
Seorang wanita dengan lihai melemparkan pisau-pisau kecil untuk mengenai sasaran. Meskipun dia tak pandai dalam bela diri, namun kemampuannya menggunakan pisau tak dapat diremehkan. Semua yang melihat kagum. Wanita yang selalu kalah dalam latih tanding bela diri, bisa menyapu bersih seluruh pisau dengan tepat sasaran.
"Bagus Seira. Kamu telah menemukan di mana bidang yang paling kamu kuasai. Tingkatkan lagi. Namun jangan mengabaikan yang lainnya, kamu harus tetap melatih bela diri kamu agar seimbang dengan kemampuan menggunakan pisau mu." Leon bangga anak didiknya menunjukan kemampuan dengan pesat. Ia menepuk bahu Seira menyuruhnya istirahat. Ternyata makiannya selama ini membuahkan hasil. Dia menjadi gadis tangguh dengan semangat juang tinggi. Meskipun dalam bela diri masih jauh di bawah yang lain, namun semangatnya tak bisa di remehkan. Kalau ada yang meremehkannya, berarti orang itu sudah berbuat suatu kebodohan. Dengan semangat yang Seira tunjukan saat ini, suatu saat nanti dia akan berada di atas mereka semua yang meremehkan.
Yang lainnya masih mencoba untuk melakukan yang terbaik. Namun mereka tak sebaik yang dilakukan oleh Seira. Pandangan mereka mengenai Seira sudah sedikit berubah. Mereka lebih menghormatinya dan tak meremehkan lagi.
"Sepertinya ada yang bisa menandingimu dalam menggunakan pisau." Kenji menoel-noel pipi Violeta.
Sejak tadi mereka melihat latihan untuk anggota baru. Mereka langsung tertarik dengan gadis yang bernama Seira ini. Dia akan menjadi partner Violeta di masa depan nanti.
"Tapi tak ada yang lebih baik dari pada dirimu." Violeta mencubit hidung Kenji sayang.
Memang benar, Kenji sangat ahli dalam bela diri, dan senjata yang paling di kuasai adalah pisau. Kenji sudah mengalahkan yang terbaik di bidangnya saat di tes oleh Mamoru, ayah angkat Kenji. Hanya satu yang belum dia tahlukkan, Violeta. Menandingi kehebatan Violeta dalam menembak sangat sulit. Tiap dia mengalahkan rekornya, dengan mudah Violeta mengalahkan lagi. Butuh kesabaran bagi Kenji untuk menjadikan Violeta sebagai kekasihnya.
.
.
.
Waktu terus bergulir. Inilah saatnya untuk anggota baru mengikuti tes. Tes keanggotaan untuk menentukan apakah mereka layak untuk masuk anggota inti, atau mereka harus hengkang dari organisasi ini dengan menyerahkan nyawa mereka.
"Apa kamu sudah mempersiapkan semuanya?" Kenji duduk di ruangannya. Ia melihat kembali profil anggota yang akan mengikuti tes tahun ini. Hanya ada dua puluh orang yang akan mengikuti tes, namun sepertinya situasinya serius. Tes ini memang tidak main-main. Hanya mereka yang memenuhi standar yang dapat masuk menjadi anggota inti dari Golden Dragon.
"Semua telah siap tuan. Tinggal menunggu tuan juga tuan besar Hayashi."
"Oke. Ayo kita kesana lebih dulu."
"Baik tuan."
Mereka berjalan ke tempat tes dilaksanakan. Leon mengekori Kenji sambil terus menjelaskan tes yang akan di lakukan nanti. Di perjalanan mereka berpapasan dengan Mamoru Hayashi. Mereka semua memberi hormat, termasuk Kenji.
"Sepertinya kamu sudah siap untuk menerima kursi ayahmu ini." Mamoru merangkul Kenji bangga. Tes ini di lakukan atas ide dari Kenji. Biasanya hanyalah sebuah tes biasa. Namun setelah Kenji masuk, tes di perketat dan semakin berat. Kenji mau menjaga kualitas anggotanya.
"Jangan terlalu cepat memutuskan ayah. Ayah masih sangat sehat, masih bisa memimpin, dan aku masih belum lulus satu tes lagi."
