Young Mama

Young Mama
Bab 40: ~Bakat~



Markas besar Golden Dragon hari ini sangat heboh. Berkat kemenangan Violeta, hari ini mereka akan melihat tuan muda Kenji telanjang untuk berlari keliling markas. Bukan telanjang bulat seperti yang kalian pikirkan. Tentu saja Violeta tak akan rela area terlarang calon kekasihnya dilihat oleh publik.


Kenji sudah bersiap hanya dengan boxer longgarnya. Ia harus berlari berkeliling markas dari lantai satu hingga lantai lima belas dengan hanya mengenakan boxer saja. Tentu saja markas bawah tanah, bukan gedung perusahaan yang tampil megah di muka umum, bisa hancur reputasinya.


Violeta tertawa melihat muka kusut Kenji. Ia sangat senang melihat penderitaan Kenji. Apalagi semua bawahan kini juga ikut menyaksikannya. Ia tak henti-hentinya memegang perutnya karena kelelahan tertawa.


"Tertawalah sepuas mu V, Tunggu pembalasan ku." Kenji mengedipkan mata sebelah tanda ia belum menyerah mengejar Violeta.


Kenji menarik napas dalam-dalam. Membuat dadanya ikut membusung menambah kesan gagah. Di tambah perut kotak-kotaknya yang sudah terbentuk sempurna. Membuat segelintir wanita yang ada di ruangan ini sangat termanjakan matanya.


"Baiklah, tuan K bersiaplah. Mulai!" Violeta memberi aba-aba.


Dengan kaki telanjang Kenji mulai menjalani hukumannya. Ia berlari melewati tangga darurat. Lari berkeliling setiap satu lantai dan melanjutkan lagi ke lantai berikutnya. Sepertinya dia harus giat berlatih untuk mengalahkan seorang penembak jitu profesional seperti Violeta. Dia terlalu meremehkan kemampuan wanita itu. Hanya dengan sedikit modal tapi sudah berani menantang orang yang telah mengajarinya menembak. Dia terlalu bodoh atau terlalu bucin?


"Jangan curang tuan K, aku mengawasi mu." Suara Violeta terdengar lewat pengeras suara, saat Kenji hendak melangkah ke lantai berikutnya tanpa berkeliling di lantai sebelumnya. Kenji jadi menghela napas pasrah. Di sini, di setiap sisi sudah di lengkapi CCTV, tentu Violeta akan menangkap basah kecurangannya.


"Semangat tuan."


"Berjuanglah tuan."


"Kalau mengejar aku tak perlu susah payah tuan."


Beberapa anggota wanita menyemangati Kenji dengan centil. Sungguh berbanding terbalik ketika ada dalam medan tempur. Mereka tak kalah bengisnya dengan para lelaki.


"Kalau ada yang berani memotret kalian tamat!" Suara Violeta kembali mengaung ke seluruh markas.


Wanita yang tadi hendak memotret langsung ketakutan dan menyimpan kembali ponselnya.


Sudah Lima lantai ia lalui. Masih ada sepuluh lantai lagi yang harus ia lalui. Tapi napasnya sudah terputus-putus. Ia melihat Leon berdiri di pojok dengan sebotol minum. Ia serahkan pada Kenji ketika ia melewatinya.


"Maaf V, tak ada aturan kalau Kenji tak boleh minum." Leon menatap CCTV dan mengucapkannya dengan lantang. Ia tau kalau Violeta masih memperhatikannya.


Sebenarnya kalau berlari turun mungkin tak terlalu berat. Tapi Violeta meminta Kenji berlari dari lantai Lima belas baru naik ke lantai satu. Gadis itu benar-benar tak tanggung-tanggung untuk membuatnya menderita.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Sebenarnya kita mau kemana sih Kei?"


Seperti yang telah di jadwalkan sebelumnya. Setiap akhir pekan Keano akan meluangkan waktunya untuk melatih Shilla menembak. Dia belum bilang kepada gadis itu hingga membuatnya sangat penasaran.


"Nanti kamu juga akan tahu. Ku harap kamu menyukainya."


