
Siang hari Shilla sedang semangat bekerja. Tanpa Keano yang mengganggunya harinya harinya suram. Namun ia tetap harus menjalankan tanggung jawabnya sebagai pekerja kasar di perusahaan ini. Kalau dia kehilangan pekerjaan, ia tak tau lagi harus mencari kemana.
Awalnya, Shilla kira semua berjalan lancar layaknya hari biasanya. Namun tanpa ia ketahui, ada seseorang yang sedang berencana untuk mencelakainya. Yang tak ia sangka, seseorang itu adalah orang yang Shilla anggap sebagai temannya.
Kejadian itu bermula ketika Shilla selesai bekerja pada malam hari. Karena dia seorang OG, tentu saja dia pulang paling terakhir karena harus memastikan semua ruang terkunci. Namun, sampai larut malam ternyata Alexi masih di dalam. Ia memanggil Shilla untuk menyeduhkan kopi sebagai alasannya. Di dalam ruang itu tak hanya ada Alexi, namun ada Xena yang sedang mempersiapkan rencana liciknya.
Shilla tanpa curiga menyeduhkan kopi untuk atasannya sesuai perintahnya. Ia juga beberapa kali di mintai tolong untuk membelikan makanan. Dan sampai puncaknya, Shilla di kunci di ruangan itu. Ia tak bisa keluar tanpa menggunakan kunci cadangannya yang sudah Xena ambil dari saku Shilla.
Xena memberi aba-aba kepada Alexi untuk segera melancarkan serangannya. Ia juga sudah siap dengan kameranya untuk mengabadikan kejadian yang akan datang.
Melihat Alexi yang membuka kancing kemeja satu persatu, Shilla merasakan firasat buruk. Apalagi seringai Xena yang kian menyeramkan membuat Shilla semakin waspada.
"Nona Xena, sebenarnya apa yang mau anda lakukan. Kenapa anda bekerja sama dengan tuan Alexi." Shilla mencoba untuk membuka pikiran Xena barang kali ia berubah pikiran.
"Apa yang mau ku lakukan tentu saja menghancurkanmu. Kamu tak pantas dengan Keano." Xena sudah gelap mata. Ia tak mendengarkan perkataan Shilla.
"Kalau tentang tuan Keano, kita bisa membicarakan setelah beliau kembali nona."
"DIAM...!!!" Xena semakin tak suka melihat wajah Shilla yang memang ia akui lebih cantik. "Aku ingin lihat, apakah Keano masih mau denganmu setelah kakaknya memakai mu." Xena tertawa seperti orang kesetanan. Ia menyuruh Alexi segera melakukan tugasnya.
Alexi yang mendapat aba-aba pun segera melancarkan aksinya. Ia cengkeram pergelangan tangan Shilla dengan kuat membuat Shilla meringis kesakitan.
"Ayo sayang, kita bersenang-senang." Pandangan Alexi sudah penuh dengan kabut nafsu. Ia baru sadar kalau Shilla benar-benar cantik dan seksi. Jari jemarinya sudah akan membuka kancing seragam Shilla. Ia sudah tak tahan menikmati tubuh dari wanita milik adiknya itu.
Tentu saja Shilla tak terima di perlakukan seperti itu. Dengan cekatan ia memiting tangan Alexi membuat sang empunya mengerang kesakitan. Tak lupa pula ia tendang dengan keras senjata kebanggaan para laki-laki. Melihat Alexi begitu kesakitan, sudah dapat di pastikan masa depannya nanti akan terancam.
Xena yang mengambil video dari kejadian itu mundur ketakutan. Ia melupakan bahwa Shilla seorang yang jago bela diri. Ia merutuki kebodohannya karena melupakan poin penting.
"Aku kira nona berbeda dengan wanita kaya kebanyakan, ternyata sama saja." Shilla berkata sinis dan mengambil kunci kamar dari genggaman Xena. Dengan langkah angkuh, Shilla pulang dengan perasaan kecewa.
