
Beberapa tahun lalu di kota Osaka
Terlihat beberapa orang pemuda saling baku hantam di sebuah gang. Mereka saling memukul satu sama lain bahkan ada yang membawa balok. Seperti pemuda pada umumnya, mereka sedang tawuran memperebutkan daerah kekuasaan. Namun yang terlihat di sini sangat janggal, sekitar enam pemuda berseragam mengeroyok satu orang dengan pakaian seadaanya. Mungkin pemuda kumal itu menyinggung pemuda lain yang lebih kaya.
Seorang pemuda lain lewat di gang itu. Ia melihat perkelahian yang tak seimbang itu. Ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi polisi. Beberapa saat kemudian polisi datang dan menyelamatkan pemuda yang sudah babak belur.
"Kamu tak apa?" pemuda yang melapor kepada polisi menghampiri pemuda yang mukanya sudah tak karuan.
"Muka ku sudah seperti ini, dan kamu masih bertanya tak apa?" pemuda yang sudah di tolong malah menatapnya sinis.
"Maaf, salah pertanyaan. Biar aku antar ke rumah sakit dulu, kita obati lukamu." Pemuda yang tak lain Keano itu menuntunnya untuk membawa ke rumah sakit. "Siapa namamu?"
"Hiroshi Kanagawa." pemuda yang mengaku bernama Hiroshi itu menjawab singkat.
Mereka berdua akhirnya sampai di rumah sakit. Hiroshi langsung mendapatkan penanganan pada lukanya.
Ia meringis kesakitan ketika kapas beroleskan obat itu mengenai kulit memarnya. Sebisa mungkin ia menahan sakit agar tak terlihat lemah di depan orang yang telah menolongnya.
"Kenapa kamu sampai di hajar oleh mereka?" Keano mencoba mencari informasi. "kalau kau tak ingin memberi tau ku tak apa." Keano berdiri hendak meninggalkan Hiroshi, namun tangan Hiroshi yang tak kalah buruknya dengan mukanya menahan kemeja yang di pakai Keano.
Keano melihat mata itu seperti melihat dirinya. Mata yang memohon pertolongan. Namun selama ini ketika Keano menohon kepada sang ayah selalu di abaikan. Kalau kali ini dia juga mengabaikan Hiroshi, apa bedanya dia dengan sang ayah.
Akhirnya Keano memilih untuk duduk menemani Hiroshi. Dia menanyakan kronologi kejadian yang baru saja terjadi. Dengan penuh rasa sakit pada rahangnya, Hiroshi menceritakan secara perlahan pada Keano.
"Mereka memang selalu menindas ku. Kalau aku tak memberikan mereka uang, mereka akan memukul ku." Hiroshi menceritakan sambil terus mengelus pipi lebamnya.
"Dan tadi kau tak memberi mereka uang? itu sebabnya kau di hajar?"
Hiroshi hanya mengangguk membenarkan. Mengetahui hal itu Keano sangat prihatin. Dia sebagai seseorang yang baru saja di buang ke negeri orang, bisa merasakan kepedihan yang di alami oleh Hiroshi ini.
"Hiroshi, bagaimana kalau kau sekolah bersamaku?" Keano mengambil langkah yang sangat besar. Namun dia bisa merasakan bahwa Hiroshi orang yang tau balas budi. Dia yakin Hiroshi tak akan mengkhianatinya.
Ia mengabari sang ibu bahwa dia akan bersekolah bersama temannya. Ia memohon agar sang ibu juga mau menyekolahkan temannya.
Sang ibu yang begitu menyayangi anaknya tak mungkin menolak permintaan putra satu-satunya. Dia putranya namun malah di buang di negeri orang, akhirnya tanpa sepengetahuan suaminya, ia bersedia membiayai teman Keano.
Dengan biaya yang tak sedikit, Hiroshi bersekolah. Ia janji pada dirinya sendiri, dia tak akan pernah meninggalkan Keano, bahkan ketika dia meminta nyawanya dia bersedia memberikannya. Karena Keano lah yang membuat dia bisa belajar dan menikmati indahnya masa muda.
Mereka bersama melewati lika-liku dan kekejaman kota megapolitan ini. Mereka banyak belajar dari kehidupan orang lain. Hingga pada suatu hari mereka bertemu dengan seseorang yang akan mengubah nasib mereka berdua.
.
.
.
