
Kenzo bermain dengan ceria di sekolah. Apalagi hari ini dia diantar oleh Shilla. Tambah bersemangatlah dia. Saat ini dia sedang bermain sepak bola bersama teman-teman sebayanya. Terlihat Kenzo yang paling lihai dalam menggiring bola. Dia sangat ingin menunjukkan bakatnya pada Shilla. Di tambah sorak semangat dari Suzu menambah gairah untuk Kenzo. Gairah agar dia memenangkan pertandingan ini, meski hanya pertandingan persahabatan antar teman.
"Kenzo...!!! Semangat Kenzo...!!!" Teriak Suzu dari tepi lapangan sambil berjingkrak riang.
Di tengah lapangan sana Kenzo tersenyum dan melambai pada Suzu. Tak lupa pula melambai pada Shilla yang memberinya semangat lewat cium jauh.
Shilla tersenyum lucu melihat Suzu yang begitu antusias. Apalagi banyak anak laki-laki yang merasa cemburu karena Kenzo dapat dukungan penuh dari Suzu sang primadona di sekolah itu. Suzu yang ceria, cantik dan lucu membuat ia dikagumi banyak orang.
Apakah mereka cemburu layaknya orang dewasa yang sedang cemburu dengan kekasihnya? Tentu saja tidak. Tetap saja mereka hanyalah anak-anak yang masih polos. Kecemburuan mereka hanyalah sebatas iri karena Kenzo yang populer bisa berteman dengan Suzu yang juga populer. Tentu saja baik anak laki-laki maupun perempuan cemburu. Karena anak-anak perempuan juga ingin dekat dengan Kenzo. Apalagi setelah tahu latar belakang Kenzo. Mereka ingin bernaung di bawahnya. Pikiran orang tua merekalah yang seperti itu.
"Suzu, apa kamu senang berteman degan Ken?" Tanya Shilla di tengah-tengah riuhnya Suzu bersorak untuk Kenzo.
Suzu yang tiba-tiba mendapat pertanyaan seperti itu dari Shilla tentu saja bingung. Semua orang senang berteman dengan Kenzo. Tak ada yang tak senang. Jadi Suzu bingung harus menjawab apa.
Shilla tertawa melihat muka bingung Suzu. Dia juga yang aneh, bertanya seperti itu pada anak usia 5 tahun. Apa yang bisa diharapkan.
"Lupakan." Kata Shilla mengacak rambut Suzu.
Tak peduli lagi, Suzu kembali bersorak heboh menyemangati Kenzo. Dia tak peduli bahwa teman-temannya memandangnya aneh. Yang pasti dia bahagia dengan apa yang dia lakukan. Dan yang di lakukan, mengundang tawa beberapa orang tua murid yang juga sedang mengantarkan anak-anak mereka.
***
Shilla berjalan dengan Kenzo menuju mobil. Kenzo berceloteh riang menceritakan kesehariannya ia di sekolah. Padahal Shilla sudah melihatnya sendiri, namun tak puas rasanya jika Kenzo belum bercerita kepada mamanya.
Shilla hanya mendengarkan dalam diam. Perasaannya tak menentu. Seolah hal besar akan segera terjadi. Dia menoleh ke kanan maupun kekiri. Dia mencari-cari sesuatu yang membuat perasaannya janggal. Namun ia tak menemukannya.
"Mungkin hanya perasaan ku saja." Shilla mengangkat bahu tak peduli.
Shilla kembali melangkah ke parkiran. Dimana Fujihara sang supir sekaligus bodyguardnya menunggu di sana.
"Ma... Kenzo senang deh kalau bisa di antar mama terus." Perkataan polos Kenzo membuat Shilla tersenyum.
"Mama juga senang, namun mama harus kuliah, Kenzo mengerti kan?" Tutur Shilla lembut memberi pengertian pada anaknya.
Kenzo mengangguk mengerti. Tak ada sorot kecewa di matanya, yang ada adalah sorot bangga terhadap sang mama. Meskipun masih menempuh pendidikan, namun kasih sayangnya terhadap anak tak pernah berkurang.
"Kenzo mengerti Ma. Kalau Kenzo sudah besar nanti Kenzo pasti akan menjadi anak kebanggaan mama, dan mama tak perlu bekerja, biar Kenzo yang cari uang, mama di rumah saja istirahat."
Shilla tertawa mendengar ucapan Kenzo. Meskipun itu hanyalah ucapan anak kecil, namun perkataannya begitu tulus. Shilla semakin sayang dan tak akan pernah menelantarkan Kenzo apapun yang terjadi.
"Iya sayang, mama bangga sama Kenzo." Shilla memeluk Kenzo erat.
Namun belum selesai mereka bercengkrama, sesuatu menghantam punggung Shilla. Shilla yang tak siaga hanya merasakan nyeri di bagian tengkuknya. Sebelum ia benar-benar pingsan, Shilla sempat melihat siluet orang yang memukulnya. Dan telinganya mendengar teriakan khawatir Kenzo. Tangannya meraih tubuh kecil anaknya.