Dan hari berikutnya, Shilla tak ingin mengungkit kejadian tersebut. Ia memilih untuk mengundurkan diri dari pada masalah yang sama suatu saat mencuat kembali. Mereka yang sudah akrab dengan Shilla tentu saja hanya menyayangkan kepergian Shilla.
Dengan perasaan sabar, Shilla memilih untuk mengundurkan diri. Ia tak ingin masalah yang lebih besar datng menghampirinya.
Alexi yang tak ingin orang tau tentang keburukannya membuat rumor bahwa Shilla menggodanya. Setelah adiknya pergi, dengan tak tau diri Shilla menggoda Alexi. Dan rumor yang beredar begitu cepat menyebar, dan mereka menganggap kepergian Shilla karena penolakan dari Alexi. Hanya sahabat dekatnya saja yang percaya Shilla tak akan melakukan hal seperti itu. Mereka percaya, Shilla berbeda dari kebanyakan wanita uang menginginkan harta.
***
Mengingat kejadian malam itu Shilla benar-benar marah. Sebenarnya ia ingin melupakan kejadian itu, namun Keano malah membawanya kembali dalam memori yang menguras tenaga dan emosi itu.
"Nona, nona, saya benar-benar minta maaf, waktu itu saya terkena bujukan Xena, saya minta maaf nona." Alexi mencoba meminta belas kasihan Shilla. Kali saja Shilla mengasihaninya mengingat Shilla begitu sabar dan penyayang.
"Jangan mencari kambing hitam untuk kesalahan yang di perbuat sendiri."
Keano tersenyum dengan ketegasan yang Shilla tunjukkan. Ia tak menyangka bahwa Shilla begitu pendendam. Namun Keano juga menyadari, siapa juga yang dapat memaafkan perbuatan lelaki lelaki bejat yang mencoba melecehkannya.
"Saya mengakui saya salah nona."
"Oke, bisa di atur. Tapi sebelum itu, aku akan bertanya dulu, apakah 'itumu' sudah sembuh?" Shilla menunjuk bagian ************ Alexi. "Sepertinya kalau satu tendangan lagi aku bisa memikirkan untuk memaafkan mu." Wajah polos Shilla benar-benar tak sesuai dengan kebengisannya.
Bukan hanya Alexi yang ketakutan, bahkan Keano yang ikut membayangkannya saja merasa ngilu. Ia kedepannya harus hati-hati dengan wanita yang ada di hadapannya ini, ternyata dia wanita yang sungguh kejam dengan tampang polos.
"Kamu kenapa Kei?" Shilla menegur Keano yang wajahnya juga ikut pucat.
"Sepertinya aku saja yang akan memberikan dia pelajaran. Dari pada kamu mengotori kaki mu lagi dengan sampah ini." Keano berinisiatif mengambil alih. Ia tak bisa membayangkan bahwa pusaka kebanggan laki-laki mendapat tendangan maut dari Shilla.
"Kalau itu mau mu. Kalau begitu aku pergi. Sudah terlalu lama meninggalkan Kenzo." Shilla keluar dengan hati lapang. Beban berat telah terangkat dengan bantuan Keano.
Keano pergi meninggalkan Alexi yang masih gemetar ketakutan. Apalagi tadi Keano memperlihatkan perbuatannya yang begitu bejad. Semua kelakuan Alexi sudah tersimpan rapi dalam disk. Kalau Alexi macam-macam ia tinggal menyebar luaskan kegiatan playboynya.
Sepeninggalan Keano, Alexi berdiri dengan terhuyung. Ia ingin menemui papanya untuk meminta bantuan. Ia berjalan dengan sempoyongan dengan pikiran yang berkecamuk. Bahkan beberapa karyawan yang melihatnya hanya melihat dengan penuh tanda tanya Alexi yang seperti mayat hidup.
"Pa..." Suara Alexi gemetar ketakutan.
Grigori yang sudah menunggu di depan meja kerjanya hanya menatap Alexi marah. Ia tak habis pikir dengan kelakuan anaknya itu. Dia salah telah memanjakannya dari dulu. Dan kini semua yang terjadi akibat kelalaiannya sebagai orang tua.