Keano melanjutkan perjalanannya. Diiringi Kenzo yang asik bernyanyi lagu yang baru saja ia kuasai. Mungkin bagi sebagian anak kecil lagu potong bebek angsa merupakan lagu yang membosankan, tapi tidak untuk Kenzo, ia asik sekali menyanyikan lagu itu bahkan berulang-ulang.


Mendengarnya Shilla sangat bangga. Setidaknya anaknya tidak terkontaminasi oleh lagu-lagu dewasa. Anak seumurannya memang pantasnya menyanyikan lagu seperti potong bebek angsa, bintang kecil, ataupun lagu anak lainnya. Bukan lagu-lagu yang terdengar ambigu di telinga.


"Mama, nyanyi sama Kenzo." Pinta Kenzo yang tentu saja langsung di setujui oleh Shilla. Mereka berdua asik bernyanyi dan sesekali mengajak Keano mengikuti mereka.


Tentu saja Keano sangat canggung. Dia tak memiliki bakat menyanyi. Bahkan Kenzo pun tertawa ketika mendengar suara falsnya Keano.


Perjalanan yang penuh tawa itu akhirnya berakhir. Mobil yang dikendarai Keano berhenti di salah satu bangunan megah pinggir kota. Bangunan rumah milik Keano yang lainnya. Memang dasarnya orang kaya. Di daerah manapun dia memiliki rumah. Tentu saja mamanya tak pernah mengetahui hal itu. Kalau Evelyn tahu, sudah pasti ceramahnya dari terbit matahari hingga terbenam tak akan selesai. Yang katanya pemborosan, dan lain-lainnya. Tentu saja pemborosan. Rumah yang dibeli sangat jarang ditempati. Bahkan dalam kurun waktu satu tahun, mungkin cuma di tempati satu atau dua hari saja. Malah sudah seperti rumah sang ART. Asisten rumah tangga yang selalu mengurus rumah ini dan tinggal disini sudah seperti pemilik rumah. Bagaimana tidak, kalau pemilik rumah yang asli tak pernah pulang.


"Selamat datang kembali tuan. Sudah lama tuan tidak pulang." ART yang di akrab di panggil mbok Sum itu merupakan kepala ART di rumah ini. Tugasnya mengatur seluruh bawahannya agar menjalankan tugasnya dengan baik meskipun Keano tak ada. Umurnya mungkin sudah setengah abad. Namun penampilan dan tata kramanya mencerminkan dia orang yang kompeten.


Rumah ini di beli Keano setelah dua tahun masuk Golden Dragon. Sebagai persiapan kalau ia harus menetap di sini dan harus bersembunyi dari musuh. Namun siapa yang menyangka, kalau perjalanan karirnya tak mengharuskan dia untuk bersembunyi.


"Wah, lama tak pulang, sekalinya pulang langsung bawa anak istri." Mbok Sum memberi hormat kepada Shilla. Dia tersenyum keibuan.


"Cantik kan mbok?" Keano dengan bangga merangkul pundak Shilla.


"Sangat cantik. Sangat cocok untuk menjadi istri tuan."


Pujian Mbok Sum membuat Shilla bersemu. Dia harus membiasakan diri tentang pujian-pujian yang akan mereka lontarkan kemudian hari.


"Aku akan langsung ke ruang pribadi mbok, tolong siapkan makan siang ya."


"Lho, tuan tidak bermalam disini? Kok langsung ke ruang pribadi?"


"Mungkin tidak. Tapi mulai hari ini setiap akhir pekan kita akan kesini."


"Baik tuan."


Shilla masih mencerna ucapan Keano. Ia tak mengerti kenapa setiap akhir pekan mereka akan kesini. Shilla mengabaikan rasa penasarannya, mungkin nanti dia juga akan mengetahuinya. Lebih baik sekarang ia nikmati saja fasilitas yang tersuguh di rumah ini. Shilla tak bisa menerka sebenarnya seberapa kaya Keano. Tapi dia bisa yakin kalau sebelum masuk Alterio Groub sebenarnya dia sudah bukan merupakan orang sembarangan. Kalau dia masih baru dalam bidang ini, ia tak akan bisa begitu saja menggantikan Grigori.


Keano membawa mereka ke salah satu ruangan pribadi yang ada di sudut bangunan. Begitu pintu di buka, debu langsung menyeruak penciumannya. Bahkan Kenzo langsung terbatuk karena hal itu.


