Young Mama

Young Mama
Bab 60: ~Para Pengagum Kenji~



Ratusan peluru saling simpang siur digelapnya malam sebuah markas besar dari geng Golden Dragon. Banyak nyawa melayang akibat perseteruan terbesar dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Dendam antar geng memang selalu melibatkan banyak nyawa. Bahkan tim keadilan masyarakat pun tak dapat menghentikan mereka. Pernah ada yang mencoba melawan, namun malah menjadi malapetaka besar. Seluruh markas tim penegak keadilan diluluh lantakkan.


Memang benar, geng harus dilawan dengan geng pula. Untung saja Golden Dragon merupakan geng yang masih menjunjung tinggi nilai patriot. Saat penegak keadilan diberantas, geng Golden Dragon akan memberantas membela tim penegak keadilan. Meskipun caranya yang anarkis dan sadis, namun mereka tetap diterima di masyarakat.


Meskipun begitu, ada saja yang menggunakan nama besarnya untuk berbuat kejahatan. Seperti memeras, merampas, bahkan memperkosa wanita. Mereka melakukan kejahatan dengan menggunakan Golden Dragon sebagai tameng. Pada akhirnya, orang yang berani melakukan itu akan tewas mengenaskan di kemudian hari.


"Di mana Alison?" Mamoru geram. Dia akan langsung saja membunuh Alison. Orang itu akan terus mengusik hidupnya.


"Dia masih menikmati perseteruan dari dalam mobilnya tuan."


"Sial. Pengecut sekali dia." Langkah Mamoru berhenti di depan salah satu mayat anak buahnya. Beberapa dari mereka telah tumbang. Aroma anyir menusuk indera penciuman. Darah segar mengalir dari setiap lubang peluru yang menembus tubuh mereka.


"Lindungi aku. Aku akan langsung menumbangkan Alison." Perintah Mamoru mutlak.


D segera mengambil tempat untuk melindungi Mamoru dari serangan musuh. Dia juga memerintahkan para penembak jitu yang ada di gedung tinggi untuk fokus melindungi Mamoru. Tujuan Mamoru untuk melumpuhkan Alison langsung agar tak terjadi banyak korban lagi.


Mamoru berjalan siaga. Tak lupa moncong senjatanya ia arahkan ke depan untuk menembak musuh yang menghadang. Beberapa yang ingin menyerang Mamoru dari belakang langsung ditembak mati oleh D maupun penembak jitu.


Fokus mamoru adalah menemukan Alison. Dia terus berjalan ke depan di bawah hujan peluru yang masih bertaburan. Sesekali ada peluru yang mengenai tubuhnya. Namun dihalau oleh pelindung yang ia pakai. Bahkan ada pula peluru yang menggores kulit tangannya. Membuat darah segar langsung mengalir. Ia abaikan rasa perih itu. Luka sekecil itu tak akan menghentikan langkahnya.


Dari depan ada musuh yang tiba-tiba menyerang. Tendangan bertubi dilancarkan untuk menjatuhkan Mamoru. Dengan sigap ia langsung membalas tendangan itu sebelum kaki musuh sempat mengenainya.


Dengan kecepatan yang tak disangka oleh musuh, tendangan Mamoru tepat mengenai ulu hatinya.


Rasa mual langsung menjalar.


Tanpa menunggu jeda, Mamoru kembali melancarkan serangan dengan lututnya. Kini kepalanya yang menjadi sasaran.


Darah langsung mengucur dari hidungnya. Tulang hidungnya patah. Kepalanya sudah mulai berkunang dan limbung.


Belum puas. Mamoru mengambil pistol kecilnya dan langsung menembak tepat di kepala.


Tubuh yang telah hilang nyawanya itu ambruk tepat di depannya. Darah segar masih terus membasahi mengeluarkan aroma khasnya.


Mamoru tak peduli. Ia terus melanjutkan langkahnya mencari Alison.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kenji dan Rose kembali ke perusahaan setelah urusannya selesai. Dia hanya bertemu bagian keuangan dari Universitas T untuk menyalurkan dana bantuan.


