Young Mama

Young Mama
Bab 38: ~Morning Kiss~



"Semuanya bersiap di posisi masing-masing." Kenji memberikan interuksi lewat earphone. Masing-masing dari mereka menggunakan earphone sehingga mereka bisa mendengar apa yang diperintahkan oleh Kenji.


Kenji sudah bersiap di salah satu gedung tertinggi yang berjarak dua kilometer. Sedangkan Violeta juga sudah berada di posisinya yang hanya selisih beberapa gedung dari tempat Kenji berada.


Dalam misi kali ini, Kenji berperan melindungi timnya dari jarak jauh. Selain untuk memenangkan taruhannya dengan Violeta, tapi dia juga sedang diuji oleh Mamoru sebagai sang penembak jitu. Kenji harus siap untuk segala posisi. Entah itu penembak jitu atau pertarungan jarak dekat, Kenji harus menguasai segalanya.


"V, kau harus bersiap menjadi kekasihku." Kenji berbicara kepada Violeta tak melihat situasi. Mereka yang ada di bawah sana tentu saja bisa mendengar apa yang di ucapkan oleh Kenji hingga membuat Violeta sangat malu.


"Tolong fokus Tuan K yang terhormat." Violeta membalas ucapan Kenji dengan nada tegas. Mereka tak tau kalau sekarang seorang V sedang sangat gugup.


"Lihat saja V, hari ini mereka akan menjadi saksi kalau kau akan menjadi kekasihku." Kenji menyeringai yang tentu saja tak ada orang yang melihat.


"Kita lihat saja tuan K."


Para anggota yang mendengar perdebatan mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka berdua itu sama-sama keras kepala. Apa yang mereka inginkan harus tercapai. Kalau sudah menginginkan sesuatu, mereka harus mendapatkannya.


"Mau sampai kapan kalian berdebat, musuh akan kabur duluan kalau menunggu kalian selesai." Suara seseorang yang di kenal dengan nama Leon menginterupsi. Dia malas mendengar mereka berdua berdebat. Atau mungkin, sebenarnya dia hanya iri.


Kenji hanya tertawa mendengar suara Leon yang kesal. Tawa Kenji tentu saja membuat para anggota lain juga tertawa membuat yang ditertawakan menjadi semakin kesal


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kota Jakarta kini sedang dilanda hujan deras. Beberapa daerah terpaksa harus merasakan rumahnya terendam banjir. Sudah agenda setiap tahun untuk daerah yang rawan bencana, apalagi kini curah hujan yang semakin tinggi.


Untung saja tempat tinggal Shilla merupakan tempat yang aman. Meski hujan lebat mendera sepanjang malam, tempat itu masih aman dari bencana banjir.


Hari ini entah kenapa Shilla begitu malas untuk berangkat kuliah. Mungkin karena hujan yang turun dari semalam membuat dia enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Bahkan Kenzo yang biasanya pagi-pagi sudah berisik, sekarang masih asik bergelung memeluk Shilla. Udara yang dingin membuatnya mencari kehangatan di pelukan mamanya.


Jarum jam terus beranjak meninggalkan tempatnya. Dia tak mau berhenti meski hanya untuk beberapa detik saja. Dengan konsisten selalu berdetak setiap detiknya.


Suara ketukan pintu membuyarkan mata Shilla yang masih mengantuk. Dengan hati-hati ia beranjak dari tempat tidur agar tak membangunkan buah hatinya. Dengan mata sayu ia melihat siapa orang di balik pintu. Awalnya ia kira itu adalah Feli, biasanya temannya itu akan usil kalau Shilla bangun terlabat.


Namun dugaannya salah, di hadapannya kini terpampang makhluk tuhan yang di rancang dengan sempurna. Pahatan-pahatan itu sangat memanjakan mata pagi harinya. Wajah yang semula kuyu menahan kantuk, sepersekian detik langsung cerah. Bibirnya yang masih bau khas bangun tidur, ia paksa untuk tersenyum mencairkan suasana canggung.


"Ternyata seorang Shilla juga bisa bermalas-malasan juga ya?" Keano menyeringai.


Dia dengan setelan rapi berdiri di hadapan Shilla yang masih mengenakan piyama tidurnya. Keano memang selalu semangat untuk bekerja. Meski hujan dan badai ia tetap bersemangat untuk bertemu dengan sang pujaan hati. Dengan semangat tinggi dia bangun dan mempersiapkan diri, bahkan dia melewatkan sarapan dan langsung menuju kediaman Shilla. Dan kini yang dia dapatkan, muka bangun tidur Shilla yang terlihat sangat seksi menurut Keano. Kalau saja tak ada makhluk lain disini, mungkin Keano akan langsung menerkamnya dan memakannya. Tahan, tahan, kamu bakanlah binatang buas. Begitulah pikir Keano yang berkecamuk.


