Young Mama

Young Mama
Bab 78: ~Haruskah Bertahan?~



Kenji dipapah oleh Leon juga Violeta. Dia segera di rawat oleh dokter pribadi keluarga Hayashi. Dokter yang sudah malang melintang mengobati luka yang di sebabkan oleh perang antar kedua kubu mafia.


"Kamu tak apa kan V?" Masih saja, Kenji masih mengkhawatirkan Violeta padahal keadaannya sendiri sangat memprihatinkan.


"Aku tak apa K, khawatirkan diri sendiri dulu."


"Syukurlah kalau kau tak apa." Setelahnya Kenji langsung pingsan.


Leon dengan sigap menopang tubuh Kenji. Dia segera membawanya ke ruang kesehatan yang ada di markas itu. Bahkan ruang kesehatan di markas lebih baik dan lebih lengkap dari pada di Rumah Sakit. Hanya saja dokternya yang menakutkan. Dokter Frans merupakan dokter Psycopath. Dia adalah dokter yang memiliki talenta tinggi. Namun dengan ilmunya dia bisa membunuh orang tanpa jejak. Dia tak bisa berada di Rumah Sakit biasa karena kelainannya itu.


"Kenapa lagi dia?!" Frans sedang bermain dengan kodok beracun. Dia sedang melakukan eksperimen. Racun itu bisa di jadikan senjata untuk membunuh.


"Kena hukum oleh tuan besar." Leon menjawab singkat.


"Dasar! Suka sekali dia menerima hukuman. Baringkan!" Frans langsung membuka semua baju Kenji yang telah robek. Dia meneliti dengan saksama. Segera setelah itu ia mengambil peralatan guna merawat tuan muda yang bandel itu.


Dengan cekatan Frans membersihkan luka dan mengobatinya. Obat yang digunakan pun obat khusus yang dia racik sendiri. Berkat eksperimen gilanya, dia bisa menciptakan obat luka tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.


***


"Kamu sudah mendingan K?" V menghampiri Kenji yang sedang berkutat dengan seluruh dokumen yang ada di hadapannya.


Siang bekerja di perusahan Hayashi Grub, malam ia mengurus Golden Dragon. Pekerjaan yang benar-benar melelahkan. Untung masih di bawah naungan Mamoru, kalau di lepas sendiri, mungkin Kenji akan lari saja.


"Ya. Dan tak seharusnya kamu berada di sini V."


"Tak apa. Aku sedang ingin bermain-main. Dua jam lagi akan ada transaksi besar, kamu mau ikut bermain? katanya kamu mau mengalahkan aku?"


Otak Kenji langsung menangkap apa yang di katakan V. Kali ini Kenji tak mau kehilangan kesempatan langka. Dia harus mendapatkan hatinya V.


"Oke. Dua jam lagi. Tunggu aku." Kenji semangat menyelesaikan semua pekerjaannya.


Violeta pergi dari ruangan itu. Perutnya terasa lapar. Mungkin makan di luar dulu tak apa.


Di perjalanan ke bawah dia bertemu dengan Rose. Rose menunduk sopan, bagaimanapun V adalah seniornya. Meskipun orang-orang awam yang ada di perusahaan ini tak tau siapa V, namun mereka tak berani mengusiknya. Aura yang dipancarkan gadis itu bukan aura biasa.


"Rose!" V memanggil Rose sesaat gadis itu telah berlalu.


"Ya nona." Ros berhenti dan berbalik memenuhi panggilan Rose.


"Temani aku makan boleh?"


Sebenarnya Rose ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun Kenji pernah bilang, saat V meminta sesuatu tinggalkan semua pekerjaannya. Rose hanya bisa mengangguk tanda setuju.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Shilla tak fokus mengikuti mata kuliahnya. Sepanjang proses pembelajaran dia hanya melamun. Sesekali helaan napas panjang ia keluarkan. Berharap keresahan di hatinya juga ikut keluar.


Bahkan beberapa kali Shilla mendapat teguran dari sang dosen. Namun sekali lagi Shilla hanya melamun meratapi nasibnya. Sebenarnya Shilla bukanlah gadis yang lemah. Dia adalah gadis yang kuat. Bahkan ketika dia di tinggal mamanya pun dia mampu bangkit. Bahkan saat dia harus di pertemukan dengan Kenzo dan menjadi ibunya, dia juga kuat berjuang untuk menghidupi dia dan anaknya.


Namun, kenapa kekuatan itu tak berlaku saat ini. Hatinya rapuh. Akal pikiran terkunci. Kalau saja V memang sudah meninggal, dia bisa dengan sabar menunggu Keano agar menjadikannya seutuhnya. Atau pun dia rela meski Keano hanya setengah hati. Tapi kini V tiba-tiba muncul di hadapannya. Apa takdir sedang mempermainkannya.


