
Semoga di tempat baru, luka lama akan menghilang. Berganti menjadi kenangan manis yang dapat ia kenang sepanjang masa.
Begitulah kiranya Susan berdoa pada Tuhan yang telah memberinya hidup. Yang telah mengizinkannya untuk tetap bisa bernafas. Yang tetap mengizinkannya untuk dapat merasakan jatuh cinta.
Rasa yang awalnya begitu manis, namun ternyata memberinya kepahitan yang mendalam. Cinta tulus yang telah ia berikan, nyatanya tak dapat dirasakan oleh seorang Alison. Semuanya sia-sia. Semuanya hanyalah sebuah kebohongan. Semua hanya sebuah kepalsuan. Untuk menjatuhkan seorang yang selama ini telah ia kecewakan.
Susan terlalu bodoh untuk mempercayai Alison, terlalu percaya pada orang yang tiba-tiba masuk ke dalam hatinya. Mengabaikan cinta kasih yang diberikan Mamoru, kini semua terbalaskan. Cintanya terabaikan.
"Al, apa yang kau lakukan?!" Susan menarik selimut kasar.
Alison sudah lelah berpura-pura baik di depan Susan. Kini sudah saatnya menjalankan rencana selanjutnya. Toh Susan juga sudah memberikan hatinya untuk Alison.
Dengan kasar Alison kembali menarik selimut yang digunakan Susan untuk menutupi tubuhnya. Lelaki itu menunjukan sisi lain yang belum pernah diperlihatkan pada Susan. Tegas, kasar, mendominasi. Bukan lelaki yang selama ini Susan kira. Lembut dalam bertutur kata dan bersikap.
"Al, kamu menakuti ku." Dalam ketakutannya Susan berusaha untuk tetap tenang. Mata yang menatap Susan dengan rasa lapar semakin membuatnya merasa kecil. Merasa dilucuti. Merasa direndahkan.
"Jangan pura-pura Susan. Kamu sangat mencintaiku, tentu kau rela menyerahkan dirimu untuk ku." Alison naik ke ranjang Susan dan memaksa menanggalkan seluruh pakaian Susan.
"Aku mohon Al, jangan. Aku tulus mencintaimu. Kenapa kau seperti ini." Susan berusaha mempertahankan letak pakaian yang ia kenakan. Dia benar-benar seperti melihat sosok iblis. Isak tangis sudah mengiringi tat kala Alison memaksa Susan.
"Cinta itu omong kosong!" Alison merobek gaun malam yang dikenakan Susan. Dia sudah mencoba bersabar untuk menikmati hidangan ini. Dan malam ini, semua akan ia santap tanpa meninggalkan sisa.
Di atas ranjang king sizenya, Susan terlihat sangat seksi dengan gaun yang telah robek sebagian. Air mata tak menutupi kecantikan gadis itu. Bahkan gestur tangan untuk menutupi area dadanya, membuat dia terlihat sangat menggoda.
Alison melihat kelinci makanannya dengan muka lapar. Perlahan ia naik mencoba menerkam sang kelinci yang tengah ketakutan.
Sang kelinci hanya meringkuk ketakutan melihat serigala buas yang tengah lapar. Badannya menggigil, peluh membasahi. Tanpa dia sadari dia telah berada pada mulut sang serigala.
Sakit.
Serigala itu terus mengoyak, mencabik, memakan dengan lahap. Ia susuri setiap inci tubuh mungil kelinci yang telah polos.
Erang kesakitan lolos dari mulut sang kelinci kecil. Dia lemah tak berdaya. Hal yang selama ini ia jaga, telah direnggutnya dengan paksa.
Terus terisak adalah hal yang dapat ia lakukan. Ia abaikan suara-suara hina yang memenuhi seluruh gendang telinganya. Ia hanya bisa pasrah tat kala sang predator menumpahkan seluruh kebuasannya ke dalam dirinya.
"Meskipun baru pertama kali, tapi kamu sangat kuat Susan." Alison menyeringai. Ia bangkit dan membenahi seluruh pakaiannya. Ia tinggalkan Susan yang menatapnya dengan pandangan kosong.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Achuu..!" Keano meringkuk di dalam kamar dan terus bersin-bersin. "Achuu..!" Namun dalam kemalangannya, ia juga bahagia karena Shilla dengan setia menemani dan menyuapinya bubur. Bahkan Shilla juga izin tidak kuliah untuk menemani dirinya.
Dengan telaten Shilla menyuapi bayi besarnya. Bahkan sesekali Keano sengaja makan secara belepotan agar jemari Shilla dengan lembut menyentuh bibirnya. Saat itulah kejahilan Keano dilancarkan. Dia dengan sengaja menjilat jari Shilla yang bertengger manis di ujung bibirnya.
Mendapat perlakuan seperti itu, tentu saja wajah Shilla langsung merona merah. Keano terlalu manis saat sakit, tapi juga nakal secara bersamaan.
"Jangan menggoda." Shilla mencubit pipi Keano pelan. Untuk menetralisir rasa gugupnya, Shilla pura-pura marah kepada Keano. Padahal, jantungnya merasa seperti lari maraton puluhan kilo meter.