Mamoru mengangguk mengerti. Anaknya ini sangat keras kepala. Dia benar-benar ingin mengalahkan penembak jitu andalan organisasi. Apakah ini termasuk serakah? Bukankah sebagai pemimpin memang harus serakah?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dari kejauhan terlihat banyak gelembung yang beterbangan di angkasa. Satu gelembung pecah disusul oleh gelembung lainnya. Untunglah Shilla melihat gelembung itu. Ia ingat, bahwa sebelum Kenzo dibawa orang itu, ia sempat meminta mainan gelembung.
"Kei, itu Kenzo. Itu pasti dari tempat Kenzo Kei." Shilla menepuk-nepuk pundak Keano. Ia menunjuk ke arah gelembung yang berterbangan silih berganti.
"Itu gelembung Shilla." Keano justru terlihat seperti orang bingung. Ia tak langsung menangkap maksud Shilla.
"Bodoh. Itu gelembung Kenzo. Dia yang meniup gelembungnya untuk menunjukan posisinya." Shilla menjitak kepala Keano pelan. Kadang orang ini bisa lemot juga ternyata.
"Kamu yakin?" Keano masih ragu.
"Mana ada yang mainan gelembung di tengah labirin penuh ranting ini." Shilla semakin Kesal. Dia berjalan sambil terus melihat arah datangnya gelembung.
"Shilla tunggu!" Keano mengejar Shilla yang sudah jauh di depan. "Segera merapat ke tempat datangnya gelembung, kemungkinan disana Kenzo berada." Keano memberi perintah lewat ponsel yang sedari tadi terhubung dengan Leon. Sehingga Leon bisa meneruskan perintah itu ke anggota lain.
"Baguslah bocah. Terus tiup gelembungnya sampai kami menemukanmu." Keano merasa bangga kepada anak itu.
Shilla maupun Keano terus berlari. Meskipun kadang dia melewati jalan buntu dia tetap berusaha sekuat tenaga untuk segera sampai di tempat anaknya. Firasat Shilla semakin buruk. Ia merasakan jika terjadi sesuatu dengan Kenzo.
"Kamu yang kuat ya sayang, mama pasti segera menemukan kamu." Shilla bergumam sendiri.
"Tenang Shill, Kenzo akan baik-baik saja." Keano mencoba meyakinkan Shilla yang terlihat sangat gusar.
"Tidak Kei. Aku ibunya, aku bisa merasakan kalau terjadi sesuatu dengan Kenzo. Kita harus cepat menemukannya."
Keano bisa melihat kekhawatiran seorang Shilla. Belum pernah ia melihat Shilla kalut seperti ini. Tapi Keano juga kagum, di tengah kekalutan itu ternyata Shilla mampu berpikir jernih.
"Kenapa masih belum ada yang sampai di sana. Apa kalian mau mati?!" Lagi, keano mengancam dengan nyawa mereka.
"SEBENARNYA APA YANG KALIAN LAKUKAN SEMUA. KENAPA MASIH BELUM MENEMUKANNYA. MANA HELIKOPTER YANG SENGAJA KU PANGGIL. KENAPA LAMA SEKALI!!!" Keano sudah habis kesabaran. Dia sengaja memanggil helikopter pribadinya untuk memantau keadaan dari udara. Tapi sepertinya mereka tak dapat diandalkan.
"KENZO!!! KENZO!!! Terus tiup nak, kasih tau mama di mana kamu."
Shilla sudah tak melihat gelembung-gelembung itu lagi. Terakhir terlihat sepertinya sudah tak jauh lagi. Dengan tekad bulat, Shilla menerobos dinding tanaman itu dengan badannya. Dinding tanaman itu merupakan tanaman belukar yang di bentuk sedemikian rupa. Meski badannya merasakan perih karena ranting-ranting yang menggores kulitnya, Shilla sudah tak peduli lagi. Ia ingin segera menemukan Kenzo.
Satu dinding terlewati, bisa di lihat tanaman itu rusak karena Shilla memaksa untuk menerobos. Keano yang melihat langsung panik. Dia berlari mencegah Shilla melakukan hal nekad lagi. Kita tak tahu berapa dinding tumbuhan yang harus di terobos untuk sampai ke tempat Kenzo. Kalau Shilla tetap melakukan itu, bisa-bisa dia pingsan lebih dulu sebelum bertemu Kenzo.