"Kenapa tuan tak menemui nona Shilla terlebih dahulu?" Rose penasaran dengan Kenji yang selesai urusannya langsung pergi. Tak biasanya Kenji akan bersikap seperti ini. Bahkan satu jam tak bertemu Shilla saja dia sudah kalang kabut.


"Belum saatnya." Kenji membolak-balik dokumen yang ada di hadapannya. "Biarkan dia menikmati masa mudanya. Masa bersenda gurau dengan teman-temannya. Aku tahu kalau masa remajanya sudah tersita oleh Kenzo."


Mendengar alasan Kenji, Rose jadi paham. Memang benar, masa muda Shilla pasti berakhir semenjak dia menampung dan membesarkan Kenzo. Di harus pintar membagi waktu untuk mengurus Kenzo, belajar untuk dirinya sendiri, juga bekerja untuk menghidupi keduanya. Beruntung Shilla mendapat beasiswa, jadi bisa menekan biaya pengeluaran yang banyak.


Rose sendiri tak bisa membayangkan, kalau dia yang berada di posisi Shilla, pasti dia sudah menyerah sudah lama. Untuk menghidupi dirinya sendiri saja dia susah, apalagi mengurus anak yang bukan darah dagingnya. Ia rasa ia tak kan mampu. Dan sekarang dia bisa seperti ini juga berkat Kenji. Dia tak akan mampu bangkit sendiri jika tak ada uluran tangan dari tuannya itu.


"Leon kemana?"


Pertanyaan Kenji membuat Rose tergagap. Entah kenapa jika sudah menyangkut Leon wanita itu sulit untuk menguasai dirinya.


"T..tu..an, tadi tuan sendiri yang menyuruh singa itu untuk menyelidiki keberadaan Ichiro. Tuan lupa atau hanya ingin mengejek saya."


Kenji terkekeh melihat Rose gugup. Dia memang sedang menggoda wanita itu. Bagus juga sesekali bercanda di sela-sela kesibukan mereka. Agar tak terlalu tegang.


***


"KAMU MAU AKU MEMBUNUHMU?!" Akira benar-benar kesal dibuatnya. Dia sudah pingsan kesenangan mengira itu benar-benar Kenji. Dia sudah bersiap ingin melompat ke ke dalam pelukan lelaki itu. Nyatanya, kenyataan sungguh menyakitkan. Yang mengagetkan bukanlah Kenji sang tuan muda ternama di seluruh negeri ini. Melainkan seorang pangeran kodok yang berharap mempersunting putri kerajaan.


Ryota hanya nyengir lebar melihat kemarahan Akira. Dia memang suka menjahili gadis itu. Sehari saja Ryota tak menjahilinya, seperti ada sesuatu yang kurang pada dirinya.


Di sisi lain Mei tampak sedang mengelus dadanya meredam emosi. Dia pun sama seperti Akira, Ia sudah bersiap ingin pingsan di gendongan Kenji, namun yang ada malah pingsan terbentur lantai membuat kepalanya berdenyut nyeri.


Shilla hanya memandang teman-temannya tanpa ekspresi yang jelas. Ryota memang bisa meniru suara Kenji, namun parfum mereka tak sama. Aroma maskulin yang selalu menenangkannya tak ada pada diri Ryota, hingga ia gak mudah untuk ditipu.


"Em, sebegitu pengennya ya kalian bertemu Kenji?" Shilla masih memerankan peran dirinya untuk pura-pura tak tahu tentang Kenji. Dia tak ingin menjadi pusat para wanita yang mengidolakan seorang Kenji.


Akira dan Mei serempak menoleh. "TENTU SAJA. MEMANGNYA SIAPA YANG BAKAL MENOLAK UNTUK BERTEMU KENJI." Jawaban serempak mereka hanya dihadiahi anggukan oleh Shilla. Dia tak menyangka, di sini para gadis ternyata lebih fanatik dan bar-bar.


"Tapi? Siapa dia?" Shilla menunjuk Ryota. Dia tak mengenal lelaki yang baru saja membuat heboh itu. Dalam kelas pun ia tak melihat ada lelaki itu.