Grigori menghampiri putra kesayangan dengan raut muka yang tak dapat di prediksi.
Mengingat kejadian yang telah lalu, Alexi yakin bahwa ayahnya tetap akan memaafkannya. Namun hal yang tak ia duga terjadi saat ini. Tangan yang selalu membelainya kini tengah memukul wajah tampan sang anak. Alexi begitu terkejut, semarah-marahnya papa, ia tak pernah memukulnya.
"Cari Xena, dia harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Semua ini adalah idenya." Grigori begitu marah kepada Xena. Bisa-bisanya ia percaya dengan gadis yang masih muda itu. Dan akibatnya, semua telah kacau.
*
*
*
Shilla mendatangi ruang paman Sam untuk menjemput Kenzo. Namun ruangan itu terlihat sepi tak berpenghuni. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi paman Sam menanyakan keberadaannya. Setelah Shilla tahu bahwa Kenzo di ajak paman Sam ke ruang OB, ia langsung melangkah ke sana. Dari kejauhan Shilla sudah mendengar tawa teman-temannya yang bercanda dengan Kenzo. Anak itu sepertinya juga asik bermain di sana. Memang Kenzo sudah mengenal mereka. Tiap kali ikut bekerja, mereka akan secara bergiliran menemani Kenzo. Padahal Shilla tak ingin merepotkan mereka, namun mereka ingin menjaga Kenzo atas kemauan mereka sendiri. Bagi mereka, Kenzo adalah hiburan ketika penat melanda.
"Asik banget anak mama bermain." Shilla mengagetkan mereka semua dengan kemunculannya yang mendadak.
"Mama." Kenzo berlari memeluk Shilla. "Coklat mama." Kenzo memberikan berbagai macam coklat pada mamanya. Pasti teman-temannya yang memberikannya. Padahal ia sudah pernah menegur mereka, meskipun Kenzo sangat menyukai coklat, namun tak baik untuk giginya jika terlalu berlebihan.
"Baiklah, tapi nanti di simpan ya sayang, makan sedikit demi sedikit."
"Hm..." Kenzo mengangguk mengerti.
Mereka semakin gemas dengan tingkah yang Kenzo tunjukan. Mereka juga mengajak Shilla untuk mengobrol. Sudah lama Shilla tak datang walau hanya sekedar berkunjung, mereka kangen dengan Shilla yang baik dan ramah.
"Jadi ini kerjaan kalian kalau tak ada atasan? ngrumpi bareng-bareng ngomongin orang?" Keano masuk dan mengagetkan seluruh karyawan. Dari suasana yang semula rame berubah menjadi hening dalam sesaat. Mereka tak berani menatap mata Keano yang super tajam.
"Papa... papa..." Kenzo menghampiri Keano memecahkan suasana.
"Anak papa sedang apa?" Keano mengulurkan tangan mengangkat Kenzo dalam pelukannya.
"Main. Tante semua baik, Kenzo suka." Tawa polos Kenzo mampu meluluhkan hati siapapun yang melihatnya.
"Kenzo suka main sama mereka?"
"Iya, Kenzo suka, mereka baik, Kenzo dapat coklat." Dengan polos Kenzo menunjukan coklat yang yang penuh di genggamannya dan juga yang di bawa oleh mamanya.
"Baiklah kalau Kenzo suka. Tapi mainnya lain kali lagi ya, sekarang kita pulang dulu."
"Iya."
"Ayo kita pulang, Kenzo sudah terlihat lelah." Ajak Keano kepada Shilla. "Dan untuk kalian, karena sudah menemani Kenzo, aku akan berikan bonus pada kalian. Apalagi Kenzo begitu menyukai kalian." Keano langsung pergi meninggalkan mereka yang terbengong.
Detik berikutnya mereka sangat berterima kasih pada Keano maupun Kenzo. Mereka tak akan melupakan kebaikan mereka.
Bersambung...