Young Mama

Young Mama
Bab 26: ~Keano Marah~



Perkuliahan yang panjang akhirnya berakhir. Shilla mengemas bukunya dan segera bangkit untuk pergi. Tak lupa ia tuntun Kenzo yang sudah siap untuk pulang. Shilla mengabaikan seseorang yang dari tadi memanggilnya.


"Mau pulang tidak?" Shilla menegur Rayna yang dari tadi cuma bengong.


"Sepertinya aku akan pulang nanti." Dengan tau diri Rayna menolak ajakan Shilla. Apalagi melihat tatapan Keano, ia seperti menatap binatang buas.


Shilla melanjutkan langkahnya di ikuti Keano. Entah dapat ide dari mana Keano ini, sampai mengikuti Shilla ke kampus. Apakah dia tak bekerja. Bukankah Keano adalah orang Sibuk. Tak ingin berpikir banyak, Shilla masa bodoh dengan kelakuan Keano.


'Bukankah dia Keano?'


'Kok bisa sih Shilla mengenal Keano?'


'Berani sekali dia mengabaikan Keano.'


'Lebih baik Keano sama aku.'


'Apa standar Keano sudah menurun.'


Terlalu sering mendengar hal-hal seperti itu membuat Shilla terbiasa. Setiap ada Keano, pasti bisikan secara sepontan akan terjadi. Awalnya Shilla memang sedikit terganggu, namun seiring berjalannya waktu, dia terbiasa dengan para wanita yang ingin mendapatkan perhatian Keano.


Keano menyamakan langkah Shilla. Ia ikut menuntun Kenzo dan berjalan Keluar.


"Kamu akan bekerja kan? Ayo berangkat bersama."


"Maaf tuan Keano yang terhormat, saya sudah tak bekerja di perusahaan anda lagi, dan itu karena apa? itu karena anda." Shilla semakin Kesal dengan Keano yang seenaknya sendiri. Meski hatinya menginginkannya, namun pikirannya terlalu gengsi untuk mengakuinya.


"Tunggu!" Keano menarik tangan Shilla membuat Kenzo bertanya-tanya kenapa papanya terlihat marah. "Kamu berhenti? apa ada yang mengganggumu?" Keano terlihat marah.


"Sebulan setelah kepergianmu, banyak yang mencari masalah karena kamu sudah tak ada di belakangku, pada akhirnya aku di pecat, itu saja." Dengan santai Shilla menceritakan kejadian sepeninggalan Keano.


Mendengar jawaban Shilla, Keano marah. Mereka telah berani mengusiknya dan mempersulit wanitanya.


"Kamu ikut aku." Dengan tergesa Keano menarik Shilla masuk ke dalam mobilnya.


Keano mengambil ponselnya yang masih berada di saku, ia segera menghubungi Leon dan memintanya menyelidiki orang yang berhubungan dengan Shilla saat ia tak ada.


Dari nada bicaranya, Leon mengerti bahwa Keano kini sedang marah, dan orang yang telah mengusik nona Shilla tak ada bisa lepas dari cengkeraman naga yang sedang marah.


Shilla hanya masuk dengan patuh. Melihat muka Keano yang begitu marah membuat Shilla sedikit takut untuk bertanya lebih lanjut. Apalagi kini Kenzo sudah memeluknya dengan sangat erat. Sepertinya Kenzo juga merasakan aura membunuh yang begitu kuat dalam diri Keano.


"Kei, kau membuat Kenzo takut." dengan hati-hati Shilla mencoba memberi tahu Keano bahwa anaknya sudah sangat ketakutan.


Mendengar penuturan Shilla, Keano melihat Kenzo yang sudah menyembunyikan wajahnya di dada Shilla.


'Aku juga mau seperti itu bocah.' Batin Keano salah fokus.


"Kei...?"


Suara lembut Shilla membangunkan Keano dari fantasi nistanya. Apalagi panggilan yang baru saja Shilla lontarkan membuat Keano tak percaya dengan pendengarannya. Tak biasanya Shilla memanggil namanya, apalagi membuat nama kesayangan untuknya, Keano sudah bertekad, tak akan pernah ada seseorang yang boleh menyakiti wanitanya.


Tangan Keano terulur membelai kepala Kenzo sayang. Ia tak ingin bocah kesayangannya menjadi takut kepadanya. Dia benar-benar menyesal telah marah-marah di hadapan Kenzo. Ia akan selalu mengingat ini, tak akan pernah lagi marah di hadapan pria kecilnya.


"Maafkan papa ya sayang, Kenzo takut ya?" Tangan kiri Keano masih setia membelai rambut Kenzo.


"..." Kenzo mengangguk tanpa bersuara.


