Young Mama

Young Mama
Bab 13: ~Papa Ganteng~



Pagi ini Shilla terpaksa mengajak Kenzo pergi bekerja. Karena hari ini dia tak ada mata kuliah, ia lebih memilih mengambil kerja pagi. Namun karena Bu Farida harus menjenguk cucunya yang sedang sakit, Shilla terpaksa membawa Kenzo bersamanya. Tak mungkin juga dia menitipkan kepada Feli, ia juga sudah di sibukkan dengan skripsinya.


Seperti pagi-pagi sebelumnya, dia akan menyiapkan kebutuhan Kenzo terlebih dahulu, barulah kebutuhannya ia siapkan. Setelah semua beres ia menggendong Kenzo menuju tempat kerjanya.


Kenzo begitu antusias menikmati perjalanan. Apalagi ketika sudah sampai di gedung ibunya bekerja, ia tambah bersemangat di kira sedang di ajak bertamasya. Kenzo meronta-ronta ingin turun dari gendongan ibunya, namun dengan lembut Shilla memberi pengertian Kenzo supaya tak rewel.


Sebelum ia mulai bekerja, ia meminta izin kepada pak Samuel agar di izinkan membawa Kenzo. Tak mungkin ia dengan lancang membawa Kenzo tanpa izin dari atasannya.


"Kamu yakin bisa menyelesaikan pekerjaanmu dengan adanya Kenzo?" Pak Samuel masih meragukan keputusan Shilla. Beliau sudah mengetahui keadaan Shilla dari Rayna keponakannya. Namun baru kali ini ia melihat Kenzo anak dari sahabat keponakannya yang sekarang menjadi bawahannya.


"Saya berjanji ini tak akan mempengaruhi kinerja saya pak." Shilla berucap dengan yakin. Mau tak mau pak Samuel mengizinkan Shilla juga.


Dengan semangat Shilla mengambil peralatan kerjanya. Tak lupa ia memindahkan Kenzo di gendongan belakang. Dengan Kenzo berada si punggungnya, ia akan lebih mudah melakukan pekerjaannya. Pemandangan itu tentu saja menarik perhatian banyak orang. Apalagi teman-teman Shilla begitu peduli padanya, hal itu tentu membuat mereka bertanya langsung kepada yang bersangkutan.


Shilla menjelaskan dengan singkat yang mudah mereka mengerti. Ini sudah jam kerja dan ia tak mau ketahuan bahwa ia sedang bergosip dengan karyawan lain. Dengan perasaan gemas kepada Kenzo mereka meninggalkan Shilla dan kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.


Shilla juga melanjutkan kerjanya. Ia dorong troli peralatannya menaiki lift menuju lantai teratas. Banyak pasang mata yang memperhatikannya. Namun Shilla tak memperdulikan tatapan mereka, toh ia sudah mendapat izin dari atasannya.


Sesampainya lift tiba di lantai yang di maksud, Shilla segera membersihkan satu per satu ruangan yang ada di lantai ini. Sebenarnya di lantai ini tak banyak ruangan yang di gunakan. Hanya ruang kerja para bos besar dan ruang meeting, juga ruang istirahat untuk keluarga Alterio. Mereka punya kamar pribadi sendiri-sendiri di lantai ini. Seperti tuan muda yang baru saja kembali, juga langsung di buatkan ruang khusus untuk istirahatnya.


Beberapa ruang sudah Shilla bersihkan, sampai pada saat ini ia harus membersihkan ruang istirahat dari Keano. Ia langsung masuk ruang itu karena pada jam seperti ini pasti sedang berada di ruang kerja mereka. Sebagai OG tentu ia memiliki kunci cadangan semua ruang yang ia pertanggung jawabkan.