"Maaf, aku melarang mereka untuk masuk kesini, jadi ruangan ini tak pernah di bersihkan."


Shilla semakin penasaran dengan isi yang ada di ruangan ini. Mengapa sampai pelayan di sini tak diperbolehkan untuk masuk. Sebelum menanyakan hal itu, dia membantu Kenzo memasangkan masker agar meminimalisir debu yang masuk ke rongga pernapasannya.


Keano menyalakan lampu dan dalam sekejap cahaya memenuhi seluruh ruangan. Menurut Shilla ruangan ini tak ada yang sepesial. Hanya satu set meja dan kursi lengkap, juga sebuah lemari besar berisi banyak buku-buku tebal.


Baik Shilla maupun Kenzo mereka terbengong dengan hal itu. Shilla semakin penasaran dengan apa yang ada di dalam.


Keano mempersilahkan ibu dan anak itu masuk. Ruangan di sana sangat berbeda dengan ruang pada umumnya. Banyak sekali senjata terpajang di sana. Juga ada tempat latihan khusus menembak.


Shilla tak tahu apakah semua senjata itu asli. Tapi yang Shilla ketahui sosok lain dari Keano. Ternyata Keano menyukai menembak.


"Semua ini asli?" Shilla langsung menggendong Kenzo takut memegang sembarangan senjata.


"Tentu saja ini asli. Karena di negara ini kepemilikan senjata api merupakan hal yang ilegal, makanya aku harus menyembunyikan hobi ku disini."


Shilla masih belum mempercayai sepenuhnya. Dia menatap Keano menyelidik.


"Jangan tatap aku seperti itu. Aku tahu kalau kamu sangat mencintaiku." Goda Keano sukses membuat Shilla memutar bola matanya. "Turunkan saja Kenzo. Semua senjata ini tak ada pelurunya. Pelurunya aku simpan di tempat lain."


Shilla sedikit lega. Ia menurunkan Kenzo dan mengikuti Keano berjalan. Dia masih belum mengetahui motif Keano membawanya kesini. Aampai ia menemukan sosok lain Keano yang membuatnya sangat terpesona.


Di depan sana Keano sudah berdiri dengan senjata laras panjang. Entah apa namanya Shilla tak tahu. Keano mengarahkan moncong senjatanya ke sasaran yang berada kira-kira seratus meter dari tempat keano berdiri. Dan suara 'Dor' menandakan Keano telah menembak. Shilla melihat ruangan ini kedap suaea. Pantas saja suaranya langsung di redam sehingga di telinganya tak terlalu keras terdengar. Shilla melihat Keano yang begitu serius menembak sasaran. Kira-kira sekitar lima tembakan dan dia menoleh ke arah Shilla dan tersenyum.


"Kamu tertarik?"


Mata Shilla berbinar. Dia sangat menyukai olah raga yang ekstrim. Kalau Keano bersedia mengajarinya menembak, tentu dengan senang hati Shilla akan menerimanya.


"Aku tak salah menilaimu. Kamu berbeda dengan gadis lain." Batin Keano melihat Shilla yang begitu antusias ingin belajar.


"Kenzo, sini sayang." Sebelum Keano mengajari Shilla, Keano memanggil Kenzo dan memberikan sebuah pistol mainan mini yang pas di pegang oleh tangan kecilnya. Bersama peluru mainan yang bisa menempel di kaca bila ditembakkan. "Kamu juga pasti ingin belajar. Papa sudah siapkan khusus untuk Kenzo. Main-main sebisa Kenzo saja, oke?"


"Iya papa." Kenzo sangat senang menerima pistol mainannya. Apalagi dia memiliki sasaran tembak sendiri. Sebuah papan berbentuk lingkaran dengan garis dan angka. Papan yang bisa membuat peluru mainan Kenzo menempel. Tinggi sasaran itu pun sangat sesuai dengan Kenzo. Entah sejak kapan Keano menyiapkan itu semua. Mungkin sejak di bangunnya ruangan ini. Ia menyiapkan untuk melatih anaknya menembak sejak usia dini.


Keano kembali pada Shilla yang masih sibuk memilih senjata yang sesuai untuknya. Sebuah senjata yang ringan di pegang dan tidak terlalu rumit untuk di operasikan oleh seorang pemula.


