
Terlihat banyak anak berlarian di sebuah halaman sekolah yang asri. Karena hari ini adalah hari penerimaan siswa baru, suasana sekolah menjadi lebih ramai. Mereka diantar oleh orang tua masing-masing. Senyum ceria anak-anak polos menghiasi pagi yang cerah itu.
Sedikit iri sebenarnya. Mereka semua diantarkan oleh orang tua masing-masing, sedangkan Kenzo hanya diantar oleh pengasuhnya. Namun Kenzo mencoba berlapang dada karena mamanya memang sedang sakit. Hal yang patut diacungi jempol untuk anak berusia empat tahun itu.
Kenzo berjalan ke arah kerumunan semua siswa baru. Dengan kaki kecilnya dia menendang bola yang tak sengaja menggelinding dihadapannya. Dia lanjutkan perjalanan dengan Harumi yang masih setia menuntunnya. Banyak pasang mata yang menatapnya aneh. Namun Kenzo yang masih kecil tak mengerti dengan tatapan mereka. Yang dia tahu hanyalah mereka menatapnya karena Kenzo terlalu imut. Meskipun wajah imutnya telah luntur bersama dengan tangisan.
Anak-anak itu sepertinya sudah memiliki teman mereka masing-masing. Tak sedikit dari mereka yang sudah mengelompokkan diri menjadi beberapa gerombolan. Bahkan sesekali Kenzo ingin ikut bergabung, mereka dengan terang-terangan menolak anak itu.
"Lebih baik kita langsung ke kelas saja ya." Harumi tersenyum menenangkan Kenzo. Dia tahu kalau tuan kecilnya berusaha tegar di saat mamanya sedang sakit.
Kenzo mengangguk mengiyakan. Dia kembali berjalan ke kelas yang baru saja ia ketahui setelah bertanya pada salah satu petugas penerimaan.
Kenzo masuk ke dalam kelas dengan muka masam. Dia hanya ingin segera pulang dan mengetahui keadaan mamanya. Padahal baru saja ia masuk. Namun hati sungguh sudah tidak nyaman.
"Hai...!" Seorang bocah perempuan menghampiri Kenzo. Bocah itu terlihat sangat imut dengan rambut kuncir duanya. Apalagi kalau tersenyum, lesung pipi yang menghiasi kedua pipinya menambah kesan menggemaskan. Tangan kecilnya terulur memperkenalkan diri. "Namaku Suzu, siapa namamu?" Gadis kecil yang bernama Suzu itu tersenyum sangat manis.
Sejenak Kenzo tertegun dapat melihat gadis cantik seperti Suzu. Senyumnya yang ceria seolah menjadi obat kehampaannya. Kenzo menyambut uluran tangan Suzu dengan segera.
"Kenzo." Kenzo masih memandangi Suzu tanpa berkedip. Membuat sang gadis kecil yang dipandangi seperti itu hanya tertawa lucu melihat tingkah teman barunya.
"Kamu tampan dan manis." Suzu memuji Kenzo langsung. Membuat pipi putih Kenzo langsung bersemu. Apa gadis Jepang memang sebegitu beraninya? memuji langsung meskipun baru bertemu.
Kenzo yang selalu aktif dan cerewet saja langsung dibuat diam oleh Suzu.
Harumi yang melihat pemandangan itu tersenyum senang. Setidaknya tuan kecilnya sejenak melupakan rasa sakit yang di derita oleh Shilla.
"Siapa anak itu."
"Seperti tak terawat."
"Orang tua juga tak datang."
"Berani sekali mendekati nona Suzu."
"Kalau orang tua nona Suzu tahu, bisa habis itu anak."
"Paling cuma anak beruntung."
"Mana ada uang dia membayar sekolah elit ini."
Banyak sekali cibiran yang ditujukan kepada Kenzo. Harumi yang mendengar merasa panas hatinya. Namun dia sedih tak bisa membela tuan kecilnya saat ini. Tuan kecilnya baru saja mendapatkan senyumnya kembali, Harumi tak ingin karena sikap gegabahnya membuat senyum itu pudar.
