Young Mama

Young Mama
Bab 24: ~Pertempuran~



Sesampainya di Jepang, Keano langsung mengurus semua urusan yang tertunda. Banyak kerjaan yang menumpuk karena lama di tinggal ke Indonesia. Selama dia di Indonesia, Rose lah yang memegang kendali di perusahaan ini. Dan sampai puncaknya, dia tak mampu menangani masalah geng yang saat ini selalu berbuat onar di tengah masyarakat.


"Maafkan saya tuan, saya tidak bisa diandalakan." Rose menyambut kedatangan Keano.


"Bukan salahmu. Aku memang sudah lama tak kembali. Terima kasih sudah menjalankan semuanya dengan sangat baik." Meskipun Keano dingin, namun ia selalu mengapresiasi kerjaan semua karyawannya. Ia menyadari, tanpa karyawannya, ia tak akan bisa naik ke puncak.


"..." Rose tak bisa menanggapi perkataan Keano. Di matanya Keano bos yang super baik. Meski sifatnya yang dingin, namun ia tak pernah mengabaikan bawahannya. Hanya saja, kadang sifatnya yang tegas menjadi momok untuk karyawan yang pemalas.


"Panggil Eyes untuk ke ruangan ku." Keano berjalan angkuh melewati karyawan yang memberi hormat.


Ia menuju ruang kantor bawah tanah. Karena masalah kali ini berhubungan dengan sebuah geng, maka cara menyelesaikan pun harus dengan geng pula. Meskipun dia adalah ketua mafia yang paling di segani di seluruh daratan Jepang, ia tak pernah keluar jalur hukum, justru ia membantu pekerjaan polisi dengan melenyapkan para penjahat.


Terdengar suara ketukan pintu dan langsung di suruh masuk oleh Keano. Eyes, sudah berdiri di hadapannya. Usianya tak lagi muda, namun talentanya tak perlu di pertanyakan. Ia merupakan mata untuk Golden Dragon. Apapun yang di butuhkan, tinggal menyuruh untuk mencarinya. Bahkan database kepolisian yang memiliki penjagaan ketat pun dapat di jebolnya. Merupakan jenius IT yang tak ada tandingannya.


"Laporkan." Keano langsung meminta data yang di butuhkan.


Eyes menyerahkan sebuah Tab kepada Keano. Semua data yang di butuhkan semua ada di sana. Dia tinggal menyusun rencana selanjutnya.


"Kau boleh pergi."


Tanpa bicara sepatah katapun, Eyes pergi meninggalkan Keano.


"Kamu tau yang perlu di lakukan kan?"


"Yes master Kenji." Leon langsung menyiapkan semuanya. Ketika di markas besar Golden Dragon, memang di kenal sebagai Kenji, itupun untuk yang sudah memiliki jabatan. Untuk anggota yang tak memiliki jabatan, mereka hanya tau K, seorang berdarah dingin yang tak pernah melepaskan mangsanya.


Beberapa hari ke depan mungkin akan terjadi sesuatu yang seru. Sudah lama Leon merindukan rasa ini.


Melihat bawahannya tersenyum evil, Kenji bisa mengerti bahwa Leon sudah sangat ingin berperang. Beberapa bulan tak olah raga membuat badan mereka terasa kaku.


Pada akhirnya hari yang di tentukan tiba. Mereka semua berkendara menuju salah satu pelabuhan di perairan Jepang. Meski sudah memasuki dini hari, namun mereka semua tetap semangat untuk memberantas pengedar narkoba yang selama ini meresahkan masyarakat. Bagaimana tak meresahkan, mereka mengedarkan di kalangan anak-anak dalam bentuk makanan ringan ataupun minuman. Sesuatu yang tak bisa di lacak kepolisian.


Kenji sudah siap dengan senjata lengkap. Dia menaiki mobil dengan Leon sebagai sopirnya. Sebisa mungkin, sebelum transaksi di mulai mereka harus sampai di tempat agar bisa mengepung semua pengedarnya.


Sampai di pelabuhan, ternyata tempat itu benar masih sepi. Mereka memarkirkan mobilnya pada beberapa kontainer kosong. Setelah mobil di sembunyikan, mereka juga bersembunyi menunggu target. Semoga informasi yang di kirim Eyes tidak salah.


Tiga puluh menit sudah berlalu, namun belum ada tanda-tanda orang datang. Dengan sabar Kenji memerintahkan bawahannya agar tak terkecoh. Dua puluh lima menit berikutnya, datang sebuah mobil berwarna hitam di pelabuhan itu. Seseorang turun dan melihat sekeliling. Ia keluarkan ponsel dan menghubungi yang lainnya.


Sepuluh menit berikutnya, dua mobil datang menghampiri, sepertinya mereka yang akan membeli barang terlarang tersebut. Seorang pria muda dan seorang yang lebih tua turun dari kedua mobil itu. Mereka selanjutnya melanjutkan transaksi jual beli benda terlarang itu.


