
Semua anggota sudah berada di markas besar Golden Dragon. Terlihat muka marah Mamoru membuat mereka ketakutan. Aura yang sangat dominan dan mengintimidasi membuat mereka tak bisa berkutik. Bahkan para anggota seniorpun tak bisa berbuat apa-apa di hadapan Mamoru Hayashi.
"Ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi?" Mamoru duduk di singgasana dengan gagah. Di samping kanan dan kiri ada ajudannya yang siap menyingkirkan siapa saja kalau menyinggungnya. Salah satunya D, di tangannya ia membawa rantai yang terikat pada leher seseorang. Terlihat orang itu sudah babak belur berlumuran darah. Bajunya sudah robek di sana sini. Rambutnya sudah banyak yang pitak bahkan kulitnya mengelupas. Dia adalah salah satu anggota musuh yang tertangkap. Mungkin dia bisa memberikan informasi tentang musuh yang sekarang baru di hadapi.
Para anggota hanya melihatnya dengan miris. Ternyata kekejaman Kenji berasal dari ayah angkatnya. Domba sekalipun jika di besarkan oleh harimau ternyata menjadi liar.
"Izinkan saya berbicara tuan." Leon memberi hormat pada junjungan besarnya. Setelah Mamoru memberikan perintah untuk berbicara, Leon langsung menjelaskan kronologi kejadiannya. "Saya rasa ini merupakan merangkap untuk menangkap tuan Kenji, yang mereka tahu Tuan Kenji adalah tangan kanan anda, bukan anak anda. Kemungkinan mereka ingin tuan Kenji berada di sisi mereka.
*
*
*
Di dalam pesawat Kenji dijamu dengan hormat. Kenji hanya duduk menikmati semua perlakuan yang mereka suguhkan. Tak ada rasa khawatir kalau di dalam minuman atau makanan terdapat racun. Mereka tak akan susah-susah mengundangnya kalau memang ingin membunuhnya. Begitu pikir Kenji.
"Tuan K, tentu anda sudah tahu siapa saya. Butuh korban yang banyak hanya untuk menemui tuan K yang baru saja datang langsung mengguncang seluruh organisasi mafia." Orang itu berkata dengan senyum simpul setelah melihat pesawat yang di tumpangi seluruh anggotanya meledak.
Tentu saja Kenji tahu siapa dia. Saburo Inoue, pemimpin dari Black Demon. Yang menjadi daya tarik Kenji sekarang adalah siapa orang yang ada di belakang Saburo Inoue ini. Dia sulit sekali di lacak keberadaannya. Bahkan yang ada bersama mereka hanyalah orang kecil suruhannya. Saburo Inoue, orang yang akan menjual senjata kepada pihak asing, tentu saja Kenji tak akan membiarkan itu terjadi.
"Suatu kehormatan bagi saya bisa di undang oleh tuan Inoue yang legendaris." Kenji memberi hormat dengan senyum kecilnya. Ia sengaja merendah untuk mengetahui maksud dan tujuan Saburo Inoue.
Saburo Inoue hanya tertawa terbahak mendengar penuturan Kenji. Dia tak pernah menyangka bahwa anak buah dari Mamoru bisa memiliki mulut manis seperti ini. "K, K, aku suka kamu." Kembali Saburo tertawa sebelum menyelesaikan kalimatnya. "Bagaimana kalau kamu mengikuti ku saja. Sebentar lagi Black Demon akan melampaui Golden Dragon, dan akan sangat di sayangkan kalau talenta hebat sepertimu terkubur bersama tua bangka Hayashi itu."
Benar saja. Sesuai perkiraan Kenji. Saburo berusaha merekrutnya. namun Kenji masih ingin memainkan permainan ini lebih jauh, sepertinya menyenangkan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sekarang coba jelaskan siapa kamu sebenarnya." Setelah Shilla tenang, dia langsung menanyakan identitas Keano. Dia ingat bahwa di taman hiburan itu banyak sekali bawahan Keano yang tunduk dan takut padanya. Padahal badan mereka kekar-kekar. Keano juga sangat menakutkan kala itu.
Keano sedikit gugup ketika di tanya soal siapa dia sebenarnya. Rasa takut akan ditinggalkan selalu menghantuinya ketika dia mencoba untuk jujur. Tapi sepertinya kali ini ia tak bisa lolos dari pertanyaan ini. Tatapan wanita di hadapannya sangat tajam. Entah kenapa Keano merasa terintimidasi oleh tatapan itu.
"Jadi?" Shilla terus menekan Keano. Ia tidak akan puas sebelum mendapatkan jawabannya.
Keano menghela nafas pasrah. Ia tak akan dibiarkan lari begitu saja. Ia menceritakan semuanya meski keraguan muncul di hatinya. Ia ceritakan siapa dia sebenarnya, kenapa ia kesini, kenapa ia mengambil alih perusahaan, hingga masa lalunya yang harus jauh dari mamanya. Semua yang telah ia lewati ia ceritakan semuanya. Ia tak ingin menutupi lagi siapa dirinya di hadapan orang yang paling dicintainya. Kalaupun nanti ia di tinggalkan, ia bisa mencari dan mengejarnya lagi hingga dapat.
"...Dan Ichiro yang kamu temui tempo hari adalah musuh ku. Dia ingin balas dendam karena aku telah membunuh ayahnya." Keano mengakhiri kisahnya. Ia melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Shilla. Namun di sana tak ada ekspresi apapun. Datar. Keano mencoba menerka-nerka apa yang ada di otak Shilla.