Shilla mulai membersihkan satu per satu perabot yang menghiasi ruangan mewah ini. Tak semewah ruang dari Presdir, namun bagi Shilla yang dari keluarga sederhana, semua ini sangat mewah. Pundaknya sudah begitu lelah, ia turunkan Kenzo dari gendongannya untuk meringankan beban pundaknya. Kenzo yang di turunkan pun begitu bahagia. Ia berlarian kesana-kemari mengabaikan omelan dari sang ibu.


Shilla khawatir kalau Kenzo merusak sesuatu yang ada di sini. Kalau sampai ada barang pecah dan melukai anaknya, dia tak akan rela.


"Kenzo sayang, duduk yang manis ya anak mama, jangan bermain dulu, nanti kita main sama-sama, oke?" Shilla mencoba membujuk anaknya. Namun sepertinya Kenzo sudah asyik bermain sendiri di tempat ini. Lihatlah tawa riangnya, bagaimana mungkin Shilla tega membiarkan tawa itu hilang. Pada akhirnya ia membiarkan Kenzo bermain sesukanya asalkan tak membahayakan dirinya sendiri dan tak membuat kerjaannya bertambah.


"Kenapa bisa berisik sekali?" Keano keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya. Lihatlah bentuk badannya yang begitu menggoda setiap wanita. Perut delapan kotaknya yang meminta untuk di sentuh, apalagi tetesan air yang mengalir dari rambutnya yang menambah kesegaran pesonanya.


Shilla kaget dengan Kemunculan bosnya yang mendadak. Apalagi dengan tampilan bosnya yang seperti itu membuatnya begitu sangat malu. Pipi putihnya terlihat sekali berubah warna merah bak tomat masak. Dengan spontan ia langsung berbalik badan tak berani menatap tubuh indah dari tuan Keano.


"Papa...!!!" Kenzo berlari ke arah Keano. Baik Shilla maupun Keano tentu saja kaget dengan tingkah bocah yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-2. Shilla berbalik lagi hendak menangkap Kenzo, namun naas tangan kecilnya sudah meraih handuk tuan Keano sehingga membuat dia tambah malu setengah mati. Kalau dunia mengizinkan, ingin sekali dia pingsan saat ini juga. Matanya yang masih suci ternoda dengan tak sengaja. Meskipun dia terbiasa memandikan Kenzo, namun tentu saja miliknya tak bisa lagi di bandingkan dengan milik Kenzo yang imut-imut. Shilla langsung menggelengkan kepalanya, di saat seperti ini bagaimana bisa otaknya malah memikirkan hal yang aneh.


Di sisi lain Keano juga sangat terkejut. Selain ada anak kecil yang memanggilnya papa, juga perbuatan yang dilakukan oleh anak kecil tersebut yang membuat dia ingin tenggelam saja di samudra Hindia saat ini juga. Mukanya sudah tak mampu untuk berekspresi. Apalagi adiknya sudah di lihat oleh perempuan asing yang tak di kenalnya. Meskipun dia suka bermain-main, dia tak mengizinkan perempuan sembarangan untuk melihat kebanggaannya. Ia ambil kembali handuk yang tergeletak di lantai. Ia pasang di pinggangnya dan segera menghampiri perempuan di depannya yang masih menahan malu.


"Kenapa kamu begitu malu, bukankah kamu sangat senang melihat adikku?" Keano menghampiri Shilla dan dengan perlahan langkahnya memaksa Shilla semakin mundur membentur dinding. Meskipun sebenarnya dia malu, lebih baik menutupinya dengan menggoda perempuan di depannya agar tak terlihat canggung.


"Ini kamar ku, bahkan kalau aku ingin tidur dengan telanjang kau tak berhak mengaturku." Keano semakin menggoda Shilla yang sudah sangat terpojokkan. Entah kenapa Keano hilang kendali. Sikap yang biasanya tegas dan dingin menguap entah kemana. Apalagi melihat ekspresi Shilla, ia tambah ingin sekali menggodanya.


