akan meminta perlindungan kepada sang ibu.
"Kenalin, dia mama ku." Keano memperkenalkan Evelyn kepada Shilla.
Mendengar ucapan Keano, Shilla semakin gugup. Ia tak menyangka akan bertemu ibu dari Keano secepat ini.
"L, dia mama. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu." Keano juga memperkenalkan mamanya kepada Leon yang masih berdiri mematung di belakang Shilla.
Leon tak menyangka jika orang yang sudah ia anggap ibunya datang untuk menemuinya. Ia merasa bersalah karena bukan dia yang datang, malah membiarkan wanita yang sudah sangat berjasa ini datang sendiri.
Dengan bercucuran air mata ia langsung berlari dan bersujud mencium kaki Evelyn. Lidahnya tak mampu menuturkan satu kalimat. Keganasannya di medan perang seakan lebur begitu saja. Ia peluk kaki wanita yang sudah memberikan ilmu padanya. Memberikan kehangatan yang bahkan mereka belum pernah bertemu.
Melihat semua yang terjadi, tak elok rasanya jika Shilla tetap berada di sana. Ia memberi isyarat kepada Keano, ia keluar dengan Kenzo. Ia akan memberikan privasi kepada mereka.
Dua orang yang tengah dilanda haru tak menyadari kepergian Shilla. Evelyn menuntun Leon untuk berdiri. Ia telusuri setiap inci wajah Leon yang belum pernah ia lihat. Ia rekam dengan seksama wajah tegas itu dalam memorinya. Ia terharu, ia memiliki dua anak laki-laki yang begitu tampan dan cerdas. Ia peluk Leon menyalurkan kasih sayang seorang ibu. Ia dekap dengan hangat tubuh kekar yang tak kalah dari tubuh Keano itu.
"Hiroshi... anak ku..." Evelyn masih memeluk Leon dengan terus menangis.
Leon yang di panggil dengan nama itu tambah deras air matanya. Sudah lama ia tak mendengar nama itu di sebut lagi. Ia semakin erat memeluk Evelyn dan memberanikan diri dengan memanggilnya mama.
"Anak ku..."
Keano ikut terharu dengan pertemuan mereka. Memang salahnya selama ini selalu menunda mempertemukan mereka. Bukan karena tak ingin, namun ia selalu memberikan pekerjaan berlebih pada Leon. Ah dia kini menjadi merasa bersalah.
Ia hapus air mata yang dengan seenaknya mengalir. Ia meninggalkan kedua ibu dan anak yang baru bertemu itu menghabiskan banyak waktu. Lebih baik ia menemui kekasihnya, pasti dia sedang bingung dengan apa yang baru saja disaksikannya.
*
*
*
Shilla sedang duduk melamun di meja kerjanya. Ia abaikan Kenzo yang dari tadi bermain bersama salah satu teman Shilla di kantor. Ia masih memikirkan kejadian yang baru saja ia lihat. Baru kali ini ia melihat Leon yang gagah menangis pilu. Ia jadi penasaran akan hubungan mereka. Tapi ia tahu batasannya, itu bukan lagi wewenang untuk dirinya.
Dari pada ia memikirkan hal yang membuat pusing, Shilla lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan yang tadi ia pelajari dari Leon. Ia pelajari beberapa kali lagi agar dia lebih lancar kedepannya. Padahal, dengan kapasitas otaknya, cuma sekali di ajari juga sudah langsung bisa. Namun Shilla ingin hasil yang sempurna. Ia tak akan menganggap remeh hal yang terlihat mudah.
"Masih bisa fokus bekerja setelah menyaksikan kejadian tadi hm?" Keano datang tiba-tiba membuat teman-teman Shilla yang sedang bermain dengan Kenzo langsung berhamburan pergi.
"Menyibukkan diri." Shilla menutupi rasa penasarannya dengan senyum manisnya.
"Tak ingin bertanya?"
