
K dan V keluar dari persembunyiannya. Mereka bergegas ke sumber suara pertarungan. Suara tembakan yang bersahut-sahutan memecah keheningan malam. Suara itu menggema mengecoh pergerakan lawan. Bahkan K dan V harus tepat mengambil keputusan agar tak terkecoh oleh suara gema yang ada.
"Apa kamu yakin ke arah sana?" V berhenti sejenak. Dia mendengarkan dengan saksama suara yang mereka timbulkan. "Sial, mendengar bukanlah keahlian ku." V mengumpat kecil. Pasalnya seorang penembak jitu yang penting adalah ketajaman mata bukan ketajaman telinga.
"Percayalah." K menggandeng tangan V agar tak terpisah. Bisa semakin lama jika mereka terpisah di hutan belantara seperti ini.
V melihat ke arah tangan mereka yang saling berkaitan. Hatinya menghangat. Dia tersenyum meski hanya sekilas.
'Sekarang bukan saatnya memikirkan hal-hal di luar jalur.' Batin V menepis pikiran anehnya sendiri.
Mereka berjalan dengan penuh kehati-hatian. Hanya dengan insting saja mereka harus bisa menemukan anggota dari Golden Dragon.
Di perjalanan mereka bertemu dengan lima musuh. Para musuh sangat kegirangan.
"Akhirnya kalian menghantarkan nyawa kalian sendiri." Ujar salah satu musuh yang giginya sudah ompong dua di bagian depan.
Mereka bersenjata lengkap. Siap menerjang kedua orang yang tengah kelelahan karena dari siang berlari dari kejaran musuh.
Kelima orang itu mengepung K dan V. Meraka langsung menodongkan senjata mereka. Mereka tak bodoh, kalau berkelahi meskipun dua banding lima, mereka bisa saja kalah, tapi karena K dan V gak bersenjata, mereka mengambil keuntungan ini dari awal.
"Hitungan ke tiga." K berucap lirih yang hanya bisa didengar oleh V.
V mengangguk sebagai jawaban. Semakin mereka mengulur waktu, mereka akan semakin terpojokkan. Mereka harus menyerang di saat mereka lengah karena kegirangan.
"Satu..." K dan V sama-sama berhitung di dalam hati.
"Dua..." Seolah hati mereka bisa saling mendengar satu sama lain, mereka menghitung secara bersamaan.
"Tiga...!!" K dan V langsung melumpuhkan musuh yang ada di depan mereka masing-masing.
K memegang ujung senjata lawan. K mengarahkannya ke musuh yang ada di seberang.
Karena begitu kaget orang itu menarik pelatuknya tanpa sengaja. Dan peluru yang di tembakkan langsung mengenai kepala temannya dengan telak.
Satu musuh tumbang, tinggal empat orang lagi. K memegang erat senjata musuh. Kaki kanannya menendang tepat ke ulu hati. Musuh itu terpaksa melepaskan senjatanya. Dia terjengkang di tanah akibat tendangan dari K. Dengan gagang senjata yang K pegang, ia langsung memukul wajahnya. Tak cukup satu kali. Namu berkali-kali hingga wajahnya sudah tak dapat dikenali. Darah di sana dan sini. K terus menerus memukul wajah itu hingga tak berbentuk.
V sudah menumbangkan satu musuh. Darah terciprat ke mukanya. Dia menyeringai melihat dua orang tersisa yang ketakutan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aiko, mau kemana kamu!" Ichiro dibuat kesal oleh tingkah Aiko yang semaunya sendiri. Dia memang membebaskan adik angkatnya itu untuk bersenang-senang. Namun juga tak boleh mengabaikan tugas dari pemimpin mereka.
Namun kenyataannya, jiwa Shoping yang dimiliki Aiko tak dapat dicegah oleh siapapun. Apalagi kini dia dapat dengan bebas berbelanja tanpa memikirkan uang. Uang yang datang menghampirinya. Bagaimana dia bisa tak memanfaatkannya, bodoh namanya.
"Kakak ku tersayang, aku tak mengabaikan tugasku, namun biarkan aku bersenang-senang lebih dulu. Oke?!" Aiko mencium pipi Ichiro mesra. "Jadilah kakak yang baik." Aiko menggoda dengan mengelus pipi bekas ciumannya dengan tangannya yang lembut.
