
Perusahaan semakin maju. Campur tangan Keano membuat perusahaan berkembang pesat. Padahal hanya beberapa bulan dia mengambil alih, namun kenaikan yang di hasilkan begitu mengagumkan. Para dewan memuji keberhasilan Keano. Masih muda namun bisa di andalkan.
Tentu saja pujian itu pasti di iringi oleh orang yang iri. Kursi yang harusnya Alexi duduki malah sekarang sedang di nikmati oleh adiknya. Dia sedikit menyesal dengan kelakuannya dulu. Kalau saja dia serius mengelola perusahaan, Keano tidak akan bisa mengambil alih. Namun kini semuanya terlambat. Keano sudah menuju puncak kejayaan, tinggal selangkah lagi dia bisa menyingkirkan Grigori ayahnya.
Meskipun sebenarnya untuk saat ini bisa langsung mengambil alih, namun Keano tak akan melakukan itu. Ia akan bermain-main dulu dengan mereka yang telah mencampakannya, mungkin bisa mengurangi rasa dendam yang ada di hatinya.
"Sialan, semakin hari semakin menjadi saja anak itu hah!" Alexi marah dan para wanitanya takut. Mungkin sebentar lagi Alexi akan serius untuk melawan Keano.
"Lebih baik kamu minum dulu." Seorang wanita cantik menyerahkan minuman dengan memperlihatkan belahan dadanya yang menggoda iman.
"Ah, kau semakin seksi saja." Alexi mencium pipi wanita itu, membuat yang lain iri dan mencari perhatian Alexi juga.
Memang, yang namanya lelaki buaya tak pernah berubah. Banyak wanita yang di kencaninya, bahkan tak jarang mereka saling bertengkar hanya untuk memperoleh kedudukan special di sisi Alexi. Namun, Pria itu hanya menjadikan wanita sebagai bahan mainan saja. Bahkan Keysha yang akan menjadi tunangannya saja di permainkan begitu saja.
*
*
*
Keano masih sibuk membereskan barangnya. Ia akan segera meninggalkan Indonesia karena ada insiden yang terjadi di Golden Dragon yang di pimpinnya. Ia tak sepenuhnya meninggalkan, ia akan secara berkala memantau pekerjaan disini. Bagaimanapun perusahaan ini masih belum dikuasainnya, jika sudah saatnya, ia akan menguasai dan akan langsung menjadikan perusahaan ini anak cabang miliknya.
"Apa tuan tidak memberi tahu nona Shilla terlebih dahulu?" Leon mengingatkan. Ia tak ingin Keano menyesal nantinya.
"Tak ada waktu. Kita harus segera terbang pulang untuk memeriksa keadaan."
"Baik tuan. Beraninya geng kecil seperti mereka mengusik kita." kata Leon penuh amarah.
Di dalam perjalanan Keano mengambil ponselnya. ia menulis beberapa kalimat yang di tujukan kepada Shilla sang wanita pujaannya.
'Maaf aku tak menunggumu dulu. Namun aku harus terbang ke Jepang sekarang juga.'
'Tunggu aku.'
'Jaga hatiku.'
'Salam sayang untuk jagoan kecilku.'
'Aku akan kembali.'
Keano kembali menaruh ponselnya dan melanjutkan perjalanan yang tak di ketahui akan berapa lama.
Di waktu yang bersamaan, Shilla yang sedang belajar di kampus merasakan ponselnya bergetar berkali-kali. Ia mengambil dan membaca semua pesan yang di kirim oleh Keano. Dahi Shilla mengernyit, ia langsung berfikir mungkin Keano pergi karena ada urusan yang tak bisa di tinggal. Dengan secepat kilat Shilla membalas semua pesan itu tanpa ketahuan oleh dosen.
'Terbang aja yang jauh.'
'Aku tidak suka menunggu.'
'Bawa aja hatimu kembali.'
'Siapa yang jagoan kecilmu?'
'Jangan pernah kembali.'
Shilla benar-benar lain di mulut lain di hati. Meskipun ia membalas dangan nada sarkas, ia tetap mendoakan Keano agar perjalanannya lancar. Untuk urusan menunggu, biarlah waktu yang menjawabnya. Beruntung Shilla belum menyerahkan semua hati dan perasaannya untuk Keano, jadi ketika nanti Keano tak kembali ia tak akan begitu tersakiti, mungkin.
Di dalam pesawat pribadinya, Keano membaca pesan balasan dari Shilla. Dia tersenyum sendiri melihat tingkah Shilla yang tak berubah. Ia segera menon-aktifkan ponselnya karena pesawat akan segera lepas landas. Kali ini ia memakai pesawat pribadinya karena waktu yang mendesak. Dari keluarganya, tak ada yang tau kalau Keano memiliki pesawat pribadi. Ia masih akan menyembunyikan identitas lainnya, agar yang meremehkannya tetap lengah.