Melihat kebingungan Shilla, Keano mengambil sebuah pistol kecil dengan panjang laras lima inci, panjang senjata 221mm, berat kosong 1kg. Senjata yang simpel untuk seorang pemula.


"Coba yang ini." Keano menyerahkan senjata itu pada Shilla.


Shilla menimang-nimang dan mencoba mengarahkan pada sasaran. Sangat pas di tangan. Akhirnya ia memilih senjata yang dipilihkan Keano. Keano mengambil peluru di tempat penyimpanan. Sebelum ia mengisi pelurunya, Ia memberi petuah pada Shilla agar hati-hati ketika senjatanya sudah diisi.


Dengan jantung yang berdegup Shilla mengangguk pada setiap arahan Keano. Adrenalinya terpicu. Ia tak sabar untuk memulai latihan ini.


Keano memberikan alat pelindung diri. Termasuk pelindung telinga agar gendang telinganya tak rusak akibat suara yang di timbulkan. Meskipun ruangan ini kedap suara, keano tak ingin mengambil risiko.


Pertama-tama Keano mengarahkan Shilla dengan ia berdiri di belakang. Banyak intruksi yang dia berikan. Mulai dari sikap badan, posisi tangan, posisi kaki, bahkan pernapasan juga tak luput dari perhatiannya.


Dengan setia Shilla mendengarkan setiap intruksi yang Keano berikan. Dasarnya otak cerdas, tentu saja dia langsung memahami kalimat panjang Keano. Tinggal praktiknya saja yang mungkin akan sulit.


Satu tembakan.


Dua tembakan.


Tangan Shilla masih kaku. Masih sedikit gemetar akibat getaran yang di timbulkan oleh senjatanya ketika pelatuk di tekan.


Sudah banyak peluru yang di tembakkan. Sudah beberapa kali di isi ulang. Shilla semakin terbiasa. Bahkan dia sudah berdiri sendiri tanpa Keano mendampingi. jarak sasarannya tentu saja masih pendek. Hanya sekitar sepuluh meter. Namun Shilla menunjukkan bahwa dia memiliki kemampuan.


"Horeeeee!!!" Suara girang Kenzo mengalihkan perhatian mereka.


Shilla meletakan senjatanya dan mengikuti Keano mendekati Kenzo. Di sana terlihat Kenzo berhasil menembakan peluru mainannya tepat di tengah. Beberapa peluru mengenai garis luar lingkaran. Tapi tembakan yang membuat Kenzo girang, dia berhasil mengenai tepat sasaran setelah berjuang keras.


Keano masih mengamati Kenzo. Anak itu kembali mengarahkan pistol mainannya, sekali lagi, peluru mengenai tepat di tengah sasaran.


Kenzo kembali girang. Dia sangat senang usahanya membuahkan hasil.


"Waaah anak mama hebat." Shilla tepuk tangan.


"Mama. Mama lihat kan. Kenzo bisa ma, Kenzo berhasil menembak. Kalau sudah besar nanti Kenzo akan menjadi pelindung mama."


Shilla sangat terharu mendengar penuturan bocah itu. Ia sangat bersyukur tuhan mengirim dia di kehidupannya.


"Shill, apa dia pernah kamu berikan pistol mainan?"


"Pernah, tapi pistol air. Bukan pistol mainan seperti ini yang ada sasarannya."


"Anak ini berbakat. Seakan dia memiliki darah seorang yang mahir dalam menembak. Apalagi usianya masih balita. Kalau tak ada Gen yang mengalir dalam darahnya, tak mungkin dia bisa berhasil dengan usahanya sendiri dan hanya beberapa kali mencoba." Keano bangga dengan Kenzo. Namun di sisi lain juga khawatir. Kalau sampai bakatnya di ketahui oleh orang tak bertanggung jawab, entah apa yang akan terjadi dengan anak itu. Keano semakin bertekad, tak ada yang boleh menyentuh keluarga kecilnya.


Bersambung....


Hayo.... Kenzo anak siapa hayo.... Kenapa dia bisa menembak dengan tepat sasaran di usia yang dini???


Jangan lupa Vote, komen, love & Share ya teman-teman.