"Ingat cari kesempatan untuk bertemu dengan Kenji." Ichiro mengingatkan tujuan awal mereka.
"Siap kapten." Aiko memberi hormat layaknya hormat pada seorang perwira.
***
Saat malam tiba Mamoru merenung sendiri memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Dia masih bingung. Haruskah memberitahu Shilla tentang ayahnya, atau tetap menyembunyikannya hingga akhir hayat.
"K, papa mau bicara sebentar." Mamoru memanggil Keano dan mengajaknya ke ruang kerja Keano.
"Sebentar ya sayang." Keano pamit dan menyerahkan Kenzo pada Shilla.
Shilla hanya mengangguk mendapat kecupan manis lagi dari Keano. 'Aku harap, kamu akan segera menerima aku di hatimu seutuhnya.' Batin Shilla yang mengetahui bahwa Keano masih tetap menyimpan nama Violeta di hatinya.
Keano mengikuti langkah Mamoru. Dari raut wajah yang di tampilkan Mamoru, Keano bisa menebak ini masalah yang serius.
Dia menutup pintu perlahan saat sudah sampai di ruang kerjanya. Mamoru berdiri di depan jendela sambil menatap langit malam tak berbintang. Terlihat sendu dan rindu, namun penuh kekhawatiran. Kaeno tak dapat menebak apa yang dipikirkan oleh papanya. Baru kali ini Mamoru menampilkan ekspresi lain selain wajah dingin dan angkuh.
Keano masih berdiri tak jauh dari Mamoru. Menunggu beliau untuk membuka suara terlebih dahulu.
Mamoru masih setia dalam diam. Dia tau Keano masih menunggunya untuk bicara. Namun dia masih ingin diam seperti ini.
"Papa sampai saat ini tak bisa melupakan Susan." Tiba-tiba setelah berdiam diri selama satu jam, Mamoru membuka suara.
Keano mendengarkan dengan setia apa yang dibicarakan oleh Mamoru tanpa ingin menyela.
"Sampai saat ini, nama Susan selalu terukir dalam hati papa." Mamoru masih memandang langit, seolah di langit malam terukir wajah Susan yang selalu ia rindukan.
"Wanita itu telah pergi membawa hati papa." Mamoru memegang dadanya yang terasa sesak.
Ternyata, bahkan orang seganas dan sekejam Mamoru pun bisa tunduk di hadapan cinta.
"Nama itu masih tersimpan dengan indah disini." Mamoru menoleh ke arah Keano. Dapat dilihat telunjuk Mamoru sedang menunjuk jantungnya sendiri.
"Tak ada wanita lain yang mampu menggantikan. Atau mungkin karena papa tak mau Susan tergantikan."
Keano mendengarkan dengan saksama. Hatinya seolah tersentil. Seolah kini dia sedang disindir dengan kisah papanya.
"Dan siapakah yang ada disini?" Mamoru maju mendekati Keano. Ia menunjuk jantung Keano mengetuknya perlahan.
Pertanyaan Mamoru mengenai Keano dengan telak. Dia hanya diam membisu tak mampu menjawab.
"Apakah V? Ataukah Shilla?" Lagi, Mamoru seperti sedang memojokkan Keano.
"Kamu tau K? Shilla adalah anak dari orang yang sangat papa cintai. Bahkan bila itu kamu, jika kau membuatnya sedih papa tak akan segan untuk turut ikut campur."
Keano menatap Mamoru tak setuju. Dia tak akan pernah menyakiti Shilla. Bahkan seujung rambut pun, Keano tak berniat menyakiti Shilla.
"Jangan menatap dengan tatapan seperti itu. Karena pada kenyataannya, kamu sudah menyakitinya sekali."
"..." Keano berpikir tentang perkataan Mamoru. Kapan kiranya dia menyakiti Shilla.
"Sesaat sebelum Shilla jatuh sakit. Dia melihatmu memandang foto V."
Keano syok. Jadi Shilla sakit karenanya?
"Mantapkan hatimu. Papa tak akan menyuruhmu membuang nama V dari dalam hatimu, karena itu sangat sulit, tapi jangan kau tunjukan itu di hadapan Shilla. Dia gadis yang kuat, meskipun tau ada nama wanita lain dalam hatimu, dia tetap berusaha untuk tetap tersenyum."
Bersambung...