Kenji memberikan aba-aba untuk segera bergerak. Semua anak buahnya langsung mengepung mereka. Anak buah Kenji tentu saja lebih banyak dari pada anak buah mereka. Dan terjadilah baku hantam di antara kedua belah pihak.


Kenji bahkan sudah menempatkan sniper di tempat tertinggi pelabuhan itu. Sang sniper sekarang masih menunggu aba-aba dari Kenji untuk menembak.


Pengedar dan pembeli tentu saja langsung kaget begitu terkepung oleh anak buah Kenji. Mereka ketakutan dan langsung mengamankan barang terlarang itu juga uang yang tak sedikit jumlahnya.


"Siapa kamu, berani melawan kami." seorang pria seumuran Kenji mengacungkan senjata dengan tangan gemetar.


"Siapa aku tak penting, tapi aku ingin meminta pertanggung jawaban kalian." Kenji maju dengan santai. Terlewat santai malahan membuat mereka semakin gusar.


"Kamu tidak tau siapa kami? kami adalah mafia ternama di daerah ini, apa kamu pernah mendengar nama Golden Dragon, kalau aku memanggil lainnya, kalian akan tamat."


Mendengar ocehan orang itu tentu saja mengundang tawa Kenji dan anak buahnya. Mereka tak tau bahwa yang di hadapannya merupakan ketua dari Golden Dragon yang asli. Kenji tentu saja murka, meskipun dia seorang mafia berdarah dingin, namun tak pernah sekali pun mengedarkan barang terlarang seperti narkoba dan sejenisnya. Namun pihak lain yang tak bertanggung jawab malah menggunakan nama besarnya untuk melakukan transaksi dengan barang ilegal tersebut.


Kenji sudah tak ingin berbasa basi lagi. Dengan sekali dia mengangkat tangan, anak buahnya langsung menyerang musuh di hadapannya. Baku hantam sudah tak bisa di hindari, bau anyir begitu menyengat indera penciuman tat kala darah sudah tercecer dimana-mana.


Apalagi ada yang begitu menikmati pertarungan kali ini. Lihatlah Leon, ia begitu senang menghajar musuh-musuhnya. Mukanya sudah berlumuran darah dari musuhnya. Seakan kurang puas, ia bahkan masih memberi tendangan bertubi pada musuh yang telah tumbang.


Tak butuh waktu lama, semua musuh telah tumbang, bahkan Kenji belum turun tangan. Dan ada tiga orang yang menggigil ketakutan. semua anak buah yang di katakan elit, nyatanya langsung kalah seketika.


"S....si...si....apa k...au s...s...be...nar..nya." Lelaki muda yang masih mengacungkan pistol ke arah Kenji menanyakan identitas Kenji.


"Siapa aku?" Kenji tersenyum evil. "Kalau kau pernah mendengar tentang K di dalam Golden Dragon, itulah aku."


Tiga orang itu langsung tambah gemetar ketakutan. Mereka tak menyangka kalau hari ini akan bertemu K yang legendaris. Mereka mencoba untuk menjilat Kenji agar mereka di ampuni. Namun apapun yang mereka lakukan, sepertinya Kenji gak tertarik dengan hidup mereka.


"Habisi mereka L, sisakan satu untuk kita interogasi." Kenji langsung pergi dari tempat itu.


"Baik tuan." Leon langsung sumringah mendengar perintah Kenji. "Baiklah, siapa yang dapat memberiku informasi tentang bos kalian, aku akan membiarkan orang itu hidup." Leon mengambil senjata dari salah satu anak buahnya dan memainkan di depan muka mereka.


Dua orang yang seumuran terlihat tak bergeming. Meski mereka terlihat ketakutan, namun sepertinya mereka siap untuk mati dari pada berkhianat kepada bosnya.


"Tuan... tuan... aku akan menceritakan semua informasi yang perlu kau tau, bebaskan aku tuan." Lelaki yang lebih muda berlutut di hadapan Leon.


"Kau yakin?" Leon mengacungkan senjata ke arah kepala orang itu, "Kalau kau bohong, sepertinya peluru ini cukup mampu menembus tempurung kepalamu." Leon tambah menikmati rasa takut yang di berikan orang itu.


"Ten...tentu tuan."


"Marco, kau tak boleh mengkhianati tuan kita." orang yang datang bersama dengan Marco tersebut berteriak dari belakang.


"Tapi ayah, aku tidak mau mati." Marco melawan ayahnya.


"Sepertinya kita sudah menentukan siapa yang harus mati. Silahkan nikmati perjalanan kalian." Leon mengarahkan senjata pada dua orang di belakang.


DOR


DOR


"TIGEEEEEER AKU AKAN MEMBUNUHMU!!!" Leon berteriak marah pada Tiger rivalnya. Seorang sniper andalan Kenji setelah V.


"Maaf L, aku dari tadi belum bersenang-senang." Dari sana Tiger tersenyum mengejek Leon.


"Sial." Dengan perasaan kesal Leon pergi. Kenji sudah menunggunya. "Bawa orang itu, ikat dia jangan sampai lepas. Untuk yang lainnya biarkan saja, biarkan besok di urus polisi. Barang bukti juga taruh di samping mayat kedua orang itu." Leon memberikan perintah kepada anak buahnya.