Keano benar-benar menyesal membuat Kenzo jadi diam. Tak biasanya bocah ini diam memeluk mamanya, biasanya ia akan berceloteh dengan riang membuat suasana gembira.


Dengan hati-hati Keano menepikan mobilnya. Ia segera mengajak kenzo untuk duduk di pangkuannya.


Kenzo hanya menurut namun masih enggan melihat muka Keano. Ia masih sedikit takut kalau Keano akan marah lagi. Ia tak ingin mama tercintanya juga terkena marah Keano.


"Kesayangannya papa kenapa masih cemberut hm?" Keano menoel-noel pipi tembam Kenzo.


"Jangan marah mama." Kenzo benar-benar sudah tak dapat menampung air matanya. Perlahan air bening itu lolos dari sudut mata polosnya. Bagi Kenzo, Keano yang menarik mamanya pertanda Keano marah dengan mamanya. Apalagi nada bicara Keano yang sempat membentak tat kala bicara di telephone. "Kenzo janji tak akan nakal, kalau papa tak mau menjadi papa Kenzo tak apa-apa, tapi jangan marah mama." Air mata Kenzo semakin deras. Ia sesenggukan di dada bidang Keano.


Kedua orang dewasa yang mendengar penuturan bocah yang belum genap tiga tahun itu tentu saja merasa tercabik. Anak seimut dan masih belia bisa memikirkan perasaan mamanya. Dari mana sebenarnya Kenzo memiliki pemikiran seperti ini. Dia seperti bukan anak tiga tahun, melainkan sudah seperti anak sepuluh tahun lebih.


Keano langsung memeluk Kenzo erat. Ia tak menyangka, bocah polos itu memiliki pikiran yang begitu mendalam. Ia tambah menyayangi dan tak ingin menyakiti Kenzo. Ia seperti sudah memiliki ikatan batin dengan bocah ini.


"Maafkan papa ya. Papa mau kok jadi papa Kenzo, jadi Kenzo jangan sedih lagi." Keano mengusap air mata Kenzo yang masih mengalir. Bahkan anak itu juga tak merengek seperti biasanya. Benar-benar tak seperti anak pada umumnya.


"Papa..." Kenzo memeluk leher Keano dan mencium pipinya. Ia benar-benar berharap, Keano benar-benar menjadi papanya.


"Oke, sini duduk sama mama, papanya kan harus menyetir." Shilla memaksakan senyumnya agar Kenzo tak sedih lagi. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan ke perusahaan Alterio Groub.


.


.


.


Shilla melangkahkan kaki ke perusahaan yang sudah lama tak ia datangi. Beberapa orang memandang Shilla penuh tanya, pasalnya Shilla sudah di pecat namun kenapa ia datang lagi. Namun pertanyaan itu langsung hilang ketika mereka tau siapa orang yang berjalan di sampingnya. Beberapa orang merasa bersyukur dulu tak ikut menindas Shilla. Namun beberapa orang langsung ketakutan begitu melihat Shilla datang dengan Keano. Apalagi Keano yang sudah mengeluarkan aura mencekamnya, mereka di biarkan hidup saja sudah sangat bersyukur.


"Kita langsung saja ke ruang rapat. Aku sudah memberitahu Leon untuk mengumpulkan orang-orang." Keano berbicara tegas layaknya Keano yang sebenarnya.


Shilla mengangguk dan melangkah mengikuti Keano. Jangan lupakan Kenzo yang asik memainkan dasi Keano. Orang-orang yang melihat hanya bisa tersenyum melihat tingkah bocah yang ada di gendongan Keano. Meskipun bos mereka dingin, namun ternyata penuh perhatian dengan anak kecil. Yang mereka tak tahu, Keano hanya perhatian pada Kenzo saja tidak dengan yang lain.


"Jangan gugup, ada aku." Keano memegang tangan Shilla seakan menyalurkan kekuatan untuknya.


"Hm" Hanya anggukan yang di berikan Shilla. Bagaimana mungkin tak gugup kalau Keano membawa Shilla rapat dengan para petinggi. Entak apa yang ada di pikiran Keano, Shilla tak dapat menebak jalan pikiran pria itu.


Sebelum mereka masuk, Shilla menitipkan Kenzo pada paman Samuel. Ia takut kalau Keano hilang kendali, Kenzo akan ketakutan lagi.


Di dalam ruangan sudah hadir para petinggi di perusahaan ini. Mereka langsung berdiri dan menunduk hormat ketika Keano memasuki ruangan. Dari aura yang di pancarkan Keano, mereka tau bosnya itu sedang dalam mood yang jelek. Keano mempersilahkan mereka duduk kembali, dan ia juga mempersilahkan Shilla untuk masuk.