"It's ok darling. Papa akan menyelamatkan kita." Bisik Shilla di sisa kesadarannya. Entah kenapa sebelum dia benar-benar pingsan, wajah Keano lah yang terlintas dalam benaknya. Selanjutnya semuanya gelap. Shilla tak sadarkan diri dan Kenzo berada di pelukannya.
"Mama! Mama!" Kenzo menangis mengguncang tubuh Shilla. Matanya nyalang melihat pria berbadan besar yang telah memukul mamanya dari belakang.
Sepertinya pria itu tahu jika Shilla ahli beladiri, sehingga dia mencari celah saat Shilla lengah dan menumbangkannya. Dia tak ingin mengambil risiko Shilla melakukan perlawanan. Hingga harga dirinya sebagai lelaki harus ia relakan dengan cara menyerang diam-diam saat lawan sedang lengah.
Pria berbadan besar berpakaian serba hitam itu hendak mengangkat Shilla. Namun tangan kecil Kenzo menghalanginya.
"Jangan sentuh mama!"
Kenzo memeluk kaki pria yang membawa mamanya. Dia menangis memohon agar mamanya tak dibawa pergi.
"Jangan, jangan bawa mama Ken." Kenzo menarik-narik celana pria itu memohon belas kasih.
"Dasar bocah." Pria itu membuat pingsan Kenzo. Tangisannya dapat menarik perhatian orang-orang yang masih ada di lingkungan sekolah. Dia tak mau mengambil risiko dan membawa Kenzo juga. Pria berjubah hitam itu membawa keduanya ke dalam Van hitam yang segera melaju sesaat setelah memasukkan Shilla juga Kenzo.
***
Di mobil, Fujihara merasakan firasat buruk. Dia merasa ada yang salah. Tak biasanya Shilla terlambat tanpa memberitahunya lebih dulu. Biasanya, jika memang terlambat pasti akan memberi tahu dirinya. Dan sudah lebih dari satu jam setelah sekolah dibubarkan nonanya itu masih belum terlihat.
Fujihara memang dilarang oleh Shilla untuk mengikutinya ke dalam sekolah. Shilla merasa tak nyaman jika dalam 24 jam penuh di ikuti oleh bodyguard. Jadi dia meminta ketika di sekolah, baik itu sekolah Kenzo atau di kampus, Shilla tak ingin Fujihara mengikuti.
Dan sepertinya informasi itu sudah diketahui oleh pihak musuh. Mereka menargetkan Shilla saat berada di lingkungan sekolah, karena saat itu Shilla sedang tak berada di bawah perlindungan Fujihara.
"Nona kenapa tak mengangkat telephone?" Fujihara bergumam saat panggilannya kepada Shilla tak kunjung mendapat jawaban.
Fujihara semakin gusar. Sekolah semakin sepi namun Nona dan tuan kecilnya masih belum terlihat. Dia turun dari mobil memutuskan untuk mencari kedalam.
"Maafkan kelancangan saya Nona, namun sudah menjadi tugas saya untuk menjaga keselamatan Nona dan tuan kecil. Silahkan Nona nanti memberi hukuman kepada saya, setelah saya bisa memastikan Nona baik-baik saja." Fujihara bermonolog sendiri. Dia bawahan yang setia, apapun perintah majikannya akan ia turuti, namun kali ini pengecualian, karena keselamatan sang majikan tang menjadi taruhannya.
Fujihara berjalan masuk ke dalam lingkungan sekilah. Matanya mengedar ke seluruh penjuru berharap menemukan Nonanya yang baik-baik saja.
Nihil.
Fujihara tak menemukan Shilla juga Kenzo. Bahkan lingkungan itu sudah tak ada orang. Semua sudah kembali ke rumah masing-masing.
"Permisi, apakah masih ada siswa di dalam?" Fujihara memutuskan bertanya pada tukang kebun yang sedang bertugas.
"Di dalam sudah tak ada siapapun pak. Semua sudah pulang. Kecuali beberapa guru yang memang belum pulang."
Jawaban tukang kebun itu semakin membuat Fujihara panik. Perasaannya semakin tak menentu.
"Terima kasih."
Tukang kebun itu mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.
Fujihara kembali mencari-cari kalau saja ada petunjuk untuk menemukan keberadaan majikannya.
"Sepatu siapa ini?" Tukang kebun itu mengambil sebelah sepatu kecil dan menatap beberapa detik.
Fujihara yang masih mendengar kalimat tukang kebun itu menoleh. Matanya terbelalak saat mengenali pemilik sepatu itu. Dia langsung berlari merebut sepatunya.
"Diaman tadi sepatu ini di temukan!" Fujihara sedikit membentak membuat lelaki patuh baya itu terkejut.
Tukang kebun yang masih terkejut hanya menunjuk ke tanah tempat ia menemukan sepatu itu.
Fujihara meneliti daerah sekitar. Tak ada pergulatan di sana. Ataupun bekas pertarungan yang dapat di jadikan petunjuk. Namun fujihara menangkap sesuatu yang berkilau. Dia mengambilnya. Sebuah kalung milik Shilla yang tak pernah lepas dari leher Shilla.
"Sial!!!"
Bersambung...