"Hallo cantik. Aku Ryota, senang berkenalan denganmu." Dengan kurang ajar Ryota mengambil tangan kanan Shilla dan ingin menciumnya. Namun sebelum tangan itu sampai ke bibir Ryota, Shilla langsung menepis dan tersenyum dingin.


"Senang berkenalan denganmu juga!" Shilla berucap dengan nada rendah. Pandangan matanya menajam. Dia tak suka lelaki asing memperlakukan dirinya dengan kurang ajar. Kalau dia tak mengingat bahwa lelaki yang kini berada di hadapannya adalah teman dari Akira, pasti tendangan andalannya sudah melayang ke mukanya.


"Astaga Ra, teman barumu sangat sadis." Ryota langsung berlindung di belakang Akira pura-pura ketakutan. Sungguh tingkahnya membuat Shilla bingung.


"Aku tak menyangka kalau kamu memiliki tatapan yang sangat tajam." Akira berceletuk membuat Shilla salah tingkah.


Shilla tak ingin menampilkan sisi kejamnya, namun suasana sepertinya sedang mengujinya. Lihatlah sekarang ini Ryota tak terlihat seperti lelaki tampan maskulin seperti yang suaranya tadi diperdengarkan. Namun kini dia lebih terlihat seperti perempuan ketakutan yang tengah berlindung kepada ibundanya.


"Jangan kaget, dia sebenarnya memang seperti ini. Tak ada maskulin-maskulinnya sama sekali."


Shilla mengangguk mengerti. Dia jadi merasa bersalah kepada Ryota. Dia sudah menilai Ryota dengan penilaian yang buruk.


"Maaf." Hanya itulah kata yang mampu diucapkan oleh Shilla. Dia tak pernah malu untuk meminta maaf kalau memang dia salah.


Ryota bergeleng. Bukan gelengan karena tak mau memaafkan. Namun lebih kepada dia tak mempermasalahkan hal yang baru saja terjadi.


"Jadi? Kenapa kamu sampai menirukan suara Kenji?" Mei menatap Ryota meminta penjelasan.


"Astaga aku sampai lupa. Kenji tadi kesini kalian tahu. Dia sungguh tampan sekali. Hati ini bergetar. Sangat karismatik. Aku tak bisa membayangkan otot-otot yang tersembunyi di balik kemejanya yang ketat. aw...aw...aw... sepertinya aku jatuh cinta..." Keluarlah watak asli Ryota. Dia masih saja nyerocos tentang kesempurnaan Kenji. Gayanya yang dibuat centil tak sesuai dengan otot yang terbentuk pada lengannya.


Bagi Akira dan Mei, melihat Ryota yang seperti ini adalah hal biasa. Namun tidak bagi Shilla. Dia sampai terbengong melihat perubahan sikap Ryota yang seratus delapan puluh derajat. Dia tak habis pikir, lelaki yang terbilang memiliki badan bagus, otot juga hampir sempurna, sikapnya sangat feminim. Shilla hanya memijit pelipisnya tanda ia pusing sendiri mencerna informasi yang baru saja ia dapat. Sepertinya mata kuliah lebih mudah dipahami dari pada sikap dan karakter manusia. Untung saja dia tidak mengambil jurusan Psikologi.


"Kalau begitu aku pulang duluan ya, tak ada lagi kelas aku." Shilla meninggalkan mereka berdua dengan Ryota yang masih asik mengagumi sosok Kenji.


"Oke. Hati-hati Shilla." Akira dan Mei melambai melepas kepergian Shilla.


Mereka kini hanya menyiapkan telinganya untuk beberapa waktu ke depan mendengarkan pujian tentang Kenji. Yah, begitulah sosok Kenji. Dapat menarik setiap perempuan. Bahkan tak sedikit lelaki normal yang rela berubah orientasi untuknya.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan 👣 dengan cara klik👍 juga ❤️ dan jangan lupa juga vote yang banyak ya.


cek juga cerita author yang lain


👉 Psycopath itu Kekasihku


👉Twin's


Bye bye. Sampai jumpa di bab selanjutnya😘