"Terima kasih untuk semua yang sudah hadir disini. Sebelumnya saya minta maaf karena mengadakan pertemuan yang mendadak." Keano berbasa-basi meminta pengertian seluruh anggota rapat.


Di antara mereka, Wajah Alexi begitu pucat. Ketika Shilla masuk ruangan, ia sudah merasakan ada ketidak beresan. Apalagi beberapa bulan yang lalu Ia sudah berbuat hal nekad yang membuat Shilla keluar dari perusahaan. Dengan adanya Keano, ia pasti akan membahas perihal itu.


"Pertama, saya akan memperkenalkan sekretaris saya yang baru, dia akan membantu Leon dalam menjalankan semua perintah ku, Dia adalah Nashilla Clarisa Maheswari, Mahasiswi jurusan akutansi universitas X."


Pernyataan Keano membuat semua terkejut. Begitu pula dengan Shilla, ia tak kalah terkejutnya dengan keputusan yang di ambil oleh Keano. Dengan seenaknya dia memutuskan menjadikannya sekretaris tanpa meminta persetujuannya.


"Tapi dia masih kuliah tuan, bagaimana bisa dia menjalankan tugas yang sulit. Apalagi dia berada di bawah tuan langsung. Itu sangat berlebihan untuknya." Salah satu anggota tak menyetujui keputusan Keano.


"Itu benar tuan, kalau tuan memang memberikan dia pekerjaan, pulihkan saja pekerjaannya sebelumnya."


Keano menatap mereka tajam. Bagaimana mungkin Keano tega membiarkan wanitanya bekerja pekerjaan kasar seperti sebelumnya. Meskipun Shilla tak akan menolak pekerjaan apapun, tapi ia tak mungkin membiarkan hal itu terjadi


Shilla yang mendengar mereka tidak setuju hanya bisa menghela napas. Ia juga tak mengerti bagaimana jalan pikiran Keano, seenaknya saja membuat keputusan sendiri. Ia membungkuk ingin mengemukakan pendapat namun dihentikan oleh Keano.


"Kalian tenang saja, Leon akan mengajarinya sampai ia menjadi sekretaris yang dapat di andalkan." Keano mencoba meyakinkan mereka. Padahal menjadikannya sekretaris hanya karena ia ingin selalu dekat dengan Shilla, paling nanti semua pekerjaan akan di limpahkan pada Leon, sungguh otak yang licik.


"Apakah tuan memiliki maksud lain? Kalau memang tuan ingin nona Shilla dekat dengan tuan dan akan selalu melindunginya kenapa tak jadikan nona sebagai istri saja, bukankah tuan masih lajang, anak nona Shilla juga sangat menyukai tuan." Seseorang dengan berani mengutarakan pendapatnya.


"Lancang! Siapa kamu berani mengaturku." Keano menatap orang itu dengan tatapan membunuh. Hal itu langsung menciutkan nyalinya tak berani berkomentar lagi. "Sudah di putuskan, kalau masih ada yang menentang silahkan cari aku."


Mereka semua diam. Mereka belum pernah melihat Keano yang murka seperti ini. Dari ada jabatan mereka terancam mereka memilih untuk mendengarkan Keano.


"Nak, apa kamu sudah tak menganggap papamu ini ada?" Grigori yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.


"Bukankah memang sebenarnya kamu sudah tak berguna. Bukankah kalian juga tau, tuan besar Alterio masih berada di posisinya karena belas kasihan ku?" Keano semakin menunjukan aura dominannya.


Mereka semua menunduk membenarkan. Memang benar, bahwa tuan besar Alterio masih menduduki posisinya karena belas kasihan Keano. Kalau Keano mau, ia bisa langsung menurunkan dari posisinya sekarang.


Ayahnya yang di permalukan hanya bisa diam. Untuk saat ini dia masih belum bisa melawan Keano yang sekarang. Ia menyesal telah membesarkan hewan buas. Kalau ia tau akan seperti ini jadinya, ia akan membunuhnya saja dari dulu.


"Kalau tak ada pertanyaan lagi, silahkan keluar. Kecuali KAK ALEXI." Keano menekan kata Kak pada kata-katanya. Ia harus segera memberikan pelajaran pada kakaknya agar tak berani menentangnya.


Satu persatu mereka keluar. Di dalam hanya ada Alexi yang semakin gemetar ketakutan. Ia tak tau sejak kapan adiknya memiliki hawa membunuh yang begitu pekat. Ia telah salah bermain dengannya.


'Semoga beruntung.' Beberapa orang menepuk pundak Alexi dan memberikan kata penyemangat. Kali ini mereka tak bisa membantu.


Bersambung...