Young Mama

Young Mama
Bab 53: ~Kesabaran tak akan Mengkhianati~



Makan malam yang sangat meriah. Sebuah keluarga yang didambakan setiap insan. Dengan tangan kecilnya Kenzo memegang paha ayam kesukaannya. Mulutnya penuh sesak. Pipinya menggembung semakin lucu. Sesekali ia tersedak karena terlalu banyak ayam yang ada di dalam mulutnya.


"Ya ampun sayang, pelan-pelan, masih banyak ayamnya, jangan terburu-buru." Shilla memberikan air putih kepada Kenzo dengan sabar.


Tangan kecil itu menyuapi ayam ke mulut Shilla. Tentu saja Shilla menyambut baik suapan anaknya. Mereka membuat iri semua yang ada di meja makan itu.


"Kok papa ngga disuapin?" Keano seolah-olah merajuk. Mulutnya ia buat cemberut. Jatuhnya malah mukanya terlihat aneh mengundang tawa Kenzo.


"Kamu cemburuan banget sih nak." Evelyn merasa lucu melihat tingkah Keano. "Nih mama yang suapin kamu." Dengan sendok penuh nasi, Evelin menyodorkannya di depan mulut Keano.


Tentu saja Keano langsung mendelik tak suka. Bisa-bisanya mamanya menurunkan wibawanya di depan menantunya.


"Kenapa?" Evelyn pura-pura bodoh.


"Mama ngga peka banget sih."


Mereka semua tertawa bersama. Kehangatan sebuah keluarga yang sudah lama tak mereka rasakan, kini perlahan kembali. Mereka menemukan kepingan-kepingan yang telah lama hilang. Mereka saling melengkapi satu sama lain.


"Tapi aku penasaran akan sesuatu." Raut muka Keano tiba-tiba menjadi serius. Semua mata fokus pada kalimat yang akan Keano katakan selanjutnya.


"Apa?" Mereka serempak bertanya.


"Kamu beneran membuang anakmu sendiri?"


Mendengar pertanyaan untuk Alexi, Yang bersangkutan hanya diam terbengong tak mengerti harus merespon apa. Jangankan untuk mengingat tentang membuang anak, dia berhubungan dengan siapa saja dia lupa.


"Kamu mendengar dari siapa nak?" Evelyn mencairkan suasana dengan bertanya dari maka kabar itu berasal.


"Semua orang di perusahaan membicarakannya." Dengan santai Keano memberitahu ibunya.


"Kamu benar-benar tak mengingatnya nak?" Evelyn beralih pada Alexi.


Alexi hanya menggelengkan kepalanya. Hingga sekarang dia belum menemukan memory masa lalunya.


"Dengar nak, sekitar tiga tahun yang lalu seorang perempuan datang kesini untuk meminta pertanggung jawabanmu, tapi ayahmu tentu tak setuju, dia langsung mengusir perempuan yang menggendong anak kecil itu. Entah bagaimana nasib perempuan itu sekarang. Sejak saat itu dia tak pernah kembali lagi. Dan kamu pun seperti tak peduli dengannya." Evelyn menerawang kejadian yang telah lalu. Dia benar-benar kasihan dengan wanita itu. Membesarkan seorang anak sendirian bukan perkara mudah.


Mendengar cerita sari Evelyn, Alexi langsung membeku. Dia sangat tak nyaman mendengar cerita masa lalunya. Dia berharap lebih baik tak mengingat semuanya dari pada mengingat kenangan buruk yang telah ia lakukan.


"Jadi aku sebenarnya memiliki seorang anak?" Alexi berkata lirih. Hatinya terketuk pelan. Melihat Kenzo yang begitu lucu, mungkin anaknya juga akan lucu seperti itu.


Suasana menjadi canggung. Yang ada hanya suara piring berdenting akibat ulah Kenzo. Anak itu tak mengerti urusan orang dewasa, dia hanya menikmati makanan yang tersaji di hadapannya.