"Ah benar, ini kamar tuan, dan aku hanya membersihkannya." Shilla mengingat kembali bahwa dia di sini hanya seorang pekerja kasar. "Tapi, kenapa tuan ada di kamar, malah enak-enakan mandi, bukankah ini masih jam kerja?" Shilla merutuki kebodohannya, bagaimana bisa dia menegur bos besarnya, sebagai seorang bos terserah dia mau mandi ataupun tidur di jam kerjanya.


Keano semakin memajukan kepalanya hendak menggoda Shilla, sebelum seorang anak kecil menyelamatkan ibunya dari sang predator.


"Papa... papa..." Kenzo menarik-narik kembali handuk Keano. Kegiatannya pun terganggu oleh makhluk kecil yang menggemaskan namun di mata Keano dia adalah iblis kecil. Ia pegang lilitan handuknya takut kalau sampai hal memalukan itu terulang lagi. Kalau ini di dunia komik, meskipun handuk itu terjatuh lagi pasti akan langsung di sensor dengan gelembung percakapan, sayangnya ini bukanlah komik, kalau hal memalukan itu terulang lagi, sungguh membuat wanita yang ada di depannya ini merasa beruntung menikmati keindahan tubuhnya dengan gratis.


"Bisa kau singkirkan anak kecil ini." Telunjuk Keano mengarah pada Kenzo yang masih memegang ujung handuknya.


"Kalau begitu tuan juga menyingkir dulu." Dengan sedikit keberanian Shilla menatap Keano yang masih mengunci tubuhnya di antara dinding.


Keano menyingkir dan Shilla menggendong Kenzo yang langsung meronta ingin meminta gendong Keano. Ia menangis karena kemauannya tak terpenuhi. Shilla bingung sendiri bagaimana Kenzo bisa bersikap seperti ini. Tak biasanya dia menangis karena ingin ikut dengan orang asing.


"Papa... papa... hiks.. papa..." Kenzo masih meronta di dalam gendongan Shilla.


"Dia bukan papa sayang." Shilla memeluk Kenzo dengan pilu. Mungkin Kenzo sangat ingin memiliki sosok seorang ayah hingga dia mengira tuan Keano adalah papanya.


"Anakmu sangat pintar memilih papanya. Dia memilih papa yang ganteng seperti ku." Mengabaikan sikapnya yang selalu dingin, ternyata Keano juga orang yang super narsis.


Shilla tak menanggapi ocehan Keano. Ia kualahan menenangkan tangisan Kenzo. Kenzo yang biasanya tak mudah ikut dengan orang asing, entah kenapa dengan Keano langsung ingin minta gendong.


Keano yang melihat tangisan Kenzo lama-lama tak tega. Setelah ia memakai celananya, ia raih Kenzo dari gendongan Shilla. Dan secara ajaib, tangisan Kenzo berhenti dan ia kesenangan memeluk dada telanjang Keano.


"Tuan, waktunya untuk me..." Leon yang tak mengetuk pintu dan langsung masuk di kejutkan dengan pemandangan yang ada di dalam. Dia masih mencoba mencerna apa yang baru saja ia lihat. Ada seorang perempuan di sana yang tersipu malu, juga seorang anak kecil yang asik memeluk bosnya. Satu detik dua detik dia masih belum mampu memproses informasi tersebut sampai pada akhirnya dia malu sendiri dan langsung menutup pintu kembali. "Maaf tuan, silahkan di lanjut dulu." Leon berteriak dari luar.


Shilla maupun Kenzo pun saling pandang. Mereka tak mengerti maksud dari Leon. Sampai pada saat mereka sadar dengan apa yang telah terjadi, mereka hanya menghela nafas menanggapi ke salah pahaman ini.


Bersambung...


Selamat membaca teman-teman yang masih setia disini.


Sungguh nikmat yang indah kita dapat berjumpa di bulan yang suci ini. Tak usah banyak bertutur kata, saya selaku author dari young mama mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan bagi kalian semua yang menjalankan.


Sampai jumpa.