"Kamu manis kalau sedang gugup." Keano semakin menggoda Shilla. Dia senang sekali membuat wajah Shilla memerah karena rayuannya. Apalagi untuk orang Indoneisia, kulit Shilla termasuk dalam kategori putih. Sangat kontras sekali kalau ada perubahan warna dalam wajahnya.
"Jangan banyak bicara!" Shilla kesal karena Keano menggodanya terus. Dia menyuapi Keano dengan sesendok penuh bubur hingga membuatnya tersedak.
"Makanya kalau malam-malam jangan asik berenang tuan." Leon masuk langsung menyindir Keano.
Leon jadi tak berani macam-macam dengan calon nyonya Hayashi ini. Dia perempuan yang sungguh ekstrim.
"Kalau mau ketawa ya ketawa aja L." Keano mencibir. Dia tahu kalau bawahannya sedang bahagia di atas penderitaannya. Kalau sampai benar-benar tertawa, Leon tak perlu lagi menerima gaji bulanannya.
"Tidak tuan, saya hanya ingin berpamitan. Biar saya yang menghandle perusahaan saat tuan sakit." Leon tersenyum. Ia berusaha keras menyembunyikan tawanya. Dia masih sayang uang. Dia tak mau beberapa bulan ke depan tak menerima gaji.
"Syukurlah kalau kau paham. Ya sudah kalau mau pergi, kerja yang benar." Keano masih saja sakit hati. Dia menerima nasib yang sangat buruk. Bisa-bisanya sama-sama mabuk namun perlakuan dari dua orang wanita yang mengurusnya sangat berbeda.
"Semalam udara sangat panas ya Rose." Ucap Keano ketika Rose masuk.
Rose yang awalnya ingin berpamitan kepada majikannya jadi gugup sendiri.
Pasalnya semalam ketika Keano terjatuh, mau tak mau Keano harus sadar dari mabuknya. Apalagi air kolam yang dingin langsung menusuk tulangnya, tentu saja kesadarannya langsung pulih. Lebih sialnya lagi, ketika lewat di kamar Leon, ia mendengar suara-suara yang membuat telinga dan hatinya panas. Iri. benar-benar sangat iri.
"Saya pamit dulu tuan." Rose menunduk sopan.
"Jalan lakukan di kantor!"
Kalimat singkat Keano seolah meledakkan pertahanan Rose yang dingin. Wanita itu semakin malu dan buru-buru pergi. Dia berlari meninggalkan kamar tuannya.
"Rose jadi malu Kei, kau tak seharusnya bicara seperti itu." Shilla mengingatkan.
"Yah... Tentu saja karena aku iri." Keano manja di pelukan Shilla. Dia benar-benar seperti bayi besar.
"Kalau bukan Shilla yang melempar, aku akan langsung membunuhmu." Terdengar suara berat di arah pintu.
Di sana berdiri Mamoru yang masih setia dengan wajah garangnya. Dia sampai di rumah Keano saat Shilla melempar Keano yang mabuk ke dalam kolam. Mamoru bangga, anak dari Susan lebih tangguh dari bayangannya.
Namun Mamoru masih belum bisa memaafkan sikap anaknya. Dia tak rela siapapun menyakiti Shilla. Bahkan jika itu adalah anak angkatnya sendiri.
"Papa! Kapan papa sampai." Keano hendak bangkit menyapa Mamoru. Bagaimanapun Keano tak akan pernah bisa membantah kalimat Mamoru.
"Semalam. Begitu sampai langsung disuguhi pemandangan yang sangat indah." Meskipun Mamoru sebenarnya sedang mencandai anaknya, namun kalimatnya yang dingin membuat dia terdengar marah.
Lama tak bertemu ayahnya, Keano jadi canggung. Apalagi dengan seenaknya membawa seorang perempuan tinggal bersama di rumahnya. Rumah ini memang di beli sendiri oleh Keano, namun dia tetap menghormati Mamoru. Orang yang telah membesarkan namanya. Yang telah menampungnya ketika dia seorang bocah. Tentu Keano tak akan pernah melupakan semua itu. Kecuali, ada yang mengusik kekasihnya, bahkan meskipun itu Mamoru, Keano akan melawannya.
"Kita bertemu lagi." Mamoru memaksakan senyum. Sudah lama sekali dia tak pernah tersenyum. Senyum tulusnya telah hilang bersama dengan kekasihnya. "Semalam kita belum sempat mengobrol. Kau terlalu sibuk mengurus bocah besar yang tak tahu malu."
Shilla tersenyum menanggapi. Dia tak merasa keberatan dengan semua itu.
"Tidak masalah tuan, saya senang melakukan itu semua."
"Jangan panggil tuan, kau adalah anak dari temanku, yang bakal menjadi menantuku." Mamoru mendekat ke ranjang tempat Keano istirahat. 'Dan ada kemungkinan kau adalah anakku.' Lanjut Mamoru membatin.
Mendengar kalimat Mamoru, pipi Shilla bersemu. Dengan gak langsung Mamoru mengakui bahwa dirinya pantas untuk bersanding dengan tuan muda dari keluarga Hayashi.
Dari interaksi antara Shilla dan ayahnya, Keano menduga bahwa mereka pernah saling bertemu. Entahlah, Keano pusing sendiri. Dia akan memulihkan diri terlebih dahulu baru akan menanyakan kejelasannya.
Bersambung...