"Baik tuan."


Leon masuk ke dalam mobil. Kenji sudah menunggu dengan sabar. Dia melihat raut wajah Leon yang terlihat kesal.


"Bukankan kau menikmatinya L?"


"Saya menikmatinya tuan, tapi Tiger mengacaukannya."


Kenji tertawa membuat Leon semakin cemberut. Pasalnya Leon dan Tiger mereka tak pernah bisa akur. Meskipun kedua orang itu merupakan orang kepercayaan Kenji, namun mereka akan saling bersaing demi posisi pertama setelah bosnya.


"Sudahlah, hari sudah semakin pagi. Ayo kita pergi dari sini."


"Baik tuan."


.


.


.


Di sebuah ruang tertutup markas besar Golden Dragon, Kenji sedang menginterogasi orang yang bernama Marco. Namun informasi yang si peroleh masih belum bisa membuat Kenji puas.


"Cukup tuan, saya hanya mengetahui itu saja." dengan wajah berlumuran darah, Marco mencoba meminta belas kasihan Kenji.


"Untuk apa kau hidup kalau hanya itu yang kau ketahui." Kenji kembali mencambuk badan Marco yang sudah banyak bekas cambukan di sana.


"Tolong... tolong langsung bunuh saja aku tuan." Marco sudah tak bisa lagi menahan siksaan yang di berikan Kenji.


Drrrrt


Drrrrt


Drrrrt


Ponsel Kenji bergetar tanda ada panggilan masuk. Ia masih mengabaikan dan masih terus menyiksa Marco untuk informasi lebih lanjut. Tak tanggung-tanggung dalam menyiksa, Kenji benar-benar tak kenal ampun. Dari cambuk hingga pisau kecil ia gunakan. Ia tak langsung melukai bagian vital, ia ingin menyiksanya bukan membunuhnya.


Drrrt


Drrrt


Drrrt


Ponsel Kenji kembali bergetar. Ia masih belum berencana untuk mengangkatnya. Ia masih terus menyiksa Marco yang sudah akan pingsan. Orang-orang yang ada di dalam hanya diam melihat bagaimana kejamnya Kenji. Mereka sungguh takut kalau Kenji sudah marah.


Drrrt


Drrrt


Drrrt


Pada panggilan yang ketiga Kenji melihat layar ponselnya. Wajahnya seketika berubah lebih lembut ketika layar di ponselnya memperlihatkan nama Shilla. Sebelum dia menerima panggilan itu, ia mengisyaratkan Leon untuk menyumpal mulut Marco.


Ia memberikan isyarat kepada semuanya untuk diam sebelum ia menggeser tombol hijau di ponselnya. Setelah panggilan terhubung, wajah cantik Shilla benar-benar membuat mood Kenji membaik.


"Tumben menghubungi duluan, sudah kangen ya?" Kenji langsung menggoda Shilla yang terlihat cemberut di layar. Sebisa mungkin ia tak memperlihatkan lelahnya di hadapan wanita yang telah merebut hatinya.


Belum puas Kenji melihat wajah Shilla, ponsel sudah beralih ke tangan kecil Kenzo. Begitu melihat Kenji, Kenzo langsung kegirangan. Kenji hanya ikut tersenyum dan ikut bercanda dengan Kenzo.


'Kenzo kangen, dia gak mau makan.' Suara Shilla membuat Kenji terpukul. Ia sedih melihat Kenzo tak mau makan. Ia langsung menasehati Kenzo agar mau makan.


Setelah di nasehati, Kenzo akhirnya mau makan dengan lahap.


Berhadapan dengan Shilla maupun Kenzo, Kenji benar-benar menjadi pribadi yang berbeda. Orang-orang yang berada di ruangan itu baru kali ini melihat kehangatan sosok Kenji yang bengis, kecuali Leon tentu saja. Mereka tak menyangka, bahwa wanita mampu mencairkan kebengisan hati Kenji. Mereka jadi penasaran, siapakah wanita ini yang mampu menarik Kenji dari kesuraman setelah di tinggal oleh V.


Setelah bercengkrama beberapa saat, ia langsung meminta izin untuk memutus sambungan. Tanpa basa basi Shilla langsung menutup sambungan tersebut.


"Bunuh saja dia, sudah tak ada gunanya. Aku juga sudah cukup bermain." Kenji memerintahkan kepada Leon.


Dengan sekali tembakan Marco langsung menghembuskan nafas terakhirnya. Namun dia senang, dari pada di siksa lebih baik langsung mati saja.


"Siapkan dirimu L, kita harus secepatnya menemukan dalangnya. Aku tak ingin Kenzo menungguku terlalu lama." Kenji tersenyum meninggalkan ruangan. Sungguh senyum yang sangat langka untuk seorang Kenji Hayashi.


"Tidak sabar bertemu Kenzo atau nona Shilla tuan?" Leon berkata dalam hati sambil terkekeh.


Bersambung...