*
*
*
"Biasa saja kok Ray." Bohong Shilla yang hanya diangguki oleh Rayna. Ia tak akan mempertanyakan lagi. Pada saatnya nanti, kalau sudah tak kuat memendam sendiri pasti Shilla akan cerita dengan sendirinya.
Memang sejak kepergian Keano seakan ada yang hilang dari hati Shilla. Dari yang biasanya Keano mengganggunya, sekarang tak ada yang mengganggu. Seharusnya Shilla senang dengan kedamaian yang terjadi saat ini. Namun entah kenapa dia menjadi terbiasa dengan godaan-godaan Keano.
Bukan hanya Shilla saja yang merasakan kehilangan, Kenzo pun selalu menanyakan keberadaan Keano pada mamanya. Biasanya Kenzo ketika ikut Shilla kerja selalu bermain dengan Keano, namun beberapa kali Kenzo ikut, dia tak menemukan orang yang di anggap papanya itu. Kadang Kenzo tiba-tiba ngambek tak mau makan, ia ingin bertemu Keano, Shilla bingung sendiri di buatnya. Dari yang Kenzo dulu sangat penurut, semenjak kehadiran Keano menjadi ketergantungan.
Shilla sudah tak tau lagi harus membujuk Kenzo bagaimana lagi. Saat ini waktunya makan siang namun Kenzo selalu menutup mulutnya. Ia menginginkan Keano. Shilla takut Kenzo sakit kalau tak mau makan, apalagi merindukan seseorang bisa membuatnya tambah sakit.
"Mending kamu vidio call Keano deh Shill, kasihan Kenzo." Rayna yang memang dari tadi berada di kontrakannya Shilla memberi saran.
"Tapi..." Shilla masih ragu untuk vidio call dengan Keano.
"Lepaskan sedikit egomu, demi Kenzo." Rayna yang tak tega dengan mereka berdua hanya bisa membujuk Shilla.
Shilla mengangguk. Selama ini kalau bukan Keano yang vidio call, ia tak akan melakukannya lebih dahulu. Namun entah kenapa sudah dua minggu ini Keano tak memberikan kabar. Bahkan untuk sekedar menyapa pagi saja juga tidak. Mungkin Keano sudah bosan, pikirnya.
Shilla sudah menghubungi Keano via vidio call. Sudah tersambung namun masih belum ada tanda Keano menerima panggilan itu. Dua kali Shilla mencoba namun tetap tak direspon oleh Keano. Dan untuk yang ketiga kalinya barulah di layar ponselnya Shilla memperlihatkan muka Keano yang terlihat lelah.
'Tumben menghubungi duluan. Sudah kangen ya?' Narsis Keano yang hanya di tanggapi putaran bola mata oleh Shilla.
Tanpa membalas perkataan Keano, ia mendekatkan layar ponselnya ke arah Kenzo yang masih cemberut.
"Papa...!!!" Senang Kenzo melihat muka Keano. Ia langsung merebut ponsel ibunya dan langsung berceloteh riang.
"Kenzo kangen, dia tak mau makan." Tanpa melihat ke arah ponselnya ia memberi tahukan keadaan Kenzo saat ini.
Mendengar kata-kata Shilla tentu saja Keano sedih. Ia takut kalau jagoan kecilnya sakit.
'Kenzo, Kenzo sayang papa?'
Kenzo mengangguk dengan semangat.
'Kenzo sayang mama?'
Kenzo mengangguk lagi lebih semangat.
'Kalau begitu jangan membuat papa dan mama khawatir ya sayang. Dengerin mama, Kenzo makan ya?' Keano membujuk Kenzo dengan lembut.
"Mama, suapi..." Kenzo meminta mamanya untuk menyuapi.
Tentu saja Shilla langsung menyuapi Kenzo dengan telaten. Ia sangat berterima kasih pada Keano yang sudah membujuk Kenzo. Meskipun mogok makannya Kenzo juga di karenakan Keano.
Di sisi lain, Rayna seperti melihat keluarga kecil yang sempurna. Ia ikut senang melihat sahabatnya bahagia. Kini ia sepertinya menemukan jawabannya kenapa Shilla tak semangat seperti hari-hari yang lalu, jawabannya ada pada Keano.
"Shill, aku pergi dulu ya." Rayna berbisik di telinga Shilla agar tak mengganggu mereka.
Shilla mengangguk dan berterima kasih Rayna sudah datang.
Masih sambil di suapi oleh mamanya, Kenzo bercanda dengan Keano. Meskipun hanya lewat alat komunikasi, sudah membuat kerinduan Kenzo terobati.
Bersambung...