
**Mohon perhatiannya sebentar. Sekarang pihak mangatoon/noveltoon sudah lebih memperhatikan penulis untuk menindak lanjuti para plagiator. Untuk itu mohon untuk pembaca sekalian kalau kalian menemukan cerita author kesayangan kalian ceritanya di plagiat, segera beri tahu author kalian. Biar segera di tindak lanjuti. Kasihan kalau karya mereka di jiplak dengan seenaknya, para author membuat karya dengan mengorbankan waktu juga memeras otak.
Namun perlu di perhatikan juga, tolong bedakan antara menjiplak dengan terinspirasi ya. Jangan sampai kalian salah lapor.
Dan tolong juga kalau ada pembaca sekalian menemukan cerita ini di aplikasi lain langsung segera beritahu kami, karena author tidak pernah mempublikasikan karya ini di aplikasi yang lain selain disini.
Dan sebenarnya author ini menjadi sedikit paranoid, ini adalah karya sendiri dengan pikiran author sendiri, takutnya kalau ada yang menjiplak dan jiplakannya lebih populer malah author yang di tuduh plagiat. Hiks..hiks..
Ya sudahlah.. Biarlah plagiator mendapatkan ganjarannya. Lebih baik kita lanjutkan saja cerita ini.
Happy reading**...
**********************************************
Terlihat keceriaan dari dua lelaki beda generasi di tepi pantai. Mereka begitu menikmati bermain air tak mempedulikan air laut yang semakin pasang. Tawa keduanya berpadu indah dengan debur ombak yang datang silih berganti. Terlihat seperti ayah dan anak sungguhan, namun siapa sangka kalau mereka hanyalah dua orang yang tak sengaja di pertemukan.
Shilla ikut tersenyum melihat anaknya tertawa lepas. Tak pernah Kenzo begitu bahagia seperti ini. Kalau boleh berharap, dia mau kebahagiaan itu tak pernah pudar. Kalau boleh egois, dia ingin bahwa Keano benar-benar bisa menjadi ayah untuk Kenzo. Namun dia juga sadar, ia tak boleh menaruh harapan terlalu tinggi pada sosok seperti Keano. Dia terlalu tinggi untuk di raih. Ia tak rela kalau terlalu menaruh harapan padanya, suatu saat nanti akan terjatuh terperosok hingga tak mampu untuk bangkit. Biarlah ia menikmati waktu sekarang ini. Izinkan dia untuk bahagia meski sebentar saja. Izinkan Kenzo untuk merasakan sosok ayah sebentar saja.
Tawa keduanya terus bersahutan. Membuat Shilla tak henti-hentinya ikut tersenyum. Ingin sekali Shilla ikut bermain bersama mereka, merasakan layaknya keluarga kecil yang bahagia, namun Shilla tak mau larut dalam kegembiraan ini, ia masih menyadari statusnya. Untuknya, melihat mereka berdua bisa tertawa adalah suatu kebahagiaan yang tiada tara.
"Kalau kamu mau, kenapa tidak ikut ke sana?" Rose yang dari tadi duduk diam bersama Leon menghampiri Shilla dan duduk di sebelahnya. "Aku tak pernah melihat tuan Keano bisa tertawa selepas itu, mukanya benar-benar memancarkan kebahagian yang telah lama hilang."
"Aku juga tak menyangka kalau nona Rose juga bisa bersikap ramah. Awalnya ku kira nona sangat dingin." Shilla tertawa kecil merasa bersalah.
"Jangan melihat sesuatu dari sampulnya. Aku sedikit tersinggung." Rose pura-pura merajuk.
"Maaf." Shilla merasa bersalah. Namun yang sebenarnya terjadi adalah Rose sedang menggodanya. Melihat Shilla menampilkan muka memelas, Rose merasa lucu dan tertawa. Sungguh mengasikkan menggoda gadis polos seperti Shilla.
Yang tak Rose ketahui, tawanya berhasil menarik perhatian seseorang berambut pirang yang sedari tadi duduk sambil menikmati camilan. Tawa yang tak pernah keluar selama beberapa tahun ini mampu membuat Leon terpaku.
"Sejak kapan kamu memperhatikan Rose seperti itu hah?" Selidik Keano.
Kedatangan Keano yang tiba-tiba membuat Leon kaget. Ia merasa malu telah memperhatikan rekan kerjanya.
"Jangan beri tahu dia. Atau dia akan membunuhku." Leon meminta belas kasihan bosnya.
"Bisa di atur." Seringai licik Keano membuat Leon bergidik ngeri.
Keduanya memperhatikan dua orang wanita yang masih mengobrol di sana. Sesekali tawa kedua wanita itu pecah membuat dua orang lelaki yang memperhatikan ikut tersenyum. Mereka bahkan mengabaikan anak kecil yang sedari tadi bermain sendiri dengan asiknya.
Shilla dan Rose masih bertukar pikiran. Shilla tak menyangka bahwa Rose merupakan perempuan yang ramah. penilaian dia terhadap Rose langsung berubah total.
"Sepertinya mereka telah selesai bermain, ayo kita gabung bersama mereka." Rose yang sadar terlebih dahulu bahwa Keano dan Kenzo selesai bermain air mengajak Shilla bergabung dengan yang lainnya. Ajakan Rose di angguki oleh Shilla.
"Kenzo, kamu bermain apa sayang." Shilla mendekati Kenzo yang bermain sendiri. Namun Shilla dikagetkan dengan jari kecil Kenzo yang berdarah. "Kenzo, kamu kenapa nak?!"
Kepanikan Shilla membuat semua orang mendekatinya. Keano juga langsung kaget dengan apa yang ada di hadapannya. Ia merasa bersalah karena mengabaikan Kenzo.
"Kamu tak menangis nak? tak sakit kah?" Shilla membersihkan darah yang keluar dari jari Kenzo. Dia bermain kerang dan kulitnya yang masih tipis tersayat cangkang kerang yang tajam.
"Perih mama... sakit..." Kenzo menahan air matanya tak ingin menangis.
"Tak apa nak, ingin menangis menangislah, mama disini." Shilla memeluk Kenzo dengan sayang.
"Kenzo nangis mama sedih." Kenzo tak ingin membuat Shilla sedih dengan tangisannya. Entah dari mana dia belajar hal seperti itu, namun untuk anak usia yang begitu belia, Kenzo sudah memikirkan perasaan mamanya. Ia semakin bangga dengan anaknya.
"Biar aku antar." Keano menyusul langkah Shilla. "Maafkan aku, karena aku tak memperhatikan Kenzo, dia jadi terluka." Keano sungguh merasa bersalah. "Aku malah memperhatikanmu."
"Tak apa, sebagai mamanya aku juga sudah ceroboh." Tak mungkin Shilla menyalahkan Keano. Karena dia juga bersalah tak memperhatikan Kenzo.
Keano sedikit merasa lega karena Shilla tak menyalahkannya. Meskipun dia tetap merasa bersalah karena Kenzo terluka karenanya, tapi dengan Shilla memaafkannya sedikit mengobati rasa bersalahnya.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat istirahat. Kedua asisten mengikuti mereka di belakang dengan jarak yang agak jauh. Meskipun tangan Kenzo terluka, namun anak itu tetap dalam pendiriannya tak ingin menangis. Padahal darah masih sesekali keluar karena lukanya yang cukup dalam.
Sesampainya di paviliun, dengan cekatan Shilla membalut luka Kenzo. Untung Keano mengikutinya, jadi ia tak kebingungan mencari kotak P3K. Bahkan ketika di tetesi obat pun Kenzo hanya meringis merasakan perih.
Setelah membalut luka, Shilla memandikan Kenzo yang badannya begitu lengket terkena air asin. Tak lupa ia juga sekalian membersihkan diri sendiri.
"Apa tuan akan menunggu di sini?" Shilla berkata sinis. Ia masih mengingat kejadian memalukan tadi siang.
Dengan senyum yang lembut Keano pergi meninggalkan ibu dan anak yang akan mandi.
*
*
*
Langit sudah berubah menjadi gelap. Suasana malam di sini sungguh berbeda dengan malam kota besar. Suasana yang sunyi membuat pikiran menjadi jernih, hati menjadi tenang, penat dan lelah setelah beberapa hari bekerja menjadi terobati.
Shilla melihat anaknya yang sudah terlelap. Hingga malam ini dia masih belum bisa terlelap. Apalagi ada manusia yang dengan seenaknya ikut tidur dan terlelap di ranjangnya. Bagaimana Shilla bisa tidur kalau ada orang asing yang juga memeluk anaknya. Pasalnya, malam ketika Kenzo hendak tidur, ia merengek minta di temani oleh Keano. Shilla yang sudah lelah membujuk Kenzo akhirnya hanya bisa menuruti kemauan anaknya. Jadilah dia sampai sekarang masih belum bisa memejamkan mata. Insting pertahanan dirinya meningkat berkali-kali lipat.
Shilla sebenarnya sudah merasa sangat mengantuk. Namun dia masih tak akan tidur jika Keano masih ada di ranjangnya. Ia memutar otak, bagaimana caranya ia mengusir Keano tanpa sengaja. Dan pada menit berikutnya Shilla mendapatkan sebuah ide yang membutuhkan keberanian besar.
Shilla pura-pura tidur. Ia pejamkan mata seolah-olah dia sudah tertidur pulas. Dan dengan sengaja ia menendang Keano cukup keras hingga Keano harus berguling ke lantai. Ingin rasanya Shilla tertawa, namun ia menahan diri agar tak ketahuan oleh Keano.
Keano yang terjatuh di lantai dengan keras tentu saja kaget. Ia membuka mata dengan paksa dan melihat sekeliling, dan langsung ingat bahwa dia masih di kamar Kenzo. Ia bangkit sambil mengelus pinggangnya yang terhantam lantai. Apalagi tendangan Shilla tadi cukup untuk dia merasakan ngilu yang teramat sangat. Ia melihat Shilla yang tertidur lelap. Ingin marah namun tak bisa. Tak marah namun pinggangnya sungguh seperti akan patah. Karena tak ingin mengganggu kedua orang yang tertidur, ia memutuskan untuk pergi dari kamar itu.
"Untung sayang." Keano berbicara pada Shilla yang masih memejamkan mata. Dengan perlahan ia meninggalkan kamar itu.
Sepeninggalan Keano, Shilla membuka mata. Pipinya bersemu merah. Sepertinya telinganya sudah rusak, hingga mendengar halusinasi. Atau karena Keano yang kerasukan hantu laut akibat terlalu lama main di pantai. Shilla tak dapat menemukan jawabannya. Namun yang pasti, Shilla semakin tak bisa tidur.
Hingga mentari memancarkan sinarnya, ia masih belum bisa tertidur. Semalaman dia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Lihatlah matanya, yang membengkak akibat kurang istirahat. Salahkan Keano yang membuat dia seperti ini. Salah kan Keano atas kata-kata yang tak masuk akalnya.
Shilla bangkit dan segera ke kamar mandi membersihkan muka. Hari masih terlalu pagi untuk membangunkan Kenzo. Lebih baik dia melakukan peregangan, setidaknya bisa mengusir kata-kata Keano yang menghantui semalam suntuk.
Shilla keluar menghirup udara pagi yang masih sejuk. Ia melakukan pemanasan terlebih dahulu agar badannya tak cidera. Seperti meregangkan kepala, tangan, dan kaki merupakan pemanasan wajib sebelum belajar bela diri. Setelah di rasa cukup, ia mulai melakukan pukulan. Karena tak ada sasaran, ia melakukan pukulan kosong. Pukulan perut pukulan kepala ia lakukan berkali-kali. Setelah melakukan pukulan, ia melakukan tendangan. Tendangan bawah tendangan perut tendangan atas ia lakukan dengan serius. Tak lupa juga ia melatih tendangan memutar, tendangan andalan Shilla. Tendangan yang membuat dia jadi juara dunia dua tahun lalu. Rasanya dia rindu dengan perasaan itu, perasaan ketika semua bersorak menyebut namanya, perasaan ketika akan menghadapi pertandingan. Namun sedikitpun dia tak pernah menyesal, Karena Kenzo merupakan hadiah untuknya.
Dari lantai atas ada sepasang mata yang dari tadi sudah memperhatikan Shilla. Ia semakin kagum dengan ketangguhan gadis itu. Ia juga melihat pancaran semangat yang masih membara untuk jadi juara, namun ia korbankan hobinya demi anak yang tak di kandungnya, sungguh wanita yang tangguh dan penuh kasih sayang. Bahkan kasih sayangnya melebihi seorang ibu kandung, karena banyak ibu yang membuang anaknya yang tak bersalah demi masa depan mereka sendiri.
Semakin Keano mengenal Shilla, semakin meluluhkan hatinya yang sudah lama mengeras. Tanpa Keano sadari, perasaannya sudah jatuh semakin dalam.
"Sungguh di sayangkan, bakatnya harus terhenti." Leon memberi komentar. Ia mendekati Keano dan bersama melihat Shilla yang masih giat berlatih.
"Bocah itu sungguh beruntung bertemu dengan dia. Seorang perempuan muda yang rela mengorbankan gelar juara dunianya hanya demi dia."
Leon mengangguk membenarkan pendapat Keano. Kedepannya, Keano akan lebih sering memperhatikan wanitanya. Tak akan ia biarkan wanita dan anaknya terlantar. Namun, ini masih belum saatnya.
Bersambung...