
Kenji dan Violeta berlari dari kejaran musuh. Mereka terus berlari tanpa mempedulikan ranting yang sesekali merobek kulit mereka. Mereka telah dijebak. Dan sekarang musuh sedang mengejar di belakang sana. Mereka tak boleh berhenti atau akan tertangkap oleh musuh.
Musuh terlalu banyak. Hanya mereka berdua tak akan mampu untuk menghadapi mereka. Mereka harus mengulur waktu agar tim bantuan segera datang. Namun tim bantuan pun entah datangnya kapan. Ponsel dan seluruh alat komunikasi rusak total. Kenji tak yakin bahwa D akan mampu melacak lokasi mereka.
"Terus berlari V, paksakan." Kenji menuntun Violeta berlari bersama.
Meskipun Violeta anggota tim Khusus, namun fisiknya tetaplah fisik perempuan. Dia tak bisa dibandingkan dengan Kenji yang sudah mampu memecahkan rekor seluruh anggota. Hanya rekor miliknya yang masih dipegangnya. Tinggal menunggu waktu sedikit untuk diambil juga oleh Kenji.
"Tunggu K, aku tak sanggup lagi." Napas Violeta sudah terputus-putus. Dia sudah tak bisa mengimbangi lari Kenji.
"Naiklah!" Kenji berjongkok di depan Violeta. Dia merelakan punggungnya untuk membawa Violeta. Dia tak mungkin meninggalkan gadisnya disini sendirian. Lebih tak mungkin lagi jika mereka harus bersama diam di tempat seterbuka ini. Bisa langsung ketahuan musuh.
"Apa-apaan K, aku berat, yang ads nanti malah menghambatmu." Violeta tak setuju dengan ide yang di berikan Kenji.
Namun bukan Kenji namanya kalau dia menyerah begitu saja. Tanpa aba-aba dia langsung mengangkat Violeta begitu saja di punggungnya.
"K, apa yang kamu lakukan!" Violeta sedikit memberontak saat tubuhnya dibawa paksa.
"Lebih baik kamu diam V, itu.... terlalu empuk saat kau tak bisa diam."
"Dasar mesum tak tau tempat." Violeta menjitak kepala Kenji halus. Mukanya langsung merona merah. Dia diam saja dan hanya memeluk leher Kenji.
Kenji yang di peluk hanya tersenyum melihat Violeta menurut. Dia berjanji akan membawa Violeta keluar dari situasi ini.
Kenji terus berlari dengan Violeta yang ada di punggungnya. Meski larinya sudah sedikit melambat, namun itu lebih baik dari pada harus berdiam diri di hutan ini.
***
"Dasar tidak becus!!!" Seorang lelaki tengah memarahi anak buahnya.
Dia adalah pemimpin dari musuh yang telah menjebak Kenji.
"Maafkan saya tuan, tapi anak buah saya masih mengejarnya ke dalam hutan, saya bisa pastikan mereka tak kan lolos." Bawahan itu takut-takut melihat mata bengis dari pemimpinnya.
Daichi menendang bawahannya hingga tersungkur. Semua yang ada di sana hanya diam tak bersuara. Mereka tak bisa membantah karena mereka sadar dengan posisi mereka sendiri.
"Kalau kau tak menemukannya, nyawamu yang jadi taruhannya!!!" Daichi mengambil pistol untuk mengancam. Dia letakkan moncong pistol itu ke pelipis sang bawahan.
Yang ditodongkan pistol hanya gemetar ketakutan. Hanya sepersekian detik peluru akan langsung menembus otaknya jika pelatuk itu ditarik.
"Baik tuan, saya akan mengingatnya."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Senyum ceria Kenzo tak lepas dari pandangan Shilla. Dia senang bisa menyaksikan ini meski hanya untuk sesaat sebelum aktifitas kuliahnya dimulai kembali. Dia akan menikmati hari ini. Ingin merekam semua yang terjadi.
Kenzo sudah memiliki banyak teman. Karena keceriaan yang dibawa Kenzo bisa menularkan bahagia pada yang lainnya.
Satu orang yang sepertinya masih sulit menerima popularitas Kenzo. Dialah anak yang suka membuat rusuh dan sok berkuasa. Yang pada akhirnya kalah di tangan Kenzo.
Melihat Arata yang sepertinya tak memiliki teman membuat Kenzo merasa kasihan. Hasil didikan Shilla membuat Kenzo memiliki hati lembut. Meskipun kadang anak itu sulit di atur. Mungkin Gen dari orang tua kandungnya.
Kenzo berjalan mendekati Arata.
"Sepertinya tadi kau hendak berbicara padaku?"