"Kok kalian jadi diam-diamman seperti itu?" Evelyn mencoba mencairkan suasana. Dia tak enak hati, akibat ceritanya suasana malah menjadi seperti ini. "Kalian serius banget sih. Waaaaaah berarti mama hebat ya dalam membawakan cerita." Evelyn tertawa kecil. Melihat muka mereka yang serius dia ingin sekali tertawa.


"Ma?" Keano merasakan sesuatu yang salah sepertinya.


Evelyn tak tahan lagi. Dia tertawa lepas melihat muka mereka yang terlihat lucu.


"Kok mama malah tertawa?" Shilla ikut bertanya-tanya.


"Habis kalian lucu banget sih. Mana ada Alexi punya anak." Evelyn masih tertawa akibat kejahilannya.


"Maksudnya?" Mereka serempak bertanya kepada Evelyn.


"Memang ada perempuan yang mengaku melahirkan anak Alexi. Tapi itu bukan anaknya. Karena terlalu banyak wanita yang dia kencani, mereka memanfaatkan alasan itu untuk menjebak Alexi. Tentu saja Grigori tak akan membiarkan itu. Dia langsung melakukan tes DNA kepada anak itu, hasilnya dia bukanlah keturunan keluarga ini." Evelyn menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


Alexi bernafas lega. Setidaknya belum ada benih yang tumbuh hingga sekarang. Kedepannya dia akan berubah dan lebih berhati-hati. Sudah saatnya dia berubah dan menjadi lebih dewasa. Dia tak ingin kalah dengan adiknya. Bodoh sekali dia dulu, ingin menghancurkan persaudaraan hanya demi sebuah harta.


Akhirnya mereka kembali menikmati makan malam mereka dengan penuh suka cita.


*


*


*


Baik Keano maupun Shilla sudah kembali ke kediaman masing-masing. Meninggalkan Evelyn yang masih menemani Alexi untuk di urut kakinya. Sebenarnya Alexi tak mau di urut, menurutnya cara itu terlalu primitif, tapi Evelyn tetap menyarankan sesuai saran dari mbak Imah, semoga saja manjur.


Sudah berjalan setengah jam namun sepertinya masih belum ada reaksi apa-apa. Alexi masih belum bisa merasakan kakinya. Atau mungkin karena ini baru pertama kali di urut jadi hasilnya belum terlihat.


"Ma, Alexi sangat penasaran akan suatu hal." Di sela-sela waktu Alexi ingin menanyakan sesuatu yang terus mengganjal pikirannya.


"Apa sayang?" Sambil mengupas buah apel Evelyn merespon pertanyaan Alexi.


"Alexi merasa aneh. Menurut mereka, dulu aku begitu kejam sama mama, sama siapapun, tak pernah memikirkan perasaan orang lain, termasuk perasaan mama, tapi kenapa saat aku terluka seperti ini mama begitu baik?"


Mendengar pertanyaan panjang Alexi, Evelyn tersenyum lembut. Ia letakan buah apel dan pisaunya pada piring. Ia mendekati dan mengelus puncak kepala Alexi sayang. Dulu belum bisa memberikan kasih sayang yang semestinya, kini kesempatan itu akhirnya datang.


"Kalau mama membalas kejahatan dengan kejahatan tidak akan pernah ada ujungnya. Ibarat sebuah novel, jika mereka saling dendam, maka tak akan pernah tamat. Bosan dong yang baca."


"Seriuuuuus ma, kenapa jadi bahas novel." Alexi cemberut. Kalau dia kekanakan seperti ini terlihat lucu juga. Tak ada Alexi yang kejam dan selalu menatapnya sinis.


"loh, kan mama benar?" Evelyn masih saja menjahili Alexi, membuat wajah yang sudah sayu karena mengantuk semakin terlihat kusut.