Keano menunggu respon Shilla. Tapi setelah beberapa menit menunggu, gadis itu tetap saja diam dan menatap Keano tanpa ekspresi. Hal itu malah membuatnya semakin gugup. Padahal berhadapan dengan pejabat penting ataupun kepala mafia lain dia tak pernah segugup ini. Tapi berhadapan dengan gadis ini mampu menggali potensi emosionalnya. Ia bisa gugup, senang, sedih, takut. Memang wanita ini membuatnya kehilangan jati dirinya.
"Katakan sesuatu dong, jangan diam saja." Berbagai kalimat terus berkecamuk dalam pikiran Keano. Ia harap-harap cemas dengan respon yang akan Shilla berikan, tapi malah gadis ini tak memberinya ekspresi apapun. Apa salah Keano sebenarnya.
"Aku harap kamu tak terlalu dekat dengan Ichiro, dia bisa saja memanfaatkan kamu untuk membalaskan dendamnya padaku." Keano mencoba menasehati Shilla.
"Tapi dia sudah menyelamatkan Kenzo. Aku harus berterima kasih padanya." Akhirnya Shilla mengatakan sesuatu.
"Siapa yang tahu Shilla. Bisa saja dia merencanakan semua ini dengan Xena. Siapa yang tahu kalau ternyata mereka berdua sudah saling mengenal."
"Kalau begitu kita akan mengetahuinya saat kita bertemu." Final Shilla.
Keano tak mau berdebat lagi. Emosi Shilla masih belum stabil. Ia takut kalau Shilla tambah marah jika ia terus menyanggah keputusannya.
Keano menghampiri Shilla yang sudah berdiri di samping ranjang Kenzo. Ia peluk dari belakang dan ia hirup dalam-dalam aromanya yang menenangkan. Ia mengerti bahwa informasi yang ia katakan pasti di luar jangkauannya. Shilla butuh waktu untuk memahami semuanya dan menerima. Keano cukup senang, setidaknya dia tak langsung diusir ketika Shilla tahu yang sebenarnya.
Mereka berdiri dalam diam. Saling larut dalam pikiran masing-masing. Untung saja Kenzo sudah tertidur sejak tadi. Kalau tidak, anak itu pasti akan bertanya macam-macam. Saking terlarutnya mereka dalam pikiran, mereka tak menyadari seseorang yang masuk.
Evelyn melihat mereka dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Alexi yang berada di kursi roda pun juga menatap mereka bingung. Suasana di sini begitu canggung. Evelyn juga enggan untuk menegur mereka yang tengah asik berdekapan mengabaikan semua yang ada.
"Kok suasananya seperti ini sih ma?" Alexi bertanya-tanya kepada Evelyn. Meskipun mereka sedang berdekapan, namun ada sesuatu yang mencurigakan.
"Mama juga ngga ngerti. Kemarin masih baik-baik saja." Evelyn meletakan makan malam untuk Keano. Seharian mereka menunggu Kenzo, Evelyn berinisiatif membuatkan makanan agar mereka tetap sehat.
Baik Evelyn dan Alexi masih terus berbisik. Mereka tak berani mendekati Kenzo.
Shilla terusik dengan suara mereka yang saling bercengkrama dalam bisikan. Ia melepaskan dekapan Keano dan melihat siapa yang datang. Mata itu langsung menajam ketika melihat Alexi. Entah kenapa dia ingin marah rasanya. Padahal ia sudah memaafkan perihal dulu Alexi pernah ingin melecehkannya. Tapi kini kemarahan itu datang tiba-tiba. Shilla sendiri tak mengerti kenapa melihat Alexi emosinya langsung tersulut. Kalau bukan karena Evelyn yang berdiri di sampingnya, mungkin sudah dimaki sejak tadi.
Shilla menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Ia coba atur emosinya. Menstabilkan kemarahannya agar tak meledak tiba-tiba.
Alexi bingung sendiri kenapa baru datang langsung mendapat tatapan tajam. Mungkin dia harus minta maaf dengan layak atas kesalahannya dulu. Meskipun hingga sekarang dia masih belum mengingat kejadian yang sebenarnya.
Evelyn mencoba mencairkan suasana. Ia mendekat dan memeluk anak perempuannya yang saat ini perasaannya sedang kacau. Evelyn tahu bagaimana rasanya berjuang sendiri. Setidaknya sekarang Shilla masih memilikinya. Evelyn akan mencoba segala yang terbaik untuk anak-anaknya.
Di dalam pelukan Evelyn, Shilla merasa nyaman. Ia kembali menemukan sosok seorang ibu yang selama ini dirindukannya. Tempat berbagi keluh dan kesah. Shilla bersyukur bisa mengenal Evelyn sebagai mamanya.
Setelah ketegangan yang berlangsung sedikit lama. Evelyn mengajak mereka menyantap makanan yang telah ia buat. Meskipun tatapan tajam Shilla masih mengarah pada Alexi, setidaknya mereka semakin dekat layaknya keluarga sungguhan.
*
*
*
Seorang lelaki dan perempuan bertemu di salah satu kamar hotel. Mereka saling menatap mencari maksud tersembunyi di balik senyum masing-masing.
"Jadi? Ada maksud apa tuan mencari saya. Bahkan kita tak saling mengenal satu sama lain."
"Jangan terlalu curiga seperti itu. Aku hanya ingin menawarkan sebuah kerja sama."
"Kerja sama? Kerja sama seperti apa? Aku tak ingin sebuah kerja sama yang tak menarik."
"Bagaimana kalau ini menyangkut tentang Kenji?"
"Kenji?"
"Ah, di sini dia lebih di kenal sebagai Keano." Lelaki yang tak lain adalah Ichiro itu tersenyum licik.
Wanita di hadapannya tersenyum penuh arti. Ia akan setuju kalau ia bisa mendapatkan Keano. Bagaimanapun caranya, Keano harus menjadi miliknya. Begitulah pikir Xena yang sudah tergila-gila dengan Keano.
Bersambung....