Harumi menjadi berpikir, apakah mereka menyekolahkan anak mereka disini karena gengsi? Apakah mereka menyekolahkan di sekolah elit untuk bergaya. Bagaimana dengan kelakuan anak mereka kalau orang tuanya saja langsung merendahkan orang lain, padahal mereka belum saling mengenal. Biarlah, mereka akan langsung berlutut meminta maaf saat tahu bahwa Kenzo adalah calon anak dari Kenji Hayashi, orang terkemuka di negeri ini.
Harumi kembali memperhatikan Kenzo yang sedang asik bercanda dengan teman barunya. Dia tak peduli direndahkan oleh ibu-ibu tukang gosip di sebelahnya. Baginya, senyum tuan kecilnya adalah kebahagiaan tersendiri.
Tiba-tiba saja ada segerombolan anak laki-laki yang mendatangi meja Kenzo. Mereka tak terima gadis cantik seperti Suzu malah dekat dengan anak lemah seperti Kenzo.
Anak yang paling besar di gerombolan itu menggebrak meja Kenzo. Sudah seperti preman yang sedang malak orang lemah. Tatapannya merendahkan, senyumnya mengejek. Sepertinya dia adalah bos diantara anak-anak yang lain. Empat orang yang ada di belakangnya juga ikut-ikutan menatap Kenzo remeh.
Masih kecil tapi kelakuannya sudah bar-bar sekali. Apa orang tua mereka tak pernah mendidiknya. Atau mereka mendidik dengan cara status sosial yang tinggi. Bahwa yang kuat yang akan menang.
"Dasar lemah! Jangan berani-berani mendekati Suzu ku." sang pemimpin gerombolan mencibir Kenzo.
Mendapat tatapan merendahkan kenzo hanya bergeming. Dia masih mengamati situasi. Dia masih membaca sebenarnya apa yang mereka inginkan dari dirinya.
"Jawab! Dasar lemah!"
Sekarang usia mereka baru menginjak angka empat tahun. Namun kelakuan mereka sudah sangat berani. Sebenarnya bagaimana mereka tumbuh. Lingkungan seperti apa. Karena pribadi anak tergantung cara didik dan lingkungan di sekitarnya.
"Arata, kamu tak boleh kasar dengan Kenzo." Suzu merentangkan tangannya seolah melindungi Kenzo yang lemah. Wajahnya yang imut sudah berubah galak menyesuaikan kondisi.
Arata dan Suzu merupakan tetangga, mereka sudah bermain bersama sejak mereka kecil. Arata tak pernah suka dengan orang lain yang mendekati Suzu. Apalagi mengetahui bahwa mereka sudah di jodohkan oleh orang tua masing-masing, Arata semakin protektif kepada Suzu.
Entah apa yang ada di pikiran orang tua mereka. Anak masih belia, masih ingin bermain sudah dihadapkan dengan sebuah perjodohan. Waktu mereka masih panjang, jalan di depan mereka, kita tak pernah tahu. Namun orang tua mereka malah sudah membebani otak mereka dengan hal-hal yang harusnya hanya diketahui oleh orang dewasa.
Arata kembali menatap tajam Kenzo. Bahkan Kenzo ia dorong dengan kasar membuat kursi yang didudukinya tumbang menghempaskan bada kecilnya.
Harumi yang memantau dari luar terkejut. Dia segera menghubungi Leon. Ia tau pasti, nanti akan terjadi sesuatu yang tak di inginkan. Ia tak mungkin menghubungi Tuannya. ia hanya berharap, Leon bisa meluangkan waktunya untuk tuan kecil.
Kenzo hanya diam saja badannya terbentur lantai. Dia menatap Arata tanpa ekspresi.
'Dengar mama sayang. Karate hanya untuk membela diri, dan untuk melindungi yang lemah, jangan pernah memukul sembarangan, karena makna karate adalah sanggup menguasai diri.' Perkataan Shilla terus berputar di ingatan Kenzo.
Kenzo diam menahan diri. Dia tak ingin membuat mamanya susah. Dia tak ingin mamanya kepikiran tentangnya. Dia tak ingin mamanya semakin sakit karena ulahnya.
Arata kembali mendorong Kenzo. Padahal Kenzo masih duduk di lantai. Dia tak marah, juga tak menangis, yang ada hanya raut dingin tanpa ekspresi. Kenzo bangkit berdiri dan membersihkan seragamnya. Dia abaikan Arata yang terlihat amat kesal.
"Kamu bisu?!" Arata mencengkeram seragam Kenzo.