"Kalau memang kamu mau cerita, tanpa aku bertanya pasti kamu akan cerita. Kalau menurutmu aku tak perlu tau, aku juga tak ada niat untuk bertanya."
Kalimat Shilla membuat Keano semakin mengagumi perempuan itu. Shilla benar-benar berbeda dari gadis kebanyakan. Ia akan mengerti dan selalu bisa menempatkan dirinya pada posisi yang tak perlu ikut campur.
"Leon adalah anak yang sudah mama anggap sebagai anaknya sendiri. Dulu aku di buang ke jepang. Leon lah yang selalu menemani aku. Akhirnya aku meminta mama untuk menyekolahkan Leon. Dengan senang hati mama menyekolahkan Leon dan sekarang bisa menjadi tangan dan otak ku. Karena itu Leon sangat berterima kasih pada mama. Karena dia dulu orang yang begitu miskin bisa sekolah berkat mama." Keano menjelaskan panjang lebar yang di dengarkan dengan seksama oleh Shilla.
Shilla benar-benar kagum dengan mamanya Keano. Sepertinya ia dapat belajar dari beliau.
"Dan yang lebih hebatnya lagi. Mama menyekolahkan kami berdua dengan usahanya sendiri. Tidak sepeserpun uang Grigori tua yang masuk dalam tubuhku. Aku bersyukur karena hal itu."
*
*
*
"Hiroshi. Kenapa tak pernah menemui mama nak? Mama kan ingin bertemu anak mama yang tak galah ganteng dengan Keano ini." Evelyn duduk di sofa berdampingan dengan Hiroshi yang masih canggung.
Hiroshi sangat bersyukur ternyata ia masih mempunyai orang yang menyayanginya. Dengan rasa malu ia menatap Evelyn haru. Ia meminta izin untuk membelai pipi cantik yang penuh dengan kehangatan itu.
Tentu saja Evelyn memperbolehkannya. Ia dapat merasakan kerinduan yang mendalam dari sentuhan Leon. Mungkin ia merindukan sosok ibu yang selama ini telah lama hilang.
"Maafin Hiroshi ma, membuat mama yang datang kesini menemui ku. Aku sungguh durhaka." Leon menangis pilu.
Dengan sayang Evelyn menenangkan Leon. Ia jadi memiliki dua anak balita. Membuat hatinya yang sudah lama dingin langsung menghangat.
"Kau tak ingin mengenalkan istrimu?" Setelah di rasa suasana tenang, Evelyn menanyakan tentang Shilla yang di kira sebagai istri Leon.
"Istri?" Tentu saja Leon bingung. Ia tak tau siapa yang di anggap istrinya.
"Iya. Istri. Bukankah tadi itu istrimu, juga anakmu? Mama tadi melihat kalian keluar bersama. Kalian sangat serasi."
Leon langsung keringat dingin. Ia takut Keano mendengar ucapan mamanya. Walaupun Evelyn hanya salah sangka, namun bisa runyam urusannya kalau Keano tau.
"Dia wanitanya tuan Keano ma, bukan istriku." Leon buru-buru meralat kesalahpahaman ini.
"Kok panggil tuan? Kalau sama mama panggil aja kakak Keano." Evelyn membenarkan panggilan Leon pada Keano. "Jadi dia bukan istrimu? Jadi istri Keano? Dasar berandal. Bertahun-tahun tidak pulang. Giliran pulang langsung bawa istri dan anak. Memangnya dia tidak menganggap aku sebagai mamanya. Awas saja. Berani-beraninya dia melupakan mamanya dalam pernikahannya. ... ... "
Belum sempat Leon menjelaskan kronologinya, Evelyn sudah marah-marah tanpa bisa di rem. Dia semakin tak nyaman. Bisa-bisa dia juga kena imbasnya. Ia yakin ia gak akan lolos dari genggaman Keano.
Leon pasrah saja. Ia akan menerima segala kemarahan Keano nanti. Omelan perempuan yang emosi sungguh sangat sulit di redam.
Bersambung...