"Keano... Keano... lihat, di sana ada seseorang." Hiroshi berteriak pada Keano. Dia melihat ada seorang yang tergeletak berlumuran darah di sebuah trotoar yang sepi.
Ini memang sudah larut malam, lingkungan ini juga tak seramai lingkungan lainnya. Jadi ketika malam tiba, sudah sangat jarang orang yang berlalu lalang disini. Mereka berdua menghampiri orang yang umurnya terlihat seumuran dengan ayah Keano. Matanya terpejam dan di dadanya penuh dengan darah. Namun dari nafasnya, terlihat masih ada tanda kehidupan.
"Hubungi ambulance, kita bawa ke rumah sakit."
Hiroshi mengangguk dan langsung menghubungi ambulance. Sambil menunggu ambulance datang, Keano menekan luka yang ada di dada orang itu agar pendarahannya berkurang. Dalam hati Keano berdoa agar lukanya tak mengenai jantung.
Sekitar sepulun menit kemudian ambulance datang. Mereka berdua di bantu petugas medis mengangkat pasien ke dalam ambulance. Tanpa menunggu aba-aba Keano dan Hiroshi juga naik mengikuti orang itu.
Sampai di rumah sakit, orang itu langsung ditangani oleh dokter. Operasi langsung di jalankan oleh dokter-dokter yang sudah kompeten.
"Apa kalian tau siapa orang itu?" Salah satu dokter keluar dari ruang operasi.
"Tidak pak, kami menemukan beliau di trotoar yang sepi." Keano menjelaskan bagaimana dia bertemu.
"Beliau adalah pengusaha nomer satu di Jepang, untung saja peluru yang mengenainya tidak menembus jantung, kalau sampai terjadi, Jepang pasti sangat berduka." Dokter menjelaskan sambil memberi tau identitas sang pasien. "pihak rumah sakit sudah menghubungi asistennya, kalian jangan pergi dulu, keterangan kalian masih di butuhkan."
"Baik pak. kita akan menunggu di sini."
Setelah proses operasi yang panjang pengusaha paling ternama di jepang yang bernama Mamoru Hayashi kini sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Operasi berjalan sukses dan tinggal menunggu sang pasien siuman.
Keano dan Hiroshi menunggu dengan sabar di sisi ranjang. Tiba-tiba mereka dikagetkan seseorang yang masuk dengan tergesa.
"Apa tuan Hayashi baik-baik saja." Dengan nafas tersengal ia mencoba berbicara menanyakan keadaan pasien.
"Beliau telah melewati masa kritis, tinggal menunggu siuman. Tapi anda siapa?" Keano menanyakan identitas seseorang yang terlihat sangat panik.
"Ah... saya adalah asisten tuan Hayashi. Tapi kalian sendiri siapa?"
Mendengar penjelasan dari Keano, sang asisten terlihat sangat marah. Ia mengambil ponsel dan segera menghubungi seseorang. Dari nada bicaranya, sepertinya orang yang berurusan dengannya tak akan bisa lolos.
"Hallo V, minta Mr. Eyes melacak seseorang yang menyerang tuan besar. Setelah ketemu, Bunuh."
Mendengar perintah dari asisten tuan Hayashi, kedua orang yang tak tau menahu itu terkejut. Begitu seriuskah masalah yang mereka hadapi. Apakah mereka akan ikut terjerumus ke dalam masalah mereka. Begitulah kiranya yang ada di pikiran pemuda yang baru saja lulus kuliah. Belum pernah mereka berurusan dengan sesuatu yang begitu serius apalagi dengan nyawa seseorang.
"Kalian!"
Mereka berdua kaget dan mengangguk dengan cepat. Melihat tingkah kedua orang yang ketakutan itu, sang asisten hanya tertawa kencang. Sangat menyenangkan menggoda orang yang ketakutan.
"Tenang saja, aku tak akan membunuh kalian, justru ingin berterima kasih karena telah menyelamatkan tuan Hayashi."
Kedua orang itu mengangguk bersamaan. Mereka segera pamit karena merasa tertekan dengan aura yang di keluarkan sang asisten. Dan sebelum mereka pergi, sang asisten meminta kontak yang bisa di hubungi. Karena nanti pasti tuan Hayashi menanyakan mereka. Dari pada susah-susah melacak, mending langsung saja minta sekarang.