Kenzo hanya diam. Bahkan para orang tua hanya melihat mereka tanpa ingin melerai. Seakan mereka sangat senang Arata menindas anak lemah layaknya Kenzo.
"Jangan diladeni. Jangan diladeni. Jangan diladeni." Kenzo berucap lirih layaknya membaca mantera. Namun saat melihat Suzu didorong dengan kasar karena membelanya, kepalan kecil itu langsung melayang mengenai hidung Arata.
Arata yang tak siap langsung oleng dan menabrak meja di belakangnya. Dia menangis kencang hidungnya berdarah. Orang tua Arata langsung menghampirinya dan menuding-nuding Kenzo.
"Dasar anak nakal. Kamu tak pernah diajari orang tuamu." Seorang ibu berbadan gemuk matanya melotot menatap tajam Kenzo.
"..." Kenzo hanya diam tanpa ada rasa takut.
"Anak yang kasar sekali."
"Anak siapa sih."
"Pantas orang tuanya tak mau mengantarkan."
Berbagai bisikan negatif terucap dari bibir orang-orang. Mereka bahkan melupakan siapa yang memulai perkelahian duluan. Suzu sudah ditarik orang tuanya agar menjauh. Dia sudah menangis karena dorongan Arata tak sengaja membuatnya terbentur.
Suasana hari pertama sekolah yang harusnya penuh suka cita, malah menjadi bencana. Para guru yang harusnya bisa melerai tak bisa berkutik saat para orang tua menggunakan status sosial mereka. Mereka selalu membanggakan tentang kekayaan, kedudukan dan sebagainya. Apalagi orang tua Arata merupakan pendonor dana terbesar di sekolah ini.
Harumi memeluk Kenzo dan menutup telinga bocah itu. Dia tak ingin caci dan maki meruntuhkan mentalnya. Sedangkan Kenzo yang ada di pelukan Harumi hanya menatap Arata dingin saat Arata mengejeknya.
Seorang lelaki berjalan tegap membelah kerumunan. Sorot matanya terlihat marah saat melihat Kenzo di pelukan Harumi. Apalagi dia juga sempat mendengar cemoohan yang di tujukan oleh tuan kecilnya.
"Jadi, apa seperti ini kalian memperlakukan seorang anak kecil?" Leon menatap tajam semua orang tua yang ada di sana.
"Bukankah dia Leon tangan kanan tuan muda Hayashi."
"Untuk apa tangan kanan tuan muda Hayashi kesini."
"Apa dia juga memiliki putra disini."
"Harus dekat dengannya agar koneksi semakin luas."
"Bisa jadi anak perempuanku berjodoh dengannya."
Memang pada dasarnya seorang ibu-ibu yang suka bergosip mulutnya memang tak dapat di kunci. Mereka terus saja bergunjing bahkan saat Leon masih ada di hadapan mereka.
"Ayo sayang kita pulang. Kita bisa mencari sekolah baru." Leon mengulurkan tangannya pada Kenzo.
"Tuan, saya mohon tuan lupakan masalah ini, biarkan tuan Kenzo bersekolah disini." Seorang guru memohon pada Leon. Dia sangat tahu keluarga Hayashi tak dapat di singgung. Kalau Kenzo sampai keluar, itu artinya kehancuran untuk reputasi sekolah mereka.
"Biarkan saja dia pergi. Aku yang tanggung. Suamiku salah seorang petinggi di perusahaan Hayashi. Dia cuma anak dari seorang tangan kanan saja. Tak lebih dari hanya sekadar pelayan." Wanita yang angkuh. Dia tak bisa membaca situasi dan keadaan. Mungkin nanti dia harus merelakan kehidupan glamournya.
"Diamlah." Guru itu tak menggubris perkataan ibu Arata. "Saya mohon tuan. Jangan bawa Kenzo ke sekolah lain." Dia masih ingin menyelamatkan reputasi sekolahnya. Dia tak ingin berurusan dengan keluarga Hayashi. Menakutkan.
"Bagaimana tuan kecil. Apa tuan memaafkan mereka?" Pertanyaan Leon pada Kenzo membuat semua orang terbengong. Kalau Leon saja sopan, berarti status bocah itu lebih tinggi darinya. Mereka semua pucat. mereka tak akan pernah tahu, bahaya apa yang akan menghdang kedepannya.
Bersambung...