"Shill?" Akira memanggil Shilla pelan. Dia sangat khawatir dengan sahabatnya itu.


"Kalau ada masalah cerita aja. Kita siap menjadi bahu sandaran mu."


Perkataan Akira diangguki oleh Mei. Meskipun mereka baru saja berkenalan, mereka sudah seperti saudara sendiri. Apalagi Shilla dan Mei menyadari, di sini mereka hanyalah pendatang yang tak punya keluarga. Mereka sudah mengganggap persahabatan mereka layaknya sebuah keluarga sendiri. Dan lebih untuk Shilla, yang memang sudah tak lagi memiliki sandaran.


Dan ketika Shilla berpikir dia kini memiliki sandaran, justru sandaran itu melepaskannya.


"Aku tak apa, sungguh." Shilla tersenyum dipaksakan. Dia tidak terbiasa bercerita mengenai masalah yang dia miliki, dia sudah terbiasa memikulnya sendiri.


"Oke, tapi kalau kau butuh teman cerita, kami siap menjadi pendengar."


"Terima kasih." Shilla tak tahu kata apa yang harus ia ucapkan selain terima kasih. Dia terharu, ternyata dia masih memiliki teman seperti mereka berdua. Ah, Shilla jadi memikirkan teman yang berada di tanah kelahirannya. Kira-kira bagaimana nasibnya sekarang ya.


***


Shilla pulang dengan wajah ceria. Meskipun hatinya terpuruk sekalipun, dia tak mau menunjukkannya di hadapan Kenzo buah hatinya.


Namun yang membuat Shilla teriris, saat ia masuk dia disambut oleh tangisan Kenzo. Kenzo berlari kedalam pelukannya dengan tangisan yang menyayat hati. Belum pernah Kenzo menangis seperti ini. Bahkan ketika dia terluka, dia tak akan menangis histeris.


Shilla langsung memeluk Kenzo dengan erat. Dia abaikan rasa kalut di hatinya, asal dia dapat melihat Kenzo tersenyum lagi.


Kenzo masih menangis dalam pelukan Shilla. Dia sesenggukan menumpahkan rasa perih di hatinya.


Hati Shilla lebih sakit saat Kenzo menangis seperti ini. Tak terasa air mata Shilla ikut terjatuh. Seolah dia dapat merasakan sakit yang Kenzo rasakan.


Bahkan Harumi yang menyaksikan itu tak dapat membendung air matanya. Kenzo sudah seperti adiknya sendiri. Shilla sudah seperti kakak dan sekaligus sosok yang dikaguminya. Jika mereka bersedih, Harumi juga akan merasakan sakit yang sama. Apalagi Shilla sudah berbaik hati menerimanya sebagai keluarga.


Hal itu tak luput dari pengamatan Mamoru. Dia tak tega, gadis yang sudah ia anggap sebagai anaknya harus menderita. Dia sudah berjanji akan melindunginya. Dia sudah berjanji dengan dirinya sendiri, di hadapan makam Susan, dia akan menjadi pelindung yang dapat di andalkan.


"Nak, kamu mau ikut aku?" Mamoru mendekati mereka dengan wajah yang sulit di artikan.


Shilla melihat Mamoru dengan penuh tanda tanya. "Maksud tuan?"


"Tak ada maksud lain. Kamu ikut aku, sebagai putri ku."


Shilla masih belum mengerti maksud Mamoru. Dia tak bisa begitu saja mengikuti Mamoru. Dia kesini diajak Keano, bagaimana bisa dengan seenaknya ikut dengan orang lain.


"Mama.." Kenzo masih sedikit menangis. "Kita ikut kakek saja ya ma." Mata Kenzo sudah sembab. Mata yang memang sipit, menjadi semakin sipit.


"Tapi kenapa sayang? ... " Belum selesai Shilla bertanya, dia di kejutkan oleh orang asing di rumah ini. Orang asing, namun tak asing.


"Jadi ini adalah rumah dan segala perabot yang aku pilih?" V palsu dengan pedenya berkeliling rumah ditemani Keano.


"Iya. semua ini adalah pilihanmu. Apa kamu masih belum mengingatnya?"


Kenzo yang menyaksikan papanya membawa perempuan lain ke rumah tentu tak terima. Dia tak akan rela perempuan lain merebut papanya dari mama. Namun dari sejak papanya pulang, Kenzo di abaikan. Kenzo sakit hati. Dia benci papanya.


Shilla kini tahu kenapa Kenzo bisa menangis seperti ini. Dan bahkan Mamoru mengajaknya untuk pergi. Kini dia tahu alasannya. Karena rumah ini sudah kembali kepada pemilik yang sebenarnya.


Bersambung...