Keano yang tak ingin berurusan terlalu panjang, ia langsung memberikan nomor kontaknya dan langsung pamit kembali.
"Anak muda yang menarik. Tuan Hayashi pasti menyukainya." terlihat seringai yang begitu menyeramkan.
.
.
.
Satu bulan setelah kejadian yang menegangkan itu Keano kembali menjalani kegiatan normalnya. Ia dan Hiroshi kini sedang mencari pekerjaan di berbagai perusahaan. Setelah lulus kuliah, dia tak ingin membebani ibunya lagi. Ia akan mencari pekerjaan dan akan membuat bangga ibunya.
Mereka berdua kini sedang di depan perusahaan dari keluarga Hayashi. Beberapa jam yang lalu Keano telah di hubungi oleh asisten dari tuan Hayashi. Keano memberi tau kedatangan mereka kepada pusat informasi. Untuk menemui orang besar, tentu saja mereka tidak bisa sembarangan.
"Tuan Hayashi menunggu kalian di ruangannya. Silahkan naik ke lantai paling atas, daei sana akan ada yang membimbing kalian." Informan cantik itu menjelaskan kepada Keano dan Hiroshi.
Mereka berdua berterima kasih dan segera menaiki lift. Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di lantai yang di maksud. Begitu keluar dari lift, mereka sudah di sambut oleh orang-orang yang berjas serba hitam dengan kacamata juga hitam. Sepertinya mereka adalah tim keamanan di perusahaan ini.
Sebelum masuk ke ruang bos besar mereka, Keano dan juga Hiroshi di periksa terlebih dahulu. Setelah semua dirasa aman, barulah mereka berdua di persilahkan menemui tuan Hayashi.
"Masuklah kalian berdua." Tuan Hayashi terlihat sudah sangat sehat.
Keano tersenyum canggung dan mendekat di ikuti Hiroshi yang masih terkagum-kagum oleh ruangan kerja yang super mewah ini. Keano mengingatkan Hiroshi untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri.
"Maaf baru memanggil kalian. Harusnya begitu aku siuman langsung memanggil kalian untuk berterima kasih." Tuan Hayashi memulai pembicaraan.
"Tidak apa tuan. Melihat tuan sekarang sudah sehat saya ikut senang." Keano menimpali.
"Berapa yang kalian inginkan?" Tuan Hayashi langsung masuk ke inti utama pembicaraan. Dia tidak suka berbasa-basi.
"Maaf tuan?" Keano masih belum mengerti arah pembicaraan dari tuan Hayashi.
"Berapa uang yang kalian mau sebagai rasa terima kasihku."
Mendengar hal itu Keano sedikit tersinggung. Dia memang masih miskin tak memiliki uang, namun dia juga masih memiliki hati nurani untuk menolong dengan rasa ikhlas. Kalau sudah di anggap seperti itu, sekalian saja ia manfaatkan kesempatan ini
"Tuan yakin bisa memberikan apa yang saya mau?" Dengan bicara yang sedikit menantang Keano memberanikan diri. Dia tak mau jika harus di remehkan. Cukup ayahnya saja yang meremehkannya.
"Sebutkan dulu apa yang kau mau." tuan Hayashi menyeringai.
"Saya mau perusahaan ini." Tanpa pikir panjang Keano langsung menyebutkan harga yang fantastis. Bahkan Hiroshipun di buat kaget olehnya.
Beberapa senjata langsung mengarah ke kepala Keano. Mereka adalah anak buah dari tuan Hayashi. Mereka baru menurunkan senjatanya setelah di beri tanda oleh bos besar mereka.
Tuan Hayashi tertawa lantang. Baru kali ini dia menghadapi pemuda seperti ini. Terpancar dari matanya sorot yang penuh ambisi. Kalau di asah, pasti akan menjadi orang yang mematikan.
"Kamu sangat menarik anak muda." Tuan Hayashi masih tertawa tak terkendali.
"Apalah arti dari sebuah perusahaan di banding nyawa anda tuan." Keano menantang. Di sampingnya Hiroshi sudah sangat ketakutan.
"Kamu benar. Baiklah, aku akan memberikan perusahaan ku kepadamu kalau kamu lulus tes dariku."
"Saya terima."
Keano dan Hiroshi pamit undur diri. Entah tes apa yang akan mereka lalui, namun sepertinya bukan tes yang sederhana.
Bersambung....