Keano memegang pergelangan Shilla. Ia mencegah saat Shilla hendak menerobos dinding tanaman kedua.
"Apa yang kamu lakukan Shilla! Lihat, seluruh badanmu sudah penuh luka karena tergores. Apa kamu mau membuat Kenzo sedih?!" Keano sedikit menekan perkataannya. Dia tak ingin wanitanya terluka.
"Tapi Kenzo masih disana menunggu ku Kei. Kamu juga harusnya ngerti dong!" Shilla tak mau kalah.
"Oke, Aku yang lebih dulu."
Keano mengambil alih memimpin jalan. Ia mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai pembuka jalan. Tapi matanya tak menemukan apapun. Nihil.
Pada akhirnya ia juga menerobos begitu saja. Ia lebih rela badannya yang penuh luka dari pada badan Shilla. Beruntung Keano memakai jas. Sehingga ranting tak dapat menembus kulitnya. Hanya beberapa gores kecil di bagian wajahnya.
Shilla mengikuti langkah Keano. Ia bisa melihat keseriusan dari pria di depannya. Dia merasa terharu, sangat terharu. Bisa-bisanya lelaki itu menggantikannya untuk terluka.
Karena Keano sudah membuka jalan, Tentu saja Shilla bisa lewat dengan mudah. Dapat di lihat di belakang sana beberapa tembok tanaman labirin sudah rusak. Apakah Keano akan mengganti? Jawabannya tentu saja tidak. Justru sebaliknya, dia malah bisa menuntut taman hiburan ini karena tak menyediakan CCTV di dalam labirin. Kalau saja ada CCTV, pasti pencarian tak akan sesulit ini.
.
.
.
Kenzo sudah kelelahan sebenarnya. Dadanya juga semakin sesak. Nafasnya terputus-putus. Namun suara mamanya masih terdengar jauh. Dia harus terus meniup gelembung itu agar mamanya mengetahui posisinya.
"Mama... sakiiiit." Kenzo merasakan sakit yang teramat sangat di dadanya. Dia sudah tak bisa memaksakan untuk meniup gelembung dengan nafas yang terengah. Kesadarannya juga kian menipis. Pandangannya kabur. Di sisa kesadarannya, dia melihat sosok pria tinggi mendekatinya. Semakin dekat dia bisa melihat dengan jelas wajah itu. Dia adalah pria yang ditabraknya tadi. Pria yang selalu berbicara dengan bahasa yang tak Kenzo mengerti.
"Syukurlah. Om itu datang. Pasti mama sudah tak jauh." Seketika itu Kenzo langsung pingsan.
Ichiro mendekati Kenzo dan mengamati keadaannya. Wajah anak itu sudah terlihat sangat pucat. Padanya juga semakin melemah. Ichiro tersenyum dengan senyum yang tak dapat di ketahui maksud dan tujuannya.
Bersambung....
**Hallo kembali lagi bersama Author. Chapter ini Author dedikasikan buat pembaca yang begitu antusias. Sebenarnya masih mau up besok karena badan yang kurang fit. Tapi melihat antusiasme kalian, dengan kekuatan yang tak seberapa Author tetap memaksakan buat Up. Tapi maaf ya, karena hanya bisa nulis sedikit. Semoga bisa memuaskan dahaga kalian.
Thank's to
@Bastard queen
@Grrycia
Yang langsung memberikan 1000 votenya tanpa ragu.
@Akha kudett
Yang setia menemani Author dari awal sebelum cerita ini memiliki pembaca. Athor ingat sekali, dialah pemberi vote pertama pada cerita ini.
@Novita novita
Pembaca yang baru yang begitu antusias dengan komen-komen yang menggelitik hati Author. Pertama muncul masih di episode awal, beberapa jam sudah ada di episode tengah, dan sudah bisa mengikuti seperti yang lainnya, sepertinya dia ngebut baca. hehehe
Dan untuk kalian yang selalu memberi like, terima kasih banyak. Kalian semua adalah semangat author. Meskipun masih ada pembaca yang tak meninggalkan jejaknya, tapi terima kasih sudah sudi membaca karya Author.
Terima kasih
Selalu tunggu kelanjutannya ya. Muach.