"Aku juga manusia, bukan robot." Shilla mendengus yang membuatnya terlihat tambah cantik. "Ngapain pagi-pagi sudah disini?" Shilla mendorong Keano agar pembicaraan mereka tak mengganggu tidur Kenzo.


"Tentu saja untuk memulihkan energi ku yang hilang semalam." Keano langsung memeluk Shilla tak peduli dengan Feli yang memperhatikan dari ruang makan. Ia hirup dalam-dalam aroma kekasihnya yang memabukkan.


"Apa-apaan sih Kei, aku belum mandi tau ngga!" Shilla kesal dengan kelakuan Keano. Dia yang belum mandi membuatnya merasa malu. Terlebih lagi aromanya yang menurutnya begitu asam malah di hirup Keano yang sudah rapi dan wangi.


"Kenapa? Kamu wangi kok!"


"Jangan ngaco. Udah sana kerja, hari ini aku tidak berangkat kuliah. Tapi tetap berangkat seperti biasa kerjanya. Aku masih mau tidur."


"Ikut."


"MIMPI!!!"


Shilla menutup pintu kamarnya dan menenangkan detak jantungnya. Meskipun dia tadi berlaku biasa, tak dapat dipungkiri jika jantungnya berlari maraton. Mungkin seluruh tubuhnya sudah memerah karena darahnya terpompa dengan cepat. Keano benar-benar bisa membuat paginya penuh warna.


Dari dalam kamar, Shilla dapat mendengar Keano sedang berbicara dengan Feli. Meskipun tak terdengar jelas, namun ada beberapa kata yang bisa ia tangkap dari pendengarannya. Seperti pertanyaan Keano tentang makanan favoritnya, minuman favoritnya, sukanya jalan-jalan kemana, dan yang membuat Shilla menahan tawa adalah jawaban Feli. Keano benar-benar dibuat diam seribu bahasa dengan kalimat Feli.


"Sudah kenal hampir sepuluh bulan masih belum tau makanan favoritnya? beneran sayang ngga sih?" Begitulah kalimat Feli yang di tangkap oleh pendengaran Shilla.


Shilla bangga dengan Feli. Dia seperti bisa mengerti kemauannya. Mungkin karena mereka sesama perempuan, jadi lebih mengerti apa yang perempuan kehendaki.


"SUSU!"


Shilla mendengar tukang susu langganannya datang. Dia memang berlangganan susu segar untuk konsumsi setiap hari. Sia akhirnya membuka pintu kamarnya dan keluar untuk memberikan uang selama seminggu ke depan.


Keano mengikuti langkah Shilla. Sampai di depan ia langsung mengenali siapa pengantar susu tersebut.


"Eh, kamu orang baru ya?" Shilla paham betul bahwa yang mengantarkan bukan seseorang yang biasanya.


"Ia nona, saya masih baru, kalau ada komplain bisa langsung ke saya. Saya memang baru pertama kali berjualan seperti ini."


Shilla mengangguk memaklumi. Tak masalah siapapun yang mengantar, asal sampai tujuan.


"Bagus, Ternyata kalian sudah membaur dengan baik. Aku jadi sedikit tenang." Batin Keano melihat tukang antar susu yang tak lain adalah salah satu anggota tim Elit yang bertugas untuk melindungi kekasihnya. Untung saja anggotanya berasal dari berbagai negara, jadi tinggal menyesuaikan saja siapa yang cocok untuk posisi pengintaian.


"Saya permisi dulu nona. Terima kasih telah berlangganan."


"Ia sama-sama." Shilla masuk untuk menyiapkan harinya. "Ngapain masih disini?" Shilla berkata sinis. Ternyata dia juga bisa bersikap Tsundere.


"Oke oke. Ya udah kalau kamu hari ini ngga kuliah, Aku akan jemput kamu siang nanti. Aku pergi dulu." Keano mengalah dan mencium pipi Shilla. " Jangan GeEr, itu untuk Kenzo, karena Kenzo belum bangun jadi tolong sampaikan ciuman tadi ya."


Shilla benar-benar malu. Dia sudah ingin marah karena Keano menciumnya, tapi alasannya juga membuat dia tak bisa berbuat apa-apa.


"Dan ini untuk kamu." Keano langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Shilla yang sudah sangat terkejut. Tak lupa gigitan kecil pada bibir Shilla membuat sang empunya tambah terkejut membuat botol susu yang dipegangnya terjatuh. Untung Keano sigap menangkapnya. "Hati-hati, matanya hampir copot." Keano menyeringai dan meninggalkan Shilla yang masih mematung. Tak lupa botol susu yang ia sempat selamatkan tadi ia taruh di meja teras.


"Sampai kapan bengong terus." Kalimat Feli membuyarkan Shilla dari keterkejutannya.


Bersambung...