Arata mendongak. Dia hanya tersenyum sinis. Dia tak percaya dengan ketulusan Kenzo. Dia tak pernah benar-benar memiliki teman. Teman hanyalah budak baginya. Dan kalau orang yang lebih tinggi statusnya mendekatinya, dia menganggap bahwa dia sedang diperbudak.
Sebenarnya aturan itu aturan dari mana. Siapa yang mengajarkan anak sekecil Arata sebuah pola pikir yang begitu rumit. Kenapa hanya untuk berteman saja lebih sulit.
Karena didikan orang tua yang salah. Yang menganggap bahwa uang adalah segalanya. Jadi asal kau ada di puncak, kau tak akan pernah tertindas.
Dahi Arata mengernyit. Teman katanya? Apa Arata tak salah mendengar? Dia belum pernah bertemu dengan anak sepolos ini, semua ia anggap teman.
Kenzo pergi meninggalkan Arata dan kembali bermain dengan Suzu.
Shilla mengabadikan momen itu dengan kamera ponselnya. Momen ketika Kenzo bersama teman-teman dan bercanda.
"Asik sekali sih." Keano tiba-tiba muncul di belakang Shilla. Dia menaruh dagunya di pundak Shilla dengan manja.
Shilla dapat merasakan hembusan napas Keano pada lehernya. Dia langsung meremang. Ada gelayar aneh yang belum pernah ia rasakan.
"Motret apa sih?" Keano masih setia menyandarkan dagunya di pundak Shilla. Bahkan dengan sengaja ia mengeluskan kepalanya sendiri pada pipi Shilla.
"Kamu apa tidak malu? Disini Kenji dikenal bengis dan kejam, berdarah dingin, tapi memiliki sifat manja seperti ini?" Shilla memperingatkan Keano.
"Biarin saja. Toh manja cuma sama kamu sayang." Keano mencuri cium pipi kanan Shilla.
Benar-benar tak tahu tempat dan kondisi. Wajah Shilla sudah memerah menahan malu.
***
Seorang gadis cantik turun dari sebuah jet pribadi. Penampilannya sangat elegan. Rambut yang terurai di terbangkan angin membuat kesan lebih padanya.
"Selamat datang di jepang nona Aiko."
"Selamat datang Nona."
Berjalan di samping Aiko, Ichiro menatap para pengawal dengan wajah sombong. Seolah dia benar-benar berdiri di puncak rantai makanan.
"Selamat datang Tuan, lama anda tak kembali sejak ayah anda wafat." Seorang kepercayaan Ichiro menyambut hangat tuannya. "Dan ini adalah adik anda yang anda ceritakan?"
"Benar, mulai saat ini dia akan menjadi nona muda Inoue." Ichiro mengingatkan agar lebih menghormati Aiko.
"Baik tuan."
Ichiro dan Aiko berjalan beriringan. Ichiro sudah lama tak kembali ke negara kelahirannya karena disini ada penguasa nomor satu. Inilah saatnya untuk membalas dendam dan menempati peringkat pertama di Jepang.
Ichiro sudah tak sabar menunggu hal itu. Dimana seorang Kenji akan berakhir dalam keterpurukan. Membayangkannya saja sudah membuat darah Ichiro berdesir.
"Aku tak sabar bertemu dengan Keano lagi." Aiko yang adalah Xena itu menyeringai senang. Selama ini dia belajar mati-matian untuk bisa bersanding dengan Keano. Kini saatnya merebut kembali ada yang harusnya menjadi miliknya, itu menurut Aiko.
***
"Kakak....!" Kanzo berlari ke arah Harumi. "Kenzo hari ini banyak teman baru."
Kenzo menceritakan hal-hal yang tadi di alami di sekolah. Mereka berdua sudah sangat dekat layaknya kakak dan adik.
"Oh ya? Harumi ingin dengar kalau tuan kecil mau cerita." Harumi tak kalah antusiasnya.
Kenzo memukai bercerita dengan menggebu-gebu. Harumi yang mendengarkan mengangguk-angguk dan kadang ikut heboh. Pemandangan seperti ini selalu membuat hati Shilla menghangat.
"Terima kasih. Terima kasih telah hadir di hidupku." Keano memeluk pinggang Shilla. Dia mencium rambut Shilla sayang. Entah kapan hatinya benar-benar untuk gadis itu, namun Keano bersyukur, telah di pertemukan dengan Shilla.
Bersambung...
Maaf semuanya,, karena kesibukan Real Life jadi terhambat buat up.
kemarin juga sempat buat Chat Story baru. Jadi menyita waktu.
Kalau berkenan yuk mampir ke Chat Story Author. Judulnya YOUR NAME. Kisah seorang Author young mama yang mengejar cinta sang Dubber Tuan Zero. Semoga kalian suka ya. 😊😊