"Serius ma, kenapa mama bisa baik banget sama Alexi. Melihat tatapan Keano saat pertama aku sadar, dia terlihat sangat membenciku waktu itu. Hal itu menjelaskan kalau aku di masa lalu begitu buruk." wajah Alexi semakin lesu. Dia benar-benar tak ingin mengingat masa lalunya kalau itu buruk.


"Karena mama tak ingin orang lain berada di posisi mama maupun Keano." Evelyn tersenyum menenangkan. Dia tahu, pasti Alexi akan merasa bersalah. Cukup dia saja yang merasakan pahitnya di khianati. Jangan samai anak-anaknya juga ikut merasakan.


Alexi menangis dalam diam. Dia tak tahu harus membalas dengan apa kebaikan hati Evelyn. Orang yang selama ini ia jahati malah memperlakukannya dengan sangat baik. Bahkan rumor juga mengatakan, bahwa ibunya lah yang merebut kasih sayang dari suami wanita ini. Alexi tak habis pikir, sebenarnya terbuat dari apa hati perempuan ini, kenapa begitu baik tak menaruh dendam sedikitpun.


"Maaf ma, maaf." Alexi mengambil tangan Evelyn menciuminya. Dia menangis sesenggukan. Bahkan tukang urut yang melihatnya juga ikut terlarut dalam situasi ini. "Maafkan Alexi yang sudah sangat jahat. Maafkan Ibu kandung Alexi yang sudah menjahati mama." Alexi terus menangis. Tak ada yang menyangka bahwa seorang Alexi sang predator perempuan bisa terketuk hatinya oleh kasih sayang Evelyn.


"Kamu mengingat kakau mama bukan ibu kandungmu?" Evelyn sedikit terkejut dengan ucapan Alexi.


Alexi hanya menggeleng. "Banyak yang membicarakan itu ma, meskipun Alexi sekarang masih lumpuh, tapi Alexi tidak tuli."


"Dan kamu tak membenci mama yang bukan mama kandungmu?"


"Aku terlalu malu untuk membenci orang sebaik mama. Kalau bukan mama, siapa lagi orang yang akan merawat anak dari selingkuhan suaminya?" Alexi tersenyum kecut dengan keadaanya.


Evelyn menangis haru. Dia kira ia akan kehilangan Alexi lagi, tapi sepertinya tidak. Kesabarannya membuahkan hasil. Dia peluk dengan sayang anaknya. Dia bahagia sekali, memiliki tiga orang anak yang sangat baik. Meskipun dua diantaranya bukan lahir dari rahimnya sendiri.


"Mama ngga membenci Alexi?"


"Kalau mama membenci Alexi, untuk apa mama merawatmu hingga saat ini. Meskipun kamu lahir dari rahim perempuan yang telah menyakiti hatiku, tapi kamu tak pernah salah. Seorang anak tak bisa memilih untuk terlahir dari rahim siapa. Kalau mama harus membenci seseorang, itu adalah ayahmu. Karena seorang perempuan tak akan masuk ke dalam rumah tangga orang lain jika sang laki-laki tak pernah memberinya kesempatan. Jadi kamu jangan seperti ayahmu. Jika kamu sudah menemukan seorang yang kamu cintai, jangan pernah memberi kesempatan untuk perempuan lain masuk di antara kalian, karena bukan hanya pasanganmu saja yang terluka, melainkan perempuan yang kamu beri harapanpun akan terluka." Evelyn memberi nasihat pada Alexi panjang lebar.


Alexi diam mendengarkan dengan seksama. Dia mencerna nasihat yang baru saja ia terima. Ia akan mengingatnya. Ia tak akan lagi mempermainkan perasaan perempuan. Ia harus berubah dan memiliki perempuan yang siap hidup bersamanya. Terima kasih. Terima kasih mama Evelyn, kesabaranmu telah meruntuhkan dinding angkuh seorang Alexi.


Bersambung.....