
"Shill, jadi kamu beneran akan pergi ke Jepang?" Saat ini Rayna sedang berada di kontrakan Shilla dengan muka masam. Dia tak menyangka kalau informasi yang dia berikan untuk Keano bisa memisahkan mereka. Kalau tau rencana Keano sebelumnya, dia tak akan memberikan foto Shilla bersama Devan. Rayna sungguh menyesal. Kalau Shilla berada di jepang, Lalu bagaimana nasib nilai-nilainya. Shilla kan merupakan otaknya, tanpa gadis itu, Rayna cuma bisa pasrah dengan nilai-nilainya.
"Ya. Terima kasih karena kamu sudah membuat Keano marah. Jadi dia mengajukan cuti untuk pertukaran mahasiswa ke sana." Shilla tersenyum menang. Sebenarnya dia akan memarahi temannya yang sudah sembarangan menjadi mata Keano. Dia tak menyangka, sahabat baiknya bisa mengkhianatinya seperti ini. Tapi amarah itu luntur seketika. Dia sangat berterimakasih dengan sahabatnya, karenanya dia bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar di kampus impiannya.
Rayna benar-benar putus asa. Dia terduduk lesu tak berdaya. Bahkan Kenzo pun ia abaikan. Wajahnya murung, mulutnya mengerucut. Seperti seorang anak yang hendak ditinggal ibunya.
"Kalau tahu akan begini jadinya, ngga akan aku kasih deh itu foto." Rayna menelungkupkan kepalanya pada meja. Rasanya dia ingin ikut Shilla saja. Tapi di sini saja dia otaknya pas-pasan. Apalagi di luar negeri sana. Bisa bicara pun sudah syukur.
"Makanya jangan rese. Tahu sendiri akibatnya." Shilla menata makanan yang akan mereka santap malam ini. "Kenzo jangan di makan crayonnya sayang." Shilla langsung sigap mengambil crayon yang di bawa Kenzo. Meskipun anak itu anak yang cerdas, namun naluri tumbuh giginya tetap ada. Ketika gusinya gatal dia akan menggigit apapun yang dipegangnya.
"..." Kenzo hanya tersenyum meminta maaf pada Shilla.
Shilla duduk di samping Kenzo yang sedang mewarnai gambarnya. "Ini siapa sayang?" Shilla melihat Kenzo menggambar seorang perempuan dan dua lelaki beda usia. Coretan yang sederhana. Namun di dalamnya penuh makna.
"Papa." Ucap Kenzo sambil menunjuk gambar laki-laki dewasa. "Mama." Telunjuknya beralih pada gambar perempuan yang menggandeng tangan anak kecil. "Kenken." Cengir Kenzo saat menunjuk anak kecil yang ternyata itu adalah dirinya.
Shilla mengagumi gambar Kenzo. Ia memuji hasil karya anaknya untuk yang pertama kali.
"Lalau ini siapa?" Shilla menunjuk gambar seorang lagi yang tak begitu jelas.
"Tante cantik."
"..." Jawaban Kenzo tak di mengerti Shilla. Siapa yang di maksud Kenzo dengan tante cantik. Sepertinya Kenzo tak pernah bertemu dengan seorang wanita yang di panggilnya tante cantik. Kenzo sudah bisa mengenali teman-teman ibunya. Dan dia juga susah hafal namanya. Tapi belum pernah ada yang di panggil dengan sebutan tante cantik.
Sudahlah. Shilla tak ingin bertanya lebih lanjut. Dia tak ingin memberondong pertanyaan pada anaknya. Mungkin itu adalah imajinasi Kenzo saja.
Shilla bangkit meneruskan acara menyiapkan makan malamnya. Dia hanya geleng-geleng kepala melihat Rayna masih setia menelungkupkan kepalanya di meja. Bahkan sesekali dia membenturkan kepalanya pelan pada meja makan itu.
"Kalau mau bunuh diri jangan di sini Ray. Kontrakan ku nanti jadi horor." Shilla meletakkan ikan panggang yang di bumbui kecap asin. Sungguh menggugah selera sekali.
"Shilla...." Tiba-tiba Rayna merengek. Mukanya seperti akan menangis. Ia buat tampang semasam mungkin agar Shilla tak tega dan tak meninggalkannya pergi.
"Ngga mempan!" Shilla cuek dengan tingkah absurd Rayna.
Rayna semakin cemberut. Dia bangkit dan menghampiri Kenzo yang masih asik menggambar. Gambar lain lagi. Sepertinya dia menemukan hobi baru.
"Kenken, bujuk mama dong, jangan pergi ninggalin Tante. Nanti Tante sendirian di sini." Rayna berjongkok di depan Kenzo memohon agar Kenzo bisa merubah jalan pikiran Shilla.
Tentu saja Kenzo yang tak mengerti maksud Rayna hanya menatapnya. Tak ada respon apapun dari Kenzo.
"Aiiiish anak ini." Rayna putus asa. Dia mengajak ngobrol anak kecil yang belum mengerti maksud dan tujuannya. "Mama akan pergi ninggalin Tante." Dengan sabar Rayna menerangkan agar Kenzo mengerti.
"Mama pergi?"
Rayna mengangguk atas pertanyaan Kenzo. "Iya. Dia akan pergi jauh ninggalin tante." Rayna memasang raut muka sedihnya.
"Mama! mama akan pergi?" Kenzo bertanya pada Shilla sedikit kencang karena Shilla masih di dapur.
"Iya sayang." Shilla kembali ke meja makan dengan membawa segelas susu untuk Kenzo.
"Kenzo diajak?"
"Tentu saja Kenzo diajak." Shilla tersenyum melihat muka polos sang anak.
"Kalau begitu biarkan mama pergi Tante. Kan Kenzo juga diajak, jadi ngga papa kalau mama pergi." Kenzo memberikan kesimpulan pada Rayna yang langsung jatuh tersungkur. Harapan satu-satunya ternyata tak bisa diandalkan.
"Nanti Kenken ngga bisa main sama tante lagi lho." Berharap anak kecil itu merubah pikirannya.
"Ngga papa, masih ada mama."
"Yang gendong Kenken?"
"Papa."
"Yang beliin Ice Cream?"
"Mama."
"Yang ngajakin main kuda-kudaan?"
"Papa."
Tanya jawab antara Rayna dan Kenzo berlangsung cukup lama. Namun jawaban Kenzo tetap sama. Meskipun tak ada yang lain, asalkan ada Mama dan Papanya, dia tak ingin yang lain lagi.
"Papa juga ikut kan ma?"
"Tentu saja sayang."
Rayna menyerah. Kenzo ternyata sangat konsisten dengan jawabannya. Pendiriannya sangat teguh. Meski umurnya masih belia, dia dapat mengambil keputusan yang tegas. Rayna kadang bingung sendiri. Anak itu sebenarnya umur berapa. Kenapa kecerdasannya di atas rata-rata untuk anak seusianya. Benar-benar cocok menjadi anaknya Shilla.
Melihat interaksi antara sahabat dan anaknya itu Shilla ingin sekali tertawa. Apalagi Rayna yang merajuk pada anak kecil, benar-benar gaya Rayna sekali.
"Makanya kamu rajin belajar. Kalau ngga belajar ngga lulus-lulus." Shilla menasihati. Namun nasihat itu hanya di tanggapi gerutuan Rayna.
"Sudah yuk makan dulu, sudah siap." Shilla mengangkat Kenzo untuk makan bersama. " Di lanjutkan nanti gambarnya sayang."
"Woaaaaaaah." Mata Rayna berbinar melihat makanan yang terhidang di meja. Sejenak ia melupakan kegalauannya. "Semenjak dapat pacar kaya kamu perbaikan gizi ya Shil?" Rayna menggoda Shilla.
"Enak saja." Shill menjitak Rayna sedikit keras. Membuat Rayna mengaduh meringis. "Ini murni gajiku. Yah lumayan gaji seorang sekretaris." Shilla terkekeh mengingat dari dulu pekerjaannya yang serabutan. Tapi sekarang menjadi seorang sekretaris di perusahaan besar. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Dia juga bisa mengasah kemampuannya agar lebih tajam.
"Kalau begitu saat kamu pergi tidak ada yang mengisi posisi sekretaris?"
"Tidak ada. Sedang di adakan pencarian pekerja."
"Kalau aku daftar diterima ngga ya?"
"Kalau kamu sampai diterima, langsung hancur perusahaan."
Mood Rayna langsung hancur. Dia memang malas belajar. Nilainya juga jelek. Tapi dia pekerja keras kok. Iya. Pekerja keras dalam menghabiskan uang orang tuanya.
Hari ini Shilla mengajak Kenzo untuk pulang ke kampung halaman. Beberapa hari lagi Dia harus berangkat ke Jepang dan tak bisa mengunjungi makam ibunya beberapa waktu. Dia ingin berpamitan kepada ibunya. Juga mengenang kenangan di rumah sederhana tempat ia dibesarkan.
Dia masih mengingat betul rumah yang beberapa tahun lalu ia tinggalkan. Memang debunya menumpuk, tapi keadaannya masih sama. Rumah yang penuh dengan kenangan dia dan ibunya. Tempat Ibunya membesarkannya seorang diri. Kembali kesini Shilla tak dapat membendung air matanya.
Shilla masih berdiri mematung di depan pintu dengan menggandeng tangan Kecil Kenzo. Dia masih enggan untuk membuka pintu kayu berwarna coklat di depannya. Dia masih membayangkan sosok sang ibu akan muncul dari balik pintu ini.
"Kenapa ma?" Kenzo membuyarkan lamunan Shilla. Dia heran dengan sang ibu yang masih saja berdiri diam. "Mama?!" Kenzo menggoyang-goyangkan tangan yang di tuntun Shilla membuatnya sadar dari lamunannya.
"Maaf sayang, mama terbawa suasana." Shilla tersenyum kecil. Tangan bebasnya menghapus lelehan air mata yang tak sengaja tertumpah. Dia begitu merindukan sang bunda. Merindukan tangan yang dulu selalu membelainya. Tangan yang semakin tua semakin mengeriput, namun kehangatan di dalamnya tak pernah berkurang.
Shilla memeluk Kenzo tiba-tiba. Dalam hatinya dia berjanji akan selalu ada untuknya. Dia akan menjadi seorang ibu yang baik untuknya. Yang bisa selalu dia banggakan.
Mereka berpelukan cukup lama. Meski Kenzo tak mengerti kenapa ibunya memeluknya tiba-tiba. Namun kegiatan mereka terganggu oleh suara langkah kaki seseorang yang mendekat.
Kepala Shilla menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang lelaki berbadan tinggi tegap. Wajahnya menunjukkan ketegasan di sana. Sinar matanya penuh misteri yang tersembunyi. Umurnya kira-kira setengah abad. Seumuran dengan ibunya kalau saja masih hidup. Tapi wajah itu, sepertinya adalah orang asing. Jepang? Korea? Entahlah. Shilla bangkit melepaskan pelukan Kenzo dan mendekati lelaki itu yang terus menatapnya dari kejauhan.
"Mencari siapa?" Shilla bertanya dengan bahasa Inggris karena tahu dia adalah orang asing.
"Susan?" Lelaki itu memanggil nama Shilla sebagai Susan, ibunya. Shilla semakin bingung. Pasalnya dia belum pernah mengenal lelaki ini jika memang dia mengenal ibunya.
"Siapa ya?" Shilla menatapnya bingung. Di kepalanya berputar berbagai pertanyaan.
"Susan." Tanpa permisi lelaki itu memeluknya.
Meski tak terlalu jelas Shilla bisa mendengar isak kecil yang keluar dari pria itu. Tentu saja hal itu semakin membuat Shilla kebingungan.
Shilla mendorong pria itu untuk melepaskan pelukannya. "Maaf tuan, tapi saya tak mengenal anda. Jangan tiba-tiba memeluk seperti ini." Shilla mencoba bersabar. Biasanya kalau ada orang yang berbuat kurang ajar langsung saja tendangan melayang ke arah orang itu.
Kenapa? Kenapa Shilla tetap tenang. Entah apa yang membuat Shilla merasa kalau orang yang ada di hadapannya ini bukanlah seorang yang berbahaya. Bukan karena dia tak ingin melukai pria renta. Namun dari sorot matanya terpancar kesedihan dan kerinduan secara bersamaan.
"Susan. Kamu melupakanku?" Pria itu semakin sedih. Terlihat sekilas raut kekecewaan yang memenuhi auranya.
Shilla memahami situasi ini. Lelaki itu mengira dirinya adalah Susan sang ibu.
"Maaf tuan. Tapi saya bukan Susan. Anda salah mengenali orang." Dengan hati-hati Shilla menjelaskan kepadanya. Dia tak ingin menambah kekecewaan di wajah pria itu.
"Bukan Susan?" Lelaki itu menatap lekat-lekat wajah Shilla. Ia absen dari ujung kaki hingga ujung kepala. Memang benar. Ini adalah penampakan Susan ketika dia masih Muda. Cantik dan anggun. Dan mereka tak pernah bertemu sejak dua puluh tahun lebih. Tak mungkin Susan-nya tak bertambah tua sedikitpun. Dia membelai pipi Shilla lembut. Dia tersenyum teduh menenangkan. "Lalu kamu siapa? Kenapa wajah ini mirip sekali dengan Susan?"
"Susan adalah mama saya tuan. Jadi wajar kalau wajah kami memang mirip." Shilla sedikit memundurkan badannya. Tak nyaman rasanya disentuh oleh orang tak di kenal.
"Ah, maaf kalau saya lancang dan membuatmu tak nyaman. Hanya saja aku mengira dirimu adalah Susan. Sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya." Lelaki itu menyimpan tangan yang baru saja membelai pipi Shilla pada saku celananya. Dia benar-benar ceroboh. Mengira gadis muda itu adalah Susan. "Lalu di mana ibumu nak?"
Mendengar pertanyaan dari orang yang belum di kenalnya, wajah Shilla kembali bersedih. Kalau saja ibunya masih berada di sisinya, tentu dia akan berada di pelukannya. Namun Shilla tak ingin terlarut dalam kesedihan. Ibunya akan ikut bersedih melihatnya sedih.
"Mama sudah berada di sisi Tuhan." Shilla tersenyum tegar. Senyum yang mengingatkan pada Susan muda. Sangat cantik.
"Jadi..."
"Benar tuan. Mama sudah lama pergi. Tapi kalau boleh saya tahu, siapa tuan sebenarnya?"
"Astaga. Aku sampai lupa memperkenalkan diri. Saya Mamoru, teman mamamu ketika masih muda." Pria yang ternyata adalah Mamoru itu memperkenalkan diri.
"Ah baik tuan Mamoru. Kalau berkenan saya bisa mengantarkan anda ke makam mama."
"Benarkah?"
"Benar Tuan, makam mama tak jauh dari sini. Pasti mama akan senang teman lamanya menjenguknya. Setahu saya, mama tak pernah mengenalkan teman-temannya semasa beliau hidup."
"Baik. Kalau begitu antarkan aku ke sana."
Shilla mengangguk menanggapi. "Kenzo sayang, ayo kita antar Tuan ini menemui Nenek." Shilla melambaikan tangannya pada Kenzo yang masih mengamati mereka dari teras rumah.
Mendengar panggilan ibunya, Kenzo langsung berlari mendekat.
Mereka bersama-sama mengunjungi makam Susan. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dalam benak mereka yang enggan untuk di tanyakan.
Mereka berjalan beriringan. Mamoru menawarkan Shilla tumpangan. Tentu saja dengan sopan Shilla menerima ajakan itu, toh mereka akan pergi ke tempat yang sama.
Tak membutuhkan waktu yang lama. Cukup sepuluh menit mereka sampai di tempat pemakaman umum. Shilla memimpin jalan menunjukkan tempat Susan beristirahat.
"Siang ma. Shilla datang lagi. Coba tebak siapa yang bersama Shilla kali ini." Shilla langsung berjongkok membelai nisan ibunya.
"Nenek, Kenken datang." Celoteh anak itu mengundang senyum mereka mengembang.
"Dia adalah tuan Mamoru ma. Katanya teman mama, jadi Shilla membawanya kesini menemui mama. Mama seneng kan?"
"Tapi maaf ma, Shilla tak bisa berlama-lama disini. Shilla kesini untuk pamit, mungkin satu atau dua tahun ke depan Shilla tak bisa menemui mama, Shilla mendapat kesempatan pertukaran mahasiswa ke Jepang. Jadi secepatnya Shilla harus berangkat ke sana." Shilla sedih harus meninggalkan ibunya. Namun dia juga harus mengejar cita-citanya. Itulah pesan terakhir Susan ketika dia hendak pergi.
"Jadi dia masih mahasiswi? Mengurus anak? Tapi kenapa aku tak melihat suaminya." Dalam benak Mamoru bertanya-tanya. Namun akan lancang kalau dia menanyakan hal pribadi kepada anak dari temannya itu.
Saat Mamoru berlarut dalam pikirannya, Shilla telah selesai dengan urusannya.
"Silahkan tuan, tapi maaf saya tak bisa menemani." Shilla tersenyum merasa bersalah.
"Tak apa. Sepertinya kamu sibuk."
"Kalau begitu saya pergi dulu tuan."
Mamoru mengangguk. Sepeninggalan Shilla, mamoru berjongkok dan mencium nisan orang yang sangat di rindukannya. Dia sangat merindukan Susan selama lebih dari dua puluh tahun. Dia sempat kehilangan kontak dengan wanita itu. Dia tak berani untuk mencarinya. Sekalinya dia berani, malah yang ia jumpai adalah makamnya. Mamoru benar-benar menyesal.
"Maaf Susan. Maaf sekali. Kalau aku tahu saat itu kau tengah hamil, aku akan mencegah engkau pergi. Maaf Susan." Tangisan Mamoru pecah penuh penyesalan. "Aku berjanji, aku